Wednesday, August 24, 2016

Sebatas Itu

Jika peranku sebatas penyemangat dan pendengarmu, aku tidak mengapa. Sedari dulu aku juga begitu, selalu begitu. Peranku selalu sama, yakni pendengar sekaligus penyemangat orang-orang. Asalkan kau mencariku dan berbincang denganku, aku tidak masalah kita hanya sebatas itu.

Tuesday, August 23, 2016

Mendoakanmu

Fii amanillah.
Semoga Allah senantiasa menjagamu.
Semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkahmu.
Semoga Allah memberikan solusi terbaik untukmu.
Semoga Allah...mendengar doaku kepadamu.

Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk hidupmu, kebahagiaanmu, dan tentu saja senyumanmu. Sudah lama tidak kulihat. Janganlah engkau bersedih.

Acapkali engkau merasa ditinggalkan dan sepi, ingatlah bahwa aku tidak pernah pergi. Raga boleh jauh, tetapi jiwa selalu bersama dalam untaian doa.

"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu." (Sapardi Djoko Damono)

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Monday, August 22, 2016

Am I disappointing you?

Sesedih itu pas tahu ELDP datang ke KIMLI, Unud, Juli lalu untuk mengadakan pelatihan dokumentasi bahasa selama tiga hari. Huaaaaaaa Hans Rausing Endangered Languages Project! :(

Padahal aku juga masih anak bawang, pasti belum ngerti soal teknis dalam mendokumentasikan bahasa. Pasti saingan sama master, doktor, serta profesor dan besar kemungkinan aku cengo sepanjang acara. Aku ngertinya mimpi doang jadi peneliti ke daerah terpencil untuk memperoleh data selengkap-lengkapnya. Gapapa, anak muda itu butuh bermimpi.

Ng, kamu ngerti kan rasanya ketemu secuil bagian dari mimpi-mimpi kamu? Seperti bertemu idola, hanya menatap mereka di depan mata saja sudah membuat bahagia, apalagi kalau berkesempatan ngobrol dan bekerja sama! Duh. Jadi, aku nggak berlebihan sesedih ini karena melewatkan kesempatan. Iya, kan? ^^

(*)untuk kalian yang nganggap aku bacot doang memosting berita soal bahasa yang terancam punah, yang memandang semangatku kendor, yang mencibir aku tidak serius menggapai cita-cita karena belum mempersiapkan S-2, dan komentar negatif lainnya...oke. Iya, kemarin fokusku tersedot karena skripsi yang sampai sekarang masih menjadi beban pikiran. Iya, semangat sempat kendor karena banyaknya masalah hati. Iya, belum cari beasiswa S-2. Iya, aku belum ini dan itu. Namun, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya, bukan? Toh, S-2 tidak harus langsung daftar selulusnya kita, kan? Boleh aja sih kalau mau. Akan tetapi, aku pribadi, mau banyak baca, mau cari pengalaman dulu sebelum S-2. Intinya, mau tahu medan akademis nanti sebelum memutuskan 'tuk menjejakkan kaki di sana. Ngapain, sih, hidup dikejar-kejar waktu? Intinya, kita punya cara masing-masing untuk menjalani hidup dan menggapai mimpi. Siapa pun nggak berhak mengintervensi, baik itu keluarga maupun teman. Huft. Berhenti berkomentar negatif, tolong. Kalau nggak bisa ngasih komentar positif, tutup mulut aja dan doakan.

(♡) Err, aku dulu udah membuktikan aku bisa masuk Sasindo UI ketika kalian meragukan aku, kan? Aku berada di jurusan yang katanya nggak prestise menurut kalian. Seolah harkat aku turun karena sesungguhnya aku jebolan anak IPA dan kalian berdua pun menekuni bidang IPA. Namun, aku berhasil mempertahankan IPK sebaik-baik yang kubisa, menunjukkan bahwa aku benar-benar cinta sama jurusan ini, dan berkontribusi dalam bidang bahasa semampuku walaupun hanya sekadar menyemangati dan berbagi ilmu dengan teman-teman atau menyebarkan info ini-itu. Kukira, itu bentuk pertanggungjawaban atas pilihan sendiri. Lantas, hanya karena sedikit masalah di akhir kuliah ini, berhak gitu melabeli aku nggak bertanggung jawab dan mengecewakan? Oh God, please!

I'll pursue my own dream, with or without your support. Terkadang, cibiran itu mesti dibekap dengan bukti. Mungkin belum sekarang, tetapi kupastikan akan ada buktinya. Nanti.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, August 20, 2016

Carry on

Thank you for boost my mood, made my stomach full of butterflies, fulfill my heart, and made me smile so wide! Oh, darlin. Tell me who I have to be, to be the one beside you so we don't have to missing each other like this. Shall we carry on our journey?

Definitely, until time grows us apart. We'll see then if there's still spark when we see each other. From there, we'll decide where we want to go next.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Friday, August 19, 2016

The Redness Is Gone! (facial)

Good morniiing, everyone!

This morning I woke up with happiness. Hahaha. ^^ Right after I get up, I wash my face and realize there's no bump in my face as usual. Wait, wait, I couldn't believe it, I should see it myself! (go to the mirror)

No zits in my face.
Not even a bit.
All dry and gone.

Huaaaa, alhamdulillaaaah! I feel so relieved because a week ago I did my facial in Larissa Aesthetic Centre in Jogjakarta and it made my face gone red and there are a few new zits near the area that've been extracted by the beautician. I regretted it. I regret that I did my facial there after months not doing it. I regret that I let the beautician to extract (to pop) my pimples when I know theres's a rule about not-picking-up-your pimples. :')

I immediately search about facial after I went home. Do facial really hurts? Is it normal to form new zits after you've done your facial? Is facial safe for our face? DO WE REALLY NEED FACIAL? There are tons of different answers from experts to beauty blogger out there in the internet. There are pros and cons. Most of it recommend us to do facial at aesthetic centre or dermatologist, not at the salon. And, many of 'em said, "Yes, facial give you redness because your skin got trauma but it shouldn't be too long to go back to normal."

Two or three days after I did facial, my face don't get better and I got frustrated. The redness is still there, new zits start to form, my skin hurts and a lil bit dry, and I'm not comfortable with my conditions. Well, it's true that my face got smoother than before because all of my zits were popped. But I can't stand the other effects I'm getting from doing facial. I even swear I won't do facial anymore. It doesn't worth the money. :(

Ahahhaha, but maybe I'm not being patient enough. Maybe I didn't do the right care after doing facial. Maybe my sleep cycle made my face gone worse. Zzzzzzzz, sorry for blaming you, facial. Well, now I'm happy that the redness and the zits are gone. Gosh, all thanks to tea tree oil, honey mask, Nuface mask, and all Himalaya products I'm using. Hahaha, I'm not really sure which one that made my face better. ( ._.)

I guess I have to put facial to my beauty routine every two months. Why not once a month? Duh, I don't have enough money for it and besides, facial is really really really hurts. I'm not ready to do facial that soon. My face needs to heal itself first. -,-v

Do you do facial?

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, August 18, 2016

Buang Jauh

"Aku nggak dapat kabarnya di mana-mana."
"Dia udah ngilang ditelan bumi."
"Ih, kok gitu?"
"Ih, buang saja dia jauh-jauh. Untuk apa coba?"
"Ya aku cuma mau memanfaatkan waktu selagi bisa..."
"Ih, jangan. Nggak usah. Aku sudah bisa menebak bagaimana akhirnya. Kamu ingat, kan, aku juga pernah dibuat begini? Ya sudahlah, aku yakin paling sebentar lagi kau lupa."
"Carilah pengalihan. Banyak hal yang dapat kau kerjakan daripada merenung lantas mengingat dia."

Monday, August 8, 2016

Prioritas

"Jangan sama orang yang tak bisa memprioritaskan kamu."

Aku mengerti. Kita pasti ingin menjadi prioritas. Menjadi aspek utama dan terutama dalam hidup seseorang. Akan tetapi, bagaimana jika ada keperluan yang lebih mendesak? Apakah tetap harus kita yang menjadi prioritasnya? Bukankah lebih indah kalau saling memahami dan memberi ruang?

Yah entah. Orang kadang-kadang lucu juga. Sibuk memberi tahu ini dan itu, padahal kita tidak butuh. Justru nasihat mereka membuatku takut untuk berkeluarga. Aku nggak mau, deh, jadi penghalang kegiatanmu hanya karena aku menjadi prioritas baru. Aku nggak mau jadi kerangkeng dan sangkar yang mengurung kamu.

Let us fly
Free as bird
...
Let us live
This life
The way we want to

Tidak Salah

Perpustakaan.
Di depan laptop.
Sendiri.

Kau tahu, sayang? Tadi dua orang kawanku membicarakan rencana pernikahan mereka dan mengulas tentang sifat-sifat lelaki. Mereka bersepakat atas kriteria lelaki idaman yang ternyata ada pada pasangan masing-masing. Kriteria itu tak ada padamu. Mereka lalu mengatakan, "Tuh, cari laki-laki yang seperti itu. Yang menghargai kamu dengan caranya itu." Diam-diam gengsiku terbetik. Memangnya kamu tidak menghargaiku? Menurutku tidak juga. Kamu punya caramu sendiri, bukan? Mengapa harus disamakan? Aku tidak suka dihakimi dan disalah-salahkan. Kamu tidak salah. Aku juga tidak salah karena telah memilih kamu. Kenapa, sih, semua orang bersikap sok tahu?

Ah, memang ya. Perjalanan cinta itu hanya dapat dimengerti dua orang. Yang lain-lain tak usah ikut.

Friday, August 5, 2016

Mengalir

Mengalir

Mengalir

Kebahagiaan menderas

Mengalir

Mengalir

Air mata

Turun mengalir

Kebahagiaan lewat

Mengalir

Melewati

Diri

Kebahagiaan lupa

Singgah di sini

Thursday, August 4, 2016

Peluk

Kangen. Kangen sekali. Mau peluk. Andaikata boneka tentu sudah kupeluk tiap malam. Sayangnya bukan. Ini perkara manusia yang belum menjadi siapa-siapa.

Wednesday, August 3, 2016

Pesan

Wahai kamu, perempuan yang sedang membaca pesan ini. Di malam ini, aku akan memberimu satu pesan, ya sebagai hiburan saja. Jangan terlalu serius walaupun isi pesanku bukan candaan lucu-lucuan. Pesan satu ini perihal lelaki.

Laki-laki itu datang dan pergi sesuka hati. Kamu tahu, laki-laki adalah makhluk yang paling pandai bermain tarik ulur. Merekalah yang datang terlebih dahulu, membanjiri kita dengan kata-kata juga gestur istimewa sampai kita mulai terbiasa, lalu pergi bersembunyi. Membiarkan kita yang datang sendiri dan mencari. Seolah-olah kita yang butuh (padahal memang butuh karena kita sudah masuk perangkap). Cerdik katamu? Memang, namanya juga laki-laki. Mengesalkan.

Nah, apakah kamu pernah ditinggalkan laki-laki? Percayalah, aku juga pernah. Aku tahu rasanya ingin menenggelamkan diri dalam luka yang tampaknya abadi. Aku tahu rasanya kehilangan senyum sebab muram. Aku pun paham ketika kamu bilang dunia tampaknya tidak berpihak padamu lagi.

Duhai, perempuan...
Jangan biarkan dirimu larut dalam lautan nestapa.

Ambil baiknya, buang buruknya

Itu adalah ungkapan penghibur hati yang tampaknya sudah menjadi template sehari-hari. Eh, tetapi nasihat krucil ini benar adanya! :)

Setiap orang membawa pesan yang berguna untuk kehidupan kita. Itulah mengapa mereka dihadirkan, tentu supaya dapat engkau tarik pelajaran darinya. Pertemuan itu Allah yang mengatur, begitu juga dengan perpisahan. Laki-laki bisa datang dan pergi, tetapi semoga pesan-pesan kehidupan yang pernah mereka torehkan tetap hidup abadi.

Hapuslah sedih yang menyelubungi hatimu saat ini. Buang jauh-jauh rencana balas dendam yang telah kamu susun sedemikian rupa demi menyadarkan ketololan dia yang sudah menyia-nyiakanmu. Sudah. Biarkan Allah saja yang menyadarkan, ini bukan tugasmu. Yang seharusnya menjadi perhatianmu adalah bagaimana menetralkan perasaan. Juga bagaimana mengambil hikmah dari balik duka.

Proses penyembuhan hati tidaklah gampang, aku mengerti. Kata-kataku ini bisa jadi hanya lewat sepintas lalu tanpa meninggalkan jejak yang berarti. Tidak apa-apa. Yang jelas kamu sadar bahwa kamu tidak sendiri. :)

Ingatlah, kamu selalu punya aku sebagai kawan tempatmu berbagi.

May happiness always follow you around. ;)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, August 1, 2016

Lipstik Revlon Colorburst Matte Balm - Sultry

¡Hola!

Sore ini mau meresensi (tsah, bukan me-review) Revlon Colorburst Matte Balm 225 Sultry. Sebelumnya, welcome August! So, new month, new...lipstick? Haha nope, nggak selalu. Kadang satu, kadang dua (eh!) tetapi kadang juga nggak beli. Tergantung kondisi kantong dan emosi. (lah)
Ya intinya, kebetulan saja aku melangkahkah kaki ke konter Revlon dan memboyong lipstik satu ini. Baca-baca dari berbagai resensi yang diulas oleh para beauty blogger Indonesia, katanya RCMB ini bagus.

Ada sepuluh warna yang bisa dipilih dan aku memilih shade Sultry yang berwarna rosy brown. Ceritanya, aku bosan (nggak juga, sih) dengan warna bold macam merah cabe, merah terang, dan merah gelap. Dan lagi malas diprotes, "Kamu ngejreng banget," atau "Kamu pede, ya, pakai warna itu," atau "Kamu kelihatan jauh lebih tua dengan lipstik itu." Yah, namanya selera orang beda-beda. Toh, selagi kamu pede aja dengan lipstik pilihan, ya udah sih. Namun, sekarang pengin aja dibilang kalem bin feminin dengan warna yang lebih lembut macam rosy brown ini.

Ini dia penampakan lipstiknya!



Dikemas dalam tabung panjang yang berwarna sesuai warna si lipstik. Ini memudahkan kita untuk mengetahui warna lipstik tanpa harus membuka tutupnya. Aku suka kemasannya! Panjang kemasannya sesuai genggaman dan bahan kemasannya doff. Enak digenggam, deh. Tampilannya pun elegan, keren untuk ditaruh di tas makeup. :p

Lipstik RCMB ini beraroma mint dan ada sensasi dingin tatkala kita memulaskannya di bibir. Nggak ganggu, kok, sepuluh menit juga hilang. Teksturnya oke, meluncur halus di permukaan bibir tanpa perlu mengoleskan pelembab terlebih dahulu. Biasanya, kan, mengaplikasikan lipstik matte tidak semudah lipstik creamy karena teksturnya yang cenderung kering. Nah, yang satu ini nggak membuat bibir kering. Ulala, me likey!

Dari segi warna, lipstik ini sangat pigmented, gadis! Sekali pulasan juga cukup. Warnanya opaque, nggak sheer. Jadi, garis-garis bibir kamu aman tertutupi. Untuk ketahanan...hm, so-so. Empat jam tahan. Transfer proof? Not really.

Berikut ini swatch-nya di tangan dan di bibir.

swatch tangan

swatch bibir

Untuk harga, lipstik RMCB dibanderol dengan harga Rp99.000,00. Harganya mungkin bervariasi tergantung kamu beli di mana. Aku beli di konter Revlon di Matahari Detos.

Revlon Colorburst Matte Balm ini mengembalikan kepercayaanku pada lipstik-lipstik Revlon. Sungguh, dulu lipstik seri Ultra HD-nya meruntuhkan penilaianku. Lipstik yang diklaim wax free dan moisturizing ini sukses mencetak garis bibir secara jelas. Ya memang sangat lembab, sih, tetapi...dari segi warna entah mengapa jadi kurang pigmented. Mesti berkali-kali pulas dan akhirnya my lips feel buttery! Yah, mungkin karena aku salah pilih warna kali, ya? Waktu itu aku beli Magnolia dan Sweet Pea yang notabene warnanya nggak ngejreng. Kapan-kapan aku review lengkap dengan swatches-nya, ya. :)

Di lain waktu, kamu mesti coba Revlon Ultra HD Matte Lipcolor atau Revlon Colorstay Moisture Stain. Kemasan dan pilihan warna mereka oenjoe sekalie. ♡♡♡ Those are on my list. Just wait and see. ^^

So, to wrap up this review, lemme mention again the plus and minus of this RMCB.

(+)
Warna pigmented dan pilihan warnanya beragam
Kemasan elegan
Matte finish
Memiliki sensasi dingin (bagiku, ini poin plus)
Tekstur lembab jadi mudah diaplikasikan

(-)
Tidak transfer proof
Daya tahan biasa
Cukup mahal

Sampai jumpa di resensi produk berikutnya, gadis!




Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, July 31, 2016

Alopecia

Semalam, aku mimpi mengidap alopecia. Rasanya sedih banget. Kamu tahu apa itu alopecia? Alopecia secara harfiah adalah kerontokan rambut, tetapi yang semalam muncul di mimpiku adalah alopecia areata, yakni suatu penyakit autoimun yang menyerang kulit kepala dan mengakibatkan kerontokan rambut. Memang, sih, beberapa bulan lalu aku melihat video salah seorang staf Buzzfeed yang menderita alopecia areata dan aku terbayang-bayang hingga sekarang. Masalahnya, ketika aku lebaran di Medan, aku selalu dapat komentar, "Rambutmu tipis banget sekarang. Rontok banget, ya? Tuh, garis kulit kepalanya mulai terlihat di bagian sini dan sini." Itu rasanya....aaaaaaaaaah oh no! I'm going bald! (oke, hiperbola)

Kerontokan rambutku memang masuk kategori tidak wajar, menurutku. Tiap keramas, rambutku rontok banyaaak banget bisa sampai belasan helai. Sampai-sampai aku ngeri sendiri bila sudah jadwalnya keramas saking sedihnya melihat rambutku berguguran. Ah, belum lagi tiap melepaskan ikat rambut. Tiap menyugar rambut. Tiap menyisir rambut. Rontok semua. Dikira-kira sampailah 50--75 helai per hari. Padahal, aku bukan tipikal orang yang suka bereksperimen dengan rambut. Aku nggak mewarnai, meluruskan,  maupun mengeriting rambut. Aku rajin memasker rambut, pakai vitamin rambut, juga memakai sampo dua hari sekali. Lantas salahnya di mana? Oh ya, aku berjilbab, sih, jadi nyaris setengah hari dari pagi sampai sore rambutku tertutup kain jilbab dan selalu diikat. Akan tetapi, aku nggak pernah mengikatnya kencang. Juga, aku tipikal orang yang berlama-lama di tempat wudu perempuan karena aku selalu menggerai rambut dan mematut diri di kaca setiap akan berwudu dan setelahnya. Yang mana berarti, selalu ada waktu 'istirahat' untuk rambutku dalam seharian itu. Orang lain rerata hanya melepas pentul kerudungnya dan membasuh bagian depan rambutnya tanpa melepas keseluruhan jilbab, sementara aku nggak begitu soalnya ya...kapan lagi aku bisa buka jilbab di tempat umum dan mengagumi diri sendiri di kaca? Wakakaka, emang narsis sih ya aku. :p

Intinya, aku bingung sekali kenapa sekarang rambutku gampang banget rontok. Apa karena aku stres, ya? Sempat stres mikirin skripsi dan mikirin kamu. Aelah. Berhenti juga, nih, aku galau demi akar rambut yang kuat! Hahaha. Berbagai perawatan rambut rontok juga sudah kujalani. Pakai sampo khusus rambut rontok? Udah. Sempat pakai Dove Hair Fall Treatment berikut kondisioner. Selain itu, aku pakai Dove Root Treatment berbentuk ampul. Aku sempat menghabiskan dua kotak dengan ngirit-ngirit duit jajan. Pakai Intense Hair Care Dove juga tiap sehabis keramas. Memang berkurang sedikit. Sekarang, aku ganti ke Rudy Hadisuwarno Hair Loss Defense. Hair loss mamen, hair lossssss. Duh, depresi banget dengarnya, aku berasa orang tua. :(

Yes, lagi-lagi mesti menghabiskan ratusan ribu untuk perawatan RH itu. Sampo, kondisioner, tonik, masker, dan juga serum hair growth-nya yang naudzubillah dah mahalnya... Aku belum bisa membandingkan hasilnya sih, ya, yang jelas, rambutku masih rontok. Serum hair growth-nya juga belum aku pakai sesuai jadwal yang disarankan jadi aku belum bisa mengecek apakah ada rambut baru yang tumbuh. Masker dan serumku sudah habis, nanti aku beli lagi dan harus lebih konsisten menggunakannya. Bismillah deh ya. :')

Aih, aih. Aku rasanya mau ke dokter .SpKK untuk menangani masalah rambut rontok ini. Sudah telanjur parah. Rambut itu mahkota perempuan, ya kan? Nggak mau, dong, kehilangan mahkota? Hiks. Adakah yang juga mengalami masalah rambut rontok dan sudah berkonsultasi ke dokter? Aku minta rekomendasinya, dong. ^^

Let's fight this hair loss problem together!

Catatan: mimpiku hanya di paragraf pertama soal si alopecia areata. Masalah kerontokan rambutku adalah benar adanya dan bukan mimpi belaka. :'D

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Friday, July 29, 2016

Basuh kuyup

Kuraih gagang shower dan mulai menyalakan air. Mengguyur. Mengguyuri puncak kepalaku. Kubiarkan serta-merta turut mengguyur masalah-masalahku.

Mengguyuri wajahku. Mengaliri kelopak mataku yang menutup, pipiku, lalu meluncur ke bibirku yang setengah terbuka. Kamu. Mengapa aku tak henti mengkhawatirkanmu? Malam ini aku bermimpi kamu sakit hingga harus dirawat inap. Baik-baik sajakah kamu? Ah, larut dan larutlah segala asumsi buruk sampai tiada bersisa.
-

Kuyup sekujur tubuh
Tetapi belum lega
Sebab jiwaku belum ikut terbasuh
Dan kamu,
Masih saja setia duduk di situ.

Wednesday, July 27, 2016

Berputar

Sudah, ya. Bagaimana jika kita sudahi saja? Biar kita fokus. Biar aku tak perlu terbebani dengan perasaan. Biar kamu tak ada lagi yang ganggu. Toh, kita berputar-putar saja. Pusing. Keliling. Bundaran.

Kita tidak ke mana-mana

Putus rute kita
Kita tak lagi punya arah tujuan
Maka hentikan langkah kita sejenak
Sampai jernih pikiran kita
Terapus kepanikan kita
Disingkapkan jalan lurus 'tuk kita
...
Agar tak perlu ada lagi senyum dan bahagia yang semu

Monday, July 25, 2016

Great Mom

I once thought that I want to be like you in the future. As sophisticated as you, as beautiful as you, and many more. But I've had it enough.

No, I don't want to be like you. I don't have to be like you. I want to be nicer than you, calmer than you, and I want to be around when my kids need me since their early stage. I want to be a great and friendly mom. Please note that I don't think you're an example of a bad ones. I learned a lot from you. From you, I learned...that I want to do something different. I knew from my deepest heart and thought that I won't apply your type-of-parenting to my kids. I'll have my own kind-of-parenting. Being a great parent isn't easy, I want to be one, so I will learn it from now on.

Thank you for making me realize
Just today.

Sincerely,
your daughter
-
yang selalu ada celanya untuk kau kritik.
Seems like I have never please you enough, huh?

Tuesday, July 12, 2016

Friend's Wedding Prep: Skincare

Hi, fellas!

Kali ini aku mau cerita pengalaman belanja-belanji bareng sahabatku yang bentar lagi akan menikah. Yuhu! (wink) Panggil dia O.

O: Nadia, ketemu yuk! Aku mau belanja skincare, nih.
N: Yuklah! (ajak aku berburu skincare dan kosmetik, aku dengan senang hati menemani)

Kami menuju supermarket terdekat dan langsung menuju rak toiletries. Macam-macam produk yang kami perhatikan, mulai dari day cream, night cream, olive oil, masker wajah, lulur, body butter, lotion, pelembab bibir, masker rambut, de es te. Selama berbelanja, aku cerewet memberi saran dan pertimbangan. "Ini perlu lho, udahlah ambil aja kan murah, maskeran tuh dua kali seminggu, aih yang ini nggak bagus, de el el." Hahaha, maafkan Nanad yang ceriwis ini ya, O!

O: Apa bedanya body butter dan body lotion? Faedahnya jauh berbeda, nggak?
N: Body butter itu lebih melembabkan dan lebih berminyak. Aku, sih, pakai saat malam aja atau saat aku lagi mau berdiam diri di rumah bersama segala produk perawatan. Teksturnya lengket, soalnya.
O: Hm, gitu. Aku jarang pakai body lotion.
N: Seriusan, demi apa? Tapi kulitmu halus!
O: Yaaaa, air wudu. Wkwkwkw.
N: Hahaha, curang kamu. You know, aku sebal sekali kalau ada yang berkomentar, kamu rajin cuci muka atau rajin merawat diri, nggak? Huh, mentang-mentang aku jerawatan dan kulitku berminyak. Padahal, bisa jadi, produk perawatan diriku, mulai dari atas sampai bawah, lebih banyak daripada dia. Kulit tiap orang, kan, berbeda. Makanya aku iri sama kulit orang yang sudah bagus dari sononya. Huft, sementara aku di sini setengah mati menggunakan produk ini dan itu. Ya sudahlah. It's relaxing when you pamper yourself. 

N: Eh, O...
O: Yap.
N: Kamu pernah nggak, sih, berpikir nanti kita merawat diri dan berdandan cantik bukan cuma untuk diri sendiri lagi? Apa ya... ng, kalau sudah nikah pasti orientasinya ke orang lain.
O: Yah, ini sedang merasakan hal yang serupa.
N: Hahaha, lucu ya? Merawat diri sendiri, tetapi tujuannya buat, ng, suami. Kocak. Ah, untung aku masih lama. :p
O: Wkwkw, makanya nih. Boro-boro, deh, aku aja jarang merawat diri. Ini baru mau mulai lagi.
N: Cie ah, yang mau nikah! Berubah banget! Hahahaha.
O: Hahaha. Makasih ya sudah menemaniku hari ini.
N: Sama-sama. Kapan-kapan kalau perlu belanja kosmetik, ajak aku lagi! I'm your free beauty consultant. :p

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Perihal Waktu

Sudut pandang orang pertama
tetapi tak selamanya merujuk kepada penulis

Waktu itu membiasakan.
Dulunya candu akan kabar satu sama lain, kini terbiasa tak mendengar sepatah kata pun dari seberang. Dulunya cemburu tanpa alasan, kini otak bertindak lebih rasional. Dulunya tak lihai mengerjakan ini dan itu, kini karena adanya keharusan, pekerjaan tersebut menjadi kebiasaan.

Waktu itu mendamaikan.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu. Masa lalu itu berarti menyangkutpautkan engkau, orang-orang di sekitarmu, serta lingkunganmu. Aku belajar memupuskan benci karena tahu itu tak ada guna melainkan hanya memberat-beratkan hati saja. Semalam aku bertemu dengan dia, gadis dambaan jiwa yang sering kau ceritakan. Menurut silsilah yang kutahu, gadis itu kawanku walaupun belum juga terbilang sahabat. Sementara, menurut emosiku, gadis itu adalah rivalku, sainganku. Sepatutnya, aku tak berbasa-basi dengannya karena melihatnya saja mengingatkanku akan engkau. Seharusnya, namanya kucoret dari daftar perkawanan karena hanya kepedihan yang ia bawa. Kawan macam apa? Kau kira bagaimana rasanya melihat seorang kawan dicintai oleh seseorang yang kaupuja pula? Memangnya serta-merta kau terima dengan lapang dada? Ah tetapi ini bukan salahnya, mata dan hatiku saja yang tertutup cemburu.

Namun, waktu mendewasakanku. Ia membujukku memaafkan masa lalu dan menerima kenyataan sepahit apa jua. Dan akhirnya memang begitu. Gadis itu, kawanku, kusapa dan kuajak bercengkrama. Aku yang awalnya hendak ke arah yang berlainan tetiba memutar tujuan demi membersamainya lebih lama. Kuberikan senyum paling tulus yang kubisa dan tidak kubuat-buat, tetapi terserahlah jika kau mengiranya lain. Aku sedang mencoba menjadi kawan yang baik. Kukesampingkan perasaan yang telah lama berdebu di pojokan. Justru karena sudah tidak ada apa-apa, sewajarnyalah aku menormalkan semua hal, termasuk berbicara layaknya kawan lama dengannya. Tak ada lagi cemburu yang dulu, aku menghela napas, lega.

Kalau ini yang kau sebut move on maka aku sedang melakukannya. Mungkin suatu ketika, aku bisa menceritakan kisah cinta ini pada orang lain dengan kalem tanpa emosi yang menggebu-gebu.

Pupusnya cinta tidak selalu diikuti oleh pupusnya luka, tetapi untuk kasusku, aku yakin bisa. Sebab tiada guna membiarkan luka menganga, lebih baik belajar rela dan menerima, mengusahakan luka tertutup sempurna. Menaruh dendam hanya akan membuat hati remuk redam. Aku tidak ingin menyusahkan hidupku sendiri.

Waktu itu mempertemukan...
dua jiwa yang telah lama menanti
namun tak patah berharap.

Aku juga akan bertemu kau, nanti
tinggal menunggu waktu
tanpa insiden salah jalur lagi!

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, July 11, 2016

Teringat Kau

Godaan-godaan lucu datang silih berganti
dari teman-teman
aku ikut menertawakan kekonyolan malam ini
sesungguhnya tak terjadi apa-apa
tetapi kubiarkan saja
untuk lelucon sepintas lalu

Andai saja engkau tahu,
sepanjang perjalanan tadi
aku mengingat kau seorang
aku membuka-buka seluruh media
lalu bertanya
mengapa tak ada ceritamu hari ini
mengapa begini dan begitu
terlalu banyak tanyaku
merisaukan hati
menggelisahkan pikiran

Andai saja engkau mau tahu,
aku tak henti mengkhayalkan
sosokmu duduk di hadapanku
makan bersamaku
berbincang asyik denganku
berjalan di sampingku
menemaniku cuci mata
dari toko ke toko

engkau ke mana?
aku tidak bisa tidur karena terbelit rindu.
mau berkunjung ke mimpiku lagi malam ini?
ah, mengapa tidak kau susun saja perjumpaan?
lebih mudah!
agar rinduku yang bertalu-talu
dapat redam
dan tidak membuat demam.

Sunday, July 10, 2016

Atas semuanya, terima kasih

Dulu aku memanggilmu Cinta, ya? Ehehehe. Maklumilah, kala itu aku benar-benar sedang jatuh hati. Malam ini tak sengaja aku menelusuri foto-foto lama di Instagram dan memo-memo kuno di ponsel. Di antara semua kenangan itu, kutemukan bayanganmu seorang. Hal itu menggerakkan jemariku untuk membaca kembali tulisan tentangmu di blog ini.

Betapa luasnya topik mengenaimu sampai-sampai jumlah tulisanku terlampau banyak pada tahun lalu. Tulisan yang bernada curhatan itu mendatangkan pelajaran untuk diriku karena sungguh masih relevan dengan keadaan saat ini.

Terima kasih atas pelajarannya.
Bahwa kita tak boleh mencinta dengan berlebihan.
Terlalu dalam, padahal belum menjadi siapa-siapa.

Atas riang gembiranya
gundah gulananya
juga sedu sedannya,
terima kasih pula.

Karena itu semua, sensitivitas juga sisi puitisku naik. Dua hal itu menjadikan blog ini penuh dengan tulisan-tulisan cinta yang manis. Juga mendatangkan pembaca yang rupa-rupanya membutuhkan konsumsi untuk hati yang didera kegalauan. Hahaha, ya, terima kasih untuk itu.

Semoga tak hanya aku yang menarik pelajaran. Kuharap ada sedikit dariku yang membekas di hidupmu, entah prinsipku, pola pikirku, atau perangaiku. Jika tidak ada, ah betapa sia-sianya perbincangan panjang kita dahulu. Bertambah-tambah pula sedihku bila memang aku segitu tidak mampunya meninggalkan kesan. Akan tetapi, pikiran orang siapa pula yang bisa mengendalikan?

Lengkung bibir yang membentuk senyum
Perlahan mendatar
Kelopak mata yang menyipit
Kemudian tertunduk sayu
Hahahihi beralih tragedi
Menggores perih, menyisakan pedih
Sampai masa yang tak diketahui durasinya


And the story of us looks a lot like a tragedy now.
The end

Saturday, July 9, 2016

Seperti itu kisah kita

Roda pesawat turun
perlahan menggores landas pacu
gedebak-gedebuk badan pesawat
bersama rem yang kencang ditarik
membuat badan lambung ke depan
dan jantung mengkeret di dada kiri

Kisah kita--
seperti itu
menakjubkan
penuh kejadian yang acapkali
membuat jantung dagdigdug
tak keruan
waswas, tetapi juga mengukir bahagia

Kecepatan diturunkan
lampu-lampu dimatikan
wajah-wajah kelelahan
yang tak sabar mengistirahatkan tubuh dan pikiran
berdesakan
menyisakan kursi-kursi
dalam kelengangan

Cepat, sekali lintas
singkat, lalu-lalang, pergi
seperti itu--kisah kita
kembali hampa
ditinggalkan dua pemerannya
yang sibuk mengejar penerbangan
menuju masa depan
tanpa kehadiran satu sama lain
--

Gadis menangis diam-diam
mengingat ada yang hendak dilepaskan
setahun ke depan dan mungkin diteruskan
selintas perasaan
kembali dinetralkan
entah akankah tercapai maksudnya
mendapati masih ada rindu menggunung
yang belum tersampaikan
tapi tak akan berhenti sebuah penantian
jika tidak diakhiri
dengan sapa atau ucapan perpisahan
opsi kedua saja, pilihnya
diikuti sendu
dan kelabu
--

Just stay with me, baby stay with me
tonight don't leave me alone
...and just kiss me slowly.
(Parachute, "Kiss Me Slowly")

Tuesday, July 5, 2016

Cinta Yang Belum Pasti

Hari ini aku kembali dilanda kebimbangan antara memilih cinta yang belum pasti dan cinta yang dapat seiring dengan cita-cita. Kau adalah cintaku yang belum pasti. Belum pasti seiring, sevisi, dan semisi. Akan tetapi, aku cinta dan aku tahu aku bersedia mengompromikan banyak hal demi membersamaimu.

Kemudian,
adalah dia, teman satu cita-cita sekaligus kawan kolaborasi. Kompromi tentu ada pula, tetapi sudah pasti aku dan dia akan berada dalam dunia yang sama di masa depan. Kami dapat saling mendukung kegiatan masing-masing dengan suka cita karena sama-sama tahu asyiknya bidang yang kami jalani. Sayang, aku tak tahu perasaannya kepadaku, sama seperti tak tahunya aku mengenai kedalaman perasaanmu kepadaku.

Adakah jaminan kau menerimaku dengan lapang dada?
Akankah kau dan aku menjalani hidup dengan seru-suka-bahagia
di tengah-tengah perbedaan kita, baik dari segi cita-cita maupun cerminan diri?
Entahlah, aku sendiri mulai tidak yakin padamu
Walaupun cintaku belum lagi surut dan kuharap takkan pernah begitu
Akan tetapi, keraguan mulai mengambang ke permukaan
Meninggalkanku sendiri dalam kegamangan

Tidak bisakah aku berhenti mencintai orang-orang yang 'kan meninggalkanku dalam ruang bimbang sendirianPadahal, kuinginkan tak ada yang serupa ini lagi, terlebih padamu. Inginnya aku, kau sajalah yang terakhir untuk sekarang dan selamanya. 

Nyatanya, tidak semudah itu. Tidak pernah semudah itu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Kemungkinan-kemungkinan

Dari relung hati
Menuju titik terisau dalam jiwa
Dilema
Dilema
Tetapi terus ku
mencintaimu dengan kerapuhan 
dan serak-serak harapan yang ada

Mencintaimu,
memberimu kesempatan
untuk melukaiku
yang kemudian
memberiku peluang
untuk membencimu
di kemudian hari

Sunday, July 3, 2016

Perempuan Yang Berkunjung Ke Rumah Kekasih

Kakiku menapak di tanah tempat kamu dibesarkan. Udara segar pepohonan kuhidu dengan khidmat, bunga-bunga, aspal jalan, juga rumah-rumah kuamati dengan cermat. Ingin rasanya kutinggalkan jejak di mana-mana. Agar kau tahu, aku pernah menjejakkan kaki di kampung kelahiranmu. Aku pernah begitu ingin menjadi bagian dari dirimu, mengenali masa lalumu, dan menemani masa depanmu.

Anak-anak kecil melintas, berteriak-teriak berkejaran, membuyarkan lamunanku. Kureka-reka sendiri wajah dan postur tubuhmu semasa kanak-kanak. Pasti kau pernah sebahagia mereka, ya, pasti.

Tapi hari ini pun kau juga. Jauh dari lokasiku saat ini, kau senyum sumringah karena berhasil membawa pujaan hati ke gerbang perkawinan. Perempuan itu, bukan aku yang tengah melepaskan kenangan kita satu per satu di kampung halamanmu. 


Luv,
Nadia Almira Sagitta

Friday, July 1, 2016

Dua Jam Bersama Ica

Penerbanganku ke Medan kali ini cukup lama. Mengapa begitu? Soalnya, pesawat yang kunaiki menunggu giliran lepas landas selama 20 menit. Waktu yang ada tentu kumanfaatkan untuk tidur secara tadi pagi aku sahur terlalu cepat dan semalam tidurku hanya dua jam. Ketika aku membuka mata dan mengedarkan pandang ke sekeliling, kutemukan gadis kecil sedang melonjak-lonjak di pangkuan ayahnya. Ia mengenakan onesies putih bermotif dan jaket ungu. Saat pandangan kami beradu, aku memberinya senyum dan ia pun membalas senyumku. Aih, senangnya hati. Belakangan kutahu nama anak itu Ica. ^^

Tak lama, pramugari datang menawarkan makanan. Ica, yang masih batita, tentu saja makan siang dengan disuapi ibunya. Oh iya, jadi tempat duduk ayah dan ibu Ica dipisahkan aisle pesawat. Cukup sulit untuk ibu Ica menyuapi si anak karena adanya jarak antarkursi. Tatkala disuapi pertama kali, Ica tahu-tahu melepehkan nasi. Dari ekspresi wajahnya, sih, aku tahu nasinya masih terlalu panas, hahaha. Terus, memang dasar tabiat anak kecil yang mau melakukan semuanya sendiri, Ica berulangkali menepiskan tangan sang ibu dan mencuil sendiri makanan dari sendok. Gemas!

Ica ini aktif sekali. Suka loncat-loncat, ngegelosor di meja lipat, dan berjalan-jalan di lorong pesawat. Tiap ia berjalan, Ica  menghampiri kursi-kursi penumpang. Haha, tampaknya ia penasaran dan ingin berkenalan. Ayah Ica sampai kewalahan mengejar-ngejar Ica yang lari ke sana kemari. Lucu sekali. Kutebak, jika ia dewasa nanti ia akan menjadi pribadi yang ramah, ekstrovert, dan penuh rasa ingin tahu.

Dua jam bersama Ica, pandanganku tidak lepas daripadanya. Anak satu ini memang menggemaskan sekali. Juga, mungkin yang membuatku betah berlama-lama memandanginya karena aku melihat kekompakan ibu dan ayah Ica. Kulihat sendiri betapa sabarnya ayah Ica menghadapi tingkah si anak. Hal yang sama belum tentu kutemukan pada orang tua lainnya.

Hal lain yang kupelajari dalam perjalanan ini adalah uniknya komunikasi antaribu. Baiknya kuceritakan dahulu tentang posisi dudukku tadi. Di depanku ada ibunya Ica dengan kakaknya Ica. Di samping ibu Ica, duduklah ayah Ica bersama Ica dan abangnya Ica. Di depan ayah Ica, ada seorang ibu dengan anak perempuannya. Di belakang ayah Ica, yakni di sampingku, duduklah pasangan muda dengan anak laki-laki mereka. Di belakangku juga ada seorang ibu dengan anak perempuan. Well, you can imagine that I was all surrounded with kids. And I was there, single and very happy, with no kid.

Balik ke komunikasi tadi, kulihat ibunya Ica cepat akrab dengan seorang ibu yang duduk di seberangnya. Ya barangkali karena mereka punya pemahaman yang sama, "Kita saling tahu betapa repot dan bahagianya mengurus anak. Why don't we share our stories?"  Unik, ya? Aku pun sok-sok akrab menanyakan ibu di sampingku perihal umur anaknya. :)))

Hehehe, Ca, makasih ya sudah menyedot perhatianku selama di pesawat. Khip ngegemesin ya, Ca! Terima kasih pula sudah mengingatkanku pada satu sosok. Adalah kau yang tidak berhenti menari-nari di pikiranku sepanjang perjalanan tadi, Tuan.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 29, 2016

Terpojok

Jika memang kau suka, tak perlu diutarakan terang-terangan
Kode-kode secuil, sih, tidak masalah
Bagaimana jika dia tidak menyimpan perasaan yang sama?
Bukankah kau akan merasa malu dan tersakiti?
Maka itulah, janganlah kau berlebihan mengutarakan rasa.

Pernah kukatakan, jangan membuat seseorang merasa terpojok dengan tingkahmu. Ketika kau mengaku suka pada seseorang, menguber-uber dia, sementara dia risih dengan perilakumu, kau sudah menempatkan orang yang kau cinta pada posisi terpojok itu. Dia mau menolak, tetapi tak enak. Nanti kau sedih, timbangnya. 

Jauh lebih aman ketika kau simpan saja perasaan itu seorang diri.
Kau tidak perlu memberatkan siapa-siapa.

Sianida?

Sianida. Mahasiswa-mahasiswi semester akhir pasti tak asing lagi dengan akronim ini. Sianida stands for siap nikah setelah wisuda. Hahaha, lucu ya? Beberapa kawanku memprotes tulisan-tulisanku di blog dan Facebook akhir-akhir ini. Kata mereka, "Kok selepas sidang, postingan Nanad berputar di masalah jodoh melulu?" Aku juga tidak tahu pasti mengapa aku menulis soal itu. Barangkali karena atmosfer dunia di luar kampus mulai merasukiku. Aku harus memikirkan rencana selepas kuliah berikut cara menggapainya. Menikah tentu masuk dalam daftar walaupun waktunya masih nanti-nanti. Setidaknya, itu topik yang wajar bagi anak muda sepantaranku. Beberapa teman mulai menyebar undangan, yang punya pacar tinggal ngumpulin duit sambil mematangkan persiapan, yang memilih taarufan santai menunggu CV berdatangan, yang sudah nikah tentu sibuk menikmati hidup baru bersama pasangan. Yuhu, aku nggak galau! Tapi... tapi apa? Yaaaa, jadi tersentak saja, persiapan apa yang sudah kulakukan? Ngngng... (bingung)

Persiapan perasaan kali, ya?
Hahahaha. Itu mah ceklis.
Persiapan kalau tahu-tahu ditinggal nikah?
Itu juga ceklis. Air mata selalu siap sedia. Hahaha, merana betul.
Persiapan...
Tahu, ah. Ribet!

Ini kocak betul, ih! Target sungguh masih lama, tetapi ternyata hati punya suara sendiri. Ah, single fighter, semoga selalu dikuatkan. Semoga dikuatkan untuk mencapai target-target tertentu dan tidak dikacaukan oleh pikiran nyeleneh macam ini. Apa, sih, remeh banget mikirin remah-remah perasaan. Berserakan. 

Jangan hilang fokus!
Jika cinta, ia pasti sudi menunggu.
Jika ditakdirkan untukmu, ia pasti tak akan ke mana-mana.
Jika satu visi, ia pasti memaklumi cita-cita pribadi.

...aih, tetapi bolehkah perasaanmu dikunci untukku saja?
sembari kita merapatkan jarak
untuk bersua dan bergenggaman tangan...

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, June 25, 2016

Jatuh Cinta

Kuterpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa kuterinspirasi hatimu
Kutak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu
(Raisa, "Jatuh Hati")

Aku ingin hadirmu, di sini, setiap hari
di hati dan di sisi.
Aku ingin bercerita apa saja yang melintasi pikirku
setiap detik, setiap waktu.
Aku ingin kau menaruh tatapan
dan memasang pendengaran
acapkali aku mengisahkan sesuatu.
Aku ingin kau tersenyum
tatkala aku melakukan hal-hal konyol
atau karena kau bahagia ada aku.

Hatiku telanjur terpikat-terikat.
Aku ingin kita begini, di sini, setiap saat.

Sunday, June 19, 2016

Kenangan di Blackberry

Pagi ini baru menyalakan ponsel Blackberry setelah berbulan-bulan teronggok di lemari. Aku memutakhirkan aplikasi WhatsApp dan BBM agar bisa kugunakan kembali. Waktu terakhir aku login di WhatsApp ternyata Agustus 2015, nyaris setahun lalu. Semua obrolan masih tersimpan sempurna. Juga obrolan kita yang dulu.

Kata sahabat terdekatku, "Kalau kamu masih sedih tiap ingat dia, berarti kamu belum move on sepenuhnya," Siapa bilang aku sedih? Aku menangis saja, kok. (tertawa getir)

Well...
Mungkin aku tipikal orang yang menghargai setiap momen, baik momen indah atau pahit. Sampai sekarang, aku bahkan menangis atau merasa hampa tiap melihat foto atau bertemu orang yang kusukai dulu. Memang tidak setiap orang memorable, kalau sekadar taksir pastilah aku biasa saja. Akan tetapi, ada beberapa sosok yang memberikan pengaruh besar di hidupku, tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja. Ada yang pertama kali mengenalkan pengalaman saling mencintai, ada yang mengantarkanku ke gerbang cita-cita, ada yang memperkenalkan hangatnya sebuah keluarga, ada yang mengubah perspektif hidupku, dan lain-lain. Sosok-sosok itulah yang membuatku seolah tidak bisa move on, padahal sudahlah kutemukan penggantinya. 

Jadi, kenapa menangis?
Coba kau tanyai hatiku
Mengapa ia betah sekali menyimpan nama-nama kalian di sana
Padahal yang tersisa tinggallah luka
Canda tawa yang dulu raib entah ke mana
Seolah tidak pernah ada.

Cemburu dan Cemas

Aku, entahlah, akhir-akhir ini lekas terbakar api cemburu. Kalau sudah begitu, aku lantas uring-uringan tidak mau lagi memikirkanmu atau malah menangis. Padahal apa yang kucemburui, hanya masa lalu. Aku juga punya masa lalu yang bisa saja kau cemburui, tetapi sepertinya kau cukup rasional untuk tidak menghiraukannya. Ini tampaknya dipengaruhi oleh sifat perempuan yang sungguh peka dan laki-laki yang cenderung lebih cuek. Lagipula, masa lalu itu bukan untuk diungkit, tetapi cukup disimpan dalam kenangan untuk diambil pelajaran.

Iya, tetapi...
Aku memang cemburu pada orang-orang yang pernah menemanimu setiap hari
Ke mana pun kau melangkah
Kapan pun kau ingin melanglang 
Berapa lama pun kau memutuskan untuk singgah
Mereka berdiri bersisian denganmu
Sementara aku dengan segala keterbatasan yang kumiliki
Tentu tidak bisa berbuat hal yang sama
Hanya doa yang bisa kukirimkan untuk menemanimu tatkala sendiri

Aku juga cemburu pada orang-orang yang cocok bercengkrama denganmu
Satu kegemaran denganmu
Satu pemikiran denganmu
Satu suara dengan mimpi-mimpi masa depanmu

Kita banyak tidak cocoknya, kukira
Kenyataan itu membuat aku was-was sendiri
Kalau memang kita tidak menemukan kecocokan, bagaimana?

Kecemburuanku sungguh tidak beralasan
Untuk apa pula kau kucemburui, padahal kau bukan siapa-siapaku
Atau setidaknya belum menjadi siapa-siapaku
Kecemburuan ini hanya mengantarkanku pada gerbang kecemasan
Bagaimana bila tidak pernah ada aku dan kau di masa yang akan datang?
Jikalau begitu, bukankah tidak usah kita mulai sedari mula?
Aku cuma tidak ingin perasaanku sia-sia
Walaupun tak pernah ada istilah sia-sia jika menyangkut engkau.

Friday, June 17, 2016

Muara Rindu

Andaikata bisa kuterangkan perasaan di hati,
Tentu rinduku sahaja yang engkau temui
Tapi aku payah berkata-kata, kasih
Lidahku kelu sekonyong-konyong
Jemariku pun mendadak kaku
Acapkali ingin kutuliskan kabarku
atau kutanyakan keaadanmu

Tapi rindu yang bertumpuk tinggi ini
Benar adanya tersimpan di hati
Janganlah engkau sangsi
Oleh sebab
Rinduku ini satu sahaja muaranya
Menuju engkau
Menuju engkau.

Thursday, June 16, 2016

Syarh Hadis Arba'in An-Nawawi: 11

"Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib ra. cucu kesayangan Rasulullah SAW berkata, 'Aku hafal sabda Rasulullah SAW, "Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan kerjakan perkara yang tidak meragukanmu.'" (HR Tirmidzi dan Nasa'i, Tirmidzi berkata: “Hadis ini hasan shahih”)

Sebelum membahas kandungan hadis, baiknya kita mengenal terlebih dahulu sosok Abu Muhammad Al Hasan bin Abi Thalib. Beliau adalah cucu Rasulullah, anak dari Ali bin Abi Thalib, dan saudara Al Husain. Beliau memiliki nama kunyah (nama yang diawali dengan abu/ummu) Abu Muhammad, sementara saudaranya, Al Husain, memiliki nama kunyah Abu Abdillah. Beliau lahir pada 3 H, sementara Al Husain lahir pada 4 H. Ketika Al Hasan lahir, sang ayah ingin memberinya nama Harb 'perang', namun Rasulullah menggantinya menjadi Al Hasan. Ketika Al Husein lahir, Ali bin Abi Thalib kembali menamainya Harb, tetapi Rasulullah segera menggantinya. Hal yang sama juga terjadi pada Muhsin, anak ketiga Ali bin Abi Thalib. Ini menandakan bahwa pentingnya memberi nama-nama yang baik pada anak.


