Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Thursday, August 18, 2016

Buang Jauh

"Aku nggak dapat kabarnya di mana-mana."
"Dia udah ngilang ditelan bumi."
"Ih, kok gitu?"
"Ih, buang saja dia jauh-jauh. Untuk apa coba?"
"Ya aku cuma mau memanfaatkan waktu selagi bisa..."
"Ih, jangan. Nggak usah. Aku sudah bisa menebak bagaimana akhirnya. Kamu ingat, kan, aku juga pernah dibuat begini? Ya sudahlah, aku yakin paling sebentar lagi kau lupa."
"Carilah pengalihan. Banyak hal yang dapat kau kerjakan daripada merenung lantas mengingat dia."

Monday, September 14, 2015

Sup Krim Instan

Malam ini sakit. Bawaan dari empat hari lalu, sih. Tertular flu lantas meriang berhari-hari. Tahu kan ya meriang itu gimana? Badan kedinginan, sementara suhu tubuhmu panas. Itu demam, dong? Haha ya sama saja sebenarnya. Meriang ini ngeganggu banget. Tidur jadi susah karena selalu kedinginan padahal udah selimutan. Serba salah. 

Malam ini lupa banget isi pulsa, jadi nggak bisa pesan makanan di rumah makan langganan. Kalau jalan kaki, nggak kuat karena capek dan terpapar angin malam. Jadilah, aku bongkar lemari makanan aja. Nemu sup krim Royco! Ini salah satu sup krim favoritku. Kalau aku sakit, Bunda bikinin sup krim instan satu ini. Nadia kecil suka sup ini dibandingkan bubur karena lebih kaya rasa. (Ya iyalah, penuh MSG!)

Singkat cerita, aku menuju dapur dan memanaskan air. Petunjuk pembuatannya:
1. Masukkan sup krim instan ke panci yang berisi dua gelas air
2. Didihkan sambil terus diaduk
3. Sajikan

Oke, gampang banget. Setelah menunggu beberapa saat, supku jadi juga dengan krim yang menggumpal di sana-sini. Kuabaikan saja, toh, yang menggumpal tidak begitu banyak. Tetap bisa dimakan, kan?

Eng, ing, eng, ketika aku mencoba mengunyah gumpalan sup krim itu...rasanya luar biasa asin, pemirsaaaa! Serasa menelan "bongkahan" MSG. Oh my goodness! Pas googling, ternyata gumpalan sup krim menandakan proses pengadukan yang belum rata. (Ah, maklumi anakmu yang telanjur lapar ini, Ibunda)

Seketika teringat kata seorang kawan, "Kamu, kok, hobi sekali beli makanan instan (bubur, sup krim, energen, mashed potato, dkk)? Itu semua, kan, tidak sehat." Waktu itu cuma bisa jawab, "Soalnya aku nggak bisa masak beneran. Palingan bisa yang instan-instan doang."

Namun, tak kupungkiri semenjak temanku berkata seperti itu, aku menghentikan konsumsi energen dan beralih ke oats. Aku berhenti beli bubur instan dan mashed potato. Rasa kedua produk tadi memang kentara dibuat-buat. Tersisa sup krim yang masih senantiasa kubeli sebanyak dua bungkus setiap bulannya dengan ancang-ancang kalau aku terbaring lemah seperti saat ini. Setelah aku menelan bongkahan MSG di sup krim instan tadi, aku jadi ragu. Bila rasanya seasin itu, berapa miligram MSG yang ditaburkan dalam sebungkus sup krim? Aku makan MSG, dong? -_____-

Huft, kalau seperti ini rasanya mau belajar masak aja supaya bisa hidup sehat bebas dari MSG. Soon, pretty soon.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Friday, September 4, 2015

Kuliah: minggu pertama

Minggu pertama kuliah. 

Hari Senin ada kuliah Pengajaran Bahasa dan kuliah Dialektologi. Dapat satu tugas. Dapat amanah menjadi ketua kelas yang mana akan bertanggung jawab terhadap fotokopian bacaan kuliah, yang akan dihubungi dosen, dan segala macam. Sudah biasa. Senin sore aku langsung memfotokopikan buku dialek.

Hari Selasa menuju perpustakaan demi mencari buku pengajaran bahasa dan tambahan buku dialektologi. Sorenya kembali lagi ke fotokopian.

Hari Rabu kuliah Kapseling. Didongengkan hasil-hasil riset secara menyenangkan. Dapat tugas kelompok. Rabu siang bertemu dosen untuk menemani teman berkonsultasi. Pada ujungnya, aku juga ikut berkonsultasi. Rabu sore menuju perpus untuk mencari buku bacaan untuk tugas Kapsel. Setelah itu, nongkrong di iMac dan mengunduh video-video The Ling Space.

Hari Kamis tepar di kosan karena kelelahan.

Hari Jumat semestinya menjadi hari jalan-jalanku dengan seorang kawan dan menghadiri seminar GUIM. Kawanku tak enak hati mengajakku berjalan-jalan bila aku harus berada di UI siang hari. Batal. Lalu mager di kosan sembari mencari-cari bahan untuk tugas. Batal menghadiri seminar GUIM. Memutuskan berangkat ke perpus untuk mengganti buku pinjaman karena buku yang dipinjam Rabu lalu tidak sesuai keinginan. Selepas itu, nongkrong di iMac demi mengunduh ebook sosiolinguistik dan banyak video OneWorldItaliano.

***

Maaf gaya penceritaannya monoton dan membosankan. Sengaja, biar sesuai dengan situasi. Ya, minggu pertama ini monoton sekali. Aku duduk di depan, berhadapan dengan dosen, dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku bahkan tidak sempat makan bareng kawan semingguan ini, tidak sempat bercengkrama lama dengan mereka, juga tidak sempat menanyakan kabar-kabar liburan. Padahal, ini baru minggu pertama perkuliahan. Padahal, semester ini tidak disambi skripsi. Ah, bagaimana nanti, ya?

Tegur aku bila kau berpendapat aku menjauh. Sungguh bukan maksudku. Hm, tampaknya merupakan keputusan yang salah mengambil mata kuliah linguistik tanpa mata kuliah hiburan semacam sastra dan bahasa asing. Jangan-jangan nanti aku jadi sosok yang serius! (bukannya sudah dari dulu?) Haha. ♡

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, September 2, 2015

Penjual Bubur Sumsum

Hari ini aku berjumpa dengan penjual bubur sumsum keliling di depan kosanku. Penjualnya pemuda kecil dan kurus. Tebakanku, sih, masih SMA.

"Mas, bubur sumsumnya satu, ya."
"Oh iya, Mbak."
"Berapa?"
"Lima ribu."

Ia membuka tutup wadah buburnya dan tampaklah jualannya masih berlimpah, padahal hari telah sore menjelang petang.

"Mbak maba, ya?"
"Wah, hahaha, bukan, Mas. Saya mah udah tingkat akhir."
"Oooh, asli mana, Mbak?"
"Asli mana, ya. Campur-campur, sih. Saya Jawa-Minang. Sumatra."
"Oalah. Kalau Jawanya?"
"Jogja."
"Deket sama kampung saya, Mbak. Saya Cilacap."
"Oalah. Kalau naik kereta enam jam kali, ya?"
"Kalau naik bus, sih, sehari semalam, Mbak. Tapi katanya naik kereta udah murah, ya?"
"Wah, nggak juga, Mas. Masnya sendiri masih sekolah? SMA?"
"Saya masih SMP, Mbak. Tapi nanti mau sekolah di UI juga."
"Aamiin, aamiin."
"Pakai sendok, Mbak?"
"Iya, pakai."
"Ini, Mbak."
"Makasih, ya."

Halo, adik kecil penjual bubur sumsum. Mulia sekali dirimu membantu orangtua dalam mencari penghasilan. Semoga impianmu berkuliah di UI kelak bisa tercapai. Semoga saat itu UI belum menjelma kampus mewah yang hanya terjamah oleh orang-orang kaya. Tetaplah berprestasi, Dik! :)

NB: Kalau kalian berjumpa dengan Mas ini di Kutek, tolong beli jualannya, ya. Bubur sumsumnya enak, lho! Nggak nyesel, deh. :)

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, September 1, 2015

Senior cerdas

Kemarin
Aku mendapati sosoknya tengah serius dengan buku di perpustakaan
Hari ini
Aku berjalan tepat di belakangnya
Dan dia masih saja tidak sadar
Ingin rasanya aku menyapa
Tetapi takut dia lupa

Cuma mau bilang, "Hai, kak. Selamat atas kelulusannya, ya."
Palingan dia senyum, mengucapkan terima kasih, lalu berlalu
Dia bukan tipe orang yang senang basa-basi
Kendati begitu, auranya tetap terpancar terang
Menjelma magnet yang memerangkap gadis-gadis kutub negatif sepertiku

Siapa dia? Bukan siapa-siapa. Hanya seorang senior yang kukagumi karena kecerdasannya. Cinta? Siapa yang tahu. Barangkali tidak. Atau barangkali iya pada suatu saat.

Kamu sibuk apa sekarang?

"Kamu ambil berapa SKS semester ini?"
"Sembilan."
"Oh, berarti kamu skripsi, ya?"
"Nggak, sih. Semester depan, insyaaAllah."
"Jadi kamu nyambi (kerja)?"
"Hehe, nggak juga. Benar-benar kuliah aja."
"Oalah. Kenapa nggak belanja SKS aja?"
"Udah puas belanja empat semester kemarin. Hehe. Ini mau coba nyicil skripsi. Doakan, ya."
"Iya. Semangat, ya!"

Jadi kamu sibuk apa, dong?

Aduh, pertanyaan satu ini menohok sekali. Iya, aku memang nggak kerja, nggak magang, nggak ngajar, nggak skripsi, nggak berorganisasi, dan hanya berkuliah dua hari dalam seminggu. Selain itu, aku hanya mengikuti satu komunitas, yakni Faktabahasa Depok, tiap hari Minggu. Terlihat gabut, ya, bagimu? Mungkin iya. Akan tetapi, aku juga punya target semester ini. Aku mau menyeriusi bahasa-bahasa yang sempat kupelajari, khususnya bahasa Italia. Aku mau rajin dan tekun belajar untuk tiga mata kuliah semester ini. Pokoknya mesti straight A's! Aku mau belajar bahasa isyarat. Aku mau mendalami ilmu agama dengan mengikuti kajian-kajian islam. Aku mau banyak membaca buku dan skripsi. Aku mau meningkatkan kualitas diri dalam hal mengurusi rumah (memasak, beres-beres, dkk). Doakan, ya. Aku nggak gabut, kok, insyaaAllah.

Kamu sendiri sibuk apa semester ini? :)

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, August 27, 2015

Kena modus di halte Transjog

Sore tadi di halte Transjogja SMP 5, aku menunggu bus rute 3A. Kondisi halte saat itu penuh sesak. Aku bersama rombongan mahasiswa yang entah dari mana. Kulihat beberapa kaus mereka bertuliskan fotografi dan JFMI Solo. Mereka ternyata sedang menunggu bus yang sama denganku.

P: Kita nanti turun di mana, ya? Malioboro kan haltenya ada tiga.
L: Ya nggak tahu. Mau foto di ujung Malioboro itu kita, kan?
N: Turun di halte Malioboro 1, Mbak.
P: Oh iya, makasih ya, Mbak.
N: Rombongan dari Solo, toh?
L: Pasti karena ngelihat kaus ini, kan? (menunjuk kaus yang dipakainya) Bukan, Mbak. Kami dari Lombok. Ikutan jambore di Solo.
N: Ooh, sudah berapa hari di Jogja?
P: Baru juga sampai tadi, Mbak.
L: Kabar buruknya, Mbak, besok kami pulang.
N: Oalah... 

Sehabis itu aku manggut-manggut saja terdiam, sementara mereka melanjutkan percakapan dengan hebohnya. Beberapa percakapan mereka mengundang tawaku. Melihat aku tertawa, si L nimbrung.

L: Maklum, Mbak. Di Lombok nggak ada beginian. (Mungkin maksudnya Transjogja)
N: Yaah, tetapi di Lombok banyak pantai yang cantik.
L: Banyak sih, Mbak. Akan tetapi, di Lombok nggak ada yang secantik Mbak.

Woalah, aku digodain. Hahahah, aku nggak kuat menahan tawa. Pipiku merah, tentu saja. Bus 3A yang kami tunggu datangnya lama nian. Sudah dua kali datang, tetapi selalu penuh dan kami tak bisa masuk. Menanggapi hal itu, L berkata lagi.

L: Lama juga busnya ya, Mbak. Nggak apa-apalah, berarti kita masih punya waktu untuk cerita-cerita.

Dia lalu digodain teman-temannya, "Woooo, yang di Bandung gimana?" Aku geleng-geleng kepala aja sambil mengalihkan pandangan. Parahlah ini anak. SKSD-nya atuh daaaa.

P: Mbak, kalau mau ke Tugu bisa jalan kaki ndak, ya?
N: Bisa, kok. Nanti dari halte Malioboro 1, kalian jalan ke ujung aja sampai ketemu rel lalu belok kanan.
P: Searah sama Taman Pintar ndak, Mbak?
N: Wah, nggak. Kalau Tugu di sini, Taman Pintar di ujung sana. Kalian mau ke Tampin? Setahuku pukul segini sudah tutup.
P: Hehe, nggak kok, Mbak. Kami mau ke kilometer 0.
N: Oh, oke. Keduanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, kok.
L: Mbak, kerja di Pusat Informasi Jogja, ya? (sambil senyum)
N: Nggak, saya masih mahasiswa.
L: S-2, Mbak?
N: Masih S-1, kok. Di UI Depok.
L: Oooh, samalah, Mbak. Saya juga masih mahasiswa. Hm, tiket bus dari Bandung ke Depok berapa ya, Mbak?
N: Berapa, ya? Saya kurang tahu kalau naik bus. Kalau mobil travel, sih, Rp80.000,00-an.
L: Oooh gitu ya, Mbak.

Wkwkkw, nimbrung aja, nih, anak! Di halte itu aku nggak berhenti ketawa. Aku sebal sih dimodusin, tetapi kali ini aku santai aja. Anggaplah penghibur di kala kesal menunggu bus. Tiati di jalan, ya, mahasiswa-mahasiswi Unram! Till we meet again. :)

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, August 23, 2015

Tiga lagu

Malam hari di kediaman Eyang bulan Januari lalu. Aku memutar tiga lagu yang kumainkan berulang, yakni Untitled - Maliq D'essentials, Dekat Di Hati - Ran, dan Menjadi Lebih Indah - Adera.

Saat kutenggelam dalam sendu
Waktu pun enggan untuk berlalu
Kuberjanji untuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapa pun itu

Iya, itu dulu sebelum kau hadir. Dasar, jiwaku tak pernah kapok bila menyinggung cinta. Mulai detik itu kuizinkan kau membuka pintu hatiku walaupun kau tak pernah memintanya.

Bila cinta kita tak kan tercipta
Ku hanya sekedar ingin tuk mengerti
Adakah diriku singgah di hatimu
Dan bilakah kau tau
Kaulah yang ada di hatiku

Waktu itu aku sibuk menebak-nebak siapa yang kau suka. Lirik adakah ku sedikit di hatimu benar-benar mengusik jiwa sampai terbawa mimpi. Hari ini aku memutar lagu ini lagi dengan kondisi yang sama. Masih menebak-nebak, tetapi tidaklah sepenasaran dulu. Mungkin sudah berganti pasrah. Bila aku bukan yang ingin kau miliki juga tak mengapa. Yo masa maksa? Aku mah siapa atuh da. Jauhan, kok, ngarep. Eh, tetapi kata Ran mah jauh-jauhan tak apa karena masih memandang langit yang sama.
 
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
 
Hahaha. Yo wislah. Kalau jodoh pasti bakal mendekat suatu hari nanti. Kalau bukan jodoh, mau seerat apa pun pasti bakalan pisah. Analoginya, amplop-prangko yang erat pun akan lepas bila memang lemnya kurang kuat. Pilih lem yang bagus, lah. Cari lem yang komitmennya kuat, jangan yang asal nempel. Analogi apa ini? Hahaha, random amat.

Aku rindu!

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, August 12, 2015

Merasa tertinggal

Baru aja mendingan dikit, eh, malah cari penyakit dengan bahas skripsi. Alhasil kliyengan lagi. Entahlah, aku jadi tertekan setiap mendengar teman yang habis pulang konsul, teman yang nemu topik baru, dan lainnya. Semakin merasa tertinggal di belakang.

Skripsi itu dikerjakan, bukan hanya dipikirkan. Kerjakan apa yang kamu sukai, kata seorang kawan. Akan tetapi, bagaimana caraku mengerjakan apa yang aku sukai bila aku saja tidak tahu apa yang aku suka?

Allahu... Jadi bagaimana?

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Sakit stres

Nggodok air sendiri, bikin teh, dan bikin "kaca penghangat". Kaca penghangat itu botol kaca yang berisi air panas lalu diselimuti kain untuk kemudian ditempelkan ke perut. Ibuku selalu memberikanku kaca penghangat kalau aku sakit mag.

