Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Wednesday, August 24, 2016

Sebatas Itu

Jika peranku sebatas penyemangat dan pendengarmu, aku tidak mengapa. Sedari dulu aku juga begitu, selalu begitu. Peranku selalu sama, yakni pendengar sekaligus penyemangat orang-orang. Asalkan kau mencariku dan berbincang denganku, aku tidak masalah kita hanya sebatas itu.

Tuesday, August 23, 2016

Mendoakanmu

Fii amanillah.
Semoga Allah senantiasa menjagamu.
Semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkahmu.
Semoga Allah memberikan solusi terbaik untukmu.
Semoga Allah...mendengar doaku kepadamu.

Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk hidupmu, kebahagiaanmu, dan tentu saja senyumanmu. Sudah lama tidak kulihat. Janganlah engkau bersedih.

Acapkali engkau merasa ditinggalkan dan sepi, ingatlah bahwa aku tidak pernah pergi. Raga boleh jauh, tetapi jiwa selalu bersama dalam untaian doa.

"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu." (Sapardi Djoko Damono)

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, August 20, 2016

Carry on

Thank you for boost my mood, made my stomach full of butterflies, fulfill my heart, and made me smile so wide! Oh, darlin. Tell me who I have to be, to be the one beside you so we don't have to missing each other like this. Shall we carry on our journey?

Definitely, until time grows us apart. We'll see then if there's still spark when we see each other. From there, we'll decide where we want to go next.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, August 18, 2016

Buang Jauh

"Aku nggak dapat kabarnya di mana-mana."
"Dia udah ngilang ditelan bumi."
"Ih, kok gitu?"
"Ih, buang saja dia jauh-jauh. Untuk apa coba?"
"Ya aku cuma mau memanfaatkan waktu selagi bisa..."
"Ih, jangan. Nggak usah. Aku sudah bisa menebak bagaimana akhirnya. Kamu ingat, kan, aku juga pernah dibuat begini? Ya sudahlah, aku yakin paling sebentar lagi kau lupa."
"Carilah pengalihan. Banyak hal yang dapat kau kerjakan daripada merenung lantas mengingat dia."

Monday, August 8, 2016

Tidak Salah

Perpustakaan.
Di depan laptop.
Sendiri.

Kau tahu, sayang? Tadi dua orang kawanku membicarakan rencana pernikahan mereka dan mengulas tentang sifat-sifat lelaki. Mereka bersepakat atas kriteria lelaki idaman yang ternyata ada pada pasangan masing-masing. Kriteria itu tak ada padamu. Mereka lalu mengatakan, "Tuh, cari laki-laki yang seperti itu. Yang menghargai kamu dengan caranya itu." Diam-diam gengsiku terbetik. Memangnya kamu tidak menghargaiku? Menurutku tidak juga. Kamu punya caramu sendiri, bukan? Mengapa harus disamakan? Aku tidak suka dihakimi dan disalah-salahkan. Kamu tidak salah. Aku juga tidak salah karena telah memilih kamu. Kenapa, sih, semua orang bersikap sok tahu?

Ah, memang ya. Perjalanan cinta itu hanya dapat dimengerti dua orang. Yang lain-lain tak usah ikut.

Friday, August 5, 2016

Mengalir

Mengalir

Mengalir

Kebahagiaan menderas

Mengalir

Mengalir

Air mata

Turun mengalir

Kebahagiaan lewat

Mengalir

Melewati

Diri

Kebahagiaan lupa

Singgah di sini

Thursday, August 4, 2016

Peluk

Kangen. Kangen sekali. Mau peluk. Andaikata boneka tentu sudah kupeluk tiap malam. Sayangnya bukan. Ini perkara manusia yang belum menjadi siapa-siapa.

Wednesday, August 3, 2016

Pesan

Wahai kamu, perempuan yang sedang membaca pesan ini. Di malam ini, aku akan memberimu satu pesan, ya sebagai hiburan saja. Jangan terlalu serius walaupun isi pesanku bukan candaan lucu-lucuan. Pesan satu ini perihal lelaki.

Laki-laki itu datang dan pergi sesuka hati. Kamu tahu, laki-laki adalah makhluk yang paling pandai bermain tarik ulur. Merekalah yang datang terlebih dahulu, membanjiri kita dengan kata-kata juga gestur istimewa sampai kita mulai terbiasa, lalu pergi bersembunyi. Membiarkan kita yang datang sendiri dan mencari. Seolah-olah kita yang butuh (padahal memang butuh karena kita sudah masuk perangkap). Cerdik katamu? Memang, namanya juga laki-laki. Mengesalkan.

Nah, apakah kamu pernah ditinggalkan laki-laki? Percayalah, aku juga pernah. Aku tahu rasanya ingin menenggelamkan diri dalam luka yang tampaknya abadi. Aku tahu rasanya kehilangan senyum sebab muram. Aku pun paham ketika kamu bilang dunia tampaknya tidak berpihak padamu lagi.

Duhai, perempuan...
Jangan biarkan dirimu larut dalam lautan nestapa.

Ambil baiknya, buang buruknya

Itu adalah ungkapan penghibur hati yang tampaknya sudah menjadi template sehari-hari. Eh, tetapi nasihat krucil ini benar adanya! :)

Setiap orang membawa pesan yang berguna untuk kehidupan kita. Itulah mengapa mereka dihadirkan, tentu supaya dapat engkau tarik pelajaran darinya. Pertemuan itu Allah yang mengatur, begitu juga dengan perpisahan. Laki-laki bisa datang dan pergi, tetapi semoga pesan-pesan kehidupan yang pernah mereka torehkan tetap hidup abadi.

Hapuslah sedih yang menyelubungi hatimu saat ini. Buang jauh-jauh rencana balas dendam yang telah kamu susun sedemikian rupa demi menyadarkan ketololan dia yang sudah menyia-nyiakanmu. Sudah. Biarkan Allah saja yang menyadarkan, ini bukan tugasmu. Yang seharusnya menjadi perhatianmu adalah bagaimana menetralkan perasaan. Juga bagaimana mengambil hikmah dari balik duka.

Proses penyembuhan hati tidaklah gampang, aku mengerti. Kata-kataku ini bisa jadi hanya lewat sepintas lalu tanpa meninggalkan jejak yang berarti. Tidak apa-apa. Yang jelas kamu sadar bahwa kamu tidak sendiri. :)

Ingatlah, kamu selalu punya aku sebagai kawan tempatmu berbagi.

May happiness always follow you around. ;)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Friday, July 29, 2016

Basuh kuyup

Kuraih gagang shower dan mulai menyalakan air. Mengguyur. Mengguyuri puncak kepalaku. Kubiarkan serta-merta turut mengguyur masalah-masalahku.

Mengguyuri wajahku. Mengaliri kelopak mataku yang menutup, pipiku, lalu meluncur ke bibirku yang setengah terbuka. Kamu. Mengapa aku tak henti mengkhawatirkanmu? Malam ini aku bermimpi kamu sakit hingga harus dirawat inap. Baik-baik sajakah kamu? Ah, larut dan larutlah segala asumsi buruk sampai tiada bersisa.
-

Kuyup sekujur tubuh
Tetapi belum lega
Sebab jiwaku belum ikut terbasuh
Dan kamu,
Masih saja setia duduk di situ.

Wednesday, July 27, 2016

Berputar

Sudah, ya. Bagaimana jika kita sudahi saja? Biar kita fokus. Biar aku tak perlu terbebani dengan perasaan. Biar kamu tak ada lagi yang ganggu. Toh, kita berputar-putar saja. Pusing. Keliling. Bundaran.

Kita tidak ke mana-mana

Putus rute kita
Kita tak lagi punya arah tujuan
Maka hentikan langkah kita sejenak
Sampai jernih pikiran kita
Terapus kepanikan kita
Disingkapkan jalan lurus 'tuk kita
...
Agar tak perlu ada lagi senyum dan bahagia yang semu

Tuesday, July 12, 2016

Perihal Waktu

Sudut pandang orang pertama
tetapi tak selamanya merujuk kepada penulis

Waktu itu membiasakan.
Dulunya candu akan kabar satu sama lain, kini terbiasa tak mendengar sepatah kata pun dari seberang. Dulunya cemburu tanpa alasan, kini otak bertindak lebih rasional. Dulunya tak lihai mengerjakan ini dan itu, kini karena adanya keharusan, pekerjaan tersebut menjadi kebiasaan.

Waktu itu mendamaikan.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu. Masa lalu itu berarti menyangkutpautkan engkau, orang-orang di sekitarmu, serta lingkunganmu. Aku belajar memupuskan benci karena tahu itu tak ada guna melainkan hanya memberat-beratkan hati saja. Semalam aku bertemu dengan dia, gadis dambaan jiwa yang sering kau ceritakan. Menurut silsilah yang kutahu, gadis itu kawanku walaupun belum juga terbilang sahabat. Sementara, menurut emosiku, gadis itu adalah rivalku, sainganku. Sepatutnya, aku tak berbasa-basi dengannya karena melihatnya saja mengingatkanku akan engkau. Seharusnya, namanya kucoret dari daftar perkawanan karena hanya kepedihan yang ia bawa. Kawan macam apa? Kau kira bagaimana rasanya melihat seorang kawan dicintai oleh seseorang yang kaupuja pula? Memangnya serta-merta kau terima dengan lapang dada? Ah tetapi ini bukan salahnya, mata dan hatiku saja yang tertutup cemburu.

Namun, waktu mendewasakanku. Ia membujukku memaafkan masa lalu dan menerima kenyataan sepahit apa jua. Dan akhirnya memang begitu. