Showing posts with label wanita. Show all posts
Showing posts with label wanita. Show all posts

Saturday, June 13, 2015

Encim

Seminggu ini aku terobsesi dengan kebaya encim. Kebaya sederhana dengan bordiran di bagian leher dan tepi baju. Pakaian ini bisa kau pakai dan di luar dan di dalam rumah. Jika dikenakan saat berjalan-jalan ada kesan semiformal, sementara jika dikenakan di rumah ada kesan bunga desa yang kau dapatkan. Itu menurutku. Tak banyak orang yang berpakaian rapi di rumah. Umumnya semua lelah beraktivitas dengan kemeja, jas, dan blazer di keramaian kota. Ketika sampai di rumah, pakaian kebesaran itu ditanggalkan dan digantikan dengan celana pendek, kaus longgar, atau bahkan daster. Bagi perempuan menikah, tentu saja ia tahu pakaian seperti itu tak mampu memikat perhatian. Aku merasa tidak adil saja bila di luar harus bersaingan mode dengan wanita-wanita kota, sementara di rumah tak bisa mempertahankan keahlian bermode di depan mata suami sendiri. Jangan kau heran dari mana kudapatkan sepenggal nasihat ini, aku pernah membacanya di satu buku.

Aku ingin menjadi seperti perempuan di dalam video klip ini. Mengenakan kebaya encim dan rok putih. Seperti orang zaman dahulu. Biar saja kesan bunga desa melekat kuat pada diriku. Benar aku memuji selera berpakaian orang-orang tua. Aku memuji pakaian budaya yang mereka kenakan. Bukankah memang sejak mulanya wanita-wanita Indonesia menjunjung tinggi kesopanan? Tak pantas kita teperdaya dengan budaya pakaian Barat yang memamerkan bahu, paha, dan dada sesuka hati. Di samping itu, aku ingin menjadi kembang bunga yang sedang mekar di hadapannya. Menjadi putri yang lantas dikagumi karena kecantikannya. Aku tahu kriteria cantik 'kan kalah dengan kriteria ketaatan kepada Tuhan, tetapi aku tak bisa bohong aku juga ingin dipuji menarik.

Aku sudah menyurvei harga kebaya encim. Label harganya memaksaku untuk segera menabung. Berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Nanti segera kukabari bila encim idaman sudah berpindah tangan. Selamat malam dan selamat mengenali lagi identitas budaya negeri.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta


Youtube @RanTVIndonesia

Sunday, June 7, 2015

Pelecehan Seksual

Baru saja kubaca artikel ini: http://stuffhappens.us/a-boy-at-school-snapped-her-15430/

Isinya tentang anak perempuan yang dikerjai teman sekelasnya. Tali branya ditarik-lepaskan di kelas saat pelajaran sedang berlangsung. Ketika ia mengadukan hal tersebut kepada guru, si guru malah memintanya untuk mengabaikan perlakuan temannya. WHAT THE HELL. Guru atau guru, tuh? Jelas-jelas itu pelecehan. Zbl.

Well, aku bisa marah seperti ini karena pernah mengalami hal yang sama sewaktu SMP. Bedanya, aku tidak melaporkan hal tersebut lantaran malu. Malu sama guru, malu sama diri sendiri. Kekesalanku luar biasa memuncak saat itu, tetapi hanya bisa diam. Barangkali bukan hanya aku yang mengalami hal tersebut. Barangkali salah satu dari kalian pernah ditarik roknya, disuit-suitin, nyaris dicium, disentuh di bagian tertentu, barangkali barangkali. Hadeh.

Itu kejadian beberapa tahun silam. Sekarang kondisinya tentu beda. Dengan pergaulan yang makin bebas ini, aku yakin begitu banyak pelecehan yang diterima perempuan. Herannya, beberapa dari mereka justru menikmati dilecehkan seperti itu. Gila emang. Contohnya, saat saya menjadi pengajar di daerah Depok, saya melihat sendiri beberapa anak kelas VI SD berpacaran. Berdasarkan pengakuan kawan-kawan sekelasnya, si pacar pernah memegang dada si perempuan. Aje gile. Kelas enam, lho, ini. ESDE!

Bermula dari pelecehan seksual, bentuk apa pun itu, seorang perempuan mulai merasa insecure dengan tubuhnya. Dia bisa merasa tidak berharga. You know what, that is the worst feeling in the world! Tekanan psikologis seperti itu makin menjadi apabila dia tak punya keberanian untuk membela dirinya sendiri. Perempuan selayaknya bertindak pasif, itu mindset yang tertanam di kepala masyarakat kita. Nrimo wae, pasrah, perempuan tak bisa apa-apa. Ketika tangan laki-laki nyosor ke mana-mana, kita cuma bisa diam. Paling banter cuma melotot ke dia lalu kita melengos pergi. Ini serius, beberapa kawan juga pernah mengadukan perlakuan tidak menyenangkan yang ia alami di jalan oleh orang yang tidak ia kenali padaku. Mereka terkaget sejenak, tetapi tak kuasa membalas. Pulang-pulang nangis. Menyesali diri sendiri. Padahal apa yang mau disesali? Bukan salah kita, kan, laki-lakinya aja yang bangsat.

(Pardon, my language!)

Bukan saatnya lagi perempuan menye-menye. Perempuan harus tangguh, harus berani bersuara, harus berani melawan. Kejadian tersebut kamu alami di sekolah, kampus, kantor, atau angkutan umum? LAPOR! Minta seorang teman untuk menemani kamu menghadap ke guru BK atau siapa pun yang berwenang. Setelah itu, LAWAN! Kita perlu belajar bela diri, nih. Hm, karate, thifan, taekwondo? You name it.

Pokoknya, kalau di jalan, kita nggak boleh masang tampang loyo, lemah, dan polos. Pasang tampang galak atau acuh tak acuh aja, nggak apa-apa, kok. Pokoknya cari cara supaya kita tidak jadi sasaran empuk godaan laki-laki.

Standing applause buat ibu dalam cerita tadi karena membela anaknya mati-matian! Semoga perempuan-perempuan Indonesia juga berani bersuara demi membela haknya sebagai perempuan. Kita butuh dihargai, bukan? Masa depan suatu generasi bergantung pada wanita-wanitanya. Maka dari itu, kita perlu menjaga, menghormati, dan melestarikan wanita. (Kau kira ini hewan langka, Nad? Wuakakak, canda!) Intinya, hargailah wanita, kawan. :')
 

Salam,
Nadia Almira Sagitta