Showing posts with label semangat. Show all posts
Showing posts with label semangat. Show all posts

Thursday, May 26, 2016

Ke mana sosok yang dulu?

Hari ini aku baru tahu, perpus merupakan tempat yang pas untuk menangis, apalagi saat sedang sepi.

Rak 400. Tempat favoritku seantero perpus karena di sini ada ratusan buku-buku linguistik yang tak henti membuat takjub. Iya, aku di sini sekarang. Memandangi jejeran buku warna-warni terbitan Badan Bahasa yang bercerita seputar struktur bahasa, tata bahasa, morfologi, dan sintaksis bahasa daerah di Indonesia. Aku masih ingat, dulu ada seorang gadis yang sering sekali mengunjungi rak ini lalu terperangah karena mendapati ada puluhan bahasa daerah yang baru ia dengar. Ot danum, Tetun, Lamandau, Ogan, Bosap, Semende, dan banyak lagi. Gadis itu aku.

Aku juga masih ingat, dulu berangkat ke kampus UI dengan keyakinan penuh bahwa aku akan mendokumentasikan bahasa daerah di Indonesia seperti peneliti-peneliti asing yang kubaca di berita. Masih ingat, masih sekali.

Aku pun masih ingat, ketika semester empat dulu pernah mengomentari dalam hati hasil dokumentasi bahasa peneliti kita dan peneliti asing. Berkomentar bahwa betapa kurangnya hasil dokumentasi bahasa peneliti kita, mulai dari banyaknya kesalahan cetak, lalu kurang dalamnya penjelasan mengenai bahasa yang diteliti. Itu komentar mahasiswi semester empat yang belum tahu apa-apa, hanya sekadar membandingkan tebalnya buku yang dihasilkan dan membaca sekilas. Barangkali aku sok tahu, barangkali.

Mengingat semua itu, aku menangis. Ke mana Nadia yang dulu? Ke mana Nadia yang ambisius ingin meneliti bahasa di daerah terpencil? Ke mana Nadia dengan semangatnya yang luar biasa itu? Ke mana? Yang kulihat sekarang cuma Nadia yang sedikit-sedikit mengeluh jenuh dengan skripsi. Yang kulihat sekarang hanya Nadia yang mengaku lelah mengolah data. Padahal ya, aku sempat bahagia sekali sewaktu mengumpulkan data. Sempat berandai-andai, "Nanti aku juga begini di negeri antah-berantah, dengan medan yang lebih sulit, dengan bahasa yang sama sekali tak kumengerti."

Allah, kembalikan semangatku yang dulu. Jangan buat aku menyerah secepat ini. Sungguh, masih panjang perjalanan. Skripsi ini bagaikan batu loncatan pertama saja, belum ada apa-apanya. Jadi, janganlah lelah... Bersemangatlah! Innallaha ma'aki, Nadia!

Untuk kamu yang membaca tulisan ini, semoga motivasi yang sempat terkubur jauh kembali merasuki diri. Ingat, kamu sudah berjalan sejauh ini.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, February 6, 2016

Lebih Bersinar

Heh, I finally did it!

Dasar kocak kau, Nad. Dari SMP begitu mulu sampai sekarang. Ahahaha, ya gimana, kepribadian orang berbeda, itu juga yang menjadikan tiap orang unik. Beberapa kejadian silam membuatku sadar, "Terlalu sekali perasaanku sampai selalu tumpah dari wadah."

Beruntung kali ya orang yang menikah sama aku, bakal diromantisin mulu tiap hari. Hahaha. Udah ah, jangan pikir cinta dulu. Syarat LPDP diperketat, mamen! Gimana mau daftar kalau pikiran nggak fokus melulu? Maka, aku berharap semalam bisa benar-benar menetralkan perasaan dan menjernihkan pikiran.

Nanad yang lucu, ceria, baik hati yang selama ini kalian kenali akan segera kembali, cihuy! Bosan juga ditanyain, "Nanad kenapa? Nanad jangan sedih... Aku nggak rela lihat Nanad sedih, sini aku nikahin (?)" Wkwk yang terakhir canda wey, nggak ada yang ngomong gitu. :p

Umur 21 itu waktu-waktunya bersinar kan, ya? Udah 2016 juga lagian, mesti jadi pribadi yang lebih bersinar. Tahun kemarin sudah menolak kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi mapres. Tahun ini semoga bisa mengejar segala ketertinggalan, semoga bisa maju ke kursi terdepan fakultas di balairung pada Agustus nanti. Aamiin, insyaAllah, walaupun nggak yakin juga, sih. :D

Atau maju jadi pemakalah setelah selama ini kekeuh mengakui kemampuan diri belum cukup. Come on, sudah berapa seminar kau hadiri, masa nggak ada ide juga? Alasan. ^^

Intinya gitu. Cinta seharusnya tidak menghambat produktivitas. Jika kau merasa terhambat, barangkali itu bukan cinta yang benar.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta