Wednesday, August 3, 2011

Cintaku Kepada Pelayan Kafe

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Kulangkahkan kakiku menuju satu coffee shop terdekat dari kampus. Sore itu, keadaan sangat lengang. Yah, baguslah, dengan demikian aku bisa duduk tenang menikmati coffee latte pesananku. Kuangkat cangkir kopi yang masih panas, persis di depan hidungku, mencium aromanya sebentar, lalu menghirupnya pelan. Nikmat sekali, paduan kehangatan kopi dengan dinginnya hawa di luar sana. Sambil meminum kopi, aku membolak-balik majalah Kawanku terbaru yang kubawa sedari tadi. Bosan membaca, pandangan kusapukan ke tiap sudut kedai kopi ini. Tiba-tiba, pandanganku terhenti pada satu titik. Seseorang. Lelaki. Membawa notes kecil di tangannya. Dengan apron berwarna coklat susu. Sebenarnya biasa saja, ia hanya seorang pelayan di coffee shop ini. Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Mungkin karena aku tak pernah melihatnya di sekitar sini. Sepertinya ia pekerja baru. Pandanganku tak lepas daripadanya, kutopang daguku di atas tangan, melihatnya dengan leluasa. Namun, sepertinya ia merasa ada yang telah memperhatikannya sedari tadi. Dia menolehkan pandangan, membalas tatapanku. Salah tingkah, aku memalingkan wajahku ke arah jendela. Memandang titik-titik air yang tertinggal di sana.

* * *

Lagi, siang ini aku datang ke coffee shop itu. Memesan coffee latte langgananku. Aku bermaksud mengerjakan tugas kuliahku di sini. Suasananya tenang, tak seperti di kosan, ribut. Hmm, well… Di mana pulpenku? Ini dia! Aih aih, pulpennya bocor! Tinta hitam itu -tanpa rasa perike’tinta’an- mengotori jemariku. Aku menuju toilet hendak membasuh tanganku, dan tiba-tiba saja aku melihat pemuda itu lagi. Untuk yang kedua kali. Hanya lintas lalu, namun sanggup membuat hatiku berdebar tidak karuan. Lengan bajunya yang digulung, tubuh tegapnya, wajahnya yang masih basah terkena air, menawan. BRUKK!

“Hati-hati mbak!” tegur seorang ibu berbadan buntal, (ups!)

“Ah yaa? Maaf bu, maaf… Saya tidak sengaja.”

“Makanya, kalau jalan lihat-lihat.” nasihatnya. Cukup menyinggung. Ah, semua ini gara-gara pemuda itu….

Cepat-cepat aku membereskan bukuku, tiba-tiba saja ada kabar Adira teman kosanku kecelakaan. Segera kupanggil taksi dan melesat ke rumah sakit tempat Adira dirawat. Hmm, UGD.

“Hai, Dir! Eh, kamu nggak papa kan?”

“Ah, enggak. Luka ringan aja.” jawabnya menunjukkan memar di siku, lutut, juga betisnya.

“Yah, kok bisa jatuh sih?”

“Tadi, ada yang berusaha merampas tasku. Ya, aku pertahanin tasku dong. Nggak nyangka malah jatuh.”

“Kamu juga sih. Tas doang padahal. Kenapa nggak direlain aja?”

“Mana bisa, Yas. Tas itu kan hadiah ulangtahunku dari Kevin. Mana mungkin aku ngerelain dirampas gitu aja?”

“Ooo, ada kenangannya toh.. Haha, ya udah. Tapi udah nggak papa kan? Pulang yuk, ntar aku yang bawa motor.”

Setelah mengurus administrasi, kami berdua keluar dari ruang UGD. Dan anehnya, aku bertemu pemuda yang bekerja di coffee shop itu! Dia ngapain ya, di sini? Lagi-lagi, aku diam terpaku menatapnya, mengikuti langkahnya yang ternyata menuju ruang ICU. Waaa~ tampan beneeer.

“Woii Yas! Yasmin! Ngeliatin siapa sih?” Adira menegurku sambil mengibaskan tangannya tepat di depan wajahku.

“Ah, enggak kok. Pulang yuk.” jawabku tersipu malu. Sumpah, pemuda tadi… Benar-benar mengalihkan duniaku. (now playing: Wajahmu Mengalihkan Duniaku – Afgan)

Sesampainya di kosan…

“Dir, kamu percaya enggak sama cinta pada pandangan pertama?” tanyaku.

“Love at the first sight? Ah enggak tuh. Mana ada cinta begituan.” jawabnya enteng.

“Ah, tapi… ng, udahlah.”Aku mengurungkan niatku untuk membahasnya lebih lanjut. Aku juga masih ragu akan perasaanku.

“Eh Yas, nyari makanan buat ntar malam dong, kan giliranku udah kemaren.” kata Adira mengingatkan.

“Oh iya, iya. Tunggu ya, aku mandi dulu.”


Seusai mandi, aku menyambar dompetku dan melanglang buana bersama Mio-nya Adira ke sekitaran wilayah kos. Nah, itu ada warung, aku memesan 2 bungkus nasi goreng. Yah, nasib dah jadi anak kos. Makanannya gini-gini aja. Tiba-tiba mataku menangkap sesosok bayangan. Seorang pemuda. Dengan tubuh tinggi tegap, wajah yang kukenali dengan baik dalam memori otakku, berdiri di seberang jalan. Menuju ke sini, ke warung ini. Duh, aku harus gimana nih? Aku rapi enggak ya? Enggak berantakan, kan? Ah, sialan, deg-degan atuh ini... Dia makin mendekat, hingga akhirnya tegak persis di samping mas penjual, yaitu di depanku. Hendak memesan apa ya dia? Kasihan, dari tadi dia nggak direspon sama penjualnya. Sambil menunggu pesananku jadi, aku beralih duduk di bangku dan memandang ke arah lain, yang berlawanan dengan pemuda itu. Nggak sanggup ah kalau harus memandangnya lagi. Andai aku es krim, bisa-bisa aku lumer! Hatiku pun dag dig dug tidak karuan. Pandangannya itu loh, sumpah, menghanyutkan. Lebay ya? Maaf deh.

“Mbak, ini pesenennya. 2 bungkus nasi goreng kan?” ujar si penjual.

“Oh iya, berapa ya Mas?”

“Kayak biasa aja, Mbak. Rp 15.000,”

Aku mengulurkan 3 lembar limaribuan ke tangan si penjual. Pada saat yang sama, tak sengaja, aku melihat pemuda itu melemparkan senyuman kepadaku. Refleks, kutolehkan wajahku ke samping, buru-buru aku menggantungkan bungkusan yang berisi nasi goreng itu di stang motor, menyalakan motor, dan meluncur pergi dari tempat itu. Sumpah, salting!

“Assalamualaikum, Dir. Adira! Tuh, makanannya ada di atas meja.” sahutku dari ujung pintu kamarnya.

“Oke deh, thanks ya!”

Aku berjalan perlahan ke arah kamar atau biasa kusebut rumah kecilku yang bersebelahan dengan kamar Adira. Kulempar tasku di sudut kamar, dan aku merebahkan diriku di atas kasur yang tak bisa kubilang empuk itu. Hari yang melelahkan, penuh oleh bayangan pemuda itu. Apa ini sebuah kebetulan ataukah aku dan dia… berjodoh? 3 kali sudah aku bertemu dengannya hari ini. Dan sudah 3 kali pula aku terpesona olehnya. Aih aih… Sekedar mengetahui namanya pun tidak. Berkomunikasi apalagi. Tapi dia mampu menggetarkan hatiku hanya dengan tatapan matanya yang tajam juga senyuman hangatnya. *Tok..Tok..Tok..*

“Yasmin, aku makan di kamarmu yah? Boleh masuk nggak?” suara Adira.

“Iya, masuk aja,” ucapku malas.

“Hai, Yas. Kamu belum makan? Nggak laper?” tanyanya.

“Ng? Belum terlalu lapar kok,” jawabku sembari melamun, tidak konsentrasi.

“Eh? Kayaknya dari tadi kamu melamun terus deh. Mikirin siapa sih?”

“Hhh, nggak kok. Nggak usah dipikirin…” ujarku, melengos.

“Ayolah, cerita-cerita dong. Ada masalah? Atau… kamu lagi jatuh cinta ya? Cieee cieee.” Ia mulai menggodaku.

“Jatuh cinta? Yeee, sama siapa coba? Nggak tuh, ah, sok tahu kamu.” elakku. Aku mengubah posisi dudukku yang semula selonjoran kaki menjadi duduk bersila, memberikan tempat duduk yang lebih luas untuk Adira.

“Hehe, aku menebak saja sih, habisnya kamu ngelamun terus seharian. Biasa itu kan tanda-tanda orang jatuh cinta. Ngelamunin inceran melulu.” ujarnya sambil tertawa. Lanjutnya, “Udah deh, daripada ngobrol nggak jelas gini, mending kamu cepetan ambil bungkusan makananmu terus makan sama aku di sini.”

Aku menuruti apa katanya, mengisi perut yang telah berbunyi sedari tadi. Keroncongan.

Senja berganti malam, matahari menenggelamkan dirinya, membiarkan bulan bertengger di singgasana langit. Adira sudah kembali ke kamarnya sejak tadi. Aku pun terduduk sendiri di kamar. Kulirik buku kuliahku kemudian teringat akan banyaknya tugas yang diberikan dosen dan harus dikumpulkan seminggu lagi. Namun hasrat untuk mencicil tugas itu belum juga datang padaku. Mataku beralih pada tumpukan kertas HVS dan pensil 2B yang tak jauh terletak daripadanya. Kertas dan pensil, identik dengan menggambar. Sudah lama aku tak mengguratkan sesuatu di sana. Aku beranjak dari tempat tidur dan menuju meja belajarku tak lupa kubawa secarik kertas. Beberapa saat, aku menulis-nulis sesuatu yang tidak jelas. Meremas kertas itu lalu membuangnya, dan tanganku meraih secarik kertas lagi, tanpa sadar aku mulai membuat satu sketsa. Sketsa wajah. Laki-laki. Ah, pemuda itu lagi. Dia, siapa sih? Namanya? Tinggal di mana? Apa di dekat kosanku? Bagaimana sifatnya? Potongan-potongan pertanyaan itu bermunculan satu per satu. Aku dibuatnya penasaran.

Sudah seminggu aku disibukkan oleh kuliah dan tugas yang bertumpuk. Untuk sejenak, bayangan pemuda itu sirna dari hidupku. Well, hidupku tidak hanya mengorbit pada pemuda itu, kan?

“Yasmin! Tolong dong pegangin ini bentar!” pinta Tunisia, teman sekampusku. Ia menyerahkan setumpuk kertas dan buku padaku. “Aku mau mengikat tali sepatu soalnya. Tolong ya.” Ia merunduk, membetulkan simpul sepatunya yang terlepas.

“Eh, kayaknya kamu buru-buru banget deh ya? Mau kemana Nis?”

“Makasih ya udah dibantu, iya nih aku mau kerja part-time di Coffee Shop seberang kampus kita itu lho.” jawabnya. Mendengar kata ‘Coffee Shop’ aku tertarik. Dan aku mulai melontarkan pertanyaan yang lain,

“Nis, kamu sudah lama kerja di sana?”

“Mmm, baru-baru saja sih, sekitar 2 minggu yang lalu lah, pegawai baru nih.” Ah, ternyata Tunisia belum lama menjadi pegawai di sana, tapi apakah mungkin ia mengenal pemuda yang kumaksudkan?

“Duluan ya, Yas! Bye~ see ya!” ia setengah berlari meninggalkanku. Aku termangu, bingung hendak ke mana. Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi coffee shop itu lagi. Aku berjalan keluar dari kampus, menyeberangi jalan, tak sampai 50 meter aku sudah tegak di hadapan tempat ini. Kudorong pintunya dan senyum ramah para pegawai seketika menyambutku. Selain interiornya yang menampakkan kesan calm dan juga nyaman, pilihan kopi yang beragam, sekarang aku mempunyai alasan lain yang membuatku tidak kunjung bosan mendatangi tempat itu. Ya, karena kehadiran pemuda itu. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Dan, ternyata pegawai kasir siang itu yang melayaniku adalah Tunisia.

“Hei, ketemu lagi Nis! Eh, kok aku nggak pernah ketemu kamu ya 2 minggu yang lalu? Padahal aku sering datang ke sini lho.” sapaku pertama kali.

“Ah iya, aku sering kebagian shift sore. Jadi, nggak ketemu deh kita di siang terik begini. Mau pesan apa?” ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Wah, dia punya gesture yang cukup bagus untuk jadi kasir. Ramah dan murah senyum.

“Iced Americano satu. Sama orange marmalade cake-nya ya.”

“Oke, semuanya jadi Rp 38.000”

Aku membalas senyumnya, dan kubuka zipper dompetku. Mengangsurkan lembaran uang kepada Tunisia dan beranjak menuju meja yang bersebelahan dengan jendela. Minuman yang kupesan belum kusentuh sedikitpun. Kulayangkan pandangan ke setiap sudut kafe ini. Batang hidung yang kutunggu belum juga nampak. Hingga sudah 2 gelas kopi kuhabiskan, sosoknya belum juga muncul. Kecewa, aku meninggalkan kafe itu dengan tangan hampa. Tanpa berhasil membawa satu raut mukanya dalam benakku hari itu.

“Tunisia, ngg… Kamu kenal dia nggak?” tanyaku sambil menyodorkan sketsa wajah pemuda tersebut suatu hari. Tunisia mengerutkan kening, mencoba menganalisa gambaran mengenainya. Namun, sekejap ia menggeleng. “Maaf, aku tidak mengenalnya, Yas. Memangnya kamu ketemu dia di mana?” tanyanya. Seketika, mengalirlah kisah mengenainya. Awalku bertemu, kebetulan-kebetulan yang terjadi, hingga pemuda itu merebut hatiku dan memenangkannya. Tunisia terdiam sebentar, dan mengambil kesimpulan, “Jadi, kamu jatuh cinta padanya pada pandangan pertama? Ya ampun, Yas… Masakan kamu jatuh cinta pada pemuda yang nggak jelas begitu? Lagi katamu, ia partner kerjaku? Waiter ya? Ya sudah deh, nanti aku coba cari info tentang dia ke teman-temanku ya. Aku pulang dulu.” pamitnya, berjalan memunggungiku. Seolah mendapatkan titik terang, aku tersenyum lebar. “Makasih ya, Nis! Kutunggu infonya!” sahutku dari kejauhan. Sebentar lagi, akan kukenali siapa dirimu wahai pemuda! Aku tak sanggup menahan gelegak gembira yang bergelora di hatiku, setidaknya aku tak akan mati penasaran karenanya, betul?

* * *

“Yas! Yaaas! Yasmiin!” panggil Tunisia tergesa.

Aku menghentikan langkahku kemudian berbalik menatapnya, “Ada apa?”

“Aku sudah tahu, siapa dia!” ucapnya begitu meyakinkan.

“Haaah? Siapa? Siapa?”

“Nih, lihat.” katanya memberiku sebuah buku album bersampul cokelat. Terlihatlah foto-foto karyawan Coffee Shop “Latte” dengan berbagai macam gaya. Ada yang sedang melayani pelanggan, ada juga saat mereka curi-curi waktu berfoto tanpa ketahuan atasan mereka. Haha, tidak kusangka, juga ada foto diriku sedang menyeruput secangkir Mocchacino. Sampailah di halaman ketiga terakhir. Terpampanglah foto pemuda itu berdiri gagah, melipat kedua tangannya, dan melontarkan senyum. Sialan, senyum menghanyutkannya itu kembali meliputi batinku. Kubuka halaman selanjutnya, Tunisia menungguku. Ada beberapa fotonya yang dilekatkan di album itu. Ada satu tulisan di sana,

*In Memoriam, pegawai favorit kafe ini, Rendra Wicaksono Saputra. Semoga kamu tenang di alam sana…* Dan di halaman paling akhir, ada foto kuburan Rendra bertabur bunga, dikelilingi oleh rekan-rekan kerjanya.

Apa??? Dia… udah nggak ada? Kutatap wajah Tunisia, meminta penjelasan.

“Dia udah meninggal Yas. Aku baru tahu dari bosku kemarin sore. Katanya, tertimpa kecelakaan motor yang lumayan parah. Motornya aja sampe hancur gitu. Kejadiannya, sekitar satu setengah tahun lalu. Dia…”

Tak kudengarkan ocehan Tunisia selanjutnya, tubuhku lemas tak berdaya seketika. Itulah mengapa alasannya aku menangkap bayangan dirinya di rumah sakit. Itulah mengapa dia tak dilayani dengan segera oleh penjual nasi goreng. Karena dia memang tidak ada. Hanya sekelebat bayangan tanpa nyawa. Jadi… Selama ini aku menyukai sesosok hantu? Ya ampun. Brukk! Tubuhku jatuh pingsan. “Lho? Yasmin? Yas!” jerit Tunisia kaget.

Maaf

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Ada seorang gadis kecil terduduk di pojok kamar.

Ia sedang bersedih, wajahnya muram, kepalanya ditundukkan sedari tadi.

Tangannya yang kurus memeluk kedua lututnya, membenamkan wajahnya di sana.

Bulir-bulir air mata mengalir, membasahi kedua pipinya…

Isakan tangis pun terdengar, menggema di kamar kosong itu.

Sedapat mungkin ia mengecilkan suaranya, tapi tak dapat ia lakukan

Terlalu sedih, terlalu berat, terlalu sakit untuk ditahan-tahan

Sedari tadi bibirnya bergetar meluncurkan kata “maaf”

Maaf…Maaf… Maaf…Maaf…

Ditujukan kepada seseorang yang entah masih mengingatnya ataukah tidak

Tapi sungguh, ia benar-benar meminta maaf

Meminta maaf atas perlakuannya terhadap ‘seseorang’

Meminta maaf atas sikapnya selama ini

Meminta maaf telah membuat ‘seseorang’ itu bersedih

Meminta maaf pabila ia telah menyakiti hati ‘seseorang’

Meminta maaf karena telah mengecewakan hati ‘seseorang’ itu

Tak habisnya kata maaf itu mengalir dari mulutnya…

Sungguh, hal ini sangat mengganggu hatinya

Hingga hanya kata maaf yang dapat ia ucapkan sambil menangis.

Semakin lama, mata gadis itu makin basah oleh air mata

Diusapnya beberapa kali, tak juga menghentikan isak tangisnya

Hatinya berat dan sakit, ada sesuatu yang meresahkan hatinya

Yang pada akhirnya membuatnya terus mengeluarkan air mata, menandakan kesedihannya

Ingatannya melayang ke masa lampau, kejadian-kejadian indah itu, saat ia bimbang dilema

Dirangkaikan satu persatu, dihubungkan, hingga akhirnya tersambung dengan kejadian yang ia alami sekarang ini.

Kejadian yang sejak tadi, membuatnya muram.

Ia ingin menyesal tapi tak bisa.

Ia telah memutuskan suatu hal…

Dan ia harus konsisten dengan keputusannya.

Terlalu terlambat untuk memutar dan mengulangi semuanya.

Apalagi untuk menyesalinya.

Menyesal itu tiada guna lagi untuk sekarang ini.

Apa daya, semua telah terjadi.

Nasi sudah menjadi bubur, pikirnya.

Mengingat semua itu, tangisannya kembali membuncah…

Bibirnya kembali mengurai kata “maaf”

Hanya kata maaf, tangisan, dan kesendirian yang menemaninya malam itu.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Aku hanya memandangi gadis itu dari balik pintu

Aku paham dengan keadaannya.

Ia tersudut antara dua pilihan yang sulit

Menyangkut perasaan dan hati kecilnya.

Berlawanan arah…

Aku sempat melihatnya bimbang akhir-akhir ini.

Ia lebih sering menyendiri, berdialog bersama tuhannya

Memanjatkan doa, meminta jalan keluar…

Setiap hari, setiap jam, setiap menit.

Tiap kali aku melihatnya berdoa, setiap kali itu juga tangisannya meleleh…

Aku tahu kesedihan sedang membelenggunya, kesedihan yang begitu dalam.

Yang tiada dimengerti oleh siapapun, terkecuali dirinya sendiri.

Hanya dia yang mengerti, bahkan mungkin ‘seseorang’ yang secara tidak langsung membuatnya sedih pun, tak akan mengerti…

Memang, hanya dia yang mengerti

Memang, dia sendiri yang membuat dirinya sedih

Memang, dia sendiri yang membuatnya dirinya berkesusahan hati

Memang, dialah yang mencari gara-gara

Namun, aku sendiri tak bisa menyalahkan dirinya atas kesedihan yang dia buat sendiri

Aku paham, dia mempunyai alasan tersendiri dibalik keputusannya

Aku yakin, apapun keputusannya, telah ia pikir dengan matang.

Dan aku harap, jalan apapun yang ia pilih, itulah yang terbaik untuknya.

Semoga.

Cerita Pendek (Benar-benar pendek)

Oleh: Nadia Almira Sagitta

Malam itu, aku diteleponnya. Tumben.
“Halo? Eh, besok mau nggak jalan-jalan?” tawarnya.
“Jalan-jalan? Mau, mau, mau! Kok tumben?”
“Lah, kan janji saya yang waktu itu.” Katanya mengingatkan.
“Hah? Janji? Oh, yang itu? Astaga, masih kau ingatnya…”
“Ya sudah, besok ya? Jam sepuluh saya sudah ke rumahmu.”
“Iya, iya, makasih!” ucapku tertahan, perasaan bahagia ini sudah ingin saja membuncah sedari tadi. Tak dapat lagi kutahan-tahan. Aku mendapati diriku, tersenyum-senyum sendirian.
Esok paginya, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Hari itu Minggu, jadi wajar saja kalau aku bermalas-malasan di kamar. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini kan aku mau jalan-jalan. Aku sudah selesai mandi, sudah rapi. Aku menunggunya sudah seperempat jam yang lalu. Dia di mana ya? Aku mencoba menghubunginya dengan mengiriminya pesan. Dan ia membalas,
“Maaf, masih di jalan. Mungkin 20 menit lagi sampai. Maaf terlambat.”
Dan aku tetap duduk menunggunya datang, berkunjung ke rumahku. Saat ia datang, aku berjalan menyongsongnya, lalu kami berdua naik becak. Ia berbadan kurus, tak sepertiku yang lumayan bongsor. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku berceloteh. Meledeknya, mencoba melucu, banyak hal. Dia dengan setia mendengarkanku, memberi respon seadanya. Dia diam tak banyak bicara. Ah, bosan juga.
“Eh, gantian dong. Kamu lagi yang cerita.” Pintaku.
“Tidak tahu apa yang mau saya ceritakan. Saya hanya mau dengar ceritamu yang seru itu.”
Wah, pusing juga. Tapi, daripada diam? Maka, akupun membuka mulut, melanjutkan ceritaku.
“Aku, haus.”
“Tunggu di sini, saya ke sana dulu,” ia menunjuk ke salah satu tempat penjual minuman. Sesuai katanya, aku menunggunya di sini.
“Hey, maaf lama. Nih!” Aku dibelikan cola float olehnya.
Dia bertanya satu pertanyaan, “Eh, kamu lagi nda M, kan?”
Akupun heran namun menjawab, “Kenapa?
Dia berujar, “Nanti kan bisa kena kista? Jaga-jaga saja.”
Satu poin plus untuknya, perhatian…
“Mau nonton ini kah?” tanyaku.
“Iya, film apa yang bagus ya?”
“Aih, saya juga tidak tahu. Apa saja deh,” jawabku pasrah. Film ber-genre apapun itu, asalkan bisa jalan sama kamu, saya sudah bahagia, ucapku dalam hati.
Dan, dia memilih salah satu film action, yang tidak kuketahui juga apa, saya hanya menurut. Kami mulai memasuki ruangan gelap gulita, itulah bioskop. Tak lama, layar lebar di depan kami, mulai memutar film yang sedang in saat itu. Sungguh, filmnya cukup menegangkan, menurut saya. Apalagi, saya saat itu sudah tak kuat lagi menahan kantuk, mata saya hanya membuka sebentar, lalu menutup lagi. Begitu seterusnya. Hingga tak sadar, saya tertidur. Saya tertidur pulas di bahunya. Ya, bahu cowok itu, tidak ada maksud apa-apa. Tiba-tiba, kepalaku bergerak dengan sendirinya, dan bahuku bergoncang. Ah, ternyata ia membangunkanku.
“Eh, bangun, bangun. Saya kira tadi kamu pengen ke toilet.”
“Ng? Oh iya.” Aku mengucek mataku, mengacak rambutku, dan mengusap wajahku, masih tak sadar sepenuhnya. Aku tadi tidur enak sekali…
Dan, dia pun menemaniku ke toilet, padahal aku tahu, film saat itu sedang berjalan seru-serunya, mungkin pada titik klimaks. Namun, dia rela saja mengorbankan filmnya demi menemaniku ke toilet. Menemaniku yang dengan sangat tidak sopannya tertidur di tengah acara. --“
Setelah capek berkeliling, perut saya berbunyi, meminta makan.
“Lapar ya?” Dia menatapku.
Aku hanya mengangguk. Memegangi perutku yang mulai terasa perih…
“Tuh ada Texas, singgah dulu yuk.”
Akhirnya kami berdua makan sama-sama.
Dengan menu yang sama, nasi ayam. Ketika tanganku meraih botol sambal, ia menepis jemariku.
Jangan pake sambel!”
Heran, “Kenapa sih?”
Dia mengerutkan muka da berkata, “Katanya kamu lagi sakit maag… Tidak boleh makan sambel. Pedis.”
“Tapi saya tidak bisa makan kalau tidak pakai sambel….”
“Ya sudah, sini saya saja yang kasih sambalnya.”
Dia meraih botol merah itu dan menuangkan isinya ke piringku, namun itu terlalu sedikit!
“Ah, sedikit sekali,” keluhku.
“Begitu saja, tidak boleh terlalu banyak.”
“Ahhh, nggak mau! Udah, saya aja!”
Saya merebut kembali botol itu dan menuangkan lebih banyak lagi sambel sesuai yang kuinginkan. Dia hanya kesal melihatku, dan tiba-tiba saja ia mengambil ayamnya, dan menaruhnya di atas sambalku… Dia mengambil jatah sambalku.
“Ih, jahaaaaat.” Aku mengerucutkan bibir, menunduk. Tampak ia mengunyah ayamnya perlahan dan meringis, “Sssh… Pedisnya… Syukur kamu tidak makan. Pedis, pedisss sekali.”
“Mana bisa pedis? Biasa saja kali’…”
“Aduh, betulan. Pedeees, pediss sekalii.” Ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Eh, pulang yuk? Sudah hampir magrib.”
“Ih, kenapa cepat sekali? Sebentar saja pulangnya.” Aku memohon.
“Tapi, kan kamu tidak boleh pulang malam.”
“Itu kan kalau sudah jam sepuluh… Ini juga baru jam enam kurang lima belas menit.”
“Tidak boleh cewek pulang malam-malam. Nanti saya yang dimarahi sama ibumu.”
Kamu mengajakku pulang. Tahukah kamu, saat itu saya belum ingin pulang begitu cepat, saya masih mau menghabiskan waktu jalan-jalan ini lebih lama lagi. Sama kamu. Jujur, hari ini saya bahagia sekali. Waktu jalan-jalan yang hanya berkisar beberapa jam ini masih belum cukup bagiku. Kenapa kamu mengajakku pulang begitu cepat?
Kamipun berjalan mengitari mall, mencari pintu keluar. Saat itu, kami harus menyebrang jalan. Aku tidak tahu. Aku takut. Kendaraan berlalu-lalang, cepat sekali. Refleks, aku memegang bajunya.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak, saya hanya takut menyeberang.” jawabku sembari terus mencengkram bajunya.
“Ya sudah, pegang tasku!”
Aku menatapnya sebentar dan berpikir, Masya Allah, baiknya orang satu ini. Maka, aku pun memegangi tasnya, dan dia mulai berjalan dengan perlahan, menerobos kerumunan mobil juga motor. Sesampainya di seberang, kami menyetop angkutan kota. Di angkotan kota ia berucap sesuatu, “Eh, nanti kita pulang jalan kaki saja ya? Uang saya habis.” Aku hanya mengangguk pasrah, lagipula uangku juga ludes, dan aku kan tidak mungkin memberatkannya lagi, setelah seharian dia telah menyenangkan hatiku? Ya sudah, aku hanya tersenyum dan mengangguk, setuju. “Tenang, saya tahu kok jalan pintasnya.” ujarnya.
Beberapa menit kami tempuh untuk kembali ke wilayah kompleksku. Dan, kami pun mulai berjalan kaki. Berjalan di bawah naungan bintang yang masih muncul malu-malu, maklum ini baru jam tujuh malam. Berjalan berdua dengan dia, menjajarinya langkah kakinya. Dan tak terasa, perjalanan ini cukup singkat, dan tak sejauh yang kubayangkan sebelumnya.
“Gimana? Dekat kan?”
“Iya! Makasih yah. Makasih jalan-jalan dan traktirannya, ya.”
“Iya, sama-sama. Ya sudah, kamu pulang dulu. Saya juga mau pulang… Daaah.”
“Daadaaah!” balasku, melambaikan tangan, dan tersenyum lebar.
Makasih, makasih telah menepati janjimu.
Makasih, makasih jalan-jalan yang telah engkau berikan padaku.
Makasih, makasih telah menraktirku.
Makasih, makasih telah perhatian padaku.
Makasih, makasih telah bersikap baik padaku.
Makasih, makasih telah menjadi sosok teman cowok yang menjagaku.
Makasih, makasih tidak meminta apapun dariku.
Makasih, makasih telah menjadi teman terbaik yang pernah ada hidupku…

Finally

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Dan… senyum itu terkembang tanpa diminta.

Dan… perasaan senang itu tak dapat kusembunyikan.

Dan… bunga-bunga yang jatuh itu tak dapat kusingkirkan

Dan… mata ini tak kuasa untuk memalingkan pandangan.

Dan… rona merah yang menghiasi pipiku tak sanggup kusamarkan.

Dia, orang yang telah kutunggu sekian lama.

Dia, orang yang kukagumi sejak dulu.

Dia, teman sepermainanku.

Dia, seorang yang spesial untukku, kini berdiri di hadapanku, dan mengutarakan perasaannya terhadapku.

Berdiri menungguku dengan sejuta harap.

Jauh, jauh, aku menatap ke pandangannya.

Mencari kebenaran di sana.

Hingga, aku merasa yakin dan percaya.

Dan akhirnya, tak ada lagi yang dapat aku lakukan, selain menjawab, “YA”.

Kenapa?

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Kenapa?

Kenapa aku harus mengenalmu?

Kenapa aku harus dipertemukan denganmu?

Kenapa aku mulai merindukanmu?

Kenapa aku bisa melabuhkan hatiku padamu?

Kenapa?

Apakah kamu tau kenapa?

Sungguh, aku tak mengerti.

Aku di sini

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Hey, aku disini.

Di tempat ini.

Tempat kita berdua.

Namun aku sendiri.

Aku tidak bersamamu.

Kamu meninggalkanku sendirian.

Tak ada lagi canda tawamu yang membuatku tersenyum.

Tak ada lagi tanganmu yang senantiasa merangkulku, di sini.

Tak ada lagi ucapanmu yang menenangkan hatiku.

Kamu membawa semuanya pergi, bersamamu.

Kamu melupakan sesuatu, kamu melupakanku.

Kamu pergi jauh, tanpa mengajakku.

Kamu lupa akan janjimu, yang tak akan meninggalkanku, tetap setia bersamaku.

Kamu sirna begitu saja dari kehidupanku.

Aku kangen kamu.

Aku tak bisa engkau tinggal sendiri.

Menyampaikan salam

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Gadis yang tengah merindu.

Merindu seorang yang tak pasti.

Terduduklah ia, di kursi taman

Memandang langit yang mulai memerah.

Menitip salam lewat angin yang berembus,

Ditujukan untuk seorang yang tengah dirindukannya.

“Angin, sampaikanlah salamku,” pintanya.

Rindu

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Dan, aku terduduk di depan gelombang air laut yang berdebur pelan.

Aku terduduk bersama hamparan pasir putih yang lembut.

Memandang langit biru dengan tatapan kosong.

“Aku merindukanmu,” bisik kalbuku.

“Aku ingin kamu ada di sini, bersamaku.”

Ya Allah, tolong sampaikan padanya, satu hal.

Aku merindukannya.

Sangat, sangat merindukannya.