Mengalir
Mengalir
Kebahagiaan menderas
Mengalir
Mengalir
Air mata
Turun mengalir
Kebahagiaan lewat
Mengalir
Melewati
Diri
Kebahagiaan lupa
Singgah di sini
Mengalir
Mengalir
Kebahagiaan menderas
Mengalir
Mengalir
Air mata
Turun mengalir
Kebahagiaan lewat
Mengalir
Melewati
Diri
Kebahagiaan lupa
Singgah di sini
Pastikan ku ada di sana, di masa depanmu.
Menanti esok pagi dengan hati yang berdegup tak tentu. Jika setiap harinya kita harus menjadi sosok yang lebih baik, adakah aku menjadi alasanmu untuk berubah? Menjadi sedikit saja sebab yang mampu meluruhkan sifat-sifat burukmu.
O, ya, sudahkah kau punya bayangan mengenai kawan perjalanan? Jika belum, sudikah kau kiranya mengizinkanku menyusup masuk?
--
Karena wajahmu
Mengandung lekukan-lekukan yang ingin kutelusuri
Sepasang bola mata dengan tatapan teduh
Turun ke hidung
Lalu bibir yang bengkok simetris
Kemudian dagu
Betah rasanya
Kupandang-tatap tak jemu
Selalu menggoda, selalu
Sampai tak ingin kubiarkan lepas dari pandang
Yang inginnya kumilik-nikmati seorang
Luv,
Nadia Almira Sagitta
oleh WS Rendra
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karena cinta telah sembunyikan pisaunya
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api
--
Pertama kali kenal puisi cintanya WS Rendra ketika menonton 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Itu film cinta pertama yang sukses membuatku menangis saat SMA. Wkwk, yeay, bisa menangis juga setelah dijuluki perempuan batu karena jarang menangis walaupun itu berkaitan dengan keluarga. Iya, dulu setelah Eyang Kakung meninggal, stok air mataku mendadak habis.
WS Rendra identik dengan puisi-puisi perlawanan dan rakyat kecil. Sekali itu aku baru tahu ia juga menulis puisi cinta. Dan ini, "Kangen", merupakan puisi yang kusukai. Suasana hampa benar-benar terbangun dalam diksi tungku tanpa api.
Bagi beberapa orang, puisi terdengar lebay karena keluahan kata-katanya, tetapi tidak bagiku. Sebagai mahasiswi sastra Indonesia yang kehidupannya dipenuhi tulisan indah sastrawi bernada bunga-bunga, adalah wajar perasaan diungkapkan melalui diksi yang manis. Sayangnya, aku tidak diberi kelihaian merangkai kata. Tulisanku terlalu frontal dan tidak puitis. Kawanku saja pernah bilang tulisanku mirip tulisan jurnalis. Terlalu denotatif. Hahaha biarlah. Setiap orang punya hak untuk mengungkapkan rasa dan tidak boleh ada yang menghakimi.
Kalian bagaimana? Suka menulis juga?
Why don't you start your own blog?
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Aku ingin bercerita pada rerumputan bukit
Yang baru saja basah terkena tangisan langit
Ia tentu setia menampung air mataku yang jatuh merintik
Aku ingin melarungkan perasaanku pada air terjun
Yang riaknya deras dan sedikit menakutkan
Ia tentu bersedia mengantar perasaanku hingga mencapai tepian
Aku ingin membagi cintaku pada bunga dandelion
Yang kelopaknya hilang terbang terembus angin
Agar cintaku juga lekas sirna pupus seiring waktu
Biarkan aku mengempaskan diri di bukit kenangan
Bersama mentari yang menjadi payung kegelisahanku
Gemerisik ilalang yang meninabobokanku merdu
Dan juga angin yang menyelimutiku malu-malu
--
Tapi mereka hanya ada di alam imajiku
Nyatanya, aku...
Menggantungkan harap di plafon kamarku
Menggoreskan luka di retaknya dindingku
Merasakan hampa di redupnya lampuku
Dan mendekap tiada pada ekspresi wajahku
Ini bukan menyoal dulu-duluan bangkit dari kesedihan. Ini hanyalah ekspresi: ekspresi bahagia yang dipaksa. Jikalau menyerah pada nestapa, apatah bedanya kita dengan narapidana yang terpenjara.
Jangan semudah itu tunduk pada duka!
Kita masih bisa menari di atas luka
Hingga pada akhirnya
Hilanglah segala lara
Dan terbitlah senyum ceria
Kali ini, tanpa dipaksa
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Apa pernah kau mendengar
Chairil berkata,
"Mampus kau dikoyak-koyak sepi!"
?
Aku tak ingin seperti itu
Usahlah kau datang
Bila hanya mendiamkan daku
Pergi sajalah kau
Bila enggan menghampiriku
Aku tak butuh kehadiran yang sementara
Aku mau utuh dan sepanjang masa
Cintamu itu candu
Aku tak ingin ia berkurang
Sebab berbatas waktu
Aku ingin...cinta yang selamanya
Bila tak sanggup kau beri
Untuk apa pula mendekati diri ini?
Ada sunyi di antara jarak
Ada jarak di antara kita
Ada rindu di tengah cinta
Ada cinta di pikiran kita
Ada sekumpulan insan yang menyimpan rahasia
Ada kita di antara mereka
Rahasia itu bernama cinta
Sesuatu yang kita akui keberadaannya
Juga kita alami berdua
Tapi tak pernah ada mufakat
Antara kita
Mengenai cinta
Dan kesepakatan
Untuk hidup
Bersama
Kita begini-begini saja
Membiarkan diri untuk dicaci
Makhluk-makhluk Tuhan
Karena melakukan kesalahan
Yang dianggap sederhana
Padahal sejatinya luar biasa
Kita begini-begini saja
Membiarkan hati cabik terkoyak
Dalam ketidakjelasan rencana
Dalam kehampaan terka dan kira
Masih bisakah hal ini kusebut cinta
alih-alih rasa nyaman yang berlindung di
balik tirai dosa?
Aku pernah tinggal di buku
catatan harianmu dan kaubakar
di kaki pohon mangga di samping
kamar tidurmu. Kau kembalikan
aku jadi pohon dan aku semakin
mencintaimu.
Aku ranting yang kemarin sore
kau potong karena menyentuh
kaca jendelamu. Akan kau dengar
aku tidak berhenti mengucapkan
namamu ketika apimu menghabisi
tubuhku sekali lagi.
Kelak aku adalah rumput yang
mencium telapak kakimu ketika
kau kelelahan menjemur pakaian
anak-anakmu yang nakal.
Buat apa kuserahkan hidupku
kepada hal-hal lain, jika cinta juga
bisa membunuhku. Berkali-kali dan
berkali-kali lebih perih.
(Aan Mansyur, Kau Membakarku Berkali-kali)
Tapi aku sudah nyaris
menghabiskan diriku di sekolah
bertahun-tahun. Bertahan tidak
mencintai siapa pun, kecuali
seseorang dalam diriku yang
menunggu waktu dan punggungmu
tidak menghadap wajahku.
Menunggu wajahmu tertawa sekali
lagi, mungkin kepada masa depan
yang lain.
(Aan Mansyur, Menunggu Perayaan)
--
Janganlah. Janganlah ada masa depan yang lain itu.
Barangkali lebih baik aku tidak
bisa bicara. Aku tidak ingin
menggunakan kebodohanku
memilih kata melukai
keindahannya. Aku tidak ingin
bahasa kehilangan kuasa di
hadapan tatapan matanya.
Cintaku kepadanya melampaui
jangkauan kata. Aku cuma mampu
mengecupkannya dengan mata.
(Aan Mansyur, Barangkali)
Lebih baik kau berbaring di tempat
tidur; menertawai dirimu atau siapa
saja yang gagal mencintaimu. Atau
menyerah kepada mimpi manis
tentang seseorang dari masa lalu.
Masa lalu hanya indah bagi orang-
orang yang tidak menyentuhkan kakinya
pada masa kini.
(Aan Mansyur, Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam)
Pikiran bukan penjara. Aku
penjarakan pikiranku. Kututup
pintunya buat semua tamu dan
nama. Kecuali jiwamu, puisi tentang
jalan-jalan lengang pukul tiga pagi.
(Aan Mansyur, Seekor Kucing dan Sepasang Burung)
Kau keriangan yang tidak capai
bergolak dalam darahku. Kau
keseimbangan yang berhati-hati
dan tak menginginkanku berhenti.
Kau matahari yang memerahkan
punggungku.
Kau rumah yang membuatku lupa
pulang, kau petang dan burung-
burung yang mencari sarang. Kau
senyum yang kusembunyikan dari
kemarahan ibu.
(Aan Mansyur, Belajar Berenang)
Selalu ada puisi tentang kau. Telah
kuhapus selalu dan tentang di
kalimat sebelum ini. Kuingin tak ada
sesuatu yang butuh diseberangi di
antara kau dan puisi.
(Aan Mansyur, Memastikan Kematian)
Aku ingin menuliskan kutipan-kutipan puisi Aan di sini. Hanya sedikit, tak keseluruhan. Yang kutulis pun hanya favoritku. Barangkali dengan begini, aku bisa menggugahmu membeli buku puisi miliknya.
Aku bertahan bertahun-tahun
berlari dalam kesunyian menuju
kau. Aku mau menemukanmu, agar
mampu berjalan menggandeng
tanganmu mengelilingi pagi yang
hangat. Atau mengantarmu pulang,
menyusuri gelap, dan dengan
sepenuh ketulusan aku ingin
menjaga dirimu dari diriku.
(Aan Mansyur, Mendengar Radiohead)
Siang tadi aku mengunjungi Sun Plaza Medan. Tujuan utamaku adalah mengecek ketersediaan buku Fahd Pahdepie. Ah, rupanya buku dia belum sampai ke Medan. Enggan pulang dengan tangan kosong, kuraih kumpulan puisi Melihat Api Bekerja karya Aan Mansyur. Aku tergila-gila dengan penulis satu ini setelah kubaca buku terbarunya berjudul Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi. Puisi, kubutuhkan ia untuk mengisi jiwa sastrawiku.
Sejauh pembacaanku, ada satu puisi yang membuat aku larut. Judulnya "Menjadi Tamu". Berikut inilah cuplikannya.
Aku akan datang ke rumahmu.
memegang semua benda yang
baru kauletakkan. Aku ingin
merasakan tanganmu ketika kau
sendiri atau tidak ada.
Aku akan menuliskan daftar
benda-benda yang menutup
matamu ketika menyebutkan
nama mereka. Saat sendiri, aku
mengucapkan dan mengecupkan
nama-nama itu agar mimpiku bisa
tertidur.
Aku akan masuk ke kamarmu,
berbaring di tempat tidurmu
hingga kamarmu berubah jadi
kamar kita. Atau menunggu di
beranda sambil mendengar lagu-
lagu cinta dari radio tetangga.
Aku akan menemanimu menanam
sayur-sayuran di halaman belakang
sembari membayangkan di pipiku
tumbuh bulu-buku yang akan
menggelikan pipimu.
Aku akan mengambil dua foto
setiap hari dan merangkai mereka
jadi film. Barang-barang yang
pernah kaugenggam. Ranjangmu.
Cabang-cabang dan kembang
sayurmu, atau cambang di pipiku.
Akan kumasukkan juga tembang-
tembang yang menemaniku
menunggu di beranda.
(Aan Mansyur)
Aku menyukai puisi ini karena ia menerbitkan kupu-kupu di hatiku. Kubayangkan suatu waktu kau datang berkunjung ke rumahku, seperti bait pertama. Saat kau berusaha mengenal diriku, seperti bait kedua. Pun saat kau dan aku menjadi satu dan manunggal laiknya Habibie Ainun, seperti baik ketiga. Kubayangkan kau memelukku mesra ketika aku bergelut di dapur demi menyiapkan makan malam kita. Kubayangkan pula usahamu merekam jejak kehidupan kita melalui potret yang kau ambil dan kumpulkan diam-diam. Bagaimana menurutmu? Apakah puisi satu ini juga menggambarkan perasaanmu? Kurasa akan lebih kena hatimu karena tokoh puisi ini adalah lelaki.
Barangkali ada hal yang ingin kau ketahui tentang kesukaanku, kini kusebutkan satu: puisi. Bacakanlah satu untukku di malam-malam panjang kita. Bacakan ia ketika hidup kita terasa rumit. Bacakan ia ketika cinta menghambar dan mengarah pahit. Bacakan ia ketika kau ingin melihat pipiku merona dan mataku berbinar penuh cinta.
Adakah akan-akan mengenaiku yang sedang kausiapkan di dalam hatimu?
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Beberapa hari lalu kudapati satu lagu menyelinap masuk ke pemutar musikku. Lagu CJR. Wuahahaha, kaget! Aku nggak pernah mengunduh lagu-lagu mereka. Tebersit rasa ingin menggerakan jempol 'tuk menekan tombol hapus, tetapi akhirnya kubiarkan saja lagu itu mengalun.
...
...
...
Katakan aku anak alay atau apa, for being CJR listener, I admit that I like this song. Judulnya "Lebih Baik". (Ah, lain kali aku tak boleh menghakimi kealayan suatu grup musik hanya dari gaya!)
Tiada kata yang dapat kuucap
Saat kau pergi
Ku hanya diam menatap langkahmu
Meninggalkan kita
Perpisahan akan terus menghantui hidup ini, bukan?
Entah kau, entah aku yang mengucap salam perpisahan lebih dulu
Perpisahan selalu menyisakan tatapan nanar
Menyimpan selaksa makna yang tak kuasa
Diwujudkan dalam bahasa
Bisa jadi aku terlihat tegar dan baik-baik saja
Di hadapanmu
Tetapi kau tak pernah tahu
Tangisku membuncah sesaat setelah kau beranjak memunggungiku
Walau kita tidak lagi berlari bersama lagi
Tetapi doaku ini selalu untukmu
Sampai suatu hari nanti
Kita 'kan bersama lagi
Berbagi cerita terbaik dari hidup ini
Jarak dan waktu membuat semuanya tak lagi sama
Kesibukan merenggutmu perlahan dari duniaku
Kita tak lagi bisa seperti ini
Entah kau yang mulai menjaga jarak
Entah aku yang terlalu takut mengganggu
Kita--yang tak pernah menjelma kita--
Berangsur lenyap dari angan-angan
Kembali sibuk dengan hidup masing-masing
Masa bodoh dengan kisah dari negeri seberang
Kita menata hati, mengisi jiwa, dan menjalani cita
Sendiri-sendiri
Sampai suatu ketika
Waktu membawamu kembali ke hadapanku
Bersama senyum ceria yang kau tampakkan
Kau angsurkan secarik undangan
...pernikahan
Hilang sudah engkau dari genggaman
Hilang sudah kesempatan bertukar cerita
Pupus sudah segala pergantunganku padamu
Pupus sudah harap serta mimpi yang ingin kubangun
Bersama kamu
***
Aku tak pernah tahu bagaimana akhirnya
Apa aku menikah lebih dahulu
Apa kamu menikah terlebih dahulu
Apa kita bersama-sama mengukir janji setia
Yang benar kutahu, perpisahan tegak di hadapan
Besok, bulan depan, atau tahun depan
Kau 'kan sirna dari pandangan
Tinggallah aku sendiri bersama kenangan
Juga mimpi yang entah kapan dapat diwujudkan
Siap atau tidak,
Pertemuan selalu bersinggungan dengan perpisahan
Siap atau tidak,
Pernikahan memutus segala pertemanan
Yang sempat dekat menjadi sekat
***
(Kubiarkan bait-bait ini tergantung seperti itu. Sama seperti hatiku yang terombang-ambing tak tentu)
Dinda, di manakah kau berada
Rindu aku ingin jumpa
Meski lewat nada
Kau dengarkan segenap rasa tertumpah
Mengalun dalam gitaku
Ngelangutkan jiwa
Aku di sini, selalu di sini
Bersama buncahan rindu
Yang kebingungan mencari muara
Mereka-reka rencana
Apa 'kan kita buat
Bila ada perjumpaan
Pabila kita bersua nanti
Apakah yang hendak kau tanyakan
Tentang hidupku?
Dan
Sudikah engkau berbagi kisah lalu-lalu
Pada diriku?
---
Aku hanya ingin dirindukan, itu saja
Kanda, adakah engkau menyebut namaku
Sama seperti kulisankan namamu
Di hati dan doaku?
Oh bintang,
Sudahkah kau sampaikan rindu
Melalui pendaran cahaya di antara pekatnya malam?
Oh langit,
Sudahkah kau bisikkan cinta
Melalui lembayung senjakala
Pada dia, si pemuja jingga
Duhai,
Andaikata lima atau delapan tahun lagi
Kita berjumpa di sudut kota
Bersama rasa yang tetap terjaga
Kutakkan ragu
Meninggalkan segala perantara
Lantas kusuarakan sendiri
Kegelisahan hati
Yang selama ini mengusik nurani
Kepadamu, Kanda
Ya, hanya kepadamu
