Showing posts with label kajian. Show all posts
Showing posts with label kajian. Show all posts

Thursday, June 16, 2016

Syarh Hadis Arba'in An-Nawawi: 11

"Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib ra. cucu kesayangan Rasulullah SAW berkata, 'Aku hafal sabda Rasulullah SAW, "Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan kerjakan perkara yang tidak meragukanmu.'" (HR Tirmidzi dan Nasa'i, Tirmidzi berkata: “Hadis ini hasan shahih”)

Sebelum membahas kandungan hadis, baiknya kita mengenal terlebih dahulu sosok Abu Muhammad Al Hasan bin Abi Thalib. Beliau adalah cucu Rasulullah, anak dari Ali bin Abi Thalib, dan saudara Al Husain. Beliau memiliki nama kunyah (nama yang diawali dengan abu/ummu) Abu Muhammad, sementara saudaranya, Al Husain, memiliki nama kunyah Abu Abdillah. Beliau lahir pada 3 H, sementara Al Husain lahir pada 4 H. Ketika Al Hasan lahir, sang ayah ingin memberinya nama Harb 'perang', namun Rasulullah menggantinya menjadi Al Hasan. Ketika Al Husein lahir, Ali bin Abi Thalib kembali menamainya Harb, tetapi Rasulullah segera menggantinya. Hal yang sama juga terjadi pada Muhsin, anak ketiga Ali bin Abi Thalib. Ini menandakan bahwa pentingnya memberi nama-nama yang baik pada anak.


Hasan dan Husain dijuluki sebagai roihanah-nya Rasulullah. Roihanah adalah bunga wangi semerbak dan indah. Dikatakan seperti itu karena mereka berdua sering diciumi Rasulullah. Keduanya adalah pemimpin para pemuda di surga. Al Hasan bersama Rasulullah hanya sampai ia berumur 7 tahun karena Rasulullah meninggal pada 9 H. Kedudukan Al Hasan lebih mulia daripada Al Husain, tetapi kaum Syiah lebih mengagung-agungkan Al Husain karena beliau wafat di Karbala. 


Berkaitan dengan Al Hasan, Rasulullah memberitakan bahwa Al Hasan akan mendamaikan dua kelompok kaum muslimin. Beberapa tahun kemudian, dugaan Rasulullah terbukti. Al Hasan mendamaikan penduduk Iraq dan Syam karena penduduk Syam telah membaiat Muawiyah menjadi khalifah, padahal penduduk Iraq telah lebih dulu membaiat Al Hasan. Al Hasan mengalah dan membiarkan Muawiyah menjadi khalifah demi terciptanya kerukunan antara dua kelompok ini. Penduduk Iraq dan Al Husain menyayangkan keputusan Al Hasan.


Kembali ke pembahasan hadis, "Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan kerjakan perkara yang tidak meragukanmu,". Hadis ini dihukumi hasan sahih oleh Imam Tirmidzi. Hadis hasan sahih bermakna:

1. Apabila ada dua jalur sanad maka satu sanad hasan, satunya lagi sahih
2. Apabila hanya terdapat satu jalur sanad maka oleh sebagian ahli hadis dihukumi sahih dan oleh ahli hadis lainnya dihukumi hasan 

Makna hadis ini mirip dengan hadis arba'in yang keenam, yakni sama-sama berkata tentang meninggalkan syubhat (perkara yang samar). 


Faidah hadis ini:

1. Islam tidak mengajarkan umatnya memiliki keresahan. Jika menginginkan ketenangan maka tinggalkanlah perkara-perkara yang meragukan.
2. Jika keraguan berbenturan dengan keyakinan maka kita pilih yang meyakinkan. Hal ini sejalan dengan kaidah fikih Al yaqina la yazulu bi syakk 'keyakinan tidak bisa dihilangkan karena adanya keraguan'. Misal, seseorang telah berwudu lalu ia ragu apakah wudunya batal atau tidak maka wudunya tetap dianggap sah. Intinya, mana yang lebih meyakinkan di hati, itu yang diambil.

*Kajian Syarh An-Nawawi rutin dilaksanakan selama 20 Ramadan awal kecuali tiap Selasa dan Jumat pada pukul 08.30--10.00 di selasar selatan Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Kajian pada hari Sabtu dan Minggu tetap ada.

Sumber:
Mistu, Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyidin. 2016. Al-Wafi Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah: Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah. Jakarta: Al'I'tishom.
http://kajian-islam.id/mengenal-hadits-hasan/
http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2009/04/fiqh-pemberian-nama-dan-hal-hal-yang.html
https://mahluktermulia.wordpress.com/2010/04/17/hasan-dan-husein/
https://konsultasisyariah.com/397-hukum-nama-kunyah.html

Wednesday, June 8, 2016

Kajian Syarah An-Nawawi

Pagi ini aku ada jadwal kajian di MUI. Itulah mengapa pukul 08.30 aku sudah mandi dan bersiap-siap pergi (padahal sedang libur!) Forum Kajian Islam Universitas Indonesia (FKI UI) mengadakan kajian selama 20 hari pertama Ramadan tiap hari Senin, Rabu, dan Kamis yang akan membahas Syarah Arbain Nawawi. Kajian ini diadakan di selasar selatan Masjid UI (MUI), hehe kalau kamu mau mampir silakan saja datang ke selasar selatan, cari hijab kain biru, ya! :)

Hadis arbain yang dikumpulkan oleh Imam An-Nawawi termasuk hadis sahih--yang juga diambil dari HR Bukhari Muslim--dan mencakup hal-hal penting. HR Bukhari Muslim mah kitab hadis yang penting banget, ya. Sebelum adanya HR Bukhari Muslim ini, Imam Syafi'i pernah bilang, "Kitab paling sahih setelah Alquran itu adalah kitab Al Muwatta' karangan Imam Malik."

Hari ini fokus membahas hadis pertama yang berbunyi, "Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khattab ra. berkata, 'Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.'"

Kata ustaz, "Sudah sepatutnya bagi orang yang merindukan akhirat untuk mempelajari hadis ini." Segitu pentingnyakah hadis arbain yang ini? Iya, soalnya hadis ini adalah separuh dari ajaran Islam. Agama itu bertumpu pada dua hal, sisi lahiriyah (amal perbuatan) dan sisi batiniyah (niat). Betapa pentingnya niat itu sebelum melakukan amalan.

Julukan amirul mukminin (pemimpin bagi orang yang beriman) diberikan kepada Umar bin Khattab. Namun, sebelum Umar, seorang sahabat Rasulullah bernama Abdullah bin Jahsy juga mendapat gelar amirul mukminin, ya tetapi kata ustaz ini gelar secara khusus karena yang dipimpin saat itu hanya sebagian kecil, sementara Umar memimpin banyak umat. Jadi, amirul mukminin secara umum itu gelarnya Umar. Nah, ada yang tahu gelar khalifatur rasulillah (pengganti Rasulullah) diberikan kepada siapa? Yes, Abu Bakr as Siddiq!

Umar bin Khattab ini jadi khalifah pada 13 H dan meninggal pada 23 H. Itu berarti beliau memimpin umat Islam selama 10 tahun lamanya. Umar bin Khattab ini umurnya berbeda 13 tahun dengan Rasulullah dan meninggal pada umur 63 tahun, seperti Rasulullah dan Abu Bakr. Umar bin Khattab meninggal karena dibunuh oleh Abu Lu'lu'ah, seorang budak beragama Majusi. Untuk kisah lengkapnya, coba kalian cari di buku atau internet. :)

Nah, balik lagi soal niat, niat itu membedakan sesuatu itu ibadah atau bukan dan membedakan kepada siapa ia tujukan ibadahnya itu, kepada Allah atau bukan. Salah satu kaidah fikih perihal niat, yakni al-Umuru bi Maqashidiha, berangkat dari hadis ini.

"Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya." Kalimat ini menyiratkan hukum berhijrah. Hijrah itu hukumnya wajib bagi seseorang yang tinggal di negeri kafir. Hijrah pun nggak melulu perpindahan tempat, kok, kamu yang sedang berusaha meninggalkan sifat-sifat buruk dan mencoba mendalami agama Allah juga disebut muhajir--seseorang yang berhijrah.

"Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju." Mengapa setelah dunia disebutkan wanita padahal wanita itu juga termasuk dunia? Ini untuk penegasan secara khusus aja, sih, karena wanita dan harta itulah yang membuat banyak manusia menyeleweng. Hm, entah mesti bersikap apa mendengar hal ini antara senang dan sedih juga. Segitu berharganya perempuan sampai dikejar-kejar dan segitu berbahayanya perempuan karena bisa membuat seseorang berdosa. Perempuan, jaga sikapmu, ya. :')

Hadis arbain pertama ini termasuk hadis masyhur, namun sebelumnya tergolong hadis gharib. Wait, jadi penggolongan hadis menurut jumlah jalan periwayatannya terbagi atas tiga, yakni hadis gharib, aziz, dan masyhur. Hadis gharib adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang perawi, hadis aziz itu diriwayatkan oleh dua perawi pada tiap tingkatan sanad, dan hadis masyhur itu diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih pada tiap tingkatan sanad. Nah, hadis ini pertama kali diriwayatkan oleh Umar bin Khattab dan hanya beliau yang meriwayatkannya saat itu. Beliau kemudian menurunkannya ke Alqamah bin Abi Waqqash, lalu Muhammad bin Ibrahim meriwayatkannya dari Alqamah, lalu Yahya bin Sa'd al Anshari meriwayatkannya dari Muhammad. Setelah itu, barulah hadis ini diriwayatkan oleh banyak orang. :)

Niat itu tidak perlu dilafazkan, ya, cukup dalam hati. Allah itu mengetahui apa yang ada di hati manusia. Ada yang berkata orang dengan mazhab Syafi'i itu melafazkan niat. Pendapat itu berangkat dari perkataan Imam Syafi'i yang berbunyi, "Jika seseorang berniat berhaji atau umrah maka itu sah walaupun tidak diucapkan. Berbeda dengan salat, salat tidak sah kecuali dengan pengucapan." Sadly, ada ulama Syafi'iyah yang telah salah menafsirkan perkataan beliau. Hal ini kemudian diklarifikasi oleh Imam An-Nawawi, "Para ulama mazhab kami berkata, yang berkata demikian telah salah. Bukanlah maksud Imam Syafi'i itu melafalkan niat dalam salat, namun maksudnya adalah takbir." (Al Majmu', 3/243) So, niat apa pun kamu, mau niat salat, puasa, atau lainnya, cukup dalam hati, ya! :)
--

Senang, lho, bisa ikut kajian ini! Hehe, memang sih syarah atau penjelasan dari hadis arbain bisa kamu temukan di buku-buku, contohnya di buku Al-Wafi yang baru aku beli hari ini. Akan tetapi, mengikuti kajian bersama ustaz yang mumpuni bisa memberikan kamu wawasan baru. Contohnya saja istilah amirul mukminin, kisah Umar bin Khattab, bahkan ilmu penggolongan hadis tadi dijelaskan langsung oleh ustaz. Bermanfaat, kok, insyaAllah. Lagipula, apa yang lebih menyenangkan dan menenangkan daripada berkumpul dengan orang saleh dan salihah? :)

Sumber:
Mistu, Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyidin. 2016. Al-Wafi Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah: Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah. Jakarta: Al'I'tishom.
http://www.abufurqan.net/mengenal-hadits-masyhur-aziz-dan-gharib/
http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/ulumul-hadits/hadist/891/hadits-pertama-arbain-nawawi.html
http://islamiwiki.blogspot.co.id/2013/06/sekilas-tentang-kitab-al-muwatta-imam.html#.V1fBapGKTIV
https://www.facebook.com/notes/oos-depok/kisah-terbunuhnya-umar-bin-khattab-penulis-al-imam-al-hafizh-ibnu-katsir/10150643379888386/
https://muslim.or.id/10689-polemik-pelafalan-niat-dalam-ibadah.html

Wednesday, October 14, 2015

Tahun baru penuh bahagia

Alhamdulillah, ya Allah.

Terima kasih untuk hari kemarin. Terima kasih untuk tahun barunya.

Kemarin aku berangkat ke MUI untuk mengikuti Kajian Hijab Biru UI yang membahas tadabbur surat Alfatihah. Kajian terakhir yang kuikuti itu tanggal berapa, ya? Sudah lama sekali. Ada rasa yang berbeda ketika aku duduk bersama para akhwat dan menyimak serta mencatat materi dari ustaz yang duduk di belakang hijab.

Sekarang, Masjid UI menjadi tempat yang cukup asing bagiku. Setahun lalu aku masih sering ke MUI karena sekretariat organisasiku berada di lantai dua masjid ini. Namun, setahun belakangan aku tidak lagi bergabung dengan organisasi apa pun. Aku putus kontak dengan MUI karena merasa sudah tidak ada ikatan apa-apa. Aku tidak wajib mengurus kajian, tidak wajib lagi menghadiri rapat, dan lain-lain. Padahal, aku sering mengunjungi tetangga masjid ini, yaitu perpustakaan, tetapi untuk sekadar beribadah di MUI aku jarang sekali. Berkunjung ke rumah Allah membuat hatiku lega. Lega karena pada akhirnya bisa melepas rindu.

Di kajian, aku dipertemukan dengan kak Arista, kakak yang menjadi kawan baikku di kajian tersebut dahulu. Jarang sekali kami bisa bertemu karena ia sibuk bekerja. Jadi, kemarin adalah kesempatan yang begitu langka. Ah, menyambung tali ukhuwah itu menyenangkan sekali. Alhamdulillah. Uhibbukifillah, kak Arista.

Kajian selesai pukul 17.30. Seharusnya aku bisa langsung pulang, tetapi aku urung. Aku memutuskan untuk ikut salat Magrib berjamaah di sana. Sudah berapa lama tidak salat berjamaah ramai-ramai, Nad? Kapan terakhir kali kamu mengambil wudu sebelum azan berkumandang? Sungguh, sudah berapa lama?

Damai sekali rasanya. Terima kasih, ya Allah. Terima kasih masih memberikan kedamaian di hatiku yang sedang gundah. Terima kasih.

Selepas salat, aku disapa seorang kawan lamaku di Whatsapp, "Halo, Nad. Apa kabar?" Aku segera membalas dengan menggunakan huruf kapital saking gembiranya. Eh, chat-nya pending.

Ketika mau pulang, aku malah bertemu dengannya yang sedang duduk di salah satu sudut masjid. MasyaAllah. Kebetulan sekali. Kami lantas bertukar kabar dan menceritakan kesibukan masing-masing. Aku baru tahu dia mengikuti dua organisasi. Wih, sibuk sekali dia, padahal di saat yang sama ia sedang menggarap bab dua skripsinya. Aku juga bercerita mengenai hari-hariku yang cukup...monoton. Hahaha. Dulunya, kawanku ini partner  galauku, tetapi dia sekarang nggak pernah lagi membagi kisah denganku. Mungkin tidak ada cerita cinta yang dapat dibagi. Akhirnya, aku yang mencerocos menceritakan kisah cintaku yang absurd. Berangkat dari cerita galau, aku bertanya soal cita-citanya. Tak dinyana, ia bercerita panjang. Ia mengaku sedang jenuh pada jurusannya, pada  skripsinya, dan terlihat patah semangat. Padahal, ia tengah menjalani mimpi kelas lima SD-nya. Berkuliah di jurusannya saat ini memang cita-citanya sejak dahulu. Sayang, kali ini ia hilang fokus, tidak seobsesif dulu, dan sibuk melarikan diri pada subjek-subjek lain. Aku lalu berkata seperti ini, "Mimpi itu boleh saja berubah, tetapi pastikan ketika kamu meninggalkan mimpimu yang semula, kamu sudah menemukan mimpi baru untuk digapai. Apa kamu sudah menemukan yang baru?" Ia lantas menangis dan benar-benar menumpahkan semua kegundahan hati yang tampaknya sudah dipendam sedemikian lama.

Allah, terima kasih sudah membawaku padanya. Terima kasih telah mengutusku untuk menjadi teman curhatnya malam ini. Terima kasih pula telah menyadarkanku bahwa masalah yang kini kuhadapi tidaklah lebih berat daripada orang lain.

Teruntuk kawanku, tetaplah semangat! Kapan pun kamu butuh kawan cerita, ingatlah aku selalu ada. Mari saling menyemangati satu sama lain! Indonesia butuh kita: kita yang bermimpi besar, unik, dan optimis. Jangan menyerah sekarang!

Luv,
Nadia Almira Sagitta