Hasan dan Husain dijuluki sebagai roihanah-nya Rasulullah. Roihanah adalah bunga wangi semerbak dan indah. Dikatakan seperti itu karena mereka berdua sering diciumi Rasulullah. Keduanya adalah pemimpin para pemuda di surga. Al Hasan bersama Rasulullah hanya sampai ia berumur 7 tahun karena Rasulullah meninggal pada 9 H. Kedudukan Al Hasan lebih mulia daripada Al Husain, tetapi kaum Syiah lebih mengagung-agungkan Al Husain karena beliau wafat di Karbala. 


Berkaitan dengan Al Hasan, Rasulullah memberitakan bahwa Al Hasan akan mendamaikan dua kelompok kaum muslimin. Beberapa tahun kemudian, dugaan Rasulullah terbukti. Al Hasan mendamaikan penduduk Iraq dan Syam karena penduduk Syam telah membaiat Muawiyah menjadi khalifah, padahal penduduk Iraq telah lebih dulu membaiat Al Hasan. Al Hasan mengalah dan membiarkan Muawiyah menjadi khalifah demi terciptanya kerukunan antara dua kelompok ini. Penduduk Iraq dan Al Husain menyayangkan keputusan Al Hasan.


Kembali ke pembahasan hadis, "Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan kerjakan perkara yang tidak meragukanmu,". Hadis ini dihukumi hasan sahih oleh Imam Tirmidzi. Hadis hasan sahih bermakna:

1. Apabila ada dua jalur sanad maka satu sanad hasan, satunya lagi sahih
2. Apabila hanya terdapat satu jalur sanad maka oleh sebagian ahli hadis dihukumi sahih dan oleh ahli hadis lainnya dihukumi hasan 

Makna hadis ini mirip dengan hadis arba'in yang keenam, yakni sama-sama berkata tentang meninggalkan syubhat (perkara yang samar). 


Faidah hadis ini:

1. Islam tidak mengajarkan umatnya memiliki keresahan. Jika menginginkan ketenangan maka tinggalkanlah perkara-perkara yang meragukan.
2. Jika keraguan berbenturan dengan keyakinan maka kita pilih yang meyakinkan. Hal ini sejalan dengan kaidah fikih Al yaqina la yazulu bi syakk 'keyakinan tidak bisa dihilangkan karena adanya keraguan'. Misal, seseorang telah berwudu lalu ia ragu apakah wudunya batal atau tidak maka wudunya tetap dianggap sah. Intinya, mana yang lebih meyakinkan di hati, itu yang diambil.

*Kajian Syarh An-Nawawi rutin dilaksanakan selama 20 Ramadan awal kecuali tiap Selasa dan Jumat pada pukul 08.30--10.00 di selasar selatan Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Kajian pada hari Sabtu dan Minggu tetap ada.

Sumber:
Mistu, Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyidin. 2016. Al-Wafi Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah: Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah. Jakarta: Al'I'tishom.
http://kajian-islam.id/mengenal-hadits-hasan/
http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2009/04/fiqh-pemberian-nama-dan-hal-hal-yang.html
https://mahluktermulia.wordpress.com/2010/04/17/hasan-dan-husein/
https://konsultasisyariah.com/397-hukum-nama-kunyah.html

Wednesday, June 15, 2016

Saya Ibu Rumah Tangga, Nak!

Setelah kemarin saya mendapatkan wejangan dari dosen untuk menuntaskan studi setinggi-tingginya sebelum memikirkan urusan jodoh, sekarang saya mendapat kesempatan berdialog dengan seorang dosen favorit saya. Beliau menawarkan pandangan yang berbeda.
N: Bu, penerus bidang ini jika nanti profesor itu tidak ada, Ibu, kan?
D: Nah, itu dia, Nak. Saya belum S-3. Sudah banyak juga yang mendorong saya lanjut kuliah, termasuk suami saya.
N: Iya, lanjut aja, Bu.
D: Akan tetapi, nanti siapa yang mengurus anak-anak? Dulu ketika saya mengerjakan penelitian dan begadang saja, si kecil tidak bisa tidur kalau saya belum tidur. Itu baru penelitian kecil, bagaimana disertasi?
N: Iya juga sih, ya...
D: Ketika suami saya lanjut S-3 dan anak-anak mau merecoki ayahnya, mereka bisa main sama saya, tetapi kalau nanti saya S-3, bagaimana mungkin ayahnya yang ngurus sementara dia juga sibuk?
N: (diam seribu bahasa)
N: Jadi, Ibu ada kemungkinan lanjut S-3 kalau anak-anak sudah besar ya, Bu?
D: Belum tentu juga, Nak. Ya nanti kalau saya berani daftar SIMAK, berarti saya sudah siap. Tidak harus menunggu mereka besar juga. Tidak apa-apa, pekerjaan utama saya itu ibu.
D: Setiap pagi saya antar anak-anak sekolah, ikut rapat orang tua ini itu, sampai-sampai ada sekumpulan ibu yang menanyakan saya masih bekerja sebagai dosen atau tidak saking seringnya terlihat di sekolah. Hahaha.
N: Iya, Ibu sepertinya aktif banget di sekolah anak.
D: Iya, Nak. Apa ya...masa tumbuh kembang anak itu tidak bisa diulang. Pendidikan bisa ditunda, tetapi anak? Anak itu butuh kehadiran orang tuanya. Jangan sampai mereka merasa tidak diperhatikan.
N: (diam seribu bahasa lagi) (seketika merefleksi masa kecil) Betul, Bu. Ibu saya wanita karir dan jarang berada di rumah. Ya terkadang saya merasa kesepian, tetapi positifnya saya memang jadi anak yang mandiri. Semua ada positif negatifnya.
D: Iya, semua ada pilihannya. Saya memilih ibu rumah tangga sebagai pekerjaan utama saya.
--

Barakallahu fiik, Bu! Sungguh pahala tiada putus-putusnya untuk engkau yang begitu totalitas mengabdi untuk keluarga. Hidup ini memang penuh pilihan, bukan? Jika sudah memilih maka pastikan engkau berbahagia dengan pilihanmu itu. :)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, June 13, 2016

Ngobrol Cantik Bareng Profesor

Seru, ya, ngobrol sama profesor dan tahu sedikit perihal pengalaman hidupnya. Bisa sekalian jadi penambah semangat.

"Bu, saya dengar Ibu sempat meneliti bahasa daerah di pedalaman, ya? Itu sesaat setelah Ibu sarjana atau lulus S-2 atau S-3?"
"Wah, saya setelah S-1 langsung lanjut S-2 ke Prancis. Di sana, saya malah diharuskan berkuliah S-2 jurusan fonetik dulu oleh profesor sebelum mengambil S-2 geolinguistik jadi gelar S-2 saya ganda. Saya tuntaskan 2,5 tahun untuk dua gelar itu, satu tahun lebih masing-masing. (gile, keren berat!)
"Wih, cepat banget ya, Bu? Keren banget."
"Haha, ya namanya beasiswa kan, Nak. Saya nggak bisa lama-lama di sana. Itu juga mati-matian nuntasinnya, summer saja nggak libur."
"Setelah lulus Ibu langsung gabung sama penelitian LIPI itu, ya?"
"Oh nggak. Selepas lulus, saya langsung meneliti untuk S-3. Jadi, saya itu sampai S-3 kuliah terus tanpa putus. || Reaksiku: (takjub) (pasang muka kaget) wkwkwk.
"Cuma ya, lantas saya diprotes sama keluarga, 'Kamu itu kuliah terus. Kapan nikahnya?' Haha, akhirnya saya nikah pas S-3. Ujian disertasi saya agak terlambat karena saya saat itu punya anak."
"Wah, haha iya, Bu. Biasanya itu yang rewel malah keluarga, padahal kitanya sendiri mah santai saja."
"Iya, memang begitu. Kita kan perempuan, ya, mau nggak mau dihadapkan pada banyak urusan seperti pendidikan dan keluarga. Repot kalau disambi makanya saya memilih studi dulu sampai selesai baru menikah."
"Iya, setuju sekali, Bu."
--

Wuaaaa, prof satu ini sukses menjadi mood booster untuk menuntaskan skripsi dan meraih mimpi-mimpi. Men, andaikata aku diberi kesempatan untuk terus lanjut studi dan dimudahkan jalannya seperti Prof. Mia, barangkali merupakan pilihan tepat untuk kuliah sampai memasuki jenjang S-3 baru kemudian menikah. (ketularan kisah hidup beliau, wkwk) Ya, tetapi jodoh siapa yang bisa menduga kapan datangnya dan bagaimana rupanya? Kali gitu dapat jodoh bule seperti profesorku yang satu ini. Yang penting, nggak usah menitikberatkan hidupmu ke situ kalau memang masih banyak pencapaian pribadi yang ingin kamu lakukan. Studi dulu, baru pikir nikah. :)))))

Mangga kalau berbeda pendapat. Haha, prioritas tiap orang berbeda. Nggak masalah, yang penting kamu punya arah dan tujuan hidup. Yang berabe itu kalau kamu memilih gone with the wind doang. Set your goals from now on! :D

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, June 12, 2016

Kapsul Waktu: Ada Kamu

Ada kamu di daftar keinginanku tahun lalu. Sempat ada namamu kutuliskan di situ. Hari ini kudengar pembacaan kapsul waktuku oleh seorang teman di angkatan. Sedikit hambar kurasa ketika ia menyebutkan kamu. Masalahnya, tidak ada lagi kamu, baik di hati maupun di angan-angan.

Setahun berjalan sudah dan aku sudah menyerah. Lelah mempertahankan rasa dalam kepura-puraan bahwa aku baik-baik saja acapkali kamu bercerita tentang dia. Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk memutuskan; apakah mempertahankan atau melepaskan? Aku akhirnya memilih untuk melepaskan walaupun rasanya...ya sakit. What did you expect?

Melepaskan itu memaafkan. Memaafkan semua yang menyakiti hati, menerima semua yang telah terjadi, dan merelakan semua kemungkinan larut dalam mimpi-mimpi.

Ada kamu di daftar keinginanku tahun lalu. Cukuplah itu menjadi penanda bahwa aku memang sempat jatuh cinta dan ingin benar padamu.
--

Semakin berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaan, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak setiap mimpi harus diwujudkan. Ada mimpi yang akhirnya terlelap dan terlupakan di minda, itu bukan masalah. Ada mimpi yang harus terkubur dalam, itu pun bukan masalah. Mimpi yang terkenang di angan bukan lagi masalah asal kita tidak pernah berhenti menumbuhkan mimpi-mimpi baru. Toh, tidak semua yang kita inginkan diberi sama Tuhan, bukan?

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 8, 2016

Kajian Syarah An-Nawawi

Pagi ini aku ada jadwal kajian di MUI. Itulah mengapa pukul 08.30 aku sudah mandi dan bersiap-siap pergi (padahal sedang libur!) Forum Kajian Islam Universitas Indonesia (FKI UI) mengadakan kajian selama 20 hari pertama Ramadan tiap hari Senin, Rabu, dan Kamis yang akan membahas Syarah Arbain Nawawi. Kajian ini diadakan di selasar selatan Masjid UI (MUI), hehe kalau kamu mau mampir silakan saja datang ke selasar selatan, cari hijab kain biru, ya! :)

Hadis arbain yang dikumpulkan oleh Imam An-Nawawi termasuk hadis sahih--yang juga diambil dari HR Bukhari Muslim--dan mencakup hal-hal penting. HR Bukhari Muslim mah kitab hadis yang penting banget, ya. Sebelum adanya HR Bukhari Muslim ini, Imam Syafi'i pernah bilang, "Kitab paling sahih setelah Alquran itu adalah kitab Al Muwatta' karangan Imam Malik."

Hari ini fokus membahas hadis pertama yang berbunyi, "Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khattab ra. berkata, 'Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.'"

Kata ustaz, "Sudah sepatutnya bagi orang yang merindukan akhirat untuk mempelajari hadis ini." Segitu pentingnyakah hadis arbain yang ini? Iya, soalnya hadis ini adalah separuh dari ajaran Islam. Agama itu bertumpu pada dua hal, sisi lahiriyah (amal perbuatan) dan sisi batiniyah (niat). Betapa pentingnya niat itu sebelum melakukan amalan.

Julukan amirul mukminin (pemimpin bagi orang yang beriman) diberikan kepada Umar bin Khattab. Namun, sebelum Umar, seorang sahabat Rasulullah bernama Abdullah bin Jahsy juga mendapat gelar amirul mukminin, ya tetapi kata ustaz ini gelar secara khusus karena yang dipimpin saat itu hanya sebagian kecil, sementara Umar memimpin banyak umat. Jadi, amirul mukminin secara umum itu gelarnya Umar. Nah, ada yang tahu gelar khalifatur rasulillah (pengganti Rasulullah) diberikan kepada siapa? Yes, Abu Bakr as Siddiq!

Umar bin Khattab ini jadi khalifah pada 13 H dan meninggal pada 23 H. Itu berarti beliau memimpin umat Islam selama 10 tahun lamanya. Umar bin Khattab ini umurnya berbeda 13 tahun dengan Rasulullah dan meninggal pada umur 63 tahun, seperti Rasulullah dan Abu Bakr. Umar bin Khattab meninggal karena dibunuh oleh Abu Lu'lu'ah, seorang budak beragama Majusi. Untuk kisah lengkapnya, coba kalian cari di buku atau internet. :)

Nah, balik lagi soal niat, niat itu membedakan sesuatu itu ibadah atau bukan dan membedakan kepada siapa ia tujukan ibadahnya itu, kepada Allah atau bukan. Salah satu kaidah fikih perihal niat, yakni al-Umuru bi Maqashidiha, berangkat dari hadis ini.

"Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya." Kalimat ini menyiratkan hukum berhijrah. Hijrah itu hukumnya wajib bagi seseorang yang tinggal di negeri kafir. Hijrah pun nggak melulu perpindahan tempat, kok, kamu yang sedang berusaha meninggalkan sifat-sifat buruk dan mencoba mendalami agama Allah juga disebut muhajir--seseorang yang berhijrah.

"Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju." Mengapa setelah dunia disebutkan wanita padahal wanita itu juga termasuk dunia? Ini untuk penegasan secara khusus aja, sih, karena wanita dan harta itulah yang membuat banyak manusia menyeleweng. Hm, entah mesti bersikap apa mendengar hal ini antara senang dan sedih juga. Segitu berharganya perempuan sampai dikejar-kejar dan segitu berbahayanya perempuan karena bisa membuat seseorang berdosa. Perempuan, jaga sikapmu, ya. :')

Hadis arbain pertama ini termasuk hadis masyhur, namun sebelumnya tergolong hadis gharib. Wait, jadi penggolongan hadis menurut jumlah jalan periwayatannya terbagi atas tiga, yakni hadis gharib, aziz, dan masyhur. Hadis gharib adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang perawi, hadis aziz itu diriwayatkan oleh dua perawi pada tiap tingkatan sanad, dan hadis masyhur itu diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih pada tiap tingkatan sanad. Nah, hadis ini pertama kali diriwayatkan oleh Umar bin Khattab dan hanya beliau yang meriwayatkannya saat itu. Beliau kemudian menurunkannya ke Alqamah bin Abi Waqqash, lalu Muhammad bin Ibrahim meriwayatkannya dari Alqamah, lalu Yahya bin Sa'd al Anshari meriwayatkannya dari Muhammad. Setelah itu, barulah hadis ini diriwayatkan oleh banyak orang. :)

Niat itu tidak perlu dilafazkan, ya, cukup dalam hati. Allah itu mengetahui apa yang ada di hati manusia. Ada yang berkata orang dengan mazhab Syafi'i itu melafazkan niat. Pendapat itu berangkat dari perkataan Imam Syafi'i yang berbunyi, "Jika seseorang berniat berhaji atau umrah maka itu sah walaupun tidak diucapkan. Berbeda dengan salat, salat tidak sah kecuali dengan pengucapan." Sadly, ada ulama Syafi'iyah yang telah salah menafsirkan perkataan beliau. Hal ini kemudian diklarifikasi oleh Imam An-Nawawi, "Para ulama mazhab kami berkata, yang berkata demikian telah salah. Bukanlah maksud Imam Syafi'i itu melafalkan niat dalam salat, namun maksudnya adalah takbir." (Al Majmu', 3/243) So, niat apa pun kamu, mau niat salat, puasa, atau lainnya, cukup dalam hati, ya! :)
--

Senang, lho, bisa ikut kajian ini! Hehe, memang sih syarah atau penjelasan dari hadis arbain bisa kamu temukan di buku-buku, contohnya di buku Al-Wafi yang baru aku beli hari ini. Akan tetapi, mengikuti kajian bersama ustaz yang mumpuni bisa memberikan kamu wawasan baru. Contohnya saja istilah amirul mukminin, kisah Umar bin Khattab, bahkan ilmu penggolongan hadis tadi dijelaskan langsung oleh ustaz. Bermanfaat, kok, insyaAllah. Lagipula, apa yang lebih menyenangkan dan menenangkan daripada berkumpul dengan orang saleh dan salihah? :)

Sumber:
Mistu, Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyidin. 2016. Al-Wafi Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah: Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah. Jakarta: Al'I'tishom.
http://www.abufurqan.net/mengenal-hadits-masyhur-aziz-dan-gharib/
http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/ulumul-hadits/hadist/891/hadits-pertama-arbain-nawawi.html
http://islamiwiki.blogspot.co.id/2013/06/sekilas-tentang-kitab-al-muwatta-imam.html#.V1fBapGKTIV
https://www.facebook.com/notes/oos-depok/kisah-terbunuhnya-umar-bin-khattab-penulis-al-imam-al-hafizh-ibnu-katsir/10150643379888386/
https://muslim.or.id/10689-polemik-pelafalan-niat-dalam-ibadah.html

Sunday, June 5, 2016

Bianglala

Siang itu di foodcourt sebuah mal. Aku mengutak-atik ponsel dan mengecek medsos satu per satu. Kutemukan dirimu lalu aku berhenti. Dadaku serasa ditekan godam secara tiba-tiba dan napas mendadak sesak. Andaikata aku sendiri, mungkin air mataku kubiarkan mengaliri pipi tanpa harus kutahan-tahan seperti ini.

Kalau aku minta kamunya pergi, boleh?
Kalau aku minta kamunya berhenti, bisa?
Tapi sayangnya, aku nggak berani minta itu semua
Karena aku yang nggak mau.

Kita seperti naik bianglala, kau tahu?
Kau membelikan tiket, aku ikut saja
Berputar-putar di udara tanpa ada niatan turun menjejak bumi
Kau terus dan terus membeli tiket agar kita tidak perlu turun
Lebih menyenangkan begini, katamu
Lebih bebas seperti ini, lepas dari kewajiban untuk sesaat
Aku...yang sedari mula manut saja, manggut-manggut

Sampai waktunya aku mulai lelah dan pusing
Berputar-putar tanpa tujuan itu melelahkan
Bahkan bersama kamu
Ternyata tidak juga mengusir pusing dan lelahku
Ingin kuajak kau turun, tetapi aku tidak berani
Toh, kau yang membelikanku tiket
Tapi, aku harus turun
Bisa mabuk aku bila seperti ini melulu

"Aku mau turun."
"Kenapa? Di sini saja bersamaku."
"Sudah dua jam kita di sini. Mau berapa putaran lagi?"
"Lihat nanti, ya. Aku belum mau turun."
"Kau selalu begitu. Kau lari dari tanggung jawab, kau tahu?"
Kau diam. Aku terus mencerocos.
"Kenapa? Masih banyak kewajiban yang mesti kau dan aku tunaikan, tetapi kenapa kau bawa aku lari ke sini? Aku mau turun."
Lalu kau memberiku jawaban yang sudah kuduga sedari mula.
"Ya sudah kalau maumu begitu. Silakan turun duluan. Maaf tidak bisa menemani pulang ke rumah."
Setelah melewati beberapa ya sudah, aku turun. Acapkali kau mengajakku ke arena bianglala, kau selalu saja diam dan berdalih belum mau atau belum siap ketika kuajak turun. Lantas, mengapa membawaku sejauh ini?

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Friday, June 3, 2016

What's your signature color?

Akhir-akhir ini, aku baru sadar koleksi lipstikku banyakan merah tua dan nude cokelat. Warna-warna yang kata orang tidak menarik. "Nad, mestinya lipstik itu pink, kenapa kamu cari warna cokelat? Malah nggak kelihatan lipstiknya," temanku berpendapat.

I don't know, it seems that I can not pull off pink shades. Aku punya satu lipstik shocking pink yang membuat aku syok juga lihatnya. Hahaha, kulitku kelihatan makin kusam dengan lipstik itu. Ada juga lipstik pink kemerahanku yang manis banget, tetapi ya nggak pink asli, malah dominan warna merah. Warna nude pink juga ada dan memang manis kelihatannya. Cuma ya itu dia, jumlah lipstik merah mudaku kalah jauh dengan lipstik warna gelap lain. Penasaran, sih, dengan warna fuchsia, magenta, dan pink yang benar-benar pink. Nantilah, ya. :)

Beberapa lipstik terakhirku malah warna ala-ala vampir, yakni deep red dan burgundy. Kocak, ya. Tampak kesan sultry look dan mature look yang dihasilkan pulasan lipstik tersebut. Fiks kayak tante-tante kantoran. Herannya, aku nggak keberatan dibilang kayak orang kantoran karena memang sedari dulu aku mau berpenampilan ala mereka. Aku bahkan berniat mengoleksi blazer walaupun entah untuk apa. Aku, kan, nggak niat kerja di perusahaan, hahahah. Ya, aku suka aja berpenampilan formal and people could take me seriously.

Balik ke lipstik, menurutku ini masalah selera. Kalau ada orang yang suka warna segar, seperti warna oranye dan coral, ya persilakan saja ia memakai warna itu sepanjang hari. Kalau ada yang lebih suka berpenampilan feminin dengan sentuhan warna pink, ya boleh-boleh saja. Juga kalau ada yang suka warna-warna gelap, ya biarkan saja. Selera tiap orang nggak bisa dipaksakan, bukan?

Haha apaan sih, akhir pekan malah bahas lipstik. Mestinya bahas revisi, tetapi ya sudahlah... mari kita nikmati dulu akhir pekan yang indah ini.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, June 2, 2016

Nanti, setiap hari

Malam ini tidak bisa tidur. Padahal, hal yang menjadi buah pikiran sangatlah sederhana, hanya sebuah kejadian yang masih di angan. Jika tiap pagi sarapanmu kusiapkan, kau mau? Tidak hanya sesederhana ini, nanti. Tidak hanya sesekali, nanti. Setiap hari, di dapur yang sama, di meja yang sama ada kita berdua. Mungkin sesekali kita makan di luar, candle light dinner restoran atau menikmati angin sepoi-sepoi di bangku taman bersama dua kotak takeaway makanan. Mungkin juga nanti tak hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat. Katanya, makan bersama itu elemen penting dalam sebuah keluarga. Kita tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk itu. Kau dan aku paling anti lembur di kantor agar bisa makan bersama dan bertukar cerita atau berbagi keheningan. Tak jarang kita menikmati makanan di piring masing-masing sedang sunyi menyelimuti. Kau dan aku hanya perlu memastikan ada di sisi satu sama lain. Ada duduk di sana, dapat diperhatikan dengan kedua bola mata, dapat dirasakan hadirnya dengan telinga, dan dapat disentuh dengan kulit tangan.
--

Jengjengjeng, baper baca tulisan sendiri. Semakin tidak bisa tidur. Mari berdoa. Doa agar dapat segera istirahat di malam buta dan doa agar segera dipersandingkan. Eh, mesti ketemu dulu, ya, sebelum bersatu? Benar juga kamu! Oke, doa agar segera dipertemukan. Kalau sudah ketemu, mari berdoa agar diberi keyakinan untuk bersama. Ya, selamat tidur, kamu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Mengunggah foto

Halo, selamat malam! :)

Hari ini aku mau bahas foto. Perempuan mana, sih, yang nggak suka berfoto? Hehe, rasanya semua suka, ya. Nah, terus, siapa juga yang nggak pengin eksis di medsos dengan mengunggah kenarsisan bareng teman, keluarga, atau sekadar swafoto yang diambil berulangkali? Keinginan dipuji cantik atau manis tatkala mengunggah foto tersebut tentu bersemayam di hati kecil perempuan. Semua perempuan mau dikatakan cantik, semua perempuan mau dipuji menarik.

Hal yang sama juga berlaku padaku. Beberapa hari lalu, aku mengunggah sebuah foto yang menurutku...ng...bukan aku yang biasa. Aku yang memakai lipstik merah berfoto dengan gaya setengah duckface. Awalnya kukira lucu jadi kuunggah di sebuah medsos. Kemudian, komentar berdatangan, baik dari teman perempuan maupun laki-laki. Ada yang komen cantik, manis, cetar, sampai subhanAllah. Kalau dari perempuan aku nggak masalah, tetapi laki-laki? Mereka sampai ngomong subhanAllah atau pasang ekspresi kaget gitu, ya akunya malu banget, lah! Jujur aja, risih jadinya. Risih ketika tahu ada laki-laki yang mengecek fotoku kemudian berkomentar seperti itu. Aku...bisa jadi udah buat mereka berpikiran yang nggak bener melalui fotoku itu. Dosa banget aku, teh.

Mana kemarin dikomentari juga sama seorang senior, "Ckck, akhawat zaman sekarang. :)" Mampus, hahahahahaha.

Dilema memang soal dunia perfotoan ini karena aku masih suka berfoto. Aku bukan tipikal mbak-mbak Facebook yang cuma ngunggah gambar kartun atau foto alam sebagai foto profil. Hiks, tetapi di sisi lain, aku nggak mau dapat komentar dari laki-laki. Dilema nian. T~T Barangkali makeup dan gaya berfoto harus dibuat sebiasa mungkin, ya...

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, May 31, 2016

Liburan SBMPTN

Libur hari ini, ngapain aja?

Well, aku tidur, nonton, tidur, makan, dan bersantai sampai magrib. Hahaha. Benar-benar butuh istirahat dari hari-hari melelahkan. Malamnya, sesuai rencana, aku nge-Detos dan nge-Margo. Mau beli kabel charger dan cuci mata. Eh, tahu-tahunya bawa pulang Fame Fatale yang hits itu. Warnanya bold, deep. Gelap. Sempat nggak pede sama sekali untuk pakai, tetapi nekat beli karena belum pernah punya warna bold. Padahal, awalnya ngincar Baby Bombshell, Runway Rebel, atau Smooch yang pink-merah unyu gitu. Haha, I guess I'm trying to enhance my "sisi galak" through colors. Untungnya, kali ini jalan sendiri dan tidak bertemu siapa-siapa, jadi aku aman dengan tampilan baruku. Haha. Sayang, aku gagal mendapatkan charger karena konter Samsung sudah tutup. Ah, padahal baru pukul delapan lewat sedikit.

Akhirnya, lanjut nge-Margo. Aku ke sini karena diberi titah ibunda untuk mencari blazer kantoran. The Executive adalah toko incaran pertama. Setelah muter-muter toko, aku malah terpaut pada coat cokelat manis yang tampaknya cocok sekali dipakai untuk musim gugur. Tatapanku nggak mau lepas dari pantulan diri di kaca, huhu, sayang coat-nya harus kulepas jua. Harganya nggak kuat, mamen, enam ratus ribu! Hiks. Ada blazer hitam putih yang manis, tetapi kurang formal. Kutinggalkanlah toko tersebut dengan langkah gontai (bah, lebay!) Bingung mau cari di mana lagi. Kumasuki tiap toko yang berbau pakaian formal wanita, mulai dari Valino, Mint, dan apalagi itu namanya, aku lupa. Hasilnya nihil. Oh, ya sudahlah.

Gagal dapat blazer, aku mampir ke Payless yang sedang clearance 50% on selected items. Yeu, kukira bakal banyak sepatu diskon, nyatanya nggak juga. Aku cuma nemu satu sepatu doang untuk ukuranku yang didiskon setengah harga. Akan tetapi, aku tergiur untuk mencoba-coba hak tinggi. Nyaris semua hak tinggi untuk ukuran 9 kupasang di kedua kaki jenjangku. Mulai dari kitten heels sampai yang tingginya 10 cm, berbahan dove, mengilap, sampai bling-bling, polos sampai bercorak, yang ujungnya bulat juga runcing. Ada kali aku setengah jam di Payless mematut diri di depan kaca dan berjalan bak model. Kocak, untung Payless sepi. Meskipun aku tidak memboyong barang apa pun dari Payless, aku jadi tahu sepatu hak tinggi karya Christian Siriano bagus. Aku naksir berat sama sepatu putih corak bunga-bunganya, tetapi harganya Rp375.000,00. Kenapa sepatu cantik harus mahal? (sedih)

Pengunjung mal satu per satu mulai menuju pintu keluar. Pukul berapa ini? Jengjengjeng, pukul setengah sepuluh. Hahaha, nggak terasa. Jalan-jalan memang selalu mengasyikkan dengan atau tanpa teman.

Hari ini aku sukses menyenangkan diri sendiri, so lets say alhamdulillah for that. Kalau kamu, bahagia nggak hari ini?

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, May 26, 2016

Ke mana sosok yang dulu?

Hari ini aku baru tahu, perpus merupakan tempat yang pas untuk menangis, apalagi saat sedang sepi.

Rak 400. Tempat favoritku seantero perpus karena di sini ada ratusan buku-buku linguistik yang tak henti membuat takjub. Iya, aku di sini sekarang. Memandangi jejeran buku warna-warni terbitan Badan Bahasa yang bercerita seputar struktur bahasa, tata bahasa, morfologi, dan sintaksis bahasa daerah di Indonesia. Aku masih ingat, dulu ada seorang gadis yang sering sekali mengunjungi rak ini lalu terperangah karena mendapati ada puluhan bahasa daerah yang baru ia dengar. Ot danum, Tetun, Lamandau, Ogan, Bosap, Semende, dan banyak lagi. Gadis itu aku.

Aku juga masih ingat, dulu berangkat ke kampus UI dengan keyakinan penuh bahwa aku akan mendokumentasikan bahasa daerah di Indonesia seperti peneliti-peneliti asing yang kubaca di berita. Masih ingat, masih sekali.

Aku pun masih ingat, ketika semester empat dulu pernah mengomentari dalam hati hasil dokumentasi bahasa peneliti kita dan peneliti asing. Berkomentar bahwa betapa kurangnya hasil dokumentasi bahasa peneliti kita, mulai dari banyaknya kesalahan cetak, lalu kurang dalamnya penjelasan mengenai bahasa yang diteliti. Itu komentar mahasiswi semester empat yang belum tahu apa-apa, hanya sekadar membandingkan tebalnya buku yang dihasilkan dan membaca sekilas. Barangkali aku sok tahu, barangkali.

Mengingat semua itu, aku menangis. Ke mana Nadia yang dulu? Ke mana Nadia yang ambisius ingin meneliti bahasa di daerah terpencil? Ke mana Nadia dengan semangatnya yang luar biasa itu? Ke mana? Yang kulihat sekarang cuma Nadia yang sedikit-sedikit mengeluh jenuh dengan skripsi. Yang kulihat sekarang hanya Nadia yang mengaku lelah mengolah data. Padahal ya, aku sempat bahagia sekali sewaktu mengumpulkan data. Sempat berandai-andai, "Nanti aku juga begini di negeri antah-berantah, dengan medan yang lebih sulit, dengan bahasa yang sama sekali tak kumengerti."

Allah, kembalikan semangatku yang dulu. Jangan buat aku menyerah secepat ini. Sungguh, masih panjang perjalanan. Skripsi ini bagaikan batu loncatan pertama saja, belum ada apa-apanya. Jadi, janganlah lelah... Bersemangatlah! Innallaha ma'aki, Nadia!

Untuk kamu yang membaca tulisan ini, semoga motivasi yang sempat terkubur jauh kembali merasuki diri. Ingat, kamu sudah berjalan sejauh ini.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, May 24, 2016

Terima kasih, lho, kalian!

Sebentar, mau baper dulu. Aku baru saja membaca lembar ucapan terima kasih seorang senior yang mengerjakan skripsi yang bertopik sama denganku. Banyak sekali pihak-pihak yang ia sebutkan telah membantu skripsinya. Aku lantas teringat kepada seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung prosesku dalam mengerjakan skripsi ini. Dan aku rasanya...mau nangis.

Skripsinya belum selesai, teman-teman, ayah-bunda, bapak-ibu. Masih banyak yang belum digarap sementara batas waktu pengumpulannya tinggal lima hari. Aaaaark, bismillah, bismillah. Bisa, insyaAllah. :')

Aku nggak mau mengecewakan kalian.
Ayah dan Bunda yang berharap aku lulus semester ini dengan predikat cumlaude. Memang, perjuanganku selama tujuh semester untuk menghasilkan nilai yang memuaskan itu karena kalian yang selalu menanyakan hasilku tiap akhir semester. Karena kalian yang perfeksionis itulah, haha. Sayang sekali kalau aku harus melanjutkan skripsi ke semester depan dan melepas predikat cumlaude yang selama ini selalu kalian banggakan.
Berlian, Ammy, Nabs--selaku sahabat SMA--yang selalu menyemangatiku menuntaskan skripsi. Kalian, deh, yang melihat aku berkutat dengan rekaman, transkripsi, bahkan melihat langsung aku memperoleh data.
Kak Budi--temannya Berlian--yang telah mau direpotkan untuk mengantarkanku ke belasan kecamatan di Kota Makassar hingga aku nggak perlu sewa mobil dan menghabiskan duit berjuta-juta. :')
Ismi yang sudah menemaniku serta membantuku begadang seharian mengolah data. Duh, aku nggak tahu harus presentasi apa di seminar hasil tanpa bantuanmu! :')
...
...
...
Banyak sekali yang mau kusebutkan, tetapi nanti jadi lembar ucapan terima kasih, padahal skripsi belum kelar! Haha, tenang saja, yang namanya belum kusebutkan di postingan ini, barangkali nanti kusebutkan di lembar ucapan skripsi betulan. Mohon doa terbaik dari kalian semua. Huf, mau ngasih hashtag #procrastinatorunited.

Nanad harus lulus semester ini.
Mudahkanlah, ya Allah.

Saturday, May 21, 2016

Sesal

Kamu, Nad, mau jalan yang benar, tetapi caranya salah. Gimana kamu nggak dipertemukan dengan yang keliru mulu? Pantas aja aneh-aneh dapatnya.

Wednesday, May 18, 2016

Tak Sebebas Merpati

Kemarin di perpustakaan, aku duduk sendiri mengerjakan skripsi sambil mendengarkan lagu. Ketika terputar lagu Tak Sebebas Merpati dari Kahitna,

Kala kita lihat
Sepasang merpati
Terbang lepas bebas
Tepat di hadapan

Lalu kau bertanya
Kapan kita bagai mereka
Terbang lepas bebas
Lepas bebas ke ujung dunia

Dan kubertanya
Maukah kau terima
Pinangan tanpa
Sisa cinta yang lain

Rona bahagia
Terpancar dari anggukan
Saat kupasangkan
Pasang cincin di jemari

Terima kasih kau terima
Pertunangan indah ini
Bahagia meski mungkin
Tak sebebas merpati

aku langsung senyum-senyum sendiri. Kau tahu lagu ini, tidak? Manis banget. Kalau jadi, kalau akan ada momen ini suatu saat nanti, maukah kau memutar lagu ini di dalam hati? Kau nyanyikan juga boleh, tetapi jangan di depanku, nanti aku tersipu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, May 17, 2016

Jika saja...

Jika saja membawa handycam ke mana-mana tidaklah aneh, tentu sudah kurekam wajahmu tiap detiknya. Jika saja membawa voice recorder ke mana-mana tidaklah aneh, tentu sudah kurekam suaramu yang jernih itu. Jika saja membawa notes ke mana-mana tidaklah aneh, tentu sudah kucatat tiap gagasan yang kau lontarkan. Jika saja menggenggam tanganmu tidaklah dosa, tentu sudah kugenggam dari dulu-dulu. Kurengkuhkan lenganku acapkali kau bersedih. Kusodorkan telapak tanganku tiap kali kau membutuhkan kekuatan juga dukungan. Jika saja membacakanmu puisi-puisi romantis tidaklah aneh, tentu sudah kubacakan tiap aku punya kesempatan.

Jika saja aku milikmu, aku tidak peduli dengan segala keanehan yang kukemukakan ini. Aku akan melakukan hal-hal yang membuat aku dan kau berbahagia. Apa saja. Aku percaya, kau pun akan melakukan hal yang sama. Bukankah cinta-mencintai itu sanggup membuat kita melakukan segala?

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Menyeruak

Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku memikirkanmu
Kenapa akhir-akhir ini aku rindu
Padahal jelas-jelas kau bukan milikku
Lagi
Sudah lama sekali
Semestinya sudah lari dari ingatan
Akan tetapi, beberapa hari ini, kenangan menyeruak dengan sengaja
Buku itu
Lagu-lagu itu
Kendaraan itu
Bayangan
Aku
Kamu
Kita

Seharusnya tidak ada lagi kita tersimpan
Bukankah kita sudah berbahagia dengan keadaan masing-masing?
Setidaknya, aku berharap aku sudah berbahagia
Dan aku yakin sudah.

Konyol

Konyol sekali, lho. Mengejar-ngejar sesuatu lalu tinggallah merasa dikecewakan, padahal memang tidak pernah berjanji. Hahahahahah, sudah dua kali begini. Untungnya tidak sia-sia waktu terbuang karena disambi menggarap skripsi.

Aih, konyol sekali kamu.

Sunday, May 15, 2016

Pastikan Aku

Pastikan ku ada di sana, di masa depanmu.

Menanti esok pagi dengan hati yang berdegup tak tentu. Jika setiap harinya kita harus menjadi sosok yang lebih baik, adakah aku menjadi alasanmu untuk berubah? Menjadi sedikit saja sebab yang mampu meluruhkan sifat-sifat burukmu.

O, ya, sudahkah kau punya bayangan mengenai kawan perjalanan? Jika belum, sudikah kau kiranya mengizinkanku menyusup masuk?
--

Karena wajahmu
Mengandung lekukan-lekukan yang ingin kutelusuri
Sepasang bola mata dengan tatapan teduh
Turun ke hidung
Lalu bibir yang bengkok simetris
Kemudian dagu
Betah rasanya
Kupandang-tatap tak jemu
Selalu menggoda, selalu
Sampai tak ingin kubiarkan lepas dari pandang
Yang inginnya kumilik-nikmati seorang

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, May 11, 2016

Meminta bantuan di kala sakit

"Nad, kamu dari rumah sakit?"
"Iya, tadi ke dokter."
"Kok nggak bilang-bilang aku? Kan bisa kuantar."
"Eh...hehe. Takut merepotkan."
--

Hidup dengan status anak rantau selama...hm, berapa ya? Tu wa ga pat, enam tahun, aku terbiasa melakukan semuanya sendiri. Belanja sendiri, pergi mengurus sesuatu yang rusak sendiri, jalan-jalan sendiri, juga berobat sendiri. Karena itulah aku tidak terbiasa minta ditemani ke sana kemari. Aku tahu semua punya kesibukan masing-masing, jadi yah...daripada saling menunggu lebih cepat gerak sendiri, bukan?

Akan tetapi, sebenarnya bukan itu. Dulu, aku sempat meminta bantuan seseorang (aku lupa siapa) untuk ditemani ke suatu tempat pada suatu malam, tetapi ia menolak karena mesti melakukan hal yang lain. Teman yang lain pun sama, mereka menyarankan besok pagi. Aku butuh barangnya malam ini, bukan besok. Tahu-tahu aku nekat keluar sendirian, beli barang yang kuincar, dan segera pulang. Sepertinya sejak saat itu aku merasa, "Kalau kamu mau cepat, kamu harus bergerak sendiri." Hm, kocak ya? Hanya gara-gara insiden ditolak. Lagian bukan sekali ini ditolak, padahal aku orangnya nggak bisa menolak. Nggak imbang? Hahaha ya gimana.

Nah, balik ke urusan teman-menemani atau antar-mengantar itu. Sakit itu, kan, dadakan, ya. Ke rumah sakit pun seringkali tanpa perencanaan. Agak susah kalau mau minta tolong ditemani. Pernah, sih, coba minta tolong, tetapi kebetulan nggak ada yang bisa. Jadi, berangkat sendiri juga akhirnya. Jika sejak awal langsung berangkat, nggak perlu nunggu respons, nggak perlu dapat penolakan. Duh, maaf ya, aku sangat perasa dan sensitif. Menurutku, ditolak untuk hal apa pun itu menyakitkan jadi lebih baik kuhindari. Haha, ini satu sifat buruk yang katanya harus diubah. Mesti lebih cuek dan jangan overthinking demi kesehatan pikiran dan jiwa.

Aku nggak tahu sudah berapa trip (iya, aku menyebutnya trip) rumah sakit yang kulakukan seorang diri, wkwkwk. Sejauh ini baik-baik saja, walaupun pernah nyaris jatuh di jalan karena kondisi badan memang lagi kacau nian. Kalau sudah begitu, ya... memang kita butuh bantuan orang lain. Mungkin nanti akan kucoba lagi meminta tolong jika benar butuh. Akan tetapi, lagi-lagi, aku lebih cenderung suka orang yang langsung datang ke kosan atau langsung japri menawarkan diri untuk menemani ke rumah sakit daripada harus aku yang meminta tolong. Kenapa? Karena orang seperti itulah yang mencerminkan sosok teman yang penuh perhatian. Dan aku senang. ^^

Jangan kapok meminta tolong, ya.

Salam,
Nadia Almira Sagitta
ditulis di kamar tidur rumah Tangerang
dengan kondisi demam dan infeksi usus/lambung

Wednesday, May 4, 2016

Sepatu bot

Dua hari ini lagi hobi jalan-jalan pakai hak tinggi. Eng, sebenarnya sih sepatu bot yang memiliki hak. Hahaha sama saja, ya. Toh, haknya juga mirip-mirip sepatu stilettoku, yaitu enam sentimeter. (ngakak) Pantas capek. Kok, tumben pakai sepatu bot? Kebetulan pas di Amrik kemarin nemu sepatu bot diskon dan lumayan lucu, jadinya dibelikan bunda. Nah, waktu itu memang musimnya pakai bot karena sedang musim dingin. Di Indonesia, aku jarang ketemu orang yang pakai sepatu bot. Daripada sepatunya dianggurkan karena alasan itu, lebih baik digunakan, bukan? :D

Sebenarnya, akan lebih cantik kalau kita memadukan bot dengan celana jins ketat (skinny jeans). Sayangnya, aku nggak pakai celana jins, but it fits well with my dress and skirt! Uyeaaah. Dua hari lalu aku padankan dengan blazer dan rok kantoran, tadi aku padankan dengan gamis. Cocok-cocok saja, alhamdulillah. Jadi, untuk muslimah yang setia dengan rok, nggak ada salahnya kamu mulai melirik bot! :)

Efek sampingnya, ya, betis dan punggung pegal sesampainya di rumah. Bahahaha, ya sudahlah kan nggak sering. Lagipula koleksi sepatu hak tinggiku hanya dua. (but I plan to add some more, if I have money ofc)

Skolioser sebenarnya tidak disarankan memakai sepatu hak tinggi, tetapi aku mulai suka. >~<

Cara mengakalinya:
1. Jangan pakai hak tinggi dalam perjalanan jauh dan medannya ribet. Pakailah saat acara formal yang notabene ada batas waktunya, seperti kondangan dan seminar skripsi. Boleh juga dipakai saat jalan-jalan ke mal, tetapi pastikan kamu cuma berada dua sampai tiga jam di mal. Lebih dari itu, punggung dan kakimu bakal meringis tanpa suara. Bakal lebih parah kalau kamu bawa tentengan belanjaan! Nah, maksudnya medan ribet itu apa, Nad? Ya...hindari deh kalau kamu mesti jalan ke daerah yang jalanannya berbatu dan bolong-bolong. Repot pisan. Hak tinggi mah enaknya memang dipakai ke tempat-tempat bertegel, bukan beraspal apalagi berumput dengan tanah basah!
2. Sering-seringlah duduk. Yup, kalau kaki dan punggung sudah dirasa sakit, istirahatlah sebentar. Ngapain dipaksa jalan kalau memang nggak sanggup. Daripada si S ngamuk, kan?

Entah ya, aku suka pakai hak tinggi. Semua bermula ketika aku melihat bunda dengan setelan kantornya semasa kecil. Aku langsung memutuskan, "Aku mau berpenampilan seperti itu kapan pun aku bisa!" Ya...walaupun aku juga cukup sering melihat kaki bunda dipijat karena varisesnya kambuh. Itu gara-gara hak tinggi, tuh. Fashion is pain, ya. (/.\) Akan tetapi, itu tidak menyurutkan kesukaanku pada hak tinggi, sih. Kenapa? Karena jelas-jelas dengan hak tinggi, aku semakin tinggi beberapa sentimeter. Apa pun yang membuat aku terlihat tinggi, aku suka. Curang ya, padahal aku sudah tinggi seperti tiang listrik, kata temanku. (merona malu)

Hahaha, ya sudah. Aku mau cerita saja karena sudah lama nggak bercerita di sini. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. :)

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, May 3, 2016

Mei Yang Tercinta

Halo, Mei yang kedua.
Kita jumpa lagi.
Beberapa tahun silam, aku mulai menyukaimu, Mei.
Pada dirimu, ada tanggal istimewa seseorang yang kuistimewakan
Pada dirimu, ada momen jatuh cinta yang baru kusadari dan kusimpan sendiri
Pada dirimu, ada kenangan yang begitu sulit dan membuat merana
Pada dirimu, ada hati yang membalut dirinya dengan cepat
Pada dirimu, ada gadis yang berani menjatuhkan dirinya lagi
ke luasnya lautan cinta
tanpa pelampung
padahal ia tak bisa berenang!

It only takes courage and trust
To falling in love again

Pasti aku turut

Sejauh apa pun melangkah
Berjalan bermil-mil jauhnya pun
Akan kuturuti
Aku tidak masalah
Asal selalu ada tubuhmu di sisi
Asal selalu ada senyummu yang kudapati
Asal kau berjanji tak akan pernah meninggalkanku seorang diri
--

"Walau ke ujung dunia pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudra pasti ku 'kan menunggu
Karena kuyakin kau hanya untukku." (Kahitna)

Monday, April 25, 2016

Love And The Other Drugs

"Kudengar kamu sakit, ya?"
"Siapa yang ngasih tahu kamu?"
"Temanmu tadi SMS."
"Oh ya? Huh, ada-ada saja."
"Kamu pulang gih."
"Nggak mau. Ada pelajaran bahasa Indonesia."
"Nanti sakit kamu tambah parah... pulang aja, yuk?"
"Ng..."

Entah kekuatan apa yang kamu miliki saat itu, namun aku langsung menurut. Padahal, saran teman-temanku tak kuacuhkan. Akhirnya, sesuai saranmu, aku pulang ke asrama. Aku segera mengabarimu yang saat itu juga sedang berada di sekolah.

"Aku sudah di asrama."
"Baguslah. Istirahat, ya. Aku kelas dulu."
"Oke."
--

Tatkala itu, aku merasa jauuuuuh lebih baik. Bukan karena obat, melainkan perhatian dari orang yang sangat berarti--saat itu. Aku nggak heran ada kutipan berikut di film Love And The Other Drugs, "Apparently you need to know that I'll get better in order to love me."
 
Yeeeees. Love is the best medicine.

Rindunya aku, ya Allah. :"""
Bukan sama orangnya, tetapi momennya.

Sakit dan Anak Rantau

Ketika sakit, ada saat kau sangat ingin pulang dan istirahat di rumah. Dimasakkan bubur, ditemani, dikompres, dibelikan obat, disuapi, dikhawatirkan, dan lain-lain. Semandiri apa pun seseorang, kalau lagi sakit, ingin dirawat juga tentunya hanya gengsi saja mengungkapkannya.

Gengsi itu merepotkan sekali rupanya, ya? Aneh aja ngomong, "Aku sakit, boleh temani aku, nggak? Boleh tolong belikan obat, nggak?" Duh, merepotkan orang lain. Pada akhirnya, rasa sakit itu dipinggirkan dahulu demi mencari obat dan makanan (anak rantau kuat, kok, haha). Tatkala di tengah jalan rasa-rasanya sudah mau jatuh, tinggal mengandalkan satu-satunya yang dapat diandalkan. Allah. Thanks God, you didn't let me pass out on my way home. Seumur-umur emang belum pernah pingsan, sih.

Hari ini belajar lagi bahwa betapa stok obat itu perlu banget! Andaikata obat di kosan lengkap, aku nggak perlu jalan jauh demi beberapa macam blister obat dengan kondisi kliyengan. Essentials-ku pribadi: Mylanta, Paramex, Decolgen, Tolak Angin, Redoxon, dan Sangobion serta Feminax. Dua obat terakhir nggak pernah kuminum sebelumnya, tetapi distok saja siapa tahu butuh. Terbukti hari ini nyaris nggak bisa gerak samsek hanya gegara siklus (yang nggak mesti) bulanan. Yha, period, I get it.

Oh iya, ini nggak nyambung, tetapi tadi ketemu sekumpulan anak perempuan berjongkok di depan sepeda.
"Mama aku penginnya cowok."
"Emangnya belum ada yang cowok, ya?"
"Belum ada, sih..."

Hihi, mereka ngomongin calon adik seseorang rupanya. Lucu aja, sih, nggemesin. Tahu-tahu beban sakit lepas sedikit hanya gara-gara melihat mereka. ^-^)/

Yes, sebagai penutup, aku mau bilang
Wahai anak rantau, jagalah kesehatanmu!
Siapa lagi yang peduli jika bukan kamu sendiri?

Luv,
Nadia Almira Sagitta