Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Sunday, July 3, 2016

Perempuan Yang Berkunjung Ke Rumah Kekasih

Kakiku menapak di tanah tempat kamu dibesarkan. Udara segar pepohonan kuhidu dengan khidmat, bunga-bunga, aspal jalan, juga rumah-rumah kuamati dengan cermat. Ingin rasanya kutinggalkan jejak di mana-mana. Agar kau tahu, aku pernah menjejakkan kaki di kampung kelahiranmu. Aku pernah begitu ingin menjadi bagian dari dirimu, mengenali masa lalumu, dan menemani masa depanmu.

Anak-anak kecil melintas, berteriak-teriak berkejaran, membuyarkan lamunanku. Kureka-reka sendiri wajah dan postur tubuhmu semasa kanak-kanak. Pasti kau pernah sebahagia mereka, ya, pasti.

Tapi hari ini pun kau juga. Jauh dari lokasiku saat ini, kau senyum sumringah karena berhasil membawa pujaan hati ke gerbang perkawinan. Perempuan itu, bukan aku yang tengah melepaskan kenangan kita satu per satu di kampung halamanmu. 


Luv,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, February 7, 2016

Kangen: Rendra

oleh WS Rendra

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karena cinta telah sembunyikan pisaunya

Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api

--

Pertama kali kenal puisi cintanya WS Rendra ketika menonton 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Itu film cinta pertama yang sukses membuatku menangis saat SMA. Wkwk, yeay, bisa menangis juga setelah dijuluki perempuan batu karena jarang menangis walaupun itu berkaitan dengan keluarga. Iya, dulu setelah Eyang Kakung meninggal, stok air mataku mendadak habis.

WS Rendra identik dengan puisi-puisi perlawanan dan rakyat kecil. Sekali itu aku baru tahu ia juga menulis puisi cinta. Dan ini, "Kangen", merupakan puisi yang kusukai. Suasana hampa benar-benar terbangun dalam diksi tungku tanpa api.

Bagi beberapa orang, puisi terdengar lebay karena keluahan kata-katanya, tetapi tidak bagiku. Sebagai mahasiswi sastra Indonesia yang kehidupannya dipenuhi tulisan indah sastrawi bernada bunga-bunga, adalah wajar perasaan diungkapkan melalui diksi yang manis. Sayangnya, aku tidak diberi kelihaian merangkai kata. Tulisanku terlalu frontal dan tidak puitis. Kawanku saja pernah bilang tulisanku mirip tulisan jurnalis. Terlalu denotatif. Hahaha biarlah. Setiap orang punya hak untuk mengungkapkan rasa dan tidak boleh ada yang menghakimi.

Kalian bagaimana? Suka menulis juga?
Why don't you start your own blog?

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Friday, December 18, 2015

Sebelum Bilang Cinta

Salam, Tuan. Detik ini pukul 00.48 hujan membasahi bumi Depok. Aku terjaga karena telepon dari negara seberang, “Nak, maaf ganggu, ini kebetulan lagi di toko dan ada diskon…” Yeah, right. Ibuku menelepon di pagi buta. Mataku belum ingin terpejam lagi kemudian kudengar tetesan air berlomba membasahi pekarangan kosan. Suara-suara air pecah begitu menyentuh permukaan batu.
Tuan, aku ingin mengaku kalau aku jatuh cinta. Pada suaramu. Pada kelihaianmu bercengkrama denganku. Pada kebaikan-kebaikanmu. Pada sosokmu yang apa adanya. Tak ada yang ingin kuubah, jujur saja.

Entah apa yang menyesuaikan jarak kita. Yang kutahu, kau ada ketika hatiku bermuram durja. Yang kutahu, kau menjadi alasanku untuk tertawa setelah sekian jam murung mengalirkan air mata. Kau tak datang terlambat ataupun terlalu cepat. Setidaknya, untuk saat ini.

Sebelum aku mengaku cinta, bagaimana bila kau pergi saja? Tak usah jadi kawanku. Aku ingin mengobservasi hatiku sendiri, apa jadinya kalau kau tiada. Aku tak ingin mendekat dan didekap sekarang. Aku takut salah tafsir lagi. Aku takut kau salah-salahkan. Aku takut perbincangan kita takkan seasyik hari kemarin.

Kau pernah bilang suatu saat nanti mungkin kita berjumpa lagi. Di negara impianku. Kita akan saling mencari dan bertukar pikiran seperti hari ini. Namun, aku takut membuka peluang-peluang harapan. Kemungkinan itu memang kuamini dalam hati, tetapi aku tak ingin berharap banyak pada ucapan sepintas lalumu. Bisa jadi esok lusa kau lupa, kapasitas otak laki-laki takkan mampu mengingat hal-hal kecil tak berarti.

Aku takut menjatuhkan hati apabila kau sendiri tak siap menangkapku. Jatuh itu sakit, kau tahu, kan?
Kau tak menjanjikan apa-apa. Aku tak memastikan apa-apa. Hati perlu kuatur sedemikian rupa agar sedikit kaku ketika menyinggung-nyinggung kau. Doa perlu kupanjatkan acapkali kuteringat akan engkau. Semoga kau sadar sendiri, pergi, jaga jarak, atau apalah itu. Jangan cari-cari aku dalam sibukmu, jangan ingat-ingat aku dalam sendirimu. Aku bukan calon pacarmu dan takkan pernah mau menjadi salah satu.

Allahu, jaga hatiku. Jaga hatinya. Jaga hati kami agar tetap tegak menjalankan syariat-Mu. Jangan didekatkan sekarang…jauhkanlah sejauh-jauhnya.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, November 14, 2015

Bidang Linguistik

Language documentation is a part of linguistics fieldwork. There are so much things to do. Sebagai calon sarjana humaniora yang berkonsentrasi pada bidang linguistik, sudah semestinya kita terjun ke berbagai bidang. Kamu bisa masuk ke bidang komputasional linguistik dan mengembangkan program bahasa semacam Google Translate, bidang perencanaan bahasa untuk menentukan masa depan suatu bahasa, bidang neurolinguistik untuk membantu para dokter saraf dan pasiennya, bidang leksikografi untuk menyusun suatu kamus dengan baik (bikin kamus sekeren Oxford atau Collins Dictionary, tuuuh!), bidang forensik linguistik untuk membantu memecahkan kasus hukum dengan bukti-bukti kebahasaan, bidang geolinguistik--atau disebut juga dialektologi--untuk memetakan bahasa-bahasa di Indonesia (kita punya 706 bahasa!), bidang psikolinguistik untuk mengetahui fungsi otak manusia dalam pemerolehan bahasa kedua dan seterusnya. Linguistics is so much more than you can imagine. Masih banyak bidang linguistik yang belum aku ceritakan, seperti historical linguistics, ecolinguistics, biolinguistics, sociolinguistics, stylistics, theoretical linguistics, clinical linguistics, translation, evolutionary linguistics, dan linguistic anthropology. Kau lihat, ilmu linguistik ini bersinggungan dengan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, kedokteran, komputer, dan lain-lain. Ayo menyebar ke berbagai bidang agar semua bidang terlingkupi oleh ahlinya masing-masing. :)

Aku sendiri ingin terjun pada bidang pendokumentasian bahasa. Bahasa terus berubah seiring waktu. Ia dapat punah atau bertahan. Agar suatu bahasa tetap terdeteksi zaman, ia perlu didokumentasikan. Pekerjaan seorang pendokumentasi tentu tidak sederhana. Ia harus turun ke lapangan, berkomunikasi dengan warga setempat, dan membuat dokumentasi dalam bentuk teks, audio, dan video. Setelah itu, ia harus menyusun buku tata bahasa dan kamus dari bahasa tersebut kemudian memastikan hasil penelitiannya dapat diakses orang banyak. Selain itu, sebisa mungkin sang peneliti membantu masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali bahasa daerah mereka dengan melakukan revitalisasi bahasa. Rempong sekali tampaknya, ya? Akan tetapi, tentu harus ada satu di antara banyaknya linguis yang menempatkan bidang ini sebagai karier hidupnya. Aku ingin menjadi satu di antara yang sedikit itu. ^^

Janganlah kamu berkecil hati tatkala orang-orang mempertanyakan jurusanmu saat ini, lulusan sastra mau jadi apa? Wah, mereka belum kenal linguistik dan sastra rupanya! Jadi apa, katanya? Banyak, Bung! Tak bisa aku jelaskan satu per satu. Apalagi postingan ini masih khusus membahas linguistik, belum membahas sastra yang terpecah lagi menjadi sastra modern dan sastra klasik. Pokoknya menjadi ahli sastra dan ahli bahasa, deh. ♡

Ada banyak bidang linguistik yang bisa kamu tekuni. Pilih satu yang kamu suka dan lakukanlah yang terbaik pada bidang itu. Semoga calon-calon sarjana humaniora konsentrasi linguistik ini berkenan menjadi linguis-linguis andal Indonesia.

Ayolah, Indonesia butuh penerus Harimurti Kridalaksana dan Anton Moeliono! Siapa tahu itu kamu. ♡

Aamiin ya Rabb. Mudahkanlah jalan kami meraih gelar sarjana agar dapat memasuki jenjang berikutnya, entah itu dunia kerja atau dunia perkuliahan selanjutnya.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Friday, October 23, 2015

Esai

Hari ini ditanya kawan perihal cara menulis esai. Woalah, sudah kesekian kali aku ditanya seperti ini. Mauku bungkam karena aku sendiri tak bisa menulis esai, tetapi tentu tak boleh seperti itu. Aku mahasiswi sastra Indonesia, setidakcintanya* aku pada dunia sastra, aku diharapkan mempunyai pengetahuan mumpuni untuk itu. Aku calon sarjana: linguistik, sastra modern, dan sastra klasik Indonesia. ♡ Mesti bisa semuanyaaaaaaa.

Akhirnya, kuberikan ilmu yang kupunya tentang penulisan esai. Aku ikut membaca tulisan dia dan mengoreksi kesalahan penulisan serta cacat logika dalam tulisannya.

Terlepas dari sempurna atau tidaknya koreksianku, aku senang. Aku senang dihubungi teman-teman semasa sekolah. Aku senang menjadi rujukan mereka tentang hal-hal berbau sastra dan bahasa. Semoga terus begini. Semoga dengan ini mereka sadar, jurusan sastra itu banyak pula kontribusinya pada negara. ♡

Salam,
Nadia Almira Sagitta

(*) aku suka sastra, tetapi sebagai penikmat, bukan pemecah rahasianya.

Sunday, October 18, 2015

Aku Ingin

Aku ingin bercerita pada rerumputan bukit
Yang baru saja basah terkena tangisan langit
Ia tentu setia menampung air mataku yang jatuh merintik
Aku ingin melarungkan perasaanku pada air terjun
Yang riaknya deras dan sedikit menakutkan
Ia tentu bersedia mengantar perasaanku hingga mencapai tepian
Aku ingin membagi cintaku pada bunga dandelion
Yang kelopaknya hilang terbang terembus angin
Agar cintaku juga lekas sirna pupus seiring waktu
 
Biarkan aku mengempaskan diri di bukit kenangan
Bersama mentari yang menjadi payung kegelisahanku
Gemerisik ilalang yang meninabobokanku merdu
Dan juga angin yang menyelimutiku malu-malu
--

Tapi mereka hanya ada di alam imajiku
Nyatanya, aku...
Menggantungkan harap di plafon kamarku
Menggoreskan luka di retaknya dindingku
Merasakan hampa di redupnya lampuku
Dan mendekap tiada pada ekspresi wajahku

Friday, October 16, 2015

Bahagia yang Dipaksa

Ini bukan menyoal dulu-duluan bangkit dari kesedihan. Ini hanyalah ekspresi: ekspresi bahagia yang dipaksa. Jikalau menyerah pada nestapa, apatah bedanya kita dengan narapidana yang terpenjara.
 
Jangan semudah itu tunduk pada duka!
Kita masih bisa menari di atas luka
Hingga pada akhirnya
Hilanglah segala lara
Dan terbitlah senyum ceria
Kali ini, tanpa dipaksa

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, July 9, 2015

Jika Tiba Waktu

Jika kelak tiba waktu kita untuk jujur, akan kulimpahkan segala perasaan dan curhatan yang selama ini kutulis di laptopku dan kusimpan baik di benakku. Akan kuungkapkan padamu bahwa sosok yang selama ini kusebut-sebut dalam tiap ceritaku tak lain hanyalah kamu. Kukisahkan awal mula jumpa kita, perkenalan kita, hingga sampai tiba masa kita berbagi cinta.

Jika tiba waktu kita bersanding berdua, akan kumohon kerelaan hatimu untuk memaafkan diriku yang telah lancang mengisi singgasanamu dengan cinta yang semu. Ketahuilah saat itu aku masih polos dan lugu. Ketika itu, aku begitu ingin menikmati asam-manis cinta yang dirasakan oleh teman-teman sebaya. Tetapi tenanglah, masa itu jauh sebelum aku mengenal kamu.

Aku punya banyak permohonan dan keinginan yang ingin kujelaskan kepadamu. Nanti akan kuutarakan segalanya saat tak ada lagi tabir rahasia antara kita. Untuk sekarang, mari kita jujur pada Sang Pencipta. Jujurlah kepada-Nya perihal rasa yang terpendam, perihal rindu yang diredam, perihal angan yang terbit di malam kelam. Semoga doa kita berdua dipertemukan Tuhan. Doamu bertepuk dengan doaku, begitu juga sebaliknya. Aamiin.

*terinspirasi dari tulisan kak Azhar Nurun Ala.

Luv,
Nadia Almira Sagitta


Tuesday, July 7, 2015

Aku tahu kau rindu

Aku tahu kau merindukanku walaupun kau tidak pernah bilang secara langsung. Aku tahu dari tatapan dan ucapanmu kepadaku. Seolah-olah mengandung isyarat, biar kau saja yang mendampingi kawanku! Mengapa bukan kau?  Ya. Mengapa bukan aku? Tanyakan sajalah pada kawanmu itu. Aku tak tahu-menahu.

Aku tak mengenalnya dan aku ragu dia dapat membahagiakan kawanku, katamu. Omong kosong. Jangan kau terlalu khawatir, kawanmu jelas mencintainya. Tidakkah kau lihat rekah senyumnya acapkali ia berdekatan dengan gadis pujaannya? Bahkan orang buta saja bisa merasa ada kuncup-kuncup bunga cinta yang mekar. 

Sudahlah. Percaya saja ia telah memilih yang terbaik. Bukankah sebagai kawan, kau seharusnya mendukung pilihannya? Sementara itu, jangan kau khawatirkan aku. Nanti juga aku akan bertemu rupa kekasihku yang tentunya...jauh lebih baik dari kawanmu dahulu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, June 20, 2015

Dengan Doa

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu
(Damono, 1989)

Hei, sedang apa kau di sana? Apakah engkau baik-baik saja? Hatiku menjeritkan rindu, meronta ingin bertemu. Akan tetapi, untuk kini, cukuplah doa sebagai pengganti hadirku di sisimu. Dengan doa, kukirimkan bait-bait rindu dan larik-larik cinta. Doa bisa menjagamu ketika aku tak bisa. Doa bisa memelukmu walaupun aku tak kuasa. Doa bisa menghubungkan kau dan aku tatkala kita tersela jarak. Dengan doa, aku bisa memberikan apa saja yang ingin kuberi. Untukmu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta


dok. pribadi

Friday, June 19, 2015

Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Dilan, hari ini aku senang karena bisa mengenal kamu. Perkenalan kita hanya berlangsung tiga jam, Lan, tetapi sangat berkesan. Aku boleh bilang cinta, jangan? Hehehe, sayangnya kamu sudah punya Milea.

Milea mujur sekali bisa dekat dengan kamu. Kamu romantis dan lucu, Lan. Gadis-gadis jadi terpikat, tidak terkecuali aku. Omong-omong, kalian berdua lucu, ya. Aku tidak berhenti tertawa menyimak percakapan kalian. Kali lain, aku tersipu oleh rayuanmu, yang aku tahu ditujukan ke Milea bukan ke aku. Oh ya, Lan, dari sekian banyak percakapan kamu, aku paling suka yang ini.

"Apa?" tanyaku.
"Lupa," jawab Dilan. "Tolong bilang ke ibumu."
"Bilang apa?"
"Aku mencintai anak sulungnya."
"Ha ha ha ha. Tolong bilangin juga ke Bunda."
"Apa?
"Terima kasih sudah melahirkan orang yang aku cintai."
"Siapa?" Dilan nanya.
"Ada aja."
"Siapa?"
"Kamu! Ih!" kataku.
"Ha ha ha ha."

Lan, kasih tahu Milea kalau dia jadi buat aku ingin mengutarakan hal yang sama. Tetapi ke Tuhan. Terima kasih Tuhan atas ciptaan-Mu yang luar biasa indah. Aku suka. Mengaguminya membuatku otomatis mengagumi-Mu.

"Nanti kalau kamu mau tidur," katanya. "Percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu gak akan denger."
"Nah, sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu."
"Kenapa?" kutanya.
"Berat," jawab Dilan. "Kau gak akan kuat. Biar aku saja."
"Ha ha ha. Biarin."

Lan, aku boleh titip pesan, nggak? Tolong kamu bilang ke dia kalau aku diam-diam rindu sebelum tidur. Hehe, kamu yang bilang, ya. Soalnya aku malu. (/.\)
Sudah dulu, ya, Lan. Bulan depan, aku akan melanjutkan kisahmu dengan Milea di buku kedua. Sampai jumpa lagi, Dilan. Assalamualaikum.

Luv,
Nadia Almira Sagitta


sumber gambar

Friday, June 12, 2015

Jiwananti dan Aku (Akhir)

Akhirnya novel ini tamat juga. Ini novel tipis paling lama yang kutamatkan. Kubaca sejak semalam hingga waktu menunjukkan pukul satu siang esok hari. Novel ini pun memiliki pengantar lagunya sendiri, satu lagu yang kuputar sejak kemarin hingga kini. Tak kubiarkan lagu lain mengganti posisinya. Sama seperti tak kubiarkan orang lain menggantikan hadirmu di hatiku.

Tahukah kau mengapa?
Deretan-deretan kata Aan Mansyur telah membuatku berkontemplasi atas perasaanku sendiri. Kepada masa lalu yang hendaknya menjadi masa depan. Kepada cinta yang kubiarkan bernaung pada jiwaku. Kepada ia yang barangkali tetap menjadi nanti bagi hidupku. Nanti yang entah kapan singgah lagi.

Perjalanan cinta Jiwa yang tak menemui kebahagiaan membuatku bergidik ngeri. Apa jadinya bila aku memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup karena kehilangan ia yang benar kucinta? Atau. Apa jadinya bila aku memutuskan menikah agar terhindar dari pandangan-pandangan sedih kawanku, tanpa melibatkan rasa yang seharusnya tumpah untuk calon suamiku?

Cinta itu luka, kata Eka Kurniawan
Begitu pula kata Rendra, cinta itu racun bagi darahmu
Sementara Aan berkata cinta itu setia

Aku terlalu khawatir akan masa depan, komentar sahabatku. Untuk apa mengkhawatirkan hal-hal yang belum lagi terjadi, lanjutnya. Kurasa ini nasihat emas yang harus kugenggam baik-baik.
***

Entah mengapa aku mendadak puitis beberapa hari ini. Puisi itu candu, begitu pula romansa yang 'kan menjadi masa lalu. Diam-diam aku bersyukur meninggalkan mimpi menjadi sastrawati. Andaikata mimpi itu benar kujalani, barangkali setiap sajak yang kutulis akan kuejawantahkan pelan-pelan. Menjadi mimesis dalam tiap karyaku. Seperti Chairil yang menderita. Aku mudah sekali larut dalam permainan kata-kata juga mudah menangisi kisah cinta yang terhampar di depan mata. Siapa pun kau yang kelak menjadi pasanganku, sedari kini kuperingatkan, calon istrimu memang seringkih ini jiwanya. Untuk itu kuperlu kau tetap menggamit jemariku dan menopang bahuku agar tidak jatuh dan menyerah dengan keadaan. 

Aku sesal dan tidak sesal membaca karyamu kali pertama, An. Kau memang lihai menarikan jemari di atas papan ketik yang kemudian menghasilkan untaian kata luar biasa. Kau--para pembaca--yang tertumbuk pada tulisanku mengenai Jiwa dan Nanti dua hari ini harus menyelami sendiri kedalaman cerita yang Aan Mansyur tawarkan. Dua jempol delapan jari untuk Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi. Bravo!

Diam-diam berpuisi

Kau memilih diam dibanding berdusta. Terkadang aku kagum dengan kegigihanmu menyimpan cerita. Selalu saja menumpuk kisah di dalam hati.

Kau diam saja ketika melangkah melewatiku. Kau tak pernah punya nyali untuk sekadar menyapaku. Mulanya kubiarkan saja, tetapi akhir-akhir ini aku gemas. Mengapa bibir itu terkatup saja? Apa sulitnya mengeja namaku yang hanya terdiri dari lima huruf? Aku tahu kau punya sesuatu untukku. Aku tahu kau menyimpan cerita tentangku di sarang pikiranmu. Aku pernah mendapatimu dua kali menatapku dari kejauhan. Kau menatapku lama sekali. Seolah ingin berkirim pesan melalui sepasang mata bola.
 
Kau pendiam juga misterius. Dua hal itu menimbulkan sejuta tanya di benakku, membuatku ingin mengenalimu lebih dalam. Aku sungguh ingin membacamu. Sayang, tak pernah kau suguhkan kata-kata berbalut perasaan dalam lisan maupun tulisan. Aku lalu hilang cara. 

Maka aku diam-diam saja di bilik ini. Banyak menulis dan membaca. Selama ini aku selalu menulis tentang kamu, tetapi tidak sekalipun dapat membaca kamu. Aku tidak tahu-menahu pribadi yang bersembunyi di balik sikap diam dan hening itu. Apakah kau sosok yang dingin, puitis, atau romantis. Aku tak tahu itu.
 
Membaca Jiwa dan Nanti pagi ini, aku terhenti di halaman kesembilan puluh. Ada sosok bernama Riana dalam masa lalu Jiwa. Riana dan Jiwa sempat berpacaran. Saling berpeluk mesra melalui rangkaian aksara yang ditukar setiap pagi.

Ada satu kata Riana yang aku suka, "Kau tahu apa yang aku suka dari penyair? Sesungguhnya bukan apa yang mereka tuliskan, melainkan apa yang mereka bisikkan. Kau menuliskan sesuatu melalui surat dan cerita. Kau membisikkan banyak hal ke telingaku melalui puisi."

Aku tak berkeberatan bila kau memilih diam, tetapi diam-diam begitu cerewet mendeskripsikan sosokku pada secarik kertas. Aku ingin tahu sudah berapa lembar tulisan tentangku yang kau tuliskan. Bagaimana bentuknya, puisi, prosa, ataukah drama? Atau hanya corat-coret tak beraturan di halaman kuarto putih? Aku ingin menjadi tokoh utama dalam setiap cerita yang selalu kau simpan sendiri. Sama sepertiku yang menjadikan dirimu tokoh utama dan terutama dalam setiap tarian penaku. 

Bila kau belum mulai menulisku, lakukanlah meski hanya sekali. Tulislah walaupun hanya tiga kata, sesingkat aku cinta kamu. Aku menunggu keberanianmu mengirimkan bait-bait kalimat itu padaku. Entah kini, entah nanti.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Jiwananti dan Aku

Aku benar-benar kau tenggelamkan, An. Sampai hati kau meremas perasaanku pada sepuluh lembar pertama kisahmu. Jiwa lelaki setia. Ia mencintai Nanti walaupun ia ditinggalkan bersama serpihan kenangan. Sementara Nanti, ia memilih orang lain karena dipaksa oleh keadaan; Jiwa tak pernah memberi ketegasan berikut kepastian terhadap Nanti.

Kata Jiwa, "Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu. Masa lalu, bagiku, hanyalah masa depan yang pergi sementara." Sebagian hatiku setuju pada pemikiran Jiwa. Belum-belum aku larut pada kekalutan hati, sebait lagu ini sayup-sayup mengiringi.

Bila cintaku ini salah
Hatiku tetap untukmu
Namun kenyataannya parah
Dirimu tak pernah untukku

Aku tak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal lebih dulu. Berucap selamat tinggal berarti aku siap memulai lembar baru. Nyatanya, aku tidak sanggup meninggalkan semuanya jauh di belakang. Aku yakin ada titik terang untuk kita berdua. Cahaya itu setia di ujung sana, kita hanya perlu bergerak memutari jalan yang berkelok-kelok ini. Aku sendiri tak pernah menganggap cinta ini sia-sia walaupun kau tak kunjung membalas rasa. Hanya saja...

Aku betulan takut. Aku takut menjelma Nanti dan kau menjelma Jiwa. Aku takut perasaan ini terkorbankan hanya karena suara hati yang terlalu takut kau ungkapkan. Kau biarkan aku membangun ruang tunggu sendirian. Kau biarkan aku duduk manis menanti di ruang yang kubangun itu. Ketika akhirnya datang seseorang menawarkan diri untuk menemaniku, kau tak juga berjuang mempertahankanku.

Untuk merayakan cinta...kita butuh usaha dari dua insan
Tak bisa hanya satu
Tangan kiri saja tak bisa bertepuk bila tak bertemu dengan yang kanan
Si kiri meraba udara
Berusaha menggapai apa yang dapat digapai
Sayangnya hampa
Tak ada
Sesiapa
Aku kau biarkan jatuh
Tanpa ada usaha membantuku berdiri
Wajahku kau biarkan basah
Tanpa ada usaha mengapus air mataku

Bila cintaku ini salah,
Maukah kau memberitahu?

Liburan Hari Pertama: Belanja!

Sore ini saya berjalan-jalan keliling Margo. Agenda pertama: mengisi perut di food court. Makan sendiri kayak jomblo (lha emang iya!) Nggak apa-apa, saya tegar, kok. (#np Tegar-Rossa) Selanjutnya, keluar masuk toko. Ke toko sepatu, ke toko buku, ke toko baju, dan ke toko kosmetik. Window shopping itu menyenangkan. (/*v*)/

Waktuku kuhabiskan di toko buku. Rasanya sudah lama sekali saya tidak berputar-putar menyusuri tiap rak toko buku. Kangen. Ternyata banyak buku baru, tadi saya sempat mencatatnya ke dalam wishlist. Berikut ini daftar keinginan buku saya.

Ayah - Andrea Hirata
Lukisan Hujan - Sitta Karina
Bulan - Tere Liye 
Namaku Dahlia - Syafrizaldi
Karyamin's Smile - Ahmad Tohari
Melihat Api Bekerja - Aan Mansyur
Mama - Daoed Jusuf
A Stolen Life - Jaycee Dugard
If I Stay - Gayle Forman
Just One Day - Gayle Forman

Tentu saja tidak cuma ini, hahaha. Ini buku-buku yang terlintas dan kutemukan hari ini. Tadi saya juga menemukan buku-buku sastra klasik terbitan Collins Classics berharga Rp49.000,00! Murah. Kenapa saya katakan ini murah? Soalnya saya teringat buku Wuthering Heights karya Emily Bronte yang saya beli di Times seharga Rp80.000,00. (Gegayaan beli novel Inggris, padahal bacanya nggak tuntas karena nyerah sama bahasanya) >,<"

Setelah berputar-putar cukup lama, saya memboyong karya terbaru Aan Mansyur berjudul Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi. Kata orang, karya-karya Aan Mansyur bagus: puitis dan sederhana. Nah, sebagai anak sastra, rasanya nggak afdal kalau saya buta sama sekali tentang karyanya. Bolehlah saya kembali menjadi penikmat sastra setelah selama ini mencintai linguistik sepenuh hati. Lagipula sekarang ini, kan, liburan! Saya mau mengistirahatkan otak dari berpikir hal yang berat-berat. Hohoho. :D

Sebelum benar-benar meninggalkan Margo City, saya singgah ke The Body Shop untuk membeli sabun cuci muka. Hmm, lagi jerawatan parah, nih. Penyebabnya adalah begadang tak henti-henti, makan sembarangan, siklus bulanan yang nggak jelas, dan sepertinya kena breakout dari bedak baru. Padahal, pas pertama kali beralih ke TBS, sudah lumayan bersih nih muka. Yeh, sekarang balik lagi. Duit, duit. Ini gegara bedak! Huhuhu. T-T

So, yah, ini dia foto perburuanku di Margo hari ini.

dok. pribadi


Kau percaya masa depan masih memiliki kita? 
Akan selalu ada kita. Aku percaya.
(Aan Mansyur)


Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, July 7, 2014

Stasiun kereta

Setelah sekian lama kita tidak jumpa, kau di sana dan aku di sini, aku malah memimpikanmu dua hari lalu. Stasiun kereta. Ya, kau datang ke daerahku bersama rombonganmu. Aku, entah bagaimana, telah mengetahui kedatanganmu dan otomatis melangkahkan kakiku menuju stasiun. Ada rasa yang memaksaku untuk bertemu denganmu. Mengapa? Bukankah kita sudah lama berpisah? Mengapa sekarang ingin menguak luka lama? Itu yang kupertanyakan terus dalam batin. Hei, aku menemukanmu! Di sana, tersenyum pada kelompokmu. Senyum tidak simetris persis seperti yang kukenal beberapa tahun silam. Aku memandangimu dari seberang, lalu kau menolehkan kepala membuat mata kita beradu. Sesaat, aku terkesiap, belum siap dengan tatapanmu. Biarkan aku saja yang mengamatimu, kau tidak perlu begitu pula! Oh, tetapi sudah telanjur. Kita sudah menangkap keberadaan masing-masing. Diam dan sunyi senyap. Mulut terkatup, tak ada yang berani membuka pembicaraan. Aku mencoba meresapi suatu masa yang telah lalu. Ada kenangan di sana, manis dan pahit. Aku yakin, pikiranmu pun pasti sedang melanglang buana ke masa di mana kau dan aku menjelma kita. Tiba-tiba, keheningan itu diusik oleh kawan seperjalananmu. Kau kembali mencurahkan perhatian pada mereka, mengalihkan pandanganmu, dan kembali tertuju pada mereka. Aku diam lalu beranjak dari situ. Kuarahkan langkah menuju restoran cepat saji, ada kawan yang menungguku di sana. "Hai, Nad! Ayo duduk, kamu pesan apa?" sapanya. "Eng, entahlah. Itu...ada apa?" tanyaku menunjuk sekumpulan remaja berbaju rapi menaiki tingkat atas. Tidak biasanya. Ada apa di atas sana? "Oh, sedang ada perlombaan di atas. Kamu mau lihat? Ke atas saja, aku di sini menjaga tas." Tak perlu disuruh dua kali, aku naik ke atas dan mendapati aula utama. Restoran ini punya aula? Wah, aku baru tahu. Ruangan itu penuh sesak. Remaja-remaja itu berjejalan. Semua mengoceh dan tampak sibuk. Ah, lomba itu. Aku pernah mengikutinya dulu. Aku pernah larut dalan euforia bertanding. Aku pernah...tunggu! Bukankah kau pun pernah? Bukankah kita pernah berada dalam lomba yang sama? Apakah itu alasanmu datang kemari? Akankah kita berjumpa di tempat ini? Aku keluar dari aula dan pamitan pada temanku, "Hei, kau jadi makan atau tidak?" Kugelengkan kepala menjawab pertanyaannya sembari membuka pintu restoran. Aku kembali ke stasiun, dengan harapan engkau masih ada di sana. Ternyata tidak, kalian sudah meninggalkan tempat itu. Tetiba, aku pusing. Semua ini terlalu mendadak. Haruskah aku kembali ke restoran? Haruskah aku menemui pemuda masa lalu? Haruskah, haruskah? Ah, kuputuskan untuk pulang. Ke kosan.

Aku tak tenang. Sedari tadi, aku bergerak membolak-balikkan posisi tubuh. Baring ke kiri, ke kanan, berdiri, duduk di kasur, kemudian berbaring lagi. Aku seakan dihantui oleh sesuatu. Ya, dihantui oleh masa lalu kita. Aku mesti berjumpa denganmu, mesti! Kuraih sepatuku dan bergegas menuju restoran cepat saji itu lagi. Semoga kali ini aku belum terlambat. Semoga kalian belum pulang. Matahari telah kembali ke peraduannya, langit dihiasi oleh warna biru tua. Hari sudah mulai gelap dan malam. Aku kekeuh ingin berjumpa denganmu. Memanfaatkan kesempatan yang entah kapan akan datang dua kali. Kutemukan restoran itu sepi. Tidak ada suara semarak dari lantai atas. Jangan-jangan...perlombaannya telah usai? Kulongokkan kepala ke aula dan benar saja, hanya tersisa dua orang yang sibuk menyapu dan merapikan bangku. Aku lemas, andai saja tadi aku tidak pulang... Aku mesti ke mana sekarang? Stasiun? 

"Hahahah!" Kufokuskan pendengaran, ada keramaian beberapa meter di ujung sana. Aku yakin ada tawamu di sana. Kupercepat langkahku menuju stasiun. "...Hai." kuberanikan diriku menyapamu terlebih dahulu. "Eh, hai! Nadia." Alismu naik, kau tersenyum kikuk. Kau terkejut, aku tahu. "Eng, tadi ikut lomba?" "Iya, mewakili universitas. Alhamdulillah menang," jawabnya. "Oh ya? Selamat kalau begitu." Kutarik dua garis bibir membentuk lengkung senyuman simetris. Lalu kita terdiam dan mengarahkan pandangan ke arah yang berbeda. Kawan-kawanmu berjalan di depan. Kau sengaja melambatkan langkah untuk berjalan beriringan denganku. "Aku mau minta maaf." ucapku tanpa tedeng aling-aling. Tak kuberinya kesempatan untuk menanggapi, "Maaf untuk kejadian yang dulu. Mungkin masih meninggalkan bekas padamu. Maaf, sungguh. Aku...aku...hanya bermaksud..." "Baik," kau memotong pembicaraanku. Kemudian kau menatap nanar. Aku hanya bisa menangkapnya sejenak lalu menunduk. Dadaku sesak, terhimpit rasa bersalah. "Tidak apa-apa, Nad. Aku sudah beranjak meninggalkan masa lalu. Kaulihat?" Ya. Aku melihatnya. Aku melihat betapa kau sudah berubah lebih baik, aku lihat engkau sukses meniti hidup di kota seberang. "Ya. Aku ingin...mengembalikan ini." Kuangsurkan sesuatu dari dalam tas selempangku. "Mengapa?" Kau menatap buku itu. "Karena dalam buku ini ada pula hakmu di dalamnya," jawabku. "Ambillah, buku itu sudah terlalu lama bersamaku." Aku tak tahu apakah ini keputusan terbaikku atau malah yang terburuk. Satu yang jelas, aku tak sanggup menyimpannya lebih lama lagi. "Terima kasih," hanya itu ucapmu. "...atas buku ini dan atas semuanya, Nadia. Aku balik dulu," Kawan-kawanmu melambaikan tangan padamu, memintamu agar segera menyusul mereka di sana. Aku menganggukkan kepala dan ikut melambaikan tangan. Salam perpisahan. Kau berjalan, terus berjalan, dan tidak menengok lagi. Ah, lebih baik begini. Benarlah adanya bahwa masa lampau harus kita tinggalkan sejauh-jauhnya di belakang. Tidak ditengok lagi.

Sunday, December 15, 2013

Ini tentang diriku yang ingin lari
dari dunia yang orang katakan penuh cinta
Ketika aku pergi, jangan paksa aku kembali
Aku 'kan kembali bila hatiku menemukan
ketenangan jiwa dan hati.

Monday, December 2, 2013

Hubungan

Akhir-akhir ini, aku dipertemukan dengan segala sesuatu mengenaimu. Entah ini memang kebetulan atau memang naluriku yang berusaha menghubung-hubungkan sesuatu denganmu. Memang bukan dirimu yang kutemui, tetapi sesuatu yang identik denganmu. Fuh. Lelah sih begini terus tetapi aku belum bisa menghindar. Ini candu. Candu itu berbahaya. Aku tahu namun berpura-pura tidak tahu. Padahal ini menyakiti diriku sendiri. Semua ini tidak ada artinya; hampa dan kosong.



Aku hanya mengikuti kehendak hati, salahkah?




Seharusnya kamu yang mengendalikan cinta, bukan cinta yang mengendalikanmu.
:')

Friday, November 29, 2013

Dunia kita berbeda
Akankah kita bersatu di kemudian hari?

Thursday, November 28, 2013

Salah kaprah

Aku tidak ingin ada salah kaprah di antara kita.
Cukup aku saja yang salah memahami, dulu.
Jangan sampai aku menyebabkanmu salah berpikiran mengenaiku.