Pakai jaket tebal, matikan kipas angin, dan selimutan. Mutar lagu mellow, berbaring dengan kaki ditekuk, dan mata menerawang jauh.

Nelangsa, cuy.

Kamu, teh, stres sedikit nggak bisa karena langsung sakit. Stres itu penyakit mahasiswa yang kudu dihindari. Banyak penyakit yang bercabang dari stres.
--

Kangen asrama SMA 17.
Kangen Mutiara, kangen Oting, kangen Nina, kangen Emma, kangen Rian, kangen Pite, kangen Itha, kangen Suci, kangen Amel, kangen Bu Ipa, kangen Mbak Indah, kangen Mbak Siti, kangen Daeng Pajja, kangen banyaaaaak. MasyaaAllah. TvT

Semoga kalian di sana sehat sentosa, ya. I miss y'all.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Emoskrip

Emosi sedang terguncang. Sedikit-sedikit mau nangis. Gegara skripsi.

Kena migraine, nangis
Padahal kena migraine gegara nangis juga
Kena mag juga mau nangis
Apalagi ditambah kehujanan di tengah jalan
Rasanya, tuh, mau bersimpuh dibasahi air hujan dan teriak,
"Kenapa, ya Allah?" (oke dramatis, abaikan)

Entahlah. Pulang-pulang dari kampus bukannya mendapat pencerahan, malah bertambah pusing. Semangat dari teman-teman dan dosen malah membuat migraineku menjadi-jadi.
 
Ini hanya masalah tiga setengah atau empat tahun.
"Bagaimana skripsimu?"
"Entahlah, aku berpikir untuk empat tahun."
"Loh, kenapa? Yah, Nadia aja mundur...gimana aku. Jadi takut."
"Jangan. Topik kamu sudah tetap, kan? Aku yang belum."

Ah, tidak bisakah kalimat "Nad saja begini..." itu ditanggalkan? Itu malah membuat aku makin berat. Apabila kau dianggap jago oleh kawan-kawanmu, kau tentu tahu bebannya seperti apa. Masa, sih, seorang dia tidak bisa tiga setengah tahun? Oh, sungguh gengsi sekali. 

Tadi aku bersama empat kawanku berkonsultasi dengan dosen. Di antara mereka, rasanya hanya aku yang curhat. Pemaparan ideku singkat saja dan lebih didominasi, "Bu, apakah ide ini tidak terlalu mudah? Apa layak jadi skripsi? Malah sebenarnya sudah ada yang meneliti hal ini, kami hanya berbeda objek saja.", "Bu, bagaimana kalau misalnya saya ambil skripsi semester ini, tetapi di tengah-tengah saya mengganti topik dan melanjutkannya ke tahun keempat?", dan "Bu, andaikata saya memilih skripsi pada semester delapan, apakah saya bisa mencicil bimbingan dengan dosen pilihan saya sejak semester ini?"

Komentar dosenku, "Kamu ini kebanyakan galau. Topik kamu bisa dilanjutkan, kok. Ini malah sudah bisa diselesaikan. Perihal topik yang mirip itu tidak apa-apa. Pasti ada perspektif baru dari tiap penelitian. Jangan repot mencari topik yang wah jika pembahasannya tidak dalam. Itu bisa membuat nilai kamu kurang. Dosen senang hati, kok, membimbing mahasiswa walaupun si mahasiswa belum memutuskan skripsi. Jangan takut."

Iya, Bu. Terima kasih atas saran-sarannya. Sebenarnya, aku mau penelitian lapangan seperti senior-senior terdahulu. Coba perhatikan skripsi tahun 2000-an ke bawah. Luar biasa. Aku sampai heran dari mana mereka sok ngide topik yang menarik itu, padahal teorinya tidak diajarkan di perkuliahan. Aku mau punya topik yang wah juga. Aku tahu aku bisa mengerjakannya, aku hanya belum menemukan topiknya saja. Oh, sungguh, memikirkannya saja sudah membuatku pusing. Terhimpit antara idealisme, waktu, dan mimpi-mimpi selanjutnya. Aku hanya menginginkan karya tulis pertamaku bermanfaat untuk ilmu pengetahuan. Aku tidak mau asal tulis tanpa tahu landasan pemilihan topik tersebut. Apa semata berkejaran dengan waktu saja? Kan mau jadi peneroka bahasa, apa iya bisa kuwujudkan bila skripsiku biasa saja? Galau nian. Aku butuh istikharah!

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, August 11, 2015

Dinasihati Melalui Mimpi

Semalam aku bermimpi. Seorang teman yang mengenal kita berdua tiba-tiba mengomentari status Line-mu mengenaiku. Entah apa yang kau tulis itu, ia berkomentar tentang kita. Ia menyinggung aku dan kau. Kalimatnya begitu menohok. Sayangnya, di mimpiku, kau begitu pandai mengelak. Padahal, kau bisa saja diam dan mencerna dengan baik kata-katanya.

Akhir-akhir ini aku memimpikanmu, Tuan. Temanya berganti-ganti disesuaikan dengan keadaan hatiku malam sebelumnya.  Kali ini, kurasa Allah memberikan jawaban (atau peringatan) padaku, entah padamu. Apa kau juga sempat memimpikanku?

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Terlambat

N: Eh, ndak kompen* ko?
B: Kompen? Ndak, dong. Saya, kan, anak rajin.
N: Ngapamo yang rajin eh. Haruska kayak kau yang tidak telat semester ini. Susah bla bangun pagi sendirian. Tidak ada bangunkanka'...
B: Hahaha. Duh, gimana mau nikah kalau bangun masih sering kesiangan.
N: Waduh. Nohok, Mamen. Hahahaha. Iya, sih.

*suatu kompensasi atas keterlambatan atau ketidakhadiran mahasiswa. Biasanya diganti dengan bersih-bersih kampus.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Sandal Jepit

Jarang banget pakai sandal jepit, sekalinya pakai kakiku malah lecet. Memang salahku, sih, seharusnya pakai kaus kaki. Tapi karena buru-buru, langsung saja kusambar sandal jepit dan berangkat. Allah negur, tuh. Aurat (kaki) malah kamu biarin gitu aja. Kakimu lecet, kan, jadinya. :( 

Jangan diulangi lagi.

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, August 6, 2015

Surat untuk Diri

Nadia yang baik,

Aku menulis surat ini kepadamu sebagai ungkapan rasa sayangku padamu. September nanti kamu akan memasuki semester ketujuh, kan? Kucuridengar dari percakapan kawan-kawanmu, katanya ini bakal menjadi semester akhirmu di kampus. Semangat, ya, Nadia!
 
Berhubungan dengan itu, aku memiliki saran-saran yang akan menunjang kesuksesanmu di semester depan. Simak baik-baik, ya.
 
Pertama, jangan terlambat ke kampus lagi. Sudah cukup track record-mu di hadapan kawan dan dosen-dosenmu. Mulai dari terlambat lima menit hingga telat satu jam pernah kau lakukan. Malu, kan? Hehe. Makanya, tak ada lagi ceritanya baru terbangun pukul 07.45 lalu terbirit-birit ke kampus. Lagian, terburu-buru seperti itu tak menyempatkanmu berpakaian yang rapi dan berdandan yang cantik, bukan? Ayolah, kamu tak nampak seperti orang yang siap menerima ilmu dari dosen. Nah, kini beri mereka impresi yang baik! :)
 
Kedua, jangan menjadi prokrastinator lagi. Aku tahu ide cemerlangmu seringkali (terpaksa) muncul di menit-menit terakhir. Akan tetapi, kebiasaan seperti itu tidak baik. Tidak baik bagi pekerjaanmu, psikismu, dan mentalmu. Ubahlah kebiasaan itu apabila kamu ingin meneruskan pendidikan ke jenjang doktor. Nah, aku tahu caranya mengurangi kebiasaan menundamu itu. Catat dengan baik tugas-tugas yang diberikan dosen dan selepas kampus langsung kamu cicil. Segera cari bahan bacaannya. Semester depan hanya ada tiga mata kuliah, kan? Ah, tentu tak ada alasan menjadi prokrastinator lagi karena waktumu bertambah luang. :)

Ketiga, jadilah yang terbaik di kelas. Nomor wahid. Aku yakin, dengan terkikisnya sifat prokrastinatormu itu, kamu dapat menjadi yang terbaik. Harumkan namamu melalui lingkungan terkecil, yaitu di kelasmu sendiri. :)

Keempat, rajinlah berkunjung ke perpustakaan. Ini berkenaan dengan rencana skripsimu. Jika perlu, maraton perpus aja: ke perpus setiap hari. Terisolasi sementara tiada mengapa demi skripsi yang gemilang dan menggembirakan. :)

Kelima, jangan sering begadang tanpa maksud. Begadang bermain ponsel it's a big no-no! Begadang boleh jika ada tugas. Kasihan ginjal dan hatimu kalau kamu terlalu sering begadang. Begadang bikin kamu jerawatan, punya kantung mata, dan ngantuk di pagi hari. Lihat, efek negatif semua, tuh. Singkatnya, begadang bikin kamu jelek. Nggak mau terlihat jelek, kan? :)

Keenam, jaga kesehatan lambungmu. Sudah cukup sakit-sakit di masa lampau karena kesalahanmu sendiri. Kamu selalu mengabaikan waktu makan! Apa aku perlu mengingatkanmu setiap saat? Rajinlah makan buah, minum madu, dan minum jus tanpa gula. Semoga jatah bolosmu karena sakit jauh berkurang, ya. :)

Ketujuh, pedulilah dengan skoliosismu. Derajat 46 dan 30 sudah cukup parah menurutku. Jangan bawa barang-barang tak perlu di tasmu agar pundakmu tidak perlu menahan beban yang berat. Jangan bungkuk saat jalan atau duduk. Menulislah dengan postur tubuh yang tegap, bukan miring ke kiri-kanan. Satu lagi, lakukan back-up 40 kali sehari secara rutin. Itu saran dokter yang kerap kamu abaikan karena mengeluh sakit punggung. Ayolah, sakit sedikit tidak apa-apa, bukan? Toh, kamu tidak mengenakan brace 23 jam seperti beberapa penyandang skoliosis lainnya. Jangan mudah mengeluh. Skolioser itu kuat! :)

Kedelapan, rapikan kamarmu setiap hari seolah-olah ada ratu Inggris yang akan datang berkunjung. Haha, oke ini hiperbola, tetapi aku serius mengenai kerapian kamar. Kamar yang berantakan hanya akan memberi energi negatif untukmu. Kamu jadi malas dan mengantuk. Duh, itu pengaruh buruk bagi kelangsungan skripsimu kelak. Jadi, rapikan rak bukumu, meja belajarmu, tempat tidurmu, dan lemari bajumu. :)
 
Kurasa cukup delapan saran dariku, Nad. Semoga kamu dapat menerapkan setiap saran yang kuberikan. Aku ingin melihat dirimu yang baru di semester depan. Jangan stres menghadapi semester akhir. Jangan kalap menghadapi skripsi. Everything is gonna be fine. Aku menyayangimu, diriku, maka dari itulah kutulis surat ini.
 
Salam,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, August 5, 2015

Mimpi: Jalan Bareng

Bagaimana rasanya berjalan-jalan ke mimpiku? :)

K: Kamu ada acara Jumat nanti?
A: Tidak, ada apa?
K: Aku mau ngajak jalan.
A: Ke mana?
K: Ke mana aja. Gimana?
A: Ng, oke. Kabarin aja.
K: Sip. Pukul sepuluh aku samperin kamu, ya. 

Mimpinya singkat sesingkat percakapan ini. Hanya seputar ajakan jalan, tetapi itu sudah sesuatu sekali. Hahahaha. Hm, di mimpiku, kita seolah tak mengenal batas-batas pergaulan, ya? Ah ya sudahlah, hanya bunga tidur ini.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Hapalan atau nyanyian?

Kau sibuk mengunduh lagu-lagu baru dan menuliskan liriknya di sini. Bagaimana dengan hapalan Alquranmu? Adakah ia bertambah atau malah lepas satu per satu dari ingatanmu? Dengarlah, jika cinta membuatmu terlena dengan lagu-lagu romantis dan melalaikanmu dari mengingat-Nya, masihkah ia disebut cinta? Bagaimana perihal cinta karena Allah? Tidakkah engkau menginginkannya? Oh, tobatlah wahai diri. >.< Malu sama umur kalau juz 'amma saja tidak kau hapal.

Semangat! Belum ada kata terlambat untuk memulai semuanya dari awal.

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, August 4, 2015

Welkom, skripsi!

Tadinya nangis gegara lagu Teardrops on My Guitar. Itu lagu andalan tahun 2010 pas patah hati. Ahahahaha. Udah rencana mau gegalauan ngingat masa lalu, eh, kemudian dapat kabar kalau pengumpulan proposal skripsi itu tanggal 7 September. TUJUH SEPTEMBER, MEN. Haks, haks, haks. Air matanya ilang gitu aja, ini lebih penting! Skripsi, Nanadkuuuh. ^^♡

Menghadap Jendela

Li, kira-kira satu setengah tahun lalu, aku sama kamu makan malam di Ortega. Masih ingat nggak aku memilih tempat duduk yang menghadap jendela? Kalau alasannya kamu ingat juga, nggak? Hehe, waktu itu aku ingin mencermati motor yang berlalu-lalang di depan warung. Siapa tahu satu di antara banyak itu ada motornya. Kamu tertawa dan meledekku, lalu kamu ajak aku bercerita.

Malam ini aku duduk di warung makan yang pembelinya hanya aku seorang. Lagi, aku memilih tempat duduk yang menghadap ke jalan. Kupandangi motor-motor yang berseliweran di depan mata, kali ini tanpa harapan. Memang tak ada yang dapat diharapkan. 

Sudah satu setengah tahun silam, ya. Kamu apa kabar?

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Friday, July 31, 2015

Kembalilah, Cinta

Rasulullah SAW bersabda,

"Ketahuilah sesungguhnya dalam jasad itu ada seonggok daging. Jika dia baik maka baiklah seluruhnya dan jika dia rusak maka rusaklah seluruhnya. Seonggok daging itu ialah hati". (HR Bukhari)

Aku mulai menemukan kebenaran hadis ini. Well, hadis-hadis sahih tentu benar adanya, maksudku aku telah menemukan refleksinya pada diriku sendiri.

Jangan coba-coba bermain dengan hati. Sekali ia patah, berantakan pula hidupmu. Jangan menyakiti hati karena kau akan menghabiskan stok air mata diiringi rasa sesak di dada. Awalilah dengan baik, sikapi semuanya dengan sederhana. Jangan menambahkan harapan dan angan-angan yang jelas tak kau ketahui ujungnya. Bila kau temukan semuanya tak sesuai keinginan, hatimu 'kan tersayat. Bila belum kau temukan cahaya cinta dari kisahmu, kau 'kan dapati dirimu menangis atas ketidakpastian yang kau ciptakan sendiri. Jangan terlalu cinta. Jangan pernah terlalu mencintai seseorang.

Kau belum mematahkan anganku.
Tapi kau tentu tak tahu berapa kali air mataku mengalir hanya karena kau.

I do not love you, but I always will.

Menciptakan kebahagiaan, membuang jauh kesedihan. Hanya diri kita sendiri yang dapat mewujudkan semua itu. Kaulah yang tahu cara membahagiakan diri sendiri. Kaulah yang tahu mesti mengambil sikap apa. Bukan orang lain. Persetan dengan semua nasihat yang kau terima itu. Bila kau tak suka, jangan terima. Sayangnya, perlahan kau sadari nasihat-nasihat itu ada betulnya. Kau hanya terlalu buta oleh cinta yang semu.

Tahukah kau, Cinta, ia yang sejati tak akan membuatmu bersedih hati atas kegamangan tiada akhir. Bila aku membuatmu begitu, maafkan aku. Barangkali aku bukan yang sejati. Janganlah kau sampai rusak karenaku. Aku tidak ingin melihatmu terombang-ambing bahgia yang sifatnya sementara. 

Oh your hands can heal, your hands can bruise. I don't have a choice but I'd still choose you.

Kembalilah, Cinta. Kembalilah ke masa kau belum mengenal aku. Aku akan tetap memilihmu di masa mendatang, jadi jangan kau ragu. Pabila tiga empat tahun mendatang kau temukan aku ingkar janji, barangkali Allah ingin membuktikan pada kita bahwa takdir-Nyalah yang berkuasa. Kita hanya manusia yang tak punya daya untuk mengubah nasib sesuai harap kita. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, namun hasil akhir tetaplah keputusan dari-Nya. Jika itu terjadi, jangan bersikukuh mempertahankan rasa. Go, find your new one.

I wish you'd hold me when I turn my back. The less I give the more I get back. I do not love you, but I always will. (Poison & Wine, The Civil Wars)

Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal karena aku yakin kita akan bertemu lagi.  

Sampai jumpa, Cinta.

Lots of love,
Nadia Almira Sagitta