Tuesday, December 20, 2011

KUTUKAN 11

Diberi kutukan sama Mbak Rhein Fathia. Okay, here is my answer!

Nadia itu:

1. A bit Talkative
"What? A bit? Just a bit? She is more than a bit!!" hehe, itu komentar temenku soal kecerewetanku yang katanya nggak ketulungan. Semuaaaaa diceritain. Walaupun sebagian besar cerita tentang kehidupanku, sih. Hahaha, well, ada mulut kok nggak dipake gitu, lho. Maksimalin aja! Selama nggak bikin orang sedih, kan? Nggak suka gosip, kok. :P

2. Buku
Books, books, everywhere. Wah, di kamarku tuh udah jadi lautan buku! Gimana enggak, semua buku beterbaran di lantai. Habis baca, taruh deh. Haha, sumpah, buku itu... duniaku banget. Bisa lupa makan, lupa mandi, lupa segala ketika aku dipertemukan dengannya! --> weleh". Karena yah, sebenarnya aku itu kutu buku. Semua yang ada tulisannya pasti dibabat habis, deh!

3. Berantakan
"Ckckck... Ini kamar cewek apa kamar cowok, sih? Berantakan banget." komentarnya setelah melihat kamarku yang penuh barang di lantai, tempat tidur dan meja belajar. Astaga, berantakan banget #plak! "Kok, nggak diberesin?" lanjutnya.
"Hehe, malas. Ntar juga kotor lagi."
Well, jawaban yang sangat tidak tepat untuk diberikan kepada sang ibu. Lah, wong pribadiku udah kayak gini. Nanti aja deh yaa diubahnya, peace! ^^v

4. Cuek
Inilah aku! Cuek sama keadaan, terkadang. Sampai biasa dikomentarin, "Kamu tuh cuek banget dengan lingkunganmu ya, Nad." Hihi, aku kan autis sebenarnyaaa :P

5. GR
Hahaha, ampun dah, udah berapa kali ya, temen-temen ngatain aku itu GEER be ge te? Tau ah, ratusan kali, mungkin. ^^v well, haha aku bangga dengan diriku sendiri. Lagipula, Nadia emang manis, kan? --> Hmph, mulai lagi deh.

6. Cemal-Cemil
Nadia hobi banget makan kue, permen, es krim, atau apapun yang bsia di emut lah! Apalgi yang manis-manis. Sesuai orangnya juga sih, MANIS. Ups, hehe. Sayangnya, dengan hobi yang sulit dikontrol ini, Nadia tetep setia dengan tubuh kurusnya. Ga nambah-nambah! *Sigh

7. SKSD
"Hei, nama kamu siapa?"
"Sekolah di mana?"
"Eh, eh, tau enggak...?"
Kalimat pembuka pembicaraan yang standar, tapi cukup memancing untuk kenalan. Haha, aku seneeeng banget kenalan dengan orang baru. Nambah temen gitu deh, terus habis kenalan yaa... biasa minta nomor telepon, atau fb atau twitter, (dengan tanpa rasa malu) Dasar SKSD!

8. Aceria
Well, aceria apaan ya? Haha, ini laptopku! Namanya Aceria karena selalu membuatku senang, di sini aku serin numpahin curhat, ngebuang semua ide yang akhirnya menjadi suatu tulisan, tempat narsis, playing game, dengerin musik, semua lah. Duniaku bangeeet! Hha, autis ya?

9. Lelet
"Nad, di mana?"
"Hmm, masih.. di rumah.."
"Ya ampuun! Udah daritadi, masih di rumah?"
Hehe, Nadia tuh orangnya lelet bangeet, sinkron dah sama sifat pemalasnya!

10. Facebook
Paling sering update tentang di hidupnya di Facebook! Ckcck, fanatik banget. Padahal kan ada jejaring sosial yang lain. Tapi, menurutku facebook itu paling lengkap kap kap, dah! Ada notes-nya buat tempatku menerbitkan cerpen atau kata-kata nggak jelas terbaru, ada album photo-nya, buat nampilin kenarsisanku, statusnya boleh panjang-panjang, gitu gitu deh. Dah malas kalau harus indah ke lain hati.

11. Galau
Wuaw, RATU GALAU! Itu identitas baruku. Semua temen ngejulukin kayak gitu. Tega amet, yee? Tapi, emang bener kok. Hiks, udah galau untuk 5 orang, cuyy! Kalau lagi galau biasanya update status di facebook. Yang bertema galau tentunya. Kadang aku terdiam nggak jelas, menerawang, hiks, kadang nangis juga sih --> tapi jarang. Hmm, dasar cowok-cowok nggak bertanggung jawab! Kalian membuatku galau sekian lama, hiks #ngambiltisu #dramaqueen

1. Cita-cita kamu waktu kecil apa?
Pengen jadi pramugari. Nampak cantik aja dengan rok panjangnya walaupun dengan belahan rok yang tak kalah panjangnya, rambut yang disanggul, jalannya yang anggun. Cantik. Sempurna. Sebenarnya pengen jadi pembicara di pesawatnya itu, lho. Saya suka aksen bahasa inggrisnya.

2. Enak mana, jomblo atau punya pacar? Alasan?
Jomblo. Cause yaa, kalau pacar mah bisa putus. Sakit hati juga ujung-ujungnya. Mending jomblo aja terus sampe nikah, iya nggak? :)

3. Tempat di Indonesia yang paling pengen dikunjungi?
Kalimantan dan Papua, pengen ke kota yang lebih "alam" dibanding kota dengan bangunan pun pabrik yang tegak dengan megahnya.

4. Kalau udah nikah, pengen bulan madu ke mana?
Eropa, romantis gimana gitu :P

5. Pilih mana, Julia Perez atau Dewi Persik?
Julia Perez. Entah mungkin karena wajahnya terlihat lebih "menjual" dan elegan dibanding Dewi Persik.

6. Paling suka baca buku dengan genre apa?
Drama queen, romantis juga boleh :D

7. Sebutkan musuh Ksatria Baja Hitam RX di Dunia Crisis siapa saja!
I dun have any idea about this -,-

8. Kalau dikasih kesempatan punya adik kandung lagi, mau cewek atau cowok? Alasan?
Saya mau adik cowok. Berhubung saya sudah punya adik cewek yang sumpah, nakalnya nggak ketulungan. Nyari suasana baru aja, kan seru tuh kalau punya adik cowok ^^

9. Suka galau nggak? Kalau iya, biasanya galau karena apa?
Banget! Sampe temen-temen bilangnya saya itu ratu galau. Well, gara-gara mencintai seseorang dalam diam, juga mengetahui bahwa sesungguhnya tidak boleh terlalu dekat dengan orang yang bukan muhrim dalam ajaran agama. Well, sepenuhnya galau gara-gara cinta sih.

10. Kriteria cewek/cowok yang kamu mau jadi pasangan hidup selamanya kayak gimana?
Yang beriman, yang bisa membimbing saya ke jalan yang benar.
Yang perhatian, siapa sih yang nggak suka diperhatiin?

11. Pendapatmu gimana tentang novel online saya, CoupL(ov)e? Kurangnya apa, lebihnya apa?
Waaa~ bagus begete. Top abeees! Lihai banget deh, ngaduk-ngaduk perasaanku. Aku sampai nangis lho! Akhir yang tak terduga.
Hanya saja, yah, mungkin karena aku masih SMA belum terbiasa dengan cerita berlatarkan pernikahan. Hahaha, tapi secara keseluruhan keren lho, :D three thumbs up (emang ada?)

Tuesday, December 13, 2011

Bunda Untuk Nayla

Oleh: Nadia Almira Sagitta


“Bunda, Nayla mau nyanyi. Dengerin yah,” pintanya, menarik-narik bajuku.

“Enggak, aku lagi sibuk!”

“Sekali aja, bunda please…” ia memohon.

“Dibilangin lagi sibuk. Udah Nayla main ke sana aja!” sergahku.

“Yah, bunda. Padahal lagunya bagus.” Ia tertunduk kecewa kemudian kembali ke kamarnya.

Kalian pasti mengira aku kejam, bukan? Aku memang membenci bocah kecil itu sedari dulu, bahkan aku menolak mentah-mentah kehadirannya di hidupku. Iya, dia. Nayla. Darah dagingku sendiri.

* * *

“Nayla, pulang sama siapa?” berikut pertanyaan Ibu Risma, guru TK Nayla.

“Pulang sendiri, bu guru.”

“Nggak dijemput bunda, ya?”

“Enggak, bunda bilang, Nayla pulang sendiri saja. Bunda sibuk, katanya.” Jawab Nayla polos.

“Oh begitu.” Ibu Risma manggut-manggut sembari berpikir, sesibuk apa ibu Nayla hingga tak sempat menjemput anaknya sendiri.

Dan Nayla berjalan seorang diri, menempuh perjalanan sekitar 1 km untuk sampai di rumahnya.

* * *

“NAYLA! Kamu ‘kan yang menggambar di buku ini?” ujarku emosi, menggebrak pintu kamarnya.

“I..iya bunda. Nayla pikir, buku itu udah nggak kepake.”

“Sok tahu, kamu! Makanya, jangan iseng! Ini agenda penting, nggak perlu coretan tangan kamu!”

“Maaf, bunda.” Nayla tertunduk menahan tangis.

“Maaf, maaf. Sudah, nggak usah nangis. Cengeng banget.” gerutuku, meninggalkannya sendiri kamar. Dan Nayla meraih boneka kesayangannya, dan duduk di pojokan kamar. Bahunya bergoncang, ia menangis sesenggukan.

* * *

“Nggak! Kamu nggak boleh ninggalin aku!” jeritku padanya.

“Habis mau gimana lagi? Nikahin kamu, aku nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa? Harus bisa! Kamu yang udah ngebuat aku kayak gini!” air mata mulai membanjiri pipiku.

“Kamu kira nikah itu gampang? Lagian kita masih muda, dan aku masih mau senang-senang.”

PLAAAK! Tamparan kudaratkan di pipinya. Keras. Meninggalkan rona merah di wajahnya.

“Kamu kira aku nggak mau nikmatin masa mudaku? Kamu kira aku siap menjalani semuanya, hah? Kamu harus tanggung jawab!” paksaku, tak menyerah.

“Maaf, mungkin kamu nganggep aku pengecut, Tan. Tapi, aku nggak bisa...” ucapnya kemudian perlahan meninggalkanku.

“WHAT? Sependek itukah jalan keluarnya? Reihan! Mana janjimu kalau kamu bakal nikahin aku? Mana?”

* * *

“Ibu Intan, ada telepon untuk Anda.”

“Oh, tolong sambungkan segera.”

“Baik, bu.”

“Halo, dengan Ibu Intan? Bu, ini saya Maida, tetangga ibu. Nayla kecelakaan, Bu.”

“Hah? Di mana?”

“Sekarang Nayla ada di rumah sakit Harapan, Bu.”

“Oh, baiklah, nanti saya akan pergi ke sana. Terima kasih infonya.” Aku meletakkan gagang telepon. Ckckck, anak itu tidak berhenti-berhentinya mengusik hidupku.

Sesampainya aku di rumah sakit, aku menemukan Ibu Risma, guru Nayla duduk di sampingnya. Mukanya pucat, sangat khawatir.

“Anda… Ibu Intan? Mamanya Nayla?”

“Iya. Kenapa?”

“Kenapa Anda tega membiarkan Nayla pulang seorang diri?” tanyanya tegas.

“Lah, dia kan sudah besar. Bisa jalan sendiri.” tanggapku santai.

“Besar? Dia masih 5 tahun, Bu! Sungguh, ada dendam apa Anda sama Nayla?”

“Bukan urusan kamu.” Aku memalingkan muka daripadanya.

“Saya sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Anda. Dia itu anak Anda.” Ujarnya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu, keluar meninggalkanku berdua dengan dia. Anak katanya? Lalu, apa peduliku? Dia anak yang menyusahkan! Aku melengos.

* * *

Kubuka album biru

Penuh debu dan usang

Kupandangi semua gambar diri

Bersih kecil belum ternoda…

Hari ini, aku sendirian di rumah. Nayla masih tergolek lemas di rumah sakit. Tidak mungkin kan aku menungguinya selama 24 jam penuh? Hidupku kan bukan hanya dia saja. Aku mulai membereskan rak yang ditumpuki oleh buku-buku akuntansi dan album masa kecilku. Ada fotoku digendong Mama. Mungil dan menggemaskan. Ma, Intan rindu sama Mama… Kubalik lembaran selanjutnya. Di situ ada foto Mama sedang menyuapiku. Juga ada saat ia bermain-main denganku. Aku bisa menemukan wajah Mama yang begitu sabar dan penuh kasih dalam membesarkanku. Lantas, mengapa aku tak bisa menerapkan hal yang sama kepada Nayla? Ah, ini hidupku. Tentu saja berbeda. Lagipula, aku tak menginginkan Nayla muncul di hidupku. Dia hanya mengobrak-abrik kisah hidup dan kisah cintaku.

* * *

Ah, hari ini aku tidak lagi sendirian di rumah. Kebebasan itu hanya kunikmati sekejap mata. Nayla telah kembali sehat seperti sediakala. Ckck, bahkan sekarang ia kembali meracau.

“Bunda, bunda. Besok, di sekolah Nayla ada acara lho. Bunda datang ya? Nayla disuruh nyanyi sama ibu guru. Katanya suara Nayla bagus,” ajaknya padaku.

“Enggak ah, males. Ngapain coba? Mending di rumah nonton tv.”

“Yah, Bunda. Ayo dong, nonton Nayla. Semua teman-teman Nayla ngajak orangtuanya, lho. Jadi, Nayla mau ngajak Bunda juga. Bunda mau ya?”

“Itu kan mereka, bukan aku. Kalau aku nggak bisa, gimana?”

“Sekaliiii aja, bunda. Ya?” pintanya terus memohon.

Huh, anak kecil pengganggu. Padahal besok aku sedang mengambil cuti. Lelah dengan rutinitas sehari-hari. Masakan harus diganggu dengan acaranya tak penting itu? Sekedar mengakhiri pembicaraan, aku mengangguk.

* * *

Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku

“Ng, Ma? Intan pengen bicara. Tapi, Mama jangan marah, ya?”

“Mau bicara apa, sayang? Sini, duduk.”

“Intan… Intan… ng…”

“Ada apa?”

“Intan hamil, Ma.”

“Ah? Kamu nggak beneran kan?”

“Ng… Intan nggak bohong, Ma. Reihan yang ngelakuin semuanya sama Intan.”

“Apa? Kamu hamil?” suara yang lebih berat mengagetkan kami berdua. Suara Papa.

“Kenapa kamu baru kasih tahu? Sudah jalan berapa bulan, Tan? Jawab!”

“Ng, 3 bulan, Pa.”

“Memalukan! Sekarang cepat kamu kemasi barang kamu, pergi dari sini!”

“Apa? Pa, ini bukan sepenuhnya salah Intan, Pa. Jangan seperti itu.” bujuk Mama, membelaku.

“Tidak. Ia sudah mencemari nama baik keluarga kita! Sekarang kamu keluar!”

Aku tertunduk, menatap lantai kamar. Mataku merah, mencoba menahan tangis.

“Tidak boleh, kita harusnya menemani Intan, bukan malah memojokkannya seperti ini!”

“Itu salahnya! Dan, kita harus menghukumnya.” Papa bersikeras. Ia memang orang yang tegas dan keras kepala.

“Kalau begitu aku ikut dengan Intan.” Mama berkata kemudian.

Aku terperangah, Mama mulai terseret dalam masalahku, kini.

“Ma… biarkan Intan sendiri yang menanggungnya. Intan yang salah…”

“Tidak, Mama harus tetap ikut dengan Intan. Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya sendiri?”

Deg! Ingatan masa laluku berhenti sampai di situ. Aku tertegun. Termasuk golongan ibu macam apa aku? Meninggalkan anakku seorang diri di rumah sakit saat itu. Ya Tuhan. Ternyata aku memang seorang ibu yang jahat.

* * *

“Penampilan selanjutnya, sebuah nyanyian berjudul “Bunda” yang akan dibawakan oleh Putri Nayla.”

Aku melihatnya, berjalan ke atas panggung dengan kaki mungilnya, berdiri di sana memegang mic.

“Lagu ini kunyanyikan untuk Bunda-ku tersayang. Bunda itu orang yang baiiiik sekali. Bunda, dengerin Nayla nyanyi ya?” (Dia nggak mencoba berbohong, kan?)

Piano mulai berdenting pelan mengiringi irama lagu Nayla.

Aku mendengarkan liriknya dengan baik.

Kubuka album biru

Penuh debu dan usang

Kupandangi semua gambar diri

Bersih kecil belum ternoda

Dahulu penuh kasih (benarkah? Adakah kasih sayang yang ia rasakan dariku?)

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku (dimarahi, dibentak, dipukul… itulah riwayatnya semenjak ia besar di tanganku)

Kata mereka diriku selalu dimanja (aku bahkan tak pernah memanjakannya, malah berusaha membuatnya mandiri. Hidup tanpa bantuanku)

Kata mereka diriku selalu ditimang (selalu? Aku hanya melakukannya saat ia bayi. Itupun dengan unsur keterpaksaan)

Oh, bunda ada dan tiada dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku…

Ya Tuhan, aku benar-benar ditegur lewat lagu itu.

Selama lima tahun ini, aku belum pernah membuat Nayla bahagia.

Selama lima tahun ini, kuhabiskan ‘tuk bergelut di pekerjaanku sendiri. Tak memedulikannya.

Selama lima tahun ini, aku selalu mengabaikannya.

Selama lima tahun ini, aku senantiasa memarahinya, bahkan mungkin bisa membuat jiwanya tertekan.

Ternyata selama lima tahun ini, aku bukanlah sesosok ibu yang patut dibanggakan.

Aku terlalu egois dengan duniaku sendiri.

Selalu saja ngotot bahwa semua perubahan yang ada di hidupku adalah salahnya.

Karena kehadirannya, karena kelahirannyalah aku terpaksa menjalani hidup seorang diri.

Tanpa Mama dan Papa, tanpa Reihan.

Semua menghilang dari hidupku.

Kepergian Mama karena tidak terbiasa hidup di lingkungan yang cukup sederhana, adalah kehilangan yang paling menyakitkan.

Dan kala itu, aku juga menyalahkan Nayla.

Padahal, semua ini bukanlah salah Nayla sepenuhnya.

Ini salahku, salah Reihan juga.

Andai saja saat itu aku tidak melakukan hal yang bodoh, mungkin aku tak meratapi nasib seperti saat ini.

Toh, nasi sudah menjadi bubur.

Mau tidak mau aku harus merawat Nayla. Seonggok daging yang mewarisi sifatku. (Hereditas :P)

Seharusnya aku membesarkannya dengan kasih sayang.

Sama seperti apa yang telah Mama lakukan terhadapku.

Bukan malah menyalahkannya setiap saat.

Ya Tuhan, maafkan aku.

Seusai menyanyi, Nayla turun dari panggung lalu seketika menghambur dalam pelukanku.

“Nayla sayang sama Bunda,”

“Bunda… juga sa…yang sama Nayla.” ucapku terbata-bata.

Itulah pertamakaliku memanggil diriku sendiri dengan ucapan Bunda. Bunda untuk Nayla.

Saturday, November 19, 2011

Aku dan Debu

Oleh: M.Taslim Ali

Aku jelajah ini kota,

Simpang siur jalannya.

Tampak tangis darah dan daging,

Mengeluh jatuh ke debu.

Aku jelajah gunung dan lembah

Debu ngebul dari kakiku.

Mulut bedil dan mortir,

Rahang meriam, ngebulkan debu,

Balikkan debu pada debu

Debu dan debu.

Aku penjelajah gelap dan caya.

Aku debu,

Seperti tangis darah dan daging,

Seperti debu keluh, keluh kakiku,

Debu takdir, bedil, dan mortir.

Pada akhir jalanku,

Kembali pada debu.

Dari gelap ke caya,

Dimana aku lupakan debu...

Kangen

Oleh: W.S. Rendra

Kau takkan mengerti segala lukaku

Karena cinta telah sembunyikan pisaunya

Bayangkan wajahmu adalah siksa

Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan

Engkau telah menjadi racun bagi darahku

Apabila aku dalam kangen dan sepi

Itulah berarti aku tungku tanpa api...

Gadis yang Kau Tinggalkan part II

Aku menggenggamnya erat

Membolak-balik halamannya

Seolah tak percaya, bahwa kau tega bertindak seperti ini

Bukankah dahulu sudah kukatakan jangan usik aku lagi?

Tak adakah rasa bersalahmu sudah mengobrak-abrik hidupku?

Jatuh, aku merosot turun saat menerima secarik kertas itu

Badanku lemas seketika, tak berdaya

Nafasku tak teratur

Gemuruh di dadaku tak dapat lagi kutahan-tahan

Akhirnya aku menangis di atasnya

Mengaburkan tinta hitamnya

Bahagiakah kau telah mencampakkan aku?

Puaskah sekarang kau melihatku?

Berkali-kali aku menghapus air mata yang menghiasi pipi

Lalu, mencoba menguatkan jemariku untuk membuka lembaran itu

Dengan tangan yang bergetar, aku membaca kata per kata yang tertera

Ketika kutemukan namamu, ingatanku berputar ke masa itu

Harusnya itu aku!

Harusnya aku menggantikan dirinya yang kini ada di sisi namamu!

Kesedihanku berganti kecewa

Kamu mengingkari janjimu

Dan, gadis menangis tanpa suara. Ungkapan kekecewaan hatinya terhadap pemuda yang selama ini dicintainya. Namun tangisannya tak lama, ia beralih memandang lembaran yang kini tergeletak di lantai. Lantas, meremukkan surat undanganpernikahan yang ia terima. Lalu melemparkannya tepat ke tempat sampah… Usai sudah.

Gadis yang Kau Tinggalkan

Kau hilang, menyisakan cinta

Kau hilang, meninggalkan perih

Kau hilang, menyayat hatiku yang tulus mencintaimu

Kau hilang, sesaat setelah kau berkata cinta padaku…

Mengapa kau harus hadir jikalau akhirnya kau menghilang jua?

Mengapa kau harus menyukaiku jikalau kau jugalah yang membuatku sakit?

Mengapa kau harus merebut perhatianku?

Memenangkan hatiku?

Mengapa kau harus ada dalam kisah cintaku?

Kau hilang tanpa alasan

Setelah kau mengalihkan duniaku, kamu menghilang begitu saja

Buat apa???

Apa artinya ini?

Perasaan ini? Cinta ini? Rindu ini?

BUANG SAJA SEMUA!

Namun, tahukah engkau?

Sulit bagiku ‘tuk melupakanmu

Karena, kamu begitu baik padaku

Karena, segala perhatian yang engkau curahkan untukku

Karena, hidupku telah diwarnai olehmu

Haruskah kau memalingkan wajah ketika tatapan mata kita beradu?

Haruskah kau mengambil jalan lain ketika langkah kita bertemu?

Haruskah kau membalikkan badan ketika kita berpapasan?

Haruskah kau berpura-pura tidak mengenalku?

Jahat nian dirimu

Padahal, selama ini aku memegang kata-katamu

Janjimu, sumpahmu

Bahwa kelak kau akan menjadikanku bagian dari hidupmu

Bahwa kelak kita ‘kan melangkah bersama

Dalam satu ikatan suci…

Tapi, nampaknya kau melupakan semua itu

Sepertinya itu hanyalah janji palsumu semata

Toh, kau mulai melupakan diriku saat ini

Entah apa alasannya, aku tak tahu…

Dan kini aku sendiri, menyusun serpihan-serpihan hati yang kau hancurkan

Menatanya satu persatu, memperbaikinya

Karena tanpa kehadiran hati, hidupku terasa mati

Biarlah ia hidup tanpa secuil kenangan akanmu

Jangan coba usik aku lagi!

Friday, October 21, 2011

Ada Apa dengan Hatiku?

Oleh: Nadia Almira Sagitta

Ada apa dengan hatiku?
Ia tercabik tanpa sisa, tak meninggalkan jejak
Ia memudar, hingga tak kasat mata
Hatiku kehilangan rasanya
Aku tercabik, namun tak merasakan sakit
Aku kehilangan, namun tak merasakan rindu
Karena
Akulah biang onarnya
Yang menghilangkan perasaan itu adalah aku
Yang mencabiknya adalah diriku
Yang menggantinya juga daku
-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Bukanlah kuasaku mempertahankan rasa cinta itu
Bukanlah mauku melupakan seseorang yang sempat singgah disana
Bukan pulalah aku yang mengatur
Serahkan semua tanya, terka, kepada yang berkuasa
Allah SWT.
Allah lah yang mengombang-ambingkan hati seseorang
Begitupula denganku.
Aku hanya larut dalam permainan-Nya
Keputusan yang kupilih adalah kehendak-Nya
Allah tahu yang terbaik untukku, maka Allah menunjukkanjalan-Nya
Terima kasih Ya Allah…

(Ya Allah, aku kembali melabuhkan hati ini kepada seorang hambamu. Hambamu yang insyaAllah senantiasa taat kepada-Mu. Ya Allah, izinkanlah daku tuk mencintainya, dengan izinmu. Aku tak punya alasan mengapa jatuh cinta padanya. Aku hanya mau…menjadi seseorang yang berarti untuknya, hidupnya. Dengannya, ya hanya dengan dia. Perkenankanlah aku menjadi jodohnya…Ya Allah, perbolehkanlah aku mengarahkan rasa cinta yang Engkau anugerahkan,ke jalan yang lurus. Bismillah. Ya Allah, sucikan pula hatiku untuk mencintaimu dengan segenap hatiku, biarlah aku mencintainya dalam diam, hingga aku tahu bahwa dia betul-betul jodoh yang Engkau beri padaku)

Saturday, October 15, 2011

Tapi, Walau, Kenapa? Karena, Biar, Dan....

Oleh: Nadia Almira Sagitta

Tapi...
Tapi aku suka
Tapi aku cinta
Tapi aku rindu
Tapi aku memimpikannya
Tapi aku mengingatnya


Walau...
Walau dia tak suka
Walau dia mencintai yang lain
Walau dia tak merinduku
Walau dia tak mengajakku berkunjung ke mimpinya
Walau kuyakin dia tak mengingatku


Kenapa?
Kenapa aku menyukainya?
Kenapa wajahnya selalu membayangiku?
Kenapa karenanya diriku menjadi semangat?
Kenapa karenanya aku mau berubah?
Kenapa namanya selalu muncul dalam benakku?
Kenapa figurnya hadir dalam tiap mimpi indahku?
Kenapa aku tetap mencintai seseorang yang sekaligus membuatku susah?


Karena...



Aku juga tak tahu alasannya mengapa


Aku hanya percaya cinta ini dititipkan oleh-Nya
Aku hanya bisa berharap, dialah untukku
Aku pasrah, bila akhirnya dia hanya menjadi bagian dari cerita cintaku
Aku senang dan berbunga-bunga tanpa harus memiliki
Aku suka melihatnya bahagia walau bukan karenaku


Biar...
Biar saja jikalau harus mencintai dalam diam
Walau hati ini meronta ingin mengatakan, namun tidak, itu hanya akan membuat diriku malu...
Biar saja jikalau ia masih mencintainya, tiada mengapa
Walau sebenarnya hati ini menjerit sakit, namun itu haknya mencintai oranglain...


Karena,
Cinta itu tulus
Indah
Ikhlas
Tanpa pamrih
Rela...


Dan, seperti itulah caraku mencintaimu...
Selalu...


L.O.V.E
Nadia Almira Sagitta

To: You

16/10/2011, 1:09 PM

Tuesday, September 13, 2011

Hampa

Oleh: Nadia Almira Sagitta

diam.
diam, diam, diam.
hanya bisa terdiam.
terdiam membisu


sunyi.
sunyi, sunyi, sunyi.
sunyi senyap, hidup dalam sunyi.


sepi.
sepi, sepi, sendiri.
hidup mencoba mandiri, tak ada yang menemani.
aku sendiri, tenggelam dalam sepi.


hidup dalam kesendirian
hidup bertemankan kesunyian
hidup tanpa sanggup berkata-kata
hidup sebatang kara.


mencoba memaknai hidup dalam hening.
memaksakan tuk kenal dekat dengan lengang.
membiasakan diri dengan kekosongan.
membiarkan diriku didampingi oleh kehampaan.

Cinta pada pandangan pertama

Oleh: Nadia Almira Sagitta

2 bola mata indah itu
Senyum lepas milikmu, begitu memikatku
Kamu dengan tubuh molekmu, yang terbalut busana warna pastel itu
Memesonakan diriku

Rambutmu yang berkibar diterpa angin
Cara berjalanmu yang menampakkan kesan anggun
Hanya satu kata yang dapat membahasakan dirimu, menawan

Satu kombinasi yang tak mungkin terlupakan
Walau hanya sekilas, terekam dengan baik dalam memoriku
Senantiasa terbayang dalam benakku
Menghipnotisku, membuat diriku terpukau akan sinarmu
Membuatku jatuh cinta akanmu

Bersedih

Oleh: Nadia Almira Sagitta

Tenggelam dalam sepi…
Terhanyut dalam lara…
Terhipnotis oleh sendu…
Terbawa oleh muram…

Sepi sendiri
Duka lara
Sedu-sedan
Muram durja
Bersedih...

Hanya bisa meratap
Hanya dapat tercenung juga terdiam
Hanya sanggup menerima kenyataan
Tak ada kekuatan untuk mengubah semua…

Kepala yang tertunduk, pipi yang membasah
Mata yang sendu, bibir yang terkatup
Semua terpana tak percaya menatap batu nisan di hadapan
Bahwa orang tersayang telah pergi dan takkan kembali
Meninggalkan diri ini sendiri, tanpa sesiapapun yangditinggalkan untuk menemani….

Saturday, September 10, 2011

Hujan

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Matahari kian memudar

Sinar kuningnya berganti gelap

Mendung, sesuram hatiku

Kilat menyambar-nyambar menghiasi langit sore itu

Guntur menggelegar, memecah keheningan

Aku memandangi jendela kamar yang basah akan titik air

Keheningan suasana menyergap, membuatku mengingat masa lalu

Dulu, kala hujan mengguyur bumi pertiwi

Kita bermain-main di bawah rinai hujan

Tertawa-tawa, berkejaran satu sama lain

Hawa dingin sedikitpun tak kita hiraukan

Yang penting, senang kita rasakan

Tak dinyana, kini kamu pergi meninggalkanku sendiri

Memaksaku melewati hujan, tanpa dirimu

Hujan tak lagi riang, hujan tak lagi membuatku tersenyum

Kini, hujan hanya menguak kenangan lama di hatiku

Kenangan antara aku dan kamu…

Wednesday, August 3, 2011

Cintaku Kepada Pelayan Kafe

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Kulangkahkan kakiku menuju satu coffee shop terdekat dari kampus. Sore itu, keadaan sangat lengang. Yah, baguslah, dengan demikian aku bisa duduk tenang menikmati coffee latte pesananku. Kuangkat cangkir kopi yang masih panas, persis di depan hidungku, mencium aromanya sebentar, lalu menghirupnya pelan. Nikmat sekali, paduan kehangatan kopi dengan dinginnya hawa di luar sana. Sambil meminum kopi, aku membolak-balik majalah Kawanku terbaru yang kubawa sedari tadi. Bosan membaca, pandangan kusapukan ke tiap sudut kedai kopi ini. Tiba-tiba, pandanganku terhenti pada satu titik. Seseorang. Lelaki. Membawa notes kecil di tangannya. Dengan apron berwarna coklat susu. Sebenarnya biasa saja, ia hanya seorang pelayan di coffee shop ini. Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Mungkin karena aku tak pernah melihatnya di sekitar sini. Sepertinya ia pekerja baru. Pandanganku tak lepas daripadanya, kutopang daguku di atas tangan, melihatnya dengan leluasa. Namun, sepertinya ia merasa ada yang telah memperhatikannya sedari tadi. Dia menolehkan pandangan, membalas tatapanku. Salah tingkah, aku memalingkan wajahku ke arah jendela. Memandang titik-titik air yang tertinggal di sana.

* * *

Lagi, siang ini aku datang ke coffee shop itu. Memesan coffee latte langgananku. Aku bermaksud mengerjakan tugas kuliahku di sini. Suasananya tenang, tak seperti di kosan, ribut. Hmm, well… Di mana pulpenku? Ini dia! Aih aih, pulpennya bocor! Tinta hitam itu -tanpa rasa perike’tinta’an- mengotori jemariku. Aku menuju toilet hendak membasuh tanganku, dan tiba-tiba saja aku melihat pemuda itu lagi. Untuk yang kedua kali. Hanya lintas lalu, namun sanggup membuat hatiku berdebar tidak karuan. Lengan bajunya yang digulung, tubuh tegapnya, wajahnya yang masih basah terkena air, menawan. BRUKK!

“Hati-hati mbak!” tegur seorang ibu berbadan buntal, (ups!)

“Ah yaa? Maaf bu, maaf… Saya tidak sengaja.”

“Makanya, kalau jalan lihat-lihat.” nasihatnya. Cukup menyinggung. Ah, semua ini gara-gara pemuda itu….

Cepat-cepat aku membereskan bukuku, tiba-tiba saja ada kabar Adira teman kosanku kecelakaan. Segera kupanggil taksi dan melesat ke rumah sakit tempat Adira dirawat. Hmm, UGD.

“Hai, Dir! Eh, kamu nggak papa kan?”

“Ah, enggak. Luka ringan aja.” jawabnya menunjukkan memar di siku, lutut, juga betisnya.

“Yah, kok bisa jatuh sih?”

“Tadi, ada yang berusaha merampas tasku. Ya, aku pertahanin tasku dong. Nggak nyangka malah jatuh.”

“Kamu juga sih. Tas doang padahal. Kenapa nggak direlain aja?”

“Mana bisa, Yas. Tas itu kan hadiah ulangtahunku dari Kevin. Mana mungkin aku ngerelain dirampas gitu aja?”

“Ooo, ada kenangannya toh.. Haha, ya udah. Tapi udah nggak papa kan? Pulang yuk, ntar aku yang bawa motor.”

Setelah mengurus administrasi, kami berdua keluar dari ruang UGD. Dan anehnya, aku bertemu pemuda yang bekerja di coffee shop itu! Dia ngapain ya, di sini? Lagi-lagi, aku diam terpaku menatapnya, mengikuti langkahnya yang ternyata menuju ruang ICU. Waaa~ tampan beneeer.

“Woii Yas! Yasmin! Ngeliatin siapa sih?” Adira menegurku sambil mengibaskan tangannya tepat di depan wajahku.

“Ah, enggak kok. Pulang yuk.” jawabku tersipu malu. Sumpah, pemuda tadi… Benar-benar mengalihkan duniaku. (now playing: Wajahmu Mengalihkan Duniaku – Afgan)

Sesampainya di kosan…

“Dir, kamu percaya enggak sama cinta pada pandangan pertama?” tanyaku.

“Love at the first sight? Ah enggak tuh. Mana ada cinta begituan.” jawabnya enteng.

“Ah, tapi… ng, udahlah.”Aku mengurungkan niatku untuk membahasnya lebih lanjut. Aku juga masih ragu akan perasaanku.

“Eh Yas, nyari makanan buat ntar malam dong, kan giliranku udah kemaren.” kata Adira mengingatkan.

“Oh iya, iya. Tunggu ya, aku mandi dulu.”


Seusai mandi, aku menyambar dompetku dan melanglang buana bersama Mio-nya Adira ke sekitaran wilayah kos. Nah, itu ada warung, aku memesan 2 bungkus nasi goreng. Yah, nasib dah jadi anak kos. Makanannya gini-gini aja. Tiba-tiba mataku menangkap sesosok bayangan. Seorang pemuda. Dengan tubuh tinggi tegap, wajah yang kukenali dengan baik dalam memori otakku, berdiri di seberang jalan. Menuju ke sini, ke warung ini. Duh, aku harus gimana nih? Aku rapi enggak ya? Enggak berantakan, kan? Ah, sialan, deg-degan atuh ini... Dia makin mendekat, hingga akhirnya tegak persis di samping mas penjual, yaitu di depanku. Hendak memesan apa ya dia? Kasihan, dari tadi dia nggak direspon sama penjualnya. Sambil menunggu pesananku jadi, aku beralih duduk di bangku dan memandang ke arah lain, yang berlawanan dengan pemuda itu. Nggak sanggup ah kalau harus memandangnya lagi. Andai aku es krim, bisa-bisa aku lumer! Hatiku pun dag dig dug tidak karuan. Pandangannya itu loh, sumpah, menghanyutkan. Lebay ya? Maaf deh.

“Mbak, ini pesenennya. 2 bungkus nasi goreng kan?” ujar si penjual.

“Oh iya, berapa ya Mas?”

“Kayak biasa aja, Mbak. Rp 15.000,”

Aku mengulurkan 3 lembar limaribuan ke tangan si penjual. Pada saat yang sama, tak sengaja, aku melihat pemuda itu melemparkan senyuman kepadaku. Refleks, kutolehkan wajahku ke samping, buru-buru aku menggantungkan bungkusan yang berisi nasi goreng itu di stang motor, menyalakan motor, dan meluncur pergi dari tempat itu. Sumpah, salting!

“Assalamualaikum, Dir. Adira! Tuh, makanannya ada di atas meja.” sahutku dari ujung pintu kamarnya.

“Oke deh, thanks ya!”

Aku berjalan perlahan ke arah kamar atau biasa kusebut rumah kecilku yang bersebelahan dengan kamar Adira. Kulempar tasku di sudut kamar, dan aku merebahkan diriku di atas kasur yang tak bisa kubilang empuk itu. Hari yang melelahkan, penuh oleh bayangan pemuda itu. Apa ini sebuah kebetulan ataukah aku dan dia… berjodoh? 3 kali sudah aku bertemu dengannya hari ini. Dan sudah 3 kali pula aku terpesona olehnya. Aih aih… Sekedar mengetahui namanya pun tidak. Berkomunikasi apalagi. Tapi dia mampu menggetarkan hatiku hanya dengan tatapan matanya yang tajam juga senyuman hangatnya. *Tok..Tok..Tok..*

“Yasmin, aku makan di kamarmu yah? Boleh masuk nggak?” suara Adira.

“Iya, masuk aja,” ucapku malas.

“Hai, Yas. Kamu belum makan? Nggak laper?” tanyanya.

“Ng? Belum terlalu lapar kok,” jawabku sembari melamun, tidak konsentrasi.

“Eh? Kayaknya dari tadi kamu melamun terus deh. Mikirin siapa sih?”

“Hhh, nggak kok. Nggak usah dipikirin…” ujarku, melengos.

“Ayolah, cerita-cerita dong. Ada masalah? Atau… kamu lagi jatuh cinta ya? Cieee cieee.” Ia mulai menggodaku.

“Jatuh cinta? Yeee, sama siapa coba? Nggak tuh, ah, sok tahu kamu.” elakku. Aku mengubah posisi dudukku yang semula selonjoran kaki menjadi duduk bersila, memberikan tempat duduk yang lebih luas untuk Adira.

“Hehe, aku menebak saja sih, habisnya kamu ngelamun terus seharian. Biasa itu kan tanda-tanda orang jatuh cinta. Ngelamunin inceran melulu.” ujarnya sambil tertawa. Lanjutnya, “Udah deh, daripada ngobrol nggak jelas gini, mending kamu cepetan ambil bungkusan makananmu terus makan sama aku di sini.”

Aku menuruti apa katanya, mengisi perut yang telah berbunyi sedari tadi. Keroncongan.

Senja berganti malam, matahari menenggelamkan dirinya, membiarkan bulan bertengger di singgasana langit. Adira sudah kembali ke kamarnya sejak tadi. Aku pun terduduk sendiri di kamar. Kulirik buku kuliahku kemudian teringat akan banyaknya tugas yang diberikan dosen dan harus dikumpulkan seminggu lagi. Namun hasrat untuk mencicil tugas itu belum juga datang padaku. Mataku beralih pada tumpukan kertas HVS dan pensil 2B yang tak jauh terletak daripadanya. Kertas dan pensil, identik dengan menggambar. Sudah lama aku tak mengguratkan sesuatu di sana. Aku beranjak dari tempat tidur dan menuju meja belajarku tak lupa kubawa secarik kertas. Beberapa saat, aku menulis-nulis sesuatu yang tidak jelas. Meremas kertas itu lalu membuangnya, dan tanganku meraih secarik kertas lagi, tanpa sadar aku mulai membuat satu sketsa. Sketsa wajah. Laki-laki. Ah, pemuda itu lagi. Dia, siapa sih? Namanya? Tinggal di mana? Apa di dekat kosanku? Bagaimana sifatnya? Potongan-potongan pertanyaan itu bermunculan satu per satu. Aku dibuatnya penasaran.

Sudah seminggu aku disibukkan oleh kuliah dan tugas yang bertumpuk. Untuk sejenak, bayangan pemuda itu sirna dari hidupku. Well, hidupku tidak hanya mengorbit pada pemuda itu, kan?

“Yasmin! Tolong dong pegangin ini bentar!” pinta Tunisia, teman sekampusku. Ia menyerahkan setumpuk kertas dan buku padaku. “Aku mau mengikat tali sepatu soalnya. Tolong ya.” Ia merunduk, membetulkan simpul sepatunya yang terlepas.

“Eh, kayaknya kamu buru-buru banget deh ya? Mau kemana Nis?”

“Makasih ya udah dibantu, iya nih aku mau kerja part-time di Coffee Shop seberang kampus kita itu lho.” jawabnya. Mendengar kata ‘Coffee Shop’ aku tertarik. Dan aku mulai melontarkan pertanyaan yang lain,

“Nis, kamu sudah lama kerja di sana?”

“Mmm, baru-baru saja sih, sekitar 2 minggu yang lalu lah, pegawai baru nih.” Ah, ternyata Tunisia belum lama menjadi pegawai di sana, tapi apakah mungkin ia mengenal pemuda yang kumaksudkan?

“Duluan ya, Yas! Bye~ see ya!” ia setengah berlari meninggalkanku. Aku termangu, bingung hendak ke mana. Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi coffee shop itu lagi. Aku berjalan keluar dari kampus, menyeberangi jalan, tak sampai 50 meter aku sudah tegak di hadapan tempat ini. Kudorong pintunya dan senyum ramah para pegawai seketika menyambutku. Selain interiornya yang menampakkan kesan calm dan juga nyaman, pilihan kopi yang beragam, sekarang aku mempunyai alasan lain yang membuatku tidak kunjung bosan mendatangi tempat itu. Ya, karena kehadiran pemuda itu. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Dan, ternyata pegawai kasir siang itu yang melayaniku adalah Tunisia.

“Hei, ketemu lagi Nis! Eh, kok aku nggak pernah ketemu kamu ya 2 minggu yang lalu? Padahal aku sering datang ke sini lho.” sapaku pertama kali.

“Ah iya, aku sering kebagian shift sore. Jadi, nggak ketemu deh kita di siang terik begini. Mau pesan apa?” ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Wah, dia punya gesture yang cukup bagus untuk jadi kasir. Ramah dan murah senyum.

“Iced Americano satu. Sama orange marmalade cake-nya ya.”

“Oke, semuanya jadi Rp 38.000”

Aku membalas senyumnya, dan kubuka zipper dompetku. Mengangsurkan lembaran uang kepada Tunisia dan beranjak menuju meja yang bersebelahan dengan jendela. Minuman yang kupesan belum kusentuh sedikitpun. Kulayangkan pandangan ke setiap sudut kafe ini. Batang hidung yang kutunggu belum juga nampak. Hingga sudah 2 gelas kopi kuhabiskan, sosoknya belum juga muncul. Kecewa, aku meninggalkan kafe itu dengan tangan hampa. Tanpa berhasil membawa satu raut mukanya dalam benakku hari itu.

“Tunisia, ngg… Kamu kenal dia nggak?” tanyaku sambil menyodorkan sketsa wajah pemuda tersebut suatu hari. Tunisia mengerutkan kening, mencoba menganalisa gambaran mengenainya. Namun, sekejap ia menggeleng. “Maaf, aku tidak mengenalnya, Yas. Memangnya kamu ketemu dia di mana?” tanyanya. Seketika, mengalirlah kisah mengenainya. Awalku bertemu, kebetulan-kebetulan yang terjadi, hingga pemuda itu merebut hatiku dan memenangkannya. Tunisia terdiam sebentar, dan mengambil kesimpulan, “Jadi, kamu jatuh cinta padanya pada pandangan pertama? Ya ampun, Yas… Masakan kamu jatuh cinta pada pemuda yang nggak jelas begitu? Lagi katamu, ia partner kerjaku? Waiter ya? Ya sudah deh, nanti aku coba cari info tentang dia ke teman-temanku ya. Aku pulang dulu.” pamitnya, berjalan memunggungiku. Seolah mendapatkan titik terang, aku tersenyum lebar. “Makasih ya, Nis! Kutunggu infonya!” sahutku dari kejauhan. Sebentar lagi, akan kukenali siapa dirimu wahai pemuda! Aku tak sanggup menahan gelegak gembira yang bergelora di hatiku, setidaknya aku tak akan mati penasaran karenanya, betul?

* * *

“Yas! Yaaas! Yasmiin!” panggil Tunisia tergesa.

Aku menghentikan langkahku kemudian berbalik menatapnya, “Ada apa?”

“Aku sudah tahu, siapa dia!” ucapnya begitu meyakinkan.

“Haaah? Siapa? Siapa?”

“Nih, lihat.” katanya memberiku sebuah buku album bersampul cokelat. Terlihatlah foto-foto karyawan Coffee Shop “Latte” dengan berbagai macam gaya. Ada yang sedang melayani pelanggan, ada juga saat mereka curi-curi waktu berfoto tanpa ketahuan atasan mereka. Haha, tidak kusangka, juga ada foto diriku sedang menyeruput secangkir Mocchacino. Sampailah di halaman ketiga terakhir. Terpampanglah foto pemuda itu berdiri gagah, melipat kedua tangannya, dan melontarkan senyum. Sialan, senyum menghanyutkannya itu kembali meliputi batinku. Kubuka halaman selanjutnya, Tunisia menungguku. Ada beberapa fotonya yang dilekatkan di album itu. Ada satu tulisan di sana,

*In Memoriam, pegawai favorit kafe ini, Rendra Wicaksono Saputra. Semoga kamu tenang di alam sana…* Dan di halaman paling akhir, ada foto kuburan Rendra bertabur bunga, dikelilingi oleh rekan-rekan kerjanya.

Apa??? Dia… udah nggak ada? Kutatap wajah Tunisia, meminta penjelasan.

“Dia udah meninggal Yas. Aku baru tahu dari bosku kemarin sore. Katanya, tertimpa kecelakaan motor yang lumayan parah. Motornya aja sampe hancur gitu. Kejadiannya, sekitar satu setengah tahun lalu. Dia…”

Tak kudengarkan ocehan Tunisia selanjutnya, tubuhku lemas tak berdaya seketika. Itulah mengapa alasannya aku menangkap bayangan dirinya di rumah sakit. Itulah mengapa dia tak dilayani dengan segera oleh penjual nasi goreng. Karena dia memang tidak ada. Hanya sekelebat bayangan tanpa nyawa. Jadi… Selama ini aku menyukai sesosok hantu? Ya ampun. Brukk! Tubuhku jatuh pingsan. “Lho? Yasmin? Yas!” jerit Tunisia kaget.

Maaf

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Ada seorang gadis kecil terduduk di pojok kamar.

Ia sedang bersedih, wajahnya muram, kepalanya ditundukkan sedari tadi.

Tangannya yang kurus memeluk kedua lututnya, membenamkan wajahnya di sana.

Bulir-bulir air mata mengalir, membasahi kedua pipinya…

Isakan tangis pun terdengar, menggema di kamar kosong itu.

Sedapat mungkin ia mengecilkan suaranya, tapi tak dapat ia lakukan

Terlalu sedih, terlalu berat, terlalu sakit untuk ditahan-tahan

Sedari tadi bibirnya bergetar meluncurkan kata “maaf”

Maaf…Maaf… Maaf…Maaf…

Ditujukan kepada seseorang yang entah masih mengingatnya ataukah tidak

Tapi sungguh, ia benar-benar meminta maaf

Meminta maaf atas perlakuannya terhadap ‘seseorang’

Meminta maaf atas sikapnya selama ini

Meminta maaf telah membuat ‘seseorang’ itu bersedih

Meminta maaf pabila ia telah menyakiti hati ‘seseorang’

Meminta maaf karena telah mengecewakan hati ‘seseorang’ itu

Tak habisnya kata maaf itu mengalir dari mulutnya…

Sungguh, hal ini sangat mengganggu hatinya

Hingga hanya kata maaf yang dapat ia ucapkan sambil menangis.

Semakin lama, mata gadis itu makin basah oleh air mata

Diusapnya beberapa kali, tak juga menghentikan isak tangisnya

Hatinya berat dan sakit, ada sesuatu yang meresahkan hatinya

Yang pada akhirnya membuatnya terus mengeluarkan air mata, menandakan kesedihannya

Ingatannya melayang ke masa lampau, kejadian-kejadian indah itu, saat ia bimbang dilema

Dirangkaikan satu persatu, dihubungkan, hingga akhirnya tersambung dengan kejadian yang ia alami sekarang ini.

Kejadian yang sejak tadi, membuatnya muram.

Ia ingin menyesal tapi tak bisa.

Ia telah memutuskan suatu hal…

Dan ia harus konsisten dengan keputusannya.

Terlalu terlambat untuk memutar dan mengulangi semuanya.

Apalagi untuk menyesalinya.

Menyesal itu tiada guna lagi untuk sekarang ini.

Apa daya, semua telah terjadi.

Nasi sudah menjadi bubur, pikirnya.

Mengingat semua itu, tangisannya kembali membuncah…

Bibirnya kembali mengurai kata “maaf”

Hanya kata maaf, tangisan, dan kesendirian yang menemaninya malam itu.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Aku hanya memandangi gadis itu dari balik pintu

Aku paham dengan keadaannya.

Ia tersudut antara dua pilihan yang sulit

Menyangkut perasaan dan hati kecilnya.

Berlawanan arah…

Aku sempat melihatnya bimbang akhir-akhir ini.

Ia lebih sering menyendiri, berdialog bersama tuhannya

Memanjatkan doa, meminta jalan keluar…

Setiap hari, setiap jam, setiap menit.

Tiap kali aku melihatnya berdoa, setiap kali itu juga tangisannya meleleh…

Aku tahu kesedihan sedang membelenggunya, kesedihan yang begitu dalam.

Yang tiada dimengerti oleh siapapun, terkecuali dirinya sendiri.

Hanya dia yang mengerti, bahkan mungkin ‘seseorang’ yang secara tidak langsung membuatnya sedih pun, tak akan mengerti…

Memang, hanya dia yang mengerti

Memang, dia sendiri yang membuat dirinya sedih

Memang, dia sendiri yang membuatnya dirinya berkesusahan hati

Memang, dialah yang mencari gara-gara

Namun, aku sendiri tak bisa menyalahkan dirinya atas kesedihan yang dia buat sendiri

Aku paham, dia mempunyai alasan tersendiri dibalik keputusannya

Aku yakin, apapun keputusannya, telah ia pikir dengan matang.

Dan aku harap, jalan apapun yang ia pilih, itulah yang terbaik untuknya.

Semoga.

Cerita Pendek (Benar-benar pendek)

Oleh: Nadia Almira Sagitta

Malam itu, aku diteleponnya. Tumben.
“Halo? Eh, besok mau nggak jalan-jalan?” tawarnya.
“Jalan-jalan? Mau, mau, mau! Kok tumben?”
“Lah, kan janji saya yang waktu itu.” Katanya mengingatkan.
“Hah? Janji? Oh, yang itu? Astaga, masih kau ingatnya…”
“Ya sudah, besok ya? Jam sepuluh saya sudah ke rumahmu.”
“Iya, iya, makasih!” ucapku tertahan, perasaan bahagia ini sudah ingin saja membuncah sedari tadi. Tak dapat lagi kutahan-tahan. Aku mendapati diriku, tersenyum-senyum sendirian.
Esok paginya, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Hari itu Minggu, jadi wajar saja kalau aku bermalas-malasan di kamar. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini kan aku mau jalan-jalan. Aku sudah selesai mandi, sudah rapi. Aku menunggunya sudah seperempat jam yang lalu. Dia di mana ya? Aku mencoba menghubunginya dengan mengiriminya pesan. Dan ia membalas,
“Maaf, masih di jalan. Mungkin 20 menit lagi sampai. Maaf terlambat.”
Dan aku tetap duduk menunggunya datang, berkunjung ke rumahku. Saat ia datang, aku berjalan menyongsongnya, lalu kami berdua naik becak. Ia berbadan kurus, tak sepertiku yang lumayan bongsor. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku berceloteh. Meledeknya, mencoba melucu, banyak hal. Dia dengan setia mendengarkanku, memberi respon seadanya. Dia diam tak banyak bicara. Ah, bosan juga.
“Eh, gantian dong. Kamu lagi yang cerita.” Pintaku.
“Tidak tahu apa yang mau saya ceritakan. Saya hanya mau dengar ceritamu yang seru itu.”
Wah, pusing juga. Tapi, daripada diam? Maka, akupun membuka mulut, melanjutkan ceritaku.
“Aku, haus.”
“Tunggu di sini, saya ke sana dulu,” ia menunjuk ke salah satu tempat penjual minuman. Sesuai katanya, aku menunggunya di sini.
“Hey, maaf lama. Nih!” Aku dibelikan cola float olehnya.
Dia bertanya satu pertanyaan, “Eh, kamu lagi nda M, kan?”
Akupun heran namun menjawab, “Kenapa?
Dia berujar, “Nanti kan bisa kena kista? Jaga-jaga saja.”
Satu poin plus untuknya, perhatian…
“Mau nonton ini kah?” tanyaku.
“Iya, film apa yang bagus ya?”
“Aih, saya juga tidak tahu. Apa saja deh,” jawabku pasrah. Film ber-genre apapun itu, asalkan bisa jalan sama kamu, saya sudah bahagia, ucapku dalam hati.
Dan, dia memilih salah satu film action, yang tidak kuketahui juga apa, saya hanya menurut. Kami mulai memasuki ruangan gelap gulita, itulah bioskop. Tak lama, layar lebar di depan kami, mulai memutar film yang sedang in saat itu. Sungguh, filmnya cukup menegangkan, menurut saya. Apalagi, saya saat itu sudah tak kuat lagi menahan kantuk, mata saya hanya membuka sebentar, lalu menutup lagi. Begitu seterusnya. Hingga tak sadar, saya tertidur. Saya tertidur pulas di bahunya. Ya, bahu cowok itu, tidak ada maksud apa-apa. Tiba-tiba, kepalaku bergerak dengan sendirinya, dan bahuku bergoncang. Ah, ternyata ia membangunkanku.
“Eh, bangun, bangun. Saya kira tadi kamu pengen ke toilet.”
“Ng? Oh iya.” Aku mengucek mataku, mengacak rambutku, dan mengusap wajahku, masih tak sadar sepenuhnya. Aku tadi tidur enak sekali…
Dan, dia pun menemaniku ke toilet, padahal aku tahu, film saat itu sedang berjalan seru-serunya, mungkin pada titik klimaks. Namun, dia rela saja mengorbankan filmnya demi menemaniku ke toilet. Menemaniku yang dengan sangat tidak sopannya tertidur di tengah acara. --“
Setelah capek berkeliling, perut saya berbunyi, meminta makan.
“Lapar ya?” Dia menatapku.
Aku hanya mengangguk. Memegangi perutku yang mulai terasa perih…
“Tuh ada Texas, singgah dulu yuk.”
Akhirnya kami berdua makan sama-sama.
Dengan menu yang sama, nasi ayam. Ketika tanganku meraih botol sambal, ia menepis jemariku.
Jangan pake sambel!”
Heran, “Kenapa sih?”
Dia mengerutkan muka da berkata, “Katanya kamu lagi sakit maag… Tidak boleh makan sambel. Pedis.”
“Tapi saya tidak bisa makan kalau tidak pakai sambel….”
“Ya sudah, sini saya saja yang kasih sambalnya.”
Dia meraih botol merah itu dan menuangkan isinya ke piringku, namun itu terlalu sedikit!
“Ah, sedikit sekali,” keluhku.
“Begitu saja, tidak boleh terlalu banyak.”
“Ahhh, nggak mau! Udah, saya aja!”
Saya merebut kembali botol itu dan menuangkan lebih banyak lagi sambel sesuai yang kuinginkan. Dia hanya kesal melihatku, dan tiba-tiba saja ia mengambil ayamnya, dan menaruhnya di atas sambalku… Dia mengambil jatah sambalku.
“Ih, jahaaaaat.” Aku mengerucutkan bibir, menunduk. Tampak ia mengunyah ayamnya perlahan dan meringis, “Sssh… Pedisnya… Syukur kamu tidak makan. Pedis, pedisss sekali.”
“Mana bisa pedis? Biasa saja kali’…”
“Aduh, betulan. Pedeees, pediss sekalii.” Ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Eh, pulang yuk? Sudah hampir magrib.”
“Ih, kenapa cepat sekali? Sebentar saja pulangnya.” Aku memohon.
“Tapi, kan kamu tidak boleh pulang malam.”
“Itu kan kalau sudah jam sepuluh… Ini juga baru jam enam kurang lima belas menit.”
“Tidak boleh cewek pulang malam-malam. Nanti saya yang dimarahi sama ibumu.”
Kamu mengajakku pulang. Tahukah kamu, saat itu saya belum ingin pulang begitu cepat, saya masih mau menghabiskan waktu jalan-jalan ini lebih lama lagi. Sama kamu. Jujur, hari ini saya bahagia sekali. Waktu jalan-jalan yang hanya berkisar beberapa jam ini masih belum cukup bagiku. Kenapa kamu mengajakku pulang begitu cepat?
Kamipun berjalan mengitari mall, mencari pintu keluar. Saat itu, kami harus menyebrang jalan. Aku tidak tahu. Aku takut. Kendaraan berlalu-lalang, cepat sekali. Refleks, aku memegang bajunya.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak, saya hanya takut menyeberang.” jawabku sembari terus mencengkram bajunya.
“Ya sudah, pegang tasku!”
Aku menatapnya sebentar dan berpikir, Masya Allah, baiknya orang satu ini. Maka, aku pun memegangi tasnya, dan dia mulai berjalan dengan perlahan, menerobos kerumunan mobil juga motor. Sesampainya di seberang, kami menyetop angkutan kota. Di angkotan kota ia berucap sesuatu, “Eh, nanti kita pulang jalan kaki saja ya? Uang saya habis.” Aku hanya mengangguk pasrah, lagipula uangku juga ludes, dan aku kan tidak mungkin memberatkannya lagi, setelah seharian dia telah menyenangkan hatiku? Ya sudah, aku hanya tersenyum dan mengangguk, setuju. “Tenang, saya tahu kok jalan pintasnya.” ujarnya.
Beberapa menit kami tempuh untuk kembali ke wilayah kompleksku. Dan, kami pun mulai berjalan kaki. Berjalan di bawah naungan bintang yang masih muncul malu-malu, maklum ini baru jam tujuh malam. Berjalan berdua dengan dia, menjajarinya langkah kakinya. Dan tak terasa, perjalanan ini cukup singkat, dan tak sejauh yang kubayangkan sebelumnya.
“Gimana? Dekat kan?”
“Iya! Makasih yah. Makasih jalan-jalan dan traktirannya, ya.”
“Iya, sama-sama. Ya sudah, kamu pulang dulu. Saya juga mau pulang… Daaah.”
“Daadaaah!” balasku, melambaikan tangan, dan tersenyum lebar.
Makasih, makasih telah menepati janjimu.
Makasih, makasih jalan-jalan yang telah engkau berikan padaku.
Makasih, makasih telah menraktirku.
Makasih, makasih telah perhatian padaku.
Makasih, makasih telah bersikap baik padaku.
Makasih, makasih telah menjadi sosok teman cowok yang menjagaku.
Makasih, makasih tidak meminta apapun dariku.
Makasih, makasih telah menjadi teman terbaik yang pernah ada hidupku…