Showing posts with label UI. Show all posts
Showing posts with label UI. Show all posts

Wednesday, October 14, 2015

Tahun baru penuh bahagia

Alhamdulillah, ya Allah.

Terima kasih untuk hari kemarin. Terima kasih untuk tahun barunya.

Kemarin aku berangkat ke MUI untuk mengikuti Kajian Hijab Biru UI yang membahas tadabbur surat Alfatihah. Kajian terakhir yang kuikuti itu tanggal berapa, ya? Sudah lama sekali. Ada rasa yang berbeda ketika aku duduk bersama para akhwat dan menyimak serta mencatat materi dari ustaz yang duduk di belakang hijab.

Sekarang, Masjid UI menjadi tempat yang cukup asing bagiku. Setahun lalu aku masih sering ke MUI karena sekretariat organisasiku berada di lantai dua masjid ini. Namun, setahun belakangan aku tidak lagi bergabung dengan organisasi apa pun. Aku putus kontak dengan MUI karena merasa sudah tidak ada ikatan apa-apa. Aku tidak wajib mengurus kajian, tidak wajib lagi menghadiri rapat, dan lain-lain. Padahal, aku sering mengunjungi tetangga masjid ini, yaitu perpustakaan, tetapi untuk sekadar beribadah di MUI aku jarang sekali. Berkunjung ke rumah Allah membuat hatiku lega. Lega karena pada akhirnya bisa melepas rindu.

Di kajian, aku dipertemukan dengan kak Arista, kakak yang menjadi kawan baikku di kajian tersebut dahulu. Jarang sekali kami bisa bertemu karena ia sibuk bekerja. Jadi, kemarin adalah kesempatan yang begitu langka. Ah, menyambung tali ukhuwah itu menyenangkan sekali. Alhamdulillah. Uhibbukifillah, kak Arista.

Kajian selesai pukul 17.30. Seharusnya aku bisa langsung pulang, tetapi aku urung. Aku memutuskan untuk ikut salat Magrib berjamaah di sana. Sudah berapa lama tidak salat berjamaah ramai-ramai, Nad? Kapan terakhir kali kamu mengambil wudu sebelum azan berkumandang? Sungguh, sudah berapa lama?

Damai sekali rasanya. Terima kasih, ya Allah. Terima kasih masih memberikan kedamaian di hatiku yang sedang gundah. Terima kasih.

Selepas salat, aku disapa seorang kawan lamaku di Whatsapp, "Halo, Nad. Apa kabar?" Aku segera membalas dengan menggunakan huruf kapital saking gembiranya. Eh, chat-nya pending.

Ketika mau pulang, aku malah bertemu dengannya yang sedang duduk di salah satu sudut masjid. MasyaAllah. Kebetulan sekali. Kami lantas bertukar kabar dan menceritakan kesibukan masing-masing. Aku baru tahu dia mengikuti dua organisasi. Wih, sibuk sekali dia, padahal di saat yang sama ia sedang menggarap bab dua skripsinya. Aku juga bercerita mengenai hari-hariku yang cukup...monoton. Hahaha. Dulunya, kawanku ini partner  galauku, tetapi dia sekarang nggak pernah lagi membagi kisah denganku. Mungkin tidak ada cerita cinta yang dapat dibagi. Akhirnya, aku yang mencerocos menceritakan kisah cintaku yang absurd. Berangkat dari cerita galau, aku bertanya soal cita-citanya. Tak dinyana, ia bercerita panjang. Ia mengaku sedang jenuh pada jurusannya, pada  skripsinya, dan terlihat patah semangat. Padahal, ia tengah menjalani mimpi kelas lima SD-nya. Berkuliah di jurusannya saat ini memang cita-citanya sejak dahulu. Sayang, kali ini ia hilang fokus, tidak seobsesif dulu, dan sibuk melarikan diri pada subjek-subjek lain. Aku lalu berkata seperti ini, "Mimpi itu boleh saja berubah, tetapi pastikan ketika kamu meninggalkan mimpimu yang semula, kamu sudah menemukan mimpi baru untuk digapai. Apa kamu sudah menemukan yang baru?" Ia lantas menangis dan benar-benar menumpahkan semua kegundahan hati yang tampaknya sudah dipendam sedemikian lama.

Allah, terima kasih sudah membawaku padanya. Terima kasih telah mengutusku untuk menjadi teman curhatnya malam ini. Terima kasih pula telah menyadarkanku bahwa masalah yang kini kuhadapi tidaklah lebih berat daripada orang lain.

Teruntuk kawanku, tetaplah semangat! Kapan pun kamu butuh kawan cerita, ingatlah aku selalu ada. Mari saling menyemangati satu sama lain! Indonesia butuh kita: kita yang bermimpi besar, unik, dan optimis. Jangan menyerah sekarang!

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, May 6, 2015

Today's Word Week 1

Buongiorno! Oke, saya mau menjelaskan apa itu TW. TW adalah singkatan dari Today's word dan merupakan tantangan yang saya berikan pada diri sendiri untuk mendefinisikan satu kata setiap hari. Mulanya, challenge ini dilemparkan oleh Marc van Oostendorp kepada peserta MOOC Miracles of Human Language. Yep, sejak seminggu lalu, saya memosting definisi buatan saya beserta definisi dari KBBI di Twitter. Saat membuat definisi, saya berusaha untuk tidak mengintip KBBI dengan alasan ingin mengetahui seberapa mirip definisi yang saya buat dengan KBBI. :D

Tentu saja definisiku masih banyak cacatnya di sana-sini, seperti kesalahan pelabelan nomina atau verba dan kesalahan pendefinisian (terlalu sempit atau bahkan terlalu luas). Wajar, namanya juga mencoba. Berikut ini definisi dari tujuh kata pilihan seminggu lalu. :D

1. Today's word: me.ma.sak kegiatan membuat suatu makanan. KBBI: memasak v membuat (mengolah) penganan, makanan, dsb.

2. Today's word: be.lan.ja v membeli sesuatu || KBBI: belanja n uang yang digunakan untuk suatu keperluan, berbelanja v membeli di pasar (toko, dsb).

3. Today's word: ke.nyang a keadaan perut yang masih terisi penuh, lawan dari lapar || KBBI: kenyang a sudah puas makan, sudah penuh perutnya.

4. Today's word: cin.cin n aksesori yang dikenakan di jari. || KBBI: cincin n perhiasan berupa lingkaran kecil yang dipakai di jari ada yang bepermata, ada yang tidak.

5. Today's word: mi.num v memasukkan cairan ke dalam mulut dan meneguknya hingga masuk ke kerongkongan. || KBBI: minum v memasukkan air (atau benda cair) ke dalam mulut dan meneguknya. 

6. Today's word: re.u.ni n perjumpaan kembali dengan teman-teman lama || KBBI: reuni n pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama. 

7. Today's word: bo.ne.ka n mainan anak-anak yang empuk dan halus menyerupai manusia, binatang, atau benda tertentu. || KBBI: boneka n tiruan anak-anak untuk permainan; anak-anakan.

So, that's it. Bagaimana? Ada komentar? 

Apakah catatan ini membuat kamu mau memulai TW versimu sendiri? Jika iya, kabari aku, ya! :D

Friday, May 16, 2014

Kau tak pernah tahu apa yang sedang mengintaimu
Waspadalah, waspadalah!





Kasus pemerkosaan marak diperbincangkan. Aku khawatir akan keselamatan diriku sendiri. I need my family besides me...and I need you to be my life partner. 

Sunday, May 4, 2014

Newcomer!

"Aku turut senang dengan kehadirannya di hidupmu."


Begitu kata seorang sahabatku di padang rumput FIB. Saat itu, kami sedang menikmati makan siang ditemani sepoi-sepoi angin danau. Aku bercerita dengan eskpresif mengenai pertemuanku dengan sesosok lelaki yang, perlahan, merasuki hatiku. Ia mencoba memugar hati yang sempat runtuh. Sosoknya tanpa sengaja membuatku tertunduk malu disertai warna pipi yang merona secara tiba-tiba. Lelaki itu memiliki inisial nama pertama yang sama denganmu. Wajahnya pun sedikit-banyak memiliki kemiripan dengan wajahmu. Jawa tulen. Jangan salahkan aku, ya! Aku tidak merencanakan ataupun meminta pertemuan dengan "kloning"-anmu. :p 

Saturday, March 15, 2014

Tutup

Aku mencoba merelakanmu perlahan

Aku tahu itu sulit dan aku pun tahu rasanya akan sakit

Akan tetapi, aku lelah

Aku lelah merasa gundah ketika engkau bahagia

Aku lelah terbang tinggi kemudian sayapku patah lalu aku terperosok jatuh

Aku lelah memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkanku

Aku lelah mengharapkan seseorang yang belum tentu menjadi jodohku.

---

Semangat meningkatkan kualitas diri, kak. ^^
Semoga kriteria jodoh yang selama ini engkau impikan tercapai
Semoga seseorang yang engkau sukai, menyukaimu balik
Semoga engkau bisa meraih cita-cita tertinggimu
Selamat menemukan kesukaan dan keceriaan dalam hidup
Jika engkau menikah nanti, undang aku, ya!
Semoga saat itu, aku sudah bertemu jodoh dunia dan akhiratku
InsyaaAllah.
Kututup lembaran kisahku mengenaimu dengan ucapan alhamdulillah.


Terima kasih atas kontribusimu dalam proses pendewasaan diriku.

Sunday, March 2, 2014

Kembali aku membaca kisahmu, kisahnya, kisah kalian. Selalu saja ada cerita. Diam-diam aku terkesima, terharu, dan ikut tertawa geli. Tahukah kalian bahwa  aku adalah salah satu pembaca setia karangan kalian, yang belum tentu setia menyimak cerita-ceritaku. Aku rindu. Rindu yang urung kuungkapkan karena gengsi yang kujunjung tinggi itu. Maaf belum bisa meredam egoku. Aku hanya dilanda cemburu.

Friday, February 21, 2014

Lembaga Dakwah

Assalamualaikum, teman-teman!


Hai! Nad pengin cerita sedikit, nih. Saat semester tiga lalu, saya berniat untuk berkecimpung di salah satu LD saja kelak, entah itu LDK atau pun LDF. Saya sudah merasakan kesibukan aktif di dua LD dan itu ... haaaah ... sudah cukup. Banyak amanah yang terbengkalai karena jadwal ngumpul sering bentrok dan akibatnya saya jadi stres sendiri. Wussss, semester tiga berlalu, semester empat datang menjelang! Alhamdulillah, semester tiga terlalui dengan baik. Formulir rekrutmen anggota organisasi tersebar di mana-mana. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memilih Salam UI sebagai lahan dakwah saya di semester empat hingga semester lima. ^^

Awalnya, saya ingin menjadi BPH, menjadi pengurus Salam UI. Alasan saya memilih menjadi BPH karena saya ingin membenahi departemen ILC, ingin membuat departemen itu menjadi lebih baik lagi. Selama ini saya terjun di bidang yang sama, dimulai sejak periode magang hingga staf. Yeaaay, saya cinta ILC! <3 Siapa tahu kehadiranku dapat memberikan kontribusi di sana. Entahlah, saya ingin menjadi agen perubahan, dan menurutku cita-cita itu kurang dapat diwujudkan bila saya hanya menjadi staf (lagi). Bismillah, ketika sedang liburan di Makassar, saya membuka tautan perekrutan BPH Salam UI 17. Pandangan saya terhenti pada jadwal wawancara ... hah, 20 Januari? Yaaaaah, which is mean, saya tak dapat menghadiri sesi wawancara karena raga dan jiwaku masih berada di Makassar! T___T Baiklah, saya kembali menata hati yang kacau #apaan. Bila memang menjadi staf adalah lahan yang disiapkan Allah untuk saya sekarang, tak apa. Toh, saya masih bisa mencoba pada tahun berikutnya. Don't cry, Nanad.

Oke, mengingat semester empat ini kesibukan saya cukup longgar, saya memutuskan untuk mengikuti komunitas gamelan (cihuy! impian saya sejak SMA) di hari Sabtu, mengikuti Nyantrend Weekend (program kelas kajian) di hari Minggu, bergabung di kelas merajut bareng Lili tiap Rabu, konsisten mengikuti kajian dari FKI UI tiap Selasa/Kamis, tetap aktif di UI Berkebun, UI Cooking Club, dan komunitas Peduli Jilbab tercinta. <3 <3

Yeah! Siap menyambut datangnya semester empat!

Jeng, jeng, jeng! Sesi wawancara staf Salam UI pun dimulai. Jadwal wawancara saya itu hari Rabu sore. Saya diwawancarai oleh kak Egi dan kak Siti. Situasi wawancaranya ... sama kacaunya seperti tahun lalu. Jawaban saya cukup membuat mereka tergelak. Fuh, segitu konyolnyakah saya? >-< Hihi, afwan ya, kak! ^^

Empat hari kemudian, kak Egi menghubungi saya. Ahlan wa sahlan, Nadia! Begitu isinya. Wah, senang banget bacanya, alhamdulillah. Beberapa saat kemudian, ada obrolan yang menyusul, "Nad saya sudah syuro bareng kak Siti dan memutuskan kamu untuk menjadi deputi. Bagaimana?" Hah? Allah tidak sedang bercanda, kan? Saya hanya menyiapkan mental sebagai staf (saja) dan bukan deputi. :") Hiks. Apalagi saya sudah sok menyibukkan diri di tempat lain, duh takut tidak amanah, takut ini, takut itu. Ingin menolak tetapi ... siapa tahu inilah cara Allah mengabulkan keinginan yang sempat saya pinta dahulu. Menjadi bagian dari BPH Salam UI. Hei, bahkan Allah memudahkan caranya, saya tak perlu mengikuti wawancara dan segala macamnya. Tiba-tiba saja ditarik, "Hei, Nad, mau jadi deputi?" So, what should I say? "Jika saya memang dibutuhkan, ya kenapa tidak, kak?" Yup. Saya mengiyakan pada akhirnya. Mengapa harus takut kalah sebelum mencoba? Siapa tahu saya memang mampu. Allah takkan salah memberikan amanah pada hamba-Nya, bukan? Ya Rabb, bantu saya, ya! Bismillaah, deputi akhwat dari ILC Salam UI! Selamat datang kesibukan (huhu)! ;)

Monday, August 26, 2013

Secuplik informasi mengenai mata kuliah

Bismillaahirrahmaanirahiim.

Hari ini saya membaca tulisan lama mengenai cita-cita dan usaha saya memasuki Program Studi Indonesia. Cerita bisa dilihat di sini. Setahun sudah berlalu, tanggal 2 September 2013 nanti saya akan menginjak semester tiga. Aih, begitu cepatnya waktu berlalu dan saya tidak menyadarinya! >,<

Dua semester lalu kamu sudah ngapain saja? Baik-baikkah kuliahnya? Bagaimana hasilnya?
Alhamdulillah, cukup memuaskan. d(^-^)b Banyak ilmu yang saya dapatkan. (Kyaaa, semoga ilmunya tetap membekas di memori!) Oh iya, mungkin ada pembaca yang penasaran dengan mata kuliah yang saya pelajari di sini. Berikut rinciannya.

Semester satu:
-Pengantar Linguistik Umum
-Ikhtisar Tata Bahasa Arab
-Pengantar Kesusastraan Indonesia
-Kemahiran Berbahasa Indonesia I
-Pengantar Sastra Klasik

Semester dua:
-Fonologi
-Kemahiran Berbahasa Indonesia II
-Pengkajian Prosa Indonesia

Semester tiga:
-Kemahiran Membaca Naskah Klasik
-Morfologi Bahasa Indonesia
-Pengkajian Drama Indonesia
-Sastra Anak (mata kuliah belanja)
-Bahasa Isyarat Indonesia (mata kuliah belanja)
-Sastra Wayang (mata kuliah belanja, tetapi saya tidak dapat jatah di sini) T^T

Bagaimana? Asyik kan mata kuliahnya? ;) Percaya deh, jurusan ini tidak membosankan! (/^v^)/ \(^v^\) Jangan ragu untuk memilih Program Studi Indonesia Universitas Indonesia. :D


Wednesday, July 11, 2012

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia


Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti,
“Nad, mau masuk apa pas kuliah?”
“InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.”
“Kok sastra Indonesia, sih?”
* * *
Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra.
“Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran,
“Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus SNMPTN?”
Aku hanya bisa terdiam mendengarkan pembicaraan yang berlangsung di telepon itu. Apa kamu takut tidak lulus SNMPTN lantas memilih jurusan sastra Indonesia? Satu kali pun aku tidak memikirkan kemungkinan itu. Aku memilih jurusan sastra Indonesia karena aku memang benar-benar ingin mendalami seluk-beluk sastra. Aku yang notabene jebolan anak IPA pun memilih jurusan IPS saat les intensif SNMPTN. Mengapa? Jawabannya singkat, aku tidak begitu suka menghitung. Otakku hanya mampu menghapal. Awal semester kelas tiga, aku belajar IPS secara otodidak. Banyak temanku yang berkomentar, “Deh, Nad, kamu cepat amat belajarnya. Ujian masih lama, kok.” Aku hanya bisa tersenyum tipis kala itu.

Mimpi kita tidaklah sama, teman. Jika kita berani bermimpi tinggi maka wujudkanlah!
* * *
Mimpi ini tak akan terwujud jika hatiku masih terombang-ambing. Aku memerlukan dukungan. Suatu ketika, aku bertanya kepada adik kelas yang memiliki orang tua alumni sastra Indonesia. Mendengar pertanyaanku, ia menjawab, “Sastra Indonesia, kak? Aih, tidak usah, kak. Paling juga hanya mengajar di almamaternya seperti ayahku.” Glek. Yah, ternyata jawabannya seperti itu. Jawaban yang sama juga kudapatkan dari teman sesama hobi menulis, “Nadia mau masuk sastra Indonesia? Nggak usah, deh. Mamaku juga kuliah S-2 Sastra. Materinya tuh, ngebosenin banget. Nggak seru.” Duh, betapa kenyataan pahit yang kudapatkan. Apakah jurusan yang kupilih ini sudah benar? Ya Allah, aku tidak tahu. Aku hanya mau berkuliah di sastra Indonesia. Titik.
“Kalau mau sastra, kenapa nggak sastra Inggris saja, Nad?”
“Yah, eh… Aku lebih suka sastra Indonesia. Mau gimana lagi? Pengin jadi dosen sastra Indonesia,” jawabku terkekeh kecil sambil garuk-garuk kepala.
“Kamu mau jadi penulis kan, Nad? Jadi itu alasannya mau masuk sastra Indonesia? Banyak, tuh, penulis-penulis hebat lainnya dan bukan berasal dari jurusan sastra Indonesia.”
“Mau makan apa kamu dengan pegangan sastra Indonesia?”
Namun, perkataan ter-nyesek adalah… “Nad, ngapain jauh-jauh ke UI kalau pada ujungnya sastra Indonesia? Ckckck. Pilih yang lain saja.” Hati rasanya teriris-iris, pedih. Beberapa diantaranya bahkan menertawakan ideku itu. Ah, sastra Indonesia, seburuk itukah dirimu di pandangan khalayak ramai?

Ketika di sekolah, kami seangkatan diminta untuk menuliskan pilihan jurusan saat kuliah nanti. Saat itu, aku bertanggung jawab untuk mengumpulkan data anak-anak sekelas. Di selembar kertas itu tertera puluhan jurusan yang diingini. Kedokteran pun mendominasi. Lalu teknik. Masih banyak lagi yang lainnya. Lucu saja, satu-satunya jurusan sastra –sastra Indonesia pula– berada di tengah kerumunan jurusan yang bergengsi. Jadi maksudmu, sastra Indonesia nggak bergengsi, Nad? Eh, bukan begitu maksudku. Aku hanya menyimpulkan dari berbagai tanggapan miring yang melayang ke arahku. Dan benar saja… “Wets, siapa yang mau masuk sastra Indonesia, nih?” sahut temanku yang bergerombol di meja guru berdesakan melihat jurusan yang diinginkan oleh anak-anak sekelas. Biasa, melihat saingan sejurusan. “Ciyeee, Nadia!” Nah, kan? Itu pujian atau ledekan? Anggap sebagai dukungan saja lah.

Ketika masyarakat menganggapmu remeh maka diam saja. Tunggulah beberapa tahun lagi dan bawalah kesuksesan yang telah kamu capai ke hadapan mereka.
* * *
Namun alhamdulillah, setelah sekian lama ternyata ada juga yang mendukungku. Di antaranya teman-teman baik, murabbiyah, tentor, dan kakak kelas. Satu pendapat kakak kelas yang masih kupegang erat hingga kini, “Tidak ada jurusan yang dibentuk jika tidak mempunyai peluang kerja. Tenang saja, Nad.” Kata-kata luar biasa itu membangun kembali semangatku hingga aku terus berjuang. Biarlah jika artinya harus berjuang seorang diri. Bukankah orang-orang sukses terlebih dahulu juga diremehkan? Beberapa karya mereka bahkan tidak diakui. Akan tetapi, waktulah yang berkuasa. Detik, jam, hingga tahun membuktikan kerja keras mereka. Tak peduli akan cercaan, mereka terus bergerak maju. Maka aku juga harus bisa mencontoh jejak mereka! Buktikan bahwa dirimu bisa. Kamu BISA!

Di saat kamu merasa pendapatmu benar, mengapa harus takut?
* * *
Untuk beberapa lama, aku tidak menanggapi omongan orang tua mengenai pembahasan jurusan. Sungguh, aku tidak ingin semangatku drop lagi. Aku terus berdoa kepada Yang Mahakuasa. Meminta petunjuk serta kemudahan. Alhamdulillah, hati orang tuaku mulai melunak. Mereka mengizinkanku menaruh sastra Indonesia di pilihan kedua. Bukan main, doaku terjawab! Terima kasih, Ya Allah. Waktu demi waktu berlalu, SNMPTN pun sudah berdiri tegak di hadapan. Dengan mengucapkan bismillah, berbekal restu dari orangtua, juga doa dari teman-teman semuanya, aku melangkah mantap menuju ruang tes.
Selesai mengikuti tes yang begitu mendebarkan, aku langsung meminta penjelasan dari kakak-kakak tentor tempatku menimba ilmu sekunder saat itu. Tempat les. Agak nekat juga sih, takut mendadak stres menerima kenyataan. Bagaimana kalau nyatanya jawabanku banyak yang salah? Namun, rasa penasaran akan jawaban yang sebenarnya mengalahkan ketakutanku saat itu. Lagipula, materi yang akan kudapatkan insyaAllah bermaanfaat di SIMAK UI –cadangan– yang akan kujalani. Ya, walaupun begitu yakin dengan pilihan kita, tak ada salahnya kan menyiapkan cadangan? Bahkan jika memungkinkan, siapkan beberapa cadangan pilihan. Begitulah kira-kira redaksi kalimat ayahku.
* * *
Tanggal 7 Juli 2012 tinggal menghitung hari. Isu-isu yang bergelimpangan begitu meresahkan hati. Ada yang mengatakan pengumuman tanggal 3 Juli, bahkan ada yang berkata tepat tanggal 1 Juli. Bagaimana pula ini? Hingga aku melihat postingan di facebook yang dikutip dari www.okezone.com, bahwa pengumuman SNMPTN dapat dilihat tanggal 6 Juli 2012. Gemetar, takut, resah, pasrah, semua bercampur aduk. Apakah impianku tidak terlalu tinggi? Aku begitu mendambakan status menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia. Semoga pilihanku tidak salah. Aku memantapkan dalam hati, jika rezekiku memang bertempat di sana, insyaAllah aku akan lulus. Jangan sekali-kali meragukan kekuasaan-Nya. Malam itu, aku melaksanakan salat hajat. Berdoa tak putus-putus kepada-Nya. Mengharapkan jawaban terbaik di keesokan hari.

Jangan pernah melupakan kehadiran Tuhan didekatmu. Gantungkanlah nasibmu hanya kepada-Nya.
* * *
Aku tengah berkutat di laptop. Mencoba membuka laman www.snmptn.ac.id yang sedari tadi tak bisa diakses. Error. Ketakutan pun menyergap, semoga ini bukan pertanda buruk. Setelah beberapa kali mencoba, halaman itu pun terbuka. Tampilannya sederhana. Namun entah, terlihat semrawut di pandanganku. Mungkin karena faktor gugup yang kualami. Perlahan, aku memasukkan nomor ujian, 312-82-03706, tanggal lahir, dan mengikuti huruf-huruf yang tertera pada gambar. Lalu, klik! Loading… Selamat atas keberhasilan Anda!

Nadia Almira Sagitta diterima di Sastra Indonesia, Universitas Indonesia.

SubhanAllah! Alhamdulillah! Ternyata takdir-Mu kepadaku sungguh indah. Terima kasih, Ya Allah. Orang tua pun tampak bergembira walaupun hasil ini tak sesuai yang diharapkan oleh ibundaku Akan tetapi, beliau tak bisa menyembunyikan seraut wajah bangga terhadap anak sulungnya ini. Tak kusangka, akhirnya aku meraih awal dari mimpi-mimpiku. Ya, ini barulah langkah awal. Semoga aku bisa sukses di bidang yang akan kugeluti kemudian. Dan, aku akan membuktikan kepada semua bahwa jurusan sastra tidaklah seburuk yang mereka sangka, bahkan sama kerennya dengan jurusan-jurusan lain. Semoga Allah selalu meridai jalanku. Bismillah…

Kesuksesan itu membutuhkan tiga hal, keberanian, kerja keras, dan doa…
* * *