Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, September 1, 2015

Tuan X dan Nona Y

Aku memimpikan sepasang sahabat malam ini. Si lelaki bertubuh tegap, tinggi, dan kurus, sementara wanitanya semampai, langsing, dan anggun.
 
Keduanya sudah bersahabat selama lima tahun. Mereka cukup mengenal satu sama lain. Ada banyak hal yang sudah menjadi pengetahuan bersama bagi mereka berdua. Contohnya, Tuan X penganut jam karet serta pelupa. Sikapnya itu terkadang membuatnya ingkar janji dan membuat Nona Y yang perfeksionis dan tepat waktu gemas sekali. Akan tetapi, kekurangan Tuan X tertutupi oleh sikapnya yang selalu dapat membuat Nona Y tertawa. Diam-diam, Nona Y jatuh cinta. 
 
"Tidak. Kau tidak dapat menyukai sahabatmu sendiri!"
"Apa boleh buat, dia pria idaman setiap wanita. Well, di luar sikapnya yang tukang telat itu, ya. Dia pantas dikoleksi sebagai kawan sepanjang masa."

Suara hati Nona Y ricuh sekali. Ia sibuk menepis kenyataan bahwa ia jatuh hati.
 
Suatu ketika, Tuan X berjanji pada Nona Y untuk mentraktirnya makan siang sebagai perayaan atas sesuatu. Nona Y senang. Ia berdandan sejak pukul 09.00, sementara janji mereka pukul 12.00. Padahal, ini bukanlah makan siang bersama pertama antara mereka. Tuan X sering mengajak Nona Y berjalan-jalan dan makan bersama. Dan hampir selalu ia yang membayar walaupun Nona Y, yang mandiri, dapat membayar pesanannya sendiri.
 
Pukul 12.45
"Kau di mana? Aku sudah duduk di dalam restoran sejak pukul 12.00."
"Astaga, Y. Maafkan aku. Aku baru saja terbangun beberapa saat lalu. Ini aku sedang berpakaian. Tak lama, tunggu sebentar."
"Benar, ya, jangan lama. Waitress-nya sejak tadi memandangiku terus karena aku belum memesan apa-apa."
"Hahaha, hati-hati kau diterkam!"
"Ayo buruan! Lima belas menit, ya."
*click*

Pukul 13.15
Finally, he showed up! Rambutnya sedikit berantakan, napasnya terengah-engah karena tadi kulihat ia setengah berlari, sementara bahu jas dan celana panjangnya berkerut di sana-sini. Ah, pasti belum disetrikanya.
"Maaf, maaf, aku terlambat. Wah, rupanya kau sudah memesankan aku teh leci. Terima kasih. Tadi di jalan..."

Hhh, here we go again. X selalu saja begini, batin Nona Y.

"Mengapa cemberut saja, Y? Makanannya kurang enak, ya? Maaf, aku belum pernah ke sini jadi aku tak tahu..."
"Bukan. Aku kesal saja kau masih terlambat. Ini hari peringatan lima tahun persahabatan kita, X. Masakan kau lupa."

Aku bahkan berdandan tiga jam hari ini, sementara kau muncul dengan acakadul, batin Nona Y.

"Tidak, tentu aku tidak lupa. Semalam aku hanya begadang nonton pertandingan."

Jadi, bola lebih penting daripada aku? keluh Nona Y dalam hati.

"Maaf, Y. Maaf sekali. I'll make it up to you." ucap Tuan X sembari menggenggam jemari Nona Y. Kemudian, Tuan X menampakkan puppy eyes andalannya hingga Nona Y tak kuasa menolak. "Baiklah, baiklah. Another time please be punctual, okay?" "I will, Madame!" Lalu mereka tergelak bersama dan menyelesaikan makan siang yang sempat tertunda.

Empat hari kemudian.
"Hari ini kita makan malam bareng, ya. Ada restoran yang baru buka di daerah T. Rekomendasi di internet bagus jadi kupastikan kita tak akan kecewa."

Tadi adalah chat Line dari Tuan X. Nona Y menggeliat sekali lagi sebelum turun dari tempat tidur. Hari ini hari Sabtu, perkantoran libur. Sementara itu, malam nanti malam Minggu, pusat perbelanjaan dan restoran pasti penuh sesak. "Kuharap X tidak lupa membuat reservasi," bisik Nona Y.

Nona Y naik taksi ke restoran yang dituju. Malam ini ia tampil elegan dengan LBD-nya. You know, little black dress. Gaun wajib yang harus ada di lemari setiap wanita. Seturunnya ia dari taksi, Nona Y terpukau. Wow, restoran ini menakjubkan. Jalan masuk menuju restoran ini dihiasi oleh cahaya temaram lilin dan bebungaan. Sayup-sayup terdengar alunan suara penyanyi jazz dan suara saksofon dari dalam restoran. Romantis, belum pernah ia membawaku kemari, pikir Nona Y. Di tikungan jalan, muncullah Tuan X. Berdiri tegap membawa sepuluh balon merah, dua di antaranya berbentuk hati. Ia tampak serasi dengan tuksedo dan sepatu hitamnya.

Dalam pandangan Nona Y, hari itu Tuan X memiliki nilai sembilan. Ia tak menyangka Tuan X akan membalas kekurangannya di pertemuan lalu dengan cara seperti ini. Tuan X membawanya ke suatu restoran dengan ambience favorit Nona Y, berpakaian rapi sesuai bayangan Nona Y. Ia juga bersikap manis dengan membawakan balon berwarna kesukaan Nona Y. Merah hati. Kau bisa bayangkan betapa berbunga-bunganya hati Nona Y.

Saat itu Nona Y sangat berharap Tuan X berlutut di hadapan Nona Y lalu memintanya untuk menikahinya. Alih-alih mengucapkan, "Will you marry me?" Tuan X menatap Nona Y dan berujar, "Shall we?"

"Kau dapat ide dari mana, X? Tumben sekali..."
"Hahaha, kan sudah kubilang I'll make it up to you. Kesempatan kedua tak boleh disia-siakan, bukan? Besides, hari ini spesial bagi kita dan juga bagiku."
"Apa itu?"
"Nanti kuceritakan. Yuk, masuk."

Nona Y memiliki sejuta tanya atas maksud percakapan Tuan X barusan. Akan tetapi, ia memilih bungkam dan membiarkan Tuan X bercerita dengan sendirinya. Makan malam hari itu berjalan baik-baik saja. Percakapan mengalir lancar dan candaan-candaan Tuan X selalu terlontar. Tuan X tak menyadari ada rona merah samar pada pipi Nona Y acapkali ia membuat kontak mata dengan Nona Y atau menyentuh jemari Nona Y. Setelah candaan-candaan itu berakhir, Tuan X memberitahukan kabar bahagianya. Ia merunduk dan mengambil sesuatu dari tasnya. Jangan-jangan itu cincin! Oh my, aku tidak siap! jerit Nona Y dalam hati. Ah, ternyata, alih-alih sekotak cincin, Tuan X mengangsurkan sepucuk undangan. Tuan X memberikan undangan tersebut dengan wajah berseri-seri diliputi kekhawatiran karena baru memberitahu Nona Y perihal wanita idamannya. Tiba-tiba bulan depan adalah hari pernikahannya saja. Maka dari itu, Tuan X memohon maaf sebesar-besarnya pada Nona Y.

"Semoga kau tidak marah padaku, Y. Setelah aku nikah nanti, kita masih bisa asyik bersahabat seperti ini, bukan?"

Nona Y mendadak tuli. Telinganya menutup suara-suara semenjak Tuan X mengangsurkan undangan pernikahan padanya.

Kau tahu hati Nona Y hancur, bukan?

Sunday, January 25, 2015

Kembang sepanjang jalan

Aku tak tahan. Napasku memburu ketika aku melewati universitasmu malam itu. Dani, kawan seperjalananku, keheranan mendapati perubahan sikapku.
"Bian, kamu kenapa?"
"..."
And you flashback to when he said forever and always
"Dan, saya nangis nggak apa-apa, ya?"
"Iya, tetapi ada apa?"
"Saya...saya mau bertemu dia, Dan. Sekali saja. Kenapa nggak pernah bisa? Sudah lama sekali."

It rains when you're here and it rains when you're gone
Dani mengembuskan napas saat mendengar jawabanku lalu berkata,
"Yah, mau sampai kapan, Bi? Kamu nggak melihat segala kemungkinan yang terbentang di hadapanmu. Kamu..nggak melihatku karena terpaku pada masa lalu."

Terkesiap, aku menatap Dani. Sohib yang selalu setia menemaniku ke mana-mana. Kala aku sakit, butuh teman perjalanan, partner belajar, tempat cerita, apa pun itu. Dia selalu ada 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sementara dirinya?

'Cause one second it was perfect, now you're half way out the door
Aku tahu persis tahun ketika kita berjauhan. Kau membuang muka tiap kali berpapasan denganku. Kau tak lagi menegurku di jejaring sosial. Tak lagi bercanda ria bersamaku di kala senggang. Tidak ada lagi waktu yang kau luangkan demi mendengar celotehku. Tidak ada lagi kau. Empat tahun berlalu dan aku masih belum tahu alasanmu. Empat tahun berlalu, aku masih menaruh harap dan memegang janji. Empat tahun berlalu, aku menangis tersedu kala mengingat dirimu yang makin jauh dari genggamanku.

You didn't mean it, baby
Hingga, aku berkenalan dengan Dani. Kawan baru yang kutemui di kampus hijau. Gerak-geriknya mirip denganmu. Kukira, ia adalah jelmaan dirimu yang jauh dari jangkauanku. Ia menyimpan bayang-bayangmu dan aku suka itu.

Sampai tadi. Ia menegurku tajam. Mengingatkanku betapa lamanya kumuarakan hati ini pada seseorang yang tak tentu. Ya, everything is wrong. I gotta move up.
Malam ini, aku kembali memegang sebuah janji. Bukan lagi janjimu, tetapi janjinya. Kurangkai bunga harapan baru. Semoga jalanku kali ini lebih ramai bertabur kembang dibanding perjalanan tahun-tahun lalu. Semoga saja. Karena bersama dia, aku percaya.

You said forever and always... yeah.

Jogja, 26 Jan 2015.
Ditulis saat semua terlelap
Terima kasih atas kisahmu, kawanku.

Saturday, October 26, 2013

Tersipu


Dia duduk di sampingku! Bayangkan, di sampingku! Kucoba redakan debaran jantung yang tak menentu. Dia bahkan mengajakku berbicara! Kau pasti tahu bagaimana gugupnya aku saat itu. Sebenarnya, ia hanya bertanya masalah tugas. Sederhana, toh kami tak boleh berbasa-basi. Ada sesuatu yang mendorongku untuk menanyakan hal yang sama, tentang PR kami. Ia menjawab singkat. Aku menimpalinya dengan sangat konyol, “Oh, kau bisa menyanyi?” “Ya, begitulah.” Hening. Aku menyesali pertanyaan yang kulontarkan. Ia kembali konsentrasi dengan tugasnya dan aku mencoba serius menekuni bacaan yang ada di hadapanku. Kutengok sedikit wajahnya lalu buru-buru kutundukkan pandanganku. Tanpa sadar kuulaskan senyum tipis, sedikit tersipu dan malu.


Sumber gambar

Pernahkah kamu merasa seperti ini? ;)
Duduk di samping seseorang yang kamu sukai.
Rasanya menyenangkan, bukan? ^^
Bagaimana jika yang duduk di sampingmu itu ... seseorang yang kini sah menjadi mahrammu? ;)
Sungguh, rasanya tak bisa diulaskan dengan kata-kata. Pasti sangat membahagiakan! ^^
Semoga kita segera dipertemukan dengan tulang rusuk masing-masing, ya. Aamiin.

Tuesday, November 20, 2012

Pertanyaan dan Pernyataan


Bagaimana rasanya ditinggal seseorang yang kau cintai?

***


Maukah melepas kebahagiaan demi orang yang kau cinta?

***


"Baru saja kutemukan tulang rusuk itu, Din."
Aku tetap serius dengan netbook di hadapanku.
"Din, kau tahu tidak aku bertemu dengannya di mana?"
Masih berkutat dengan posisi yang sama. Tetap bergeming.
"Ternyata ia adalah tetangga yang berjarak tiga blok dari rumahku!"
"SubhanAllah, kan? Namanya jodoh ya, siapa yang tahu."
"Din, kamu dengar nggak, sih? Din!"
"...Apa?" jawabku parau.
"Kamu dengar tidak apa yang kubilang barusan?"
"Dengar, kok, dengar..." jawabku terbata. Kembali kupalingkan wajah pada netbook yang masih menampilkan layar yang sama. Google.
"Ya sudah, aku cuma mau menitipkan ini. Datang, ya."
Ia mengangsurkan selembar kertas karton yang tersampul cantik.
"Aku tunggu kedatanganmu loh, Din."
Ia menutup pintu ruang kerjaku. Meninggalkanku seorang diri bersama benda-benda mati. Netbook, rak, meja, kursi, pendingin ruangan...
Kutatap kertas itu.
Undangan pernikahan.
Aku mulai bereaksi,
Menangis tersedu.

Tuesday, December 13, 2011

Bunda Untuk Nayla

Oleh: Nadia Almira Sagitta


“Bunda, Nayla mau nyanyi. Dengerin yah,” pintanya, menarik-narik bajuku.

“Enggak, aku lagi sibuk!”

“Sekali aja, bunda please…” ia memohon.

“Dibilangin lagi sibuk. Udah Nayla main ke sana aja!” sergahku.

“Yah, bunda. Padahal lagunya bagus.” Ia tertunduk kecewa kemudian kembali ke kamarnya.

Kalian pasti mengira aku kejam, bukan? Aku memang membenci bocah kecil itu sedari dulu, bahkan aku menolak mentah-mentah kehadirannya di hidupku. Iya, dia. Nayla. Darah dagingku sendiri.

* * *

“Nayla, pulang sama siapa?” berikut pertanyaan Ibu Risma, guru TK Nayla.

“Pulang sendiri, bu guru.”

“Nggak dijemput bunda, ya?”

“Enggak, bunda bilang, Nayla pulang sendiri saja. Bunda sibuk, katanya.” Jawab Nayla polos.

“Oh begitu.” Ibu Risma manggut-manggut sembari berpikir, sesibuk apa ibu Nayla hingga tak sempat menjemput anaknya sendiri.

Dan Nayla berjalan seorang diri, menempuh perjalanan sekitar 1 km untuk sampai di rumahnya.

* * *

“NAYLA! Kamu ‘kan yang menggambar di buku ini?” ujarku emosi, menggebrak pintu kamarnya.

“I..iya bunda. Nayla pikir, buku itu udah nggak kepake.”

“Sok tahu, kamu! Makanya, jangan iseng! Ini agenda penting, nggak perlu coretan tangan kamu!”

“Maaf, bunda.” Nayla tertunduk menahan tangis.

“Maaf, maaf. Sudah, nggak usah nangis. Cengeng banget.” gerutuku, meninggalkannya sendiri kamar. Dan Nayla meraih boneka kesayangannya, dan duduk di pojokan kamar. Bahunya bergoncang, ia menangis sesenggukan.

* * *

“Nggak! Kamu nggak boleh ninggalin aku!” jeritku padanya.

“Habis mau gimana lagi? Nikahin kamu, aku nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa? Harus bisa! Kamu yang udah ngebuat aku kayak gini!” air mata mulai membanjiri pipiku.

“Kamu kira nikah itu gampang? Lagian kita masih muda, dan aku masih mau senang-senang.”

PLAAAK! Tamparan kudaratkan di pipinya. Keras. Meninggalkan rona merah di wajahnya.

“Kamu kira aku nggak mau nikmatin masa mudaku? Kamu kira aku siap menjalani semuanya, hah? Kamu harus tanggung jawab!” paksaku, tak menyerah.

“Maaf, mungkin kamu nganggep aku pengecut, Tan. Tapi, aku nggak bisa...” ucapnya kemudian perlahan meninggalkanku.

“WHAT? Sependek itukah jalan keluarnya? Reihan! Mana janjimu kalau kamu bakal nikahin aku? Mana?”

* * *

“Ibu Intan, ada telepon untuk Anda.”

“Oh, tolong sambungkan segera.”

“Baik, bu.”

“Halo, dengan Ibu Intan? Bu, ini saya Maida, tetangga ibu. Nayla kecelakaan, Bu.”

“Hah? Di mana?”

“Sekarang Nayla ada di rumah sakit Harapan, Bu.”

“Oh, baiklah, nanti saya akan pergi ke sana. Terima kasih infonya.” Aku meletakkan gagang telepon. Ckckck, anak itu tidak berhenti-berhentinya mengusik hidupku.

Sesampainya aku di rumah sakit, aku menemukan Ibu Risma, guru Nayla duduk di sampingnya. Mukanya pucat, sangat khawatir.

“Anda… Ibu Intan? Mamanya Nayla?”

“Iya. Kenapa?”

“Kenapa Anda tega membiarkan Nayla pulang seorang diri?” tanyanya tegas.

“Lah, dia kan sudah besar. Bisa jalan sendiri.” tanggapku santai.

“Besar? Dia masih 5 tahun, Bu! Sungguh, ada dendam apa Anda sama Nayla?”

“Bukan urusan kamu.” Aku memalingkan muka daripadanya.

“Saya sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Anda. Dia itu anak Anda.” Ujarnya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu, keluar meninggalkanku berdua dengan dia. Anak katanya? Lalu, apa peduliku? Dia anak yang menyusahkan! Aku melengos.

* * *

Kubuka album biru

Penuh debu dan usang

Kupandangi semua gambar diri

Bersih kecil belum ternoda…

Hari ini, aku sendirian di rumah. Nayla masih tergolek lemas di rumah sakit. Tidak mungkin kan aku menungguinya selama 24 jam penuh? Hidupku kan bukan hanya dia saja. Aku mulai membereskan rak yang ditumpuki oleh buku-buku akuntansi dan album masa kecilku. Ada fotoku digendong Mama. Mungil dan menggemaskan. Ma, Intan rindu sama Mama… Kubalik lembaran selanjutnya. Di situ ada foto Mama sedang menyuapiku. Juga ada saat ia bermain-main denganku. Aku bisa menemukan wajah Mama yang begitu sabar dan penuh kasih dalam membesarkanku. Lantas, mengapa aku tak bisa menerapkan hal yang sama kepada Nayla? Ah, ini hidupku. Tentu saja berbeda. Lagipula, aku tak menginginkan Nayla muncul di hidupku. Dia hanya mengobrak-abrik kisah hidup dan kisah cintaku.

* * *

Ah, hari ini aku tidak lagi sendirian di rumah. Kebebasan itu hanya kunikmati sekejap mata. Nayla telah kembali sehat seperti sediakala. Ckck, bahkan sekarang ia kembali meracau.

“Bunda, bunda. Besok, di sekolah Nayla ada acara lho. Bunda datang ya? Nayla disuruh nyanyi sama ibu guru. Katanya suara Nayla bagus,” ajaknya padaku.

“Enggak ah, males. Ngapain coba? Mending di rumah nonton tv.”

“Yah, Bunda. Ayo dong, nonton Nayla. Semua teman-teman Nayla ngajak orangtuanya, lho. Jadi, Nayla mau ngajak Bunda juga. Bunda mau ya?”

“Itu kan mereka, bukan aku. Kalau aku nggak bisa, gimana?”

“Sekaliiii aja, bunda. Ya?” pintanya terus memohon.

Huh, anak kecil pengganggu. Padahal besok aku sedang mengambil cuti. Lelah dengan rutinitas sehari-hari. Masakan harus diganggu dengan acaranya tak penting itu? Sekedar mengakhiri pembicaraan, aku mengangguk.

* * *

Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku

“Ng, Ma? Intan pengen bicara. Tapi, Mama jangan marah, ya?”

“Mau bicara apa, sayang? Sini, duduk.”

“Intan… Intan… ng…”

“Ada apa?”

“Intan hamil, Ma.”

“Ah? Kamu nggak beneran kan?”

“Ng… Intan nggak bohong, Ma. Reihan yang ngelakuin semuanya sama Intan.”

“Apa? Kamu hamil?” suara yang lebih berat mengagetkan kami berdua. Suara Papa.

“Kenapa kamu baru kasih tahu? Sudah jalan berapa bulan, Tan? Jawab!”

“Ng, 3 bulan, Pa.”

“Memalukan! Sekarang cepat kamu kemasi barang kamu, pergi dari sini!”

“Apa? Pa, ini bukan sepenuhnya salah Intan, Pa. Jangan seperti itu.” bujuk Mama, membelaku.

“Tidak. Ia sudah mencemari nama baik keluarga kita! Sekarang kamu keluar!”

Aku tertunduk, menatap lantai kamar. Mataku merah, mencoba menahan tangis.

“Tidak boleh, kita harusnya menemani Intan, bukan malah memojokkannya seperti ini!”

“Itu salahnya! Dan, kita harus menghukumnya.” Papa bersikeras. Ia memang orang yang tegas dan keras kepala.

“Kalau begitu aku ikut dengan Intan.” Mama berkata kemudian.

Aku terperangah, Mama mulai terseret dalam masalahku, kini.

“Ma… biarkan Intan sendiri yang menanggungnya. Intan yang salah…”

“Tidak, Mama harus tetap ikut dengan Intan. Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya sendiri?”

Deg! Ingatan masa laluku berhenti sampai di situ. Aku tertegun. Termasuk golongan ibu macam apa aku? Meninggalkan anakku seorang diri di rumah sakit saat itu. Ya Tuhan. Ternyata aku memang seorang ibu yang jahat.

* * *

“Penampilan selanjutnya, sebuah nyanyian berjudul “Bunda” yang akan dibawakan oleh Putri Nayla.”

Aku melihatnya, berjalan ke atas panggung dengan kaki mungilnya, berdiri di sana memegang mic.

“Lagu ini kunyanyikan untuk Bunda-ku tersayang. Bunda itu orang yang baiiiik sekali. Bunda, dengerin Nayla nyanyi ya?” (Dia nggak mencoba berbohong, kan?)

Piano mulai berdenting pelan mengiringi irama lagu Nayla.

Aku mendengarkan liriknya dengan baik.

Kubuka album biru

Penuh debu dan usang

Kupandangi semua gambar diri

Bersih kecil belum ternoda

Dahulu penuh kasih (benarkah? Adakah kasih sayang yang ia rasakan dariku?)

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku (dimarahi, dibentak, dipukul… itulah riwayatnya semenjak ia besar di tanganku)

Kata mereka diriku selalu dimanja (aku bahkan tak pernah memanjakannya, malah berusaha membuatnya mandiri. Hidup tanpa bantuanku)

Kata mereka diriku selalu ditimang (selalu? Aku hanya melakukannya saat ia bayi. Itupun dengan unsur keterpaksaan)

Oh, bunda ada dan tiada dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku…

Ya Tuhan, aku benar-benar ditegur lewat lagu itu.

Selama lima tahun ini, aku belum pernah membuat Nayla bahagia.

Selama lima tahun ini, kuhabiskan ‘tuk bergelut di pekerjaanku sendiri. Tak memedulikannya.

Selama lima tahun ini, aku selalu mengabaikannya.

Selama lima tahun ini, aku senantiasa memarahinya, bahkan mungkin bisa membuat jiwanya tertekan.

Ternyata selama lima tahun ini, aku bukanlah sesosok ibu yang patut dibanggakan.

Aku terlalu egois dengan duniaku sendiri.

Selalu saja ngotot bahwa semua perubahan yang ada di hidupku adalah salahnya.

Karena kehadirannya, karena kelahirannyalah aku terpaksa menjalani hidup seorang diri.

Tanpa Mama dan Papa, tanpa Reihan.

Semua menghilang dari hidupku.

Kepergian Mama karena tidak terbiasa hidup di lingkungan yang cukup sederhana, adalah kehilangan yang paling menyakitkan.

Dan kala itu, aku juga menyalahkan Nayla.

Padahal, semua ini bukanlah salah Nayla sepenuhnya.

Ini salahku, salah Reihan juga.

Andai saja saat itu aku tidak melakukan hal yang bodoh, mungkin aku tak meratapi nasib seperti saat ini.

Toh, nasi sudah menjadi bubur.

Mau tidak mau aku harus merawat Nayla. Seonggok daging yang mewarisi sifatku. (Hereditas :P)

Seharusnya aku membesarkannya dengan kasih sayang.

Sama seperti apa yang telah Mama lakukan terhadapku.

Bukan malah menyalahkannya setiap saat.

Ya Tuhan, maafkan aku.

Seusai menyanyi, Nayla turun dari panggung lalu seketika menghambur dalam pelukanku.

“Nayla sayang sama Bunda,”

“Bunda… juga sa…yang sama Nayla.” ucapku terbata-bata.

Itulah pertamakaliku memanggil diriku sendiri dengan ucapan Bunda. Bunda untuk Nayla.

Wednesday, August 3, 2011

Cintaku Kepada Pelayan Kafe

Oleh: Nadia Almira Sagitta


Kulangkahkan kakiku menuju satu coffee shop terdekat dari kampus. Sore itu, keadaan sangat lengang. Yah, baguslah, dengan demikian aku bisa duduk tenang menikmati coffee latte pesananku. Kuangkat cangkir kopi yang masih panas, persis di depan hidungku, mencium aromanya sebentar, lalu menghirupnya pelan. Nikmat sekali, paduan kehangatan kopi dengan dinginnya hawa di luar sana. Sambil meminum kopi, aku membolak-balik majalah Kawanku terbaru yang kubawa sedari tadi. Bosan membaca, pandangan kusapukan ke tiap sudut kedai kopi ini. Tiba-tiba, pandanganku terhenti pada satu titik. Seseorang. Lelaki. Membawa notes kecil di tangannya. Dengan apron berwarna coklat susu. Sebenarnya biasa saja, ia hanya seorang pelayan di coffee shop ini. Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Mungkin karena aku tak pernah melihatnya di sekitar sini. Sepertinya ia pekerja baru. Pandanganku tak lepas daripadanya, kutopang daguku di atas tangan, melihatnya dengan leluasa. Namun, sepertinya ia merasa ada yang telah memperhatikannya sedari tadi. Dia menolehkan pandangan, membalas tatapanku. Salah tingkah, aku memalingkan wajahku ke arah jendela. Memandang titik-titik air yang tertinggal di sana.

* * *

Lagi, siang ini aku datang ke coffee shop itu. Memesan coffee latte langgananku. Aku bermaksud mengerjakan tugas kuliahku di sini. Suasananya tenang, tak seperti di kosan, ribut. Hmm, well… Di mana pulpenku? Ini dia! Aih aih, pulpennya bocor! Tinta hitam itu -tanpa rasa perike’tinta’an- mengotori jemariku. Aku menuju toilet hendak membasuh tanganku, dan tiba-tiba saja aku melihat pemuda itu lagi. Untuk yang kedua kali. Hanya lintas lalu, namun sanggup membuat hatiku berdebar tidak karuan. Lengan bajunya yang digulung, tubuh tegapnya, wajahnya yang masih basah terkena air, menawan. BRUKK!

“Hati-hati mbak!” tegur seorang ibu berbadan buntal, (ups!)

“Ah yaa? Maaf bu, maaf… Saya tidak sengaja.”

“Makanya, kalau jalan lihat-lihat.” nasihatnya. Cukup menyinggung. Ah, semua ini gara-gara pemuda itu….

Cepat-cepat aku membereskan bukuku, tiba-tiba saja ada kabar Adira teman kosanku kecelakaan. Segera kupanggil taksi dan melesat ke rumah sakit tempat Adira dirawat. Hmm, UGD.

“Hai, Dir! Eh, kamu nggak papa kan?”

“Ah, enggak. Luka ringan aja.” jawabnya menunjukkan memar di siku, lutut, juga betisnya.

“Yah, kok bisa jatuh sih?”

“Tadi, ada yang berusaha merampas tasku. Ya, aku pertahanin tasku dong. Nggak nyangka malah jatuh.”

“Kamu juga sih. Tas doang padahal. Kenapa nggak direlain aja?”

“Mana bisa, Yas. Tas itu kan hadiah ulangtahunku dari Kevin. Mana mungkin aku ngerelain dirampas gitu aja?”

“Ooo, ada kenangannya toh.. Haha, ya udah. Tapi udah nggak papa kan? Pulang yuk, ntar aku yang bawa motor.”

Setelah mengurus administrasi, kami berdua keluar dari ruang UGD. Dan anehnya, aku bertemu pemuda yang bekerja di coffee shop itu! Dia ngapain ya, di sini? Lagi-lagi, aku diam terpaku menatapnya, mengikuti langkahnya yang ternyata menuju ruang ICU. Waaa~ tampan beneeer.

“Woii Yas! Yasmin! Ngeliatin siapa sih?” Adira menegurku sambil mengibaskan tangannya tepat di depan wajahku.

“Ah, enggak kok. Pulang yuk.” jawabku tersipu malu. Sumpah, pemuda tadi… Benar-benar mengalihkan duniaku. (now playing: Wajahmu Mengalihkan Duniaku – Afgan)

Sesampainya di kosan…

“Dir, kamu percaya enggak sama cinta pada pandangan pertama?” tanyaku.

“Love at the first sight? Ah enggak tuh. Mana ada cinta begituan.” jawabnya enteng.

“Ah, tapi… ng, udahlah.”Aku mengurungkan niatku untuk membahasnya lebih lanjut. Aku juga masih ragu akan perasaanku.

“Eh Yas, nyari makanan buat ntar malam dong, kan giliranku udah kemaren.” kata Adira mengingatkan.

“Oh iya, iya. Tunggu ya, aku mandi dulu.”


Seusai mandi, aku menyambar dompetku dan melanglang buana bersama Mio-nya Adira ke sekitaran wilayah kos. Nah, itu ada warung, aku memesan 2 bungkus nasi goreng. Yah, nasib dah jadi anak kos. Makanannya gini-gini aja. Tiba-tiba mataku menangkap sesosok bayangan. Seorang pemuda. Dengan tubuh tinggi tegap, wajah yang kukenali dengan baik dalam memori otakku, berdiri di seberang jalan. Menuju ke sini, ke warung ini. Duh, aku harus gimana nih? Aku rapi enggak ya? Enggak berantakan, kan? Ah, sialan, deg-degan atuh ini... Dia makin mendekat, hingga akhirnya tegak persis di samping mas penjual, yaitu di depanku. Hendak memesan apa ya dia? Kasihan, dari tadi dia nggak direspon sama penjualnya. Sambil menunggu pesananku jadi, aku beralih duduk di bangku dan memandang ke arah lain, yang berlawanan dengan pemuda itu. Nggak sanggup ah kalau harus memandangnya lagi. Andai aku es krim, bisa-bisa aku lumer! Hatiku pun dag dig dug tidak karuan. Pandangannya itu loh, sumpah, menghanyutkan. Lebay ya? Maaf deh.

“Mbak, ini pesenennya. 2 bungkus nasi goreng kan?” ujar si penjual.

“Oh iya, berapa ya Mas?”

“Kayak biasa aja, Mbak. Rp 15.000,”

Aku mengulurkan 3 lembar limaribuan ke tangan si penjual. Pada saat yang sama, tak sengaja, aku melihat pemuda itu melemparkan senyuman kepadaku. Refleks, kutolehkan wajahku ke samping, buru-buru aku menggantungkan bungkusan yang berisi nasi goreng itu di stang motor, menyalakan motor, dan meluncur pergi dari tempat itu. Sumpah, salting!

“Assalamualaikum, Dir. Adira! Tuh, makanannya ada di atas meja.” sahutku dari ujung pintu kamarnya.

“Oke deh, thanks ya!”

Aku berjalan perlahan ke arah kamar atau biasa kusebut rumah kecilku yang bersebelahan dengan kamar Adira. Kulempar tasku di sudut kamar, dan aku merebahkan diriku di atas kasur yang tak bisa kubilang empuk itu. Hari yang melelahkan, penuh oleh bayangan pemuda itu. Apa ini sebuah kebetulan ataukah aku dan dia… berjodoh? 3 kali sudah aku bertemu dengannya hari ini. Dan sudah 3 kali pula aku terpesona olehnya. Aih aih… Sekedar mengetahui namanya pun tidak. Berkomunikasi apalagi. Tapi dia mampu menggetarkan hatiku hanya dengan tatapan matanya yang tajam juga senyuman hangatnya. *Tok..Tok..Tok..*

“Yasmin, aku makan di kamarmu yah? Boleh masuk nggak?” suara Adira.

“Iya, masuk aja,” ucapku malas.

“Hai, Yas. Kamu belum makan? Nggak laper?” tanyanya.

“Ng? Belum terlalu lapar kok,” jawabku sembari melamun, tidak konsentrasi.

“Eh? Kayaknya dari tadi kamu melamun terus deh. Mikirin siapa sih?”

“Hhh, nggak kok. Nggak usah dipikirin…” ujarku, melengos.

“Ayolah, cerita-cerita dong. Ada masalah? Atau… kamu lagi jatuh cinta ya? Cieee cieee.” Ia mulai menggodaku.

“Jatuh cinta? Yeee, sama siapa coba? Nggak tuh, ah, sok tahu kamu.” elakku. Aku mengubah posisi dudukku yang semula selonjoran kaki menjadi duduk bersila, memberikan tempat duduk yang lebih luas untuk Adira.

“Hehe, aku menebak saja sih, habisnya kamu ngelamun terus seharian. Biasa itu kan tanda-tanda orang jatuh cinta. Ngelamunin inceran melulu.” ujarnya sambil tertawa. Lanjutnya, “Udah deh, daripada ngobrol nggak jelas gini, mending kamu cepetan ambil bungkusan makananmu terus makan sama aku di sini.”

Aku menuruti apa katanya, mengisi perut yang telah berbunyi sedari tadi. Keroncongan.

Senja berganti malam, matahari menenggelamkan dirinya, membiarkan bulan bertengger di singgasana langit. Adira sudah kembali ke kamarnya sejak tadi. Aku pun terduduk sendiri di kamar. Kulirik buku kuliahku kemudian teringat akan banyaknya tugas yang diberikan dosen dan harus dikumpulkan seminggu lagi. Namun hasrat untuk mencicil tugas itu belum juga datang padaku. Mataku beralih pada tumpukan kertas HVS dan pensil 2B yang tak jauh terletak daripadanya. Kertas dan pensil, identik dengan menggambar. Sudah lama aku tak mengguratkan sesuatu di sana. Aku beranjak dari tempat tidur dan menuju meja belajarku tak lupa kubawa secarik kertas. Beberapa saat, aku menulis-nulis sesuatu yang tidak jelas. Meremas kertas itu lalu membuangnya, dan tanganku meraih secarik kertas lagi, tanpa sadar aku mulai membuat satu sketsa. Sketsa wajah. Laki-laki. Ah, pemuda itu lagi. Dia, siapa sih? Namanya? Tinggal di mana? Apa di dekat kosanku? Bagaimana sifatnya? Potongan-potongan pertanyaan itu bermunculan satu per satu. Aku dibuatnya penasaran.

Sudah seminggu aku disibukkan oleh kuliah dan tugas yang bertumpuk. Untuk sejenak, bayangan pemuda itu sirna dari hidupku. Well, hidupku tidak hanya mengorbit pada pemuda itu, kan?

“Yasmin! Tolong dong pegangin ini bentar!” pinta Tunisia, teman sekampusku. Ia menyerahkan setumpuk kertas dan buku padaku. “Aku mau mengikat tali sepatu soalnya. Tolong ya.” Ia merunduk, membetulkan simpul sepatunya yang terlepas.

“Eh, kayaknya kamu buru-buru banget deh ya? Mau kemana Nis?”

“Makasih ya udah dibantu, iya nih aku mau kerja part-time di Coffee Shop seberang kampus kita itu lho.” jawabnya. Mendengar kata ‘Coffee Shop’ aku tertarik. Dan aku mulai melontarkan pertanyaan yang lain,

“Nis, kamu sudah lama kerja di sana?”

“Mmm, baru-baru saja sih, sekitar 2 minggu yang lalu lah, pegawai baru nih.” Ah, ternyata Tunisia belum lama menjadi pegawai di sana, tapi apakah mungkin ia mengenal pemuda yang kumaksudkan?

“Duluan ya, Yas! Bye~ see ya!” ia setengah berlari meninggalkanku. Aku termangu, bingung hendak ke mana. Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi coffee shop itu lagi. Aku berjalan keluar dari kampus, menyeberangi jalan, tak sampai 50 meter aku sudah tegak di hadapan tempat ini. Kudorong pintunya dan senyum ramah para pegawai seketika menyambutku. Selain interiornya yang menampakkan kesan calm dan juga nyaman, pilihan kopi yang beragam, sekarang aku mempunyai alasan lain yang membuatku tidak kunjung bosan mendatangi tempat itu. Ya, karena kehadiran pemuda itu. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Dan, ternyata pegawai kasir siang itu yang melayaniku adalah Tunisia.

“Hei, ketemu lagi Nis! Eh, kok aku nggak pernah ketemu kamu ya 2 minggu yang lalu? Padahal aku sering datang ke sini lho.” sapaku pertama kali.

“Ah iya, aku sering kebagian shift sore. Jadi, nggak ketemu deh kita di siang terik begini. Mau pesan apa?” ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Wah, dia punya gesture yang cukup bagus untuk jadi kasir. Ramah dan murah senyum.

“Iced Americano satu. Sama orange marmalade cake-nya ya.”

“Oke, semuanya jadi Rp 38.000”

Aku membalas senyumnya, dan kubuka zipper dompetku. Mengangsurkan lembaran uang kepada Tunisia dan beranjak menuju meja yang bersebelahan dengan jendela. Minuman yang kupesan belum kusentuh sedikitpun. Kulayangkan pandangan ke setiap sudut kafe ini. Batang hidung yang kutunggu belum juga nampak. Hingga sudah 2 gelas kopi kuhabiskan, sosoknya belum juga muncul. Kecewa, aku meninggalkan kafe itu dengan tangan hampa. Tanpa berhasil membawa satu raut mukanya dalam benakku hari itu.

“Tunisia, ngg… Kamu kenal dia nggak?” tanyaku sambil menyodorkan sketsa wajah pemuda tersebut suatu hari. Tunisia mengerutkan kening, mencoba menganalisa gambaran mengenainya. Namun, sekejap ia menggeleng. “Maaf, aku tidak mengenalnya, Yas. Memangnya kamu ketemu dia di mana?” tanyanya. Seketika, mengalirlah kisah mengenainya. Awalku bertemu, kebetulan-kebetulan yang terjadi, hingga pemuda itu merebut hatiku dan memenangkannya. Tunisia terdiam sebentar, dan mengambil kesimpulan, “Jadi, kamu jatuh cinta padanya pada pandangan pertama? Ya ampun, Yas… Masakan kamu jatuh cinta pada pemuda yang nggak jelas begitu? Lagi katamu, ia partner kerjaku? Waiter ya? Ya sudah deh, nanti aku coba cari info tentang dia ke teman-temanku ya. Aku pulang dulu.” pamitnya, berjalan memunggungiku. Seolah mendapatkan titik terang, aku tersenyum lebar. “Makasih ya, Nis! Kutunggu infonya!” sahutku dari kejauhan. Sebentar lagi, akan kukenali siapa dirimu wahai pemuda! Aku tak sanggup menahan gelegak gembira yang bergelora di hatiku, setidaknya aku tak akan mati penasaran karenanya, betul?

* * *

“Yas! Yaaas! Yasmiin!” panggil Tunisia tergesa.

Aku menghentikan langkahku kemudian berbalik menatapnya, “Ada apa?”

“Aku sudah tahu, siapa dia!” ucapnya begitu meyakinkan.

“Haaah? Siapa? Siapa?”

“Nih, lihat.” katanya memberiku sebuah buku album bersampul cokelat. Terlihatlah foto-foto karyawan Coffee Shop “Latte” dengan berbagai macam gaya. Ada yang sedang melayani pelanggan, ada juga saat mereka curi-curi waktu berfoto tanpa ketahuan atasan mereka. Haha, tidak kusangka, juga ada foto diriku sedang menyeruput secangkir Mocchacino. Sampailah di halaman ketiga terakhir. Terpampanglah foto pemuda itu berdiri gagah, melipat kedua tangannya, dan melontarkan senyum. Sialan, senyum menghanyutkannya itu kembali meliputi batinku. Kubuka halaman selanjutnya, Tunisia menungguku. Ada beberapa fotonya yang dilekatkan di album itu. Ada satu tulisan di sana,

*In Memoriam, pegawai favorit kafe ini, Rendra Wicaksono Saputra. Semoga kamu tenang di alam sana…* Dan di halaman paling akhir, ada foto kuburan Rendra bertabur bunga, dikelilingi oleh rekan-rekan kerjanya.

Apa??? Dia… udah nggak ada? Kutatap wajah Tunisia, meminta penjelasan.

“Dia udah meninggal Yas. Aku baru tahu dari bosku kemarin sore. Katanya, tertimpa kecelakaan motor yang lumayan parah. Motornya aja sampe hancur gitu. Kejadiannya, sekitar satu setengah tahun lalu. Dia…”

Tak kudengarkan ocehan Tunisia selanjutnya, tubuhku lemas tak berdaya seketika. Itulah mengapa alasannya aku menangkap bayangan dirinya di rumah sakit. Itulah mengapa dia tak dilayani dengan segera oleh penjual nasi goreng. Karena dia memang tidak ada. Hanya sekelebat bayangan tanpa nyawa. Jadi… Selama ini aku menyukai sesosok hantu? Ya ampun. Brukk! Tubuhku jatuh pingsan. “Lho? Yasmin? Yas!” jerit Tunisia kaget.

Cerita Pendek (Benar-benar pendek)

Oleh: Nadia Almira Sagitta

Malam itu, aku diteleponnya. Tumben.
“Halo? Eh, besok mau nggak jalan-jalan?” tawarnya.
“Jalan-jalan? Mau, mau, mau! Kok tumben?”
“Lah, kan janji saya yang waktu itu.” Katanya mengingatkan.
“Hah? Janji? Oh, yang itu? Astaga, masih kau ingatnya…”
“Ya sudah, besok ya? Jam sepuluh saya sudah ke rumahmu.”
“Iya, iya, makasih!” ucapku tertahan, perasaan bahagia ini sudah ingin saja membuncah sedari tadi. Tak dapat lagi kutahan-tahan. Aku mendapati diriku, tersenyum-senyum sendirian.
Esok paginya, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Hari itu Minggu, jadi wajar saja kalau aku bermalas-malasan di kamar. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini kan aku mau jalan-jalan. Aku sudah selesai mandi, sudah rapi. Aku menunggunya sudah seperempat jam yang lalu. Dia di mana ya? Aku mencoba menghubunginya dengan mengiriminya pesan. Dan ia membalas,
“Maaf, masih di jalan. Mungkin 20 menit lagi sampai. Maaf terlambat.”
Dan aku tetap duduk menunggunya datang, berkunjung ke rumahku. Saat ia datang, aku berjalan menyongsongnya, lalu kami berdua naik becak. Ia berbadan kurus, tak sepertiku yang lumayan bongsor. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku berceloteh. Meledeknya, mencoba melucu, banyak hal. Dia dengan setia mendengarkanku, memberi respon seadanya. Dia diam tak banyak bicara. Ah, bosan juga.
“Eh, gantian dong. Kamu lagi yang cerita.” Pintaku.
“Tidak tahu apa yang mau saya ceritakan. Saya hanya mau dengar ceritamu yang seru itu.”
Wah, pusing juga. Tapi, daripada diam? Maka, akupun membuka mulut, melanjutkan ceritaku.
“Aku, haus.”
“Tunggu di sini, saya ke sana dulu,” ia menunjuk ke salah satu tempat penjual minuman. Sesuai katanya, aku menunggunya di sini.
“Hey, maaf lama. Nih!” Aku dibelikan cola float olehnya.
Dia bertanya satu pertanyaan, “Eh, kamu lagi nda M, kan?”
Akupun heran namun menjawab, “Kenapa?”
Dia berujar, “Nanti kan bisa kena kista? Jaga-jaga saja.”
Satu poin plus untuknya, perhatian…
“Mau nonton ini kah?” tanyaku.
“Iya, film apa yang bagus ya?”
“Aih, saya juga tidak tahu. Apa saja deh,” jawabku pasrah. Film ber-genre apapun itu, asalkan bisa jalan sama kamu, saya sudah bahagia, ucapku dalam hati.
Dan, dia memilih salah satu film action, yang tidak kuketahui juga apa, saya hanya menurut. Kami mulai memasuki ruangan gelap gulita, itulah bioskop. Tak lama, layar lebar di depan kami, mulai memutar film yang sedang in saat itu. Sungguh, filmnya cukup menegangkan, menurut saya. Apalagi, saya saat itu sudah tak kuat lagi menahan kantuk, mata saya hanya membuka sebentar, lalu menutup lagi. Begitu seterusnya. Hingga tak sadar, saya tertidur. Saya tertidur pulas di bahunya. Ya, bahu cowok itu, tidak ada maksud apa-apa. Tiba-tiba, kepalaku bergerak dengan sendirinya, dan bahuku bergoncang. Ah, ternyata ia membangunkanku.
“Eh, bangun, bangun. Saya kira tadi kamu pengen ke toilet.”
“Ng? Oh iya.” Aku mengucek mataku, mengacak rambutku, dan mengusap wajahku, masih tak sadar sepenuhnya. Aku tadi tidur enak sekali…
Dan, dia pun menemaniku ke toilet, padahal aku tahu, film saat itu sedang berjalan seru-serunya, mungkin pada titik klimaks. Namun, dia rela saja mengorbankan filmnya demi menemaniku ke toilet. Menemaniku yang dengan sangat tidak sopannya tertidur di tengah acara. --“
Setelah capek berkeliling, perut saya berbunyi, meminta makan.
“Lapar ya?” Dia menatapku.
Aku hanya mengangguk. Memegangi perutku yang mulai terasa perih…
“Tuh ada Texas, singgah dulu yuk.”
Akhirnya kami berdua makan sama-sama.
Dengan menu yang sama, nasi ayam. Ketika tanganku meraih botol sambal, ia menepis jemariku.
“Jangan pake sambel!”
Heran, “Kenapa sih?”
Dia mengerutkan muka da berkata, “Katanya kamu lagi sakit maag… Tidak boleh makan sambel. Pedis.”
“Tapi saya tidak bisa makan kalau tidak pakai sambel….”
“Ya sudah, sini saya saja yang kasih sambalnya.”
Dia meraih botol merah itu dan menuangkan isinya ke piringku, namun itu terlalu sedikit!
“Ah, sedikit sekali,” keluhku.
“Begitu saja, tidak boleh terlalu banyak.”
“Ahhh, nggak mau! Udah, saya aja!”
Saya merebut kembali botol itu dan menuangkan lebih banyak lagi sambel sesuai yang kuinginkan. Dia hanya kesal melihatku, dan tiba-tiba saja ia mengambil ayamnya, dan menaruhnya di atas sambalku… Dia mengambil jatah sambalku.
“Ih, jahaaaaat.” Aku mengerucutkan bibir, menunduk. Tampak ia mengunyah ayamnya perlahan dan meringis, “Sssh… Pedisnya… Syukur kamu tidak makan. Pedis, pedisss sekali.”
“Mana bisa pedis? Biasa saja kali’…”
“Aduh, betulan. Pedeees, pediss sekalii.” Ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Eh, pulang yuk? Sudah hampir magrib.”
“Ih, kenapa cepat sekali? Sebentar saja pulangnya.” Aku memohon.
“Tapi, kan kamu tidak boleh pulang malam.”
“Itu kan kalau sudah jam sepuluh… Ini juga baru jam enam kurang lima belas menit.”
“Tidak boleh cewek pulang malam-malam. Nanti saya yang dimarahi sama ibumu.”
Kamu mengajakku pulang. Tahukah kamu, saat itu saya belum ingin pulang begitu cepat, saya masih mau menghabiskan waktu jalan-jalan ini lebih lama lagi. Sama kamu. Jujur, hari ini saya bahagia sekali. Waktu jalan-jalan yang hanya berkisar beberapa jam ini masih belum cukup bagiku. Kenapa kamu mengajakku pulang begitu cepat?
Kamipun berjalan mengitari mall, mencari pintu keluar. Saat itu, kami harus menyebrang jalan. Aku tidak tahu. Aku takut. Kendaraan berlalu-lalang, cepat sekali. Refleks, aku memegang bajunya.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak, saya hanya takut menyeberang.” jawabku sembari terus mencengkram bajunya.
“Ya sudah, pegang tasku!”
Aku menatapnya sebentar dan berpikir, Masya Allah, baiknya orang satu ini. Maka, aku pun memegangi tasnya, dan dia mulai berjalan dengan perlahan, menerobos kerumunan mobil juga motor. Sesampainya di seberang, kami menyetop angkutan kota. Di angkotan kota ia berucap sesuatu, “Eh, nanti kita pulang jalan kaki saja ya? Uang saya habis.” Aku hanya mengangguk pasrah, lagipula uangku juga ludes, dan aku kan tidak mungkin memberatkannya lagi, setelah seharian dia telah menyenangkan hatiku? Ya sudah, aku hanya tersenyum dan mengangguk, setuju. “Tenang, saya tahu kok jalan pintasnya.” ujarnya.
Beberapa menit kami tempuh untuk kembali ke wilayah kompleksku. Dan, kami pun mulai berjalan kaki. Berjalan di bawah naungan bintang yang masih muncul malu-malu, maklum ini baru jam tujuh malam. Berjalan berdua dengan dia, menjajarinya langkah kakinya. Dan tak terasa, perjalanan ini cukup singkat, dan tak sejauh yang kubayangkan sebelumnya.
“Gimana? Dekat kan?”
“Iya! Makasih yah. Makasih jalan-jalan dan traktirannya, ya.”
“Iya, sama-sama. Ya sudah, kamu pulang dulu. Saya juga mau pulang… Daaah.”
“Daadaaah!” balasku, melambaikan tangan, dan tersenyum lebar.
Makasih, makasih telah menepati janjimu.
Makasih, makasih jalan-jalan yang telah engkau berikan padaku.
Makasih, makasih telah menraktirku.
Makasih, makasih telah perhatian padaku.
Makasih, makasih telah bersikap baik padaku.
Makasih, makasih telah menjadi sosok teman cowok yang menjagaku.
Makasih, makasih tidak meminta apapun dariku.
Makasih, makasih telah menjadi teman terbaik yang pernah ada hidupku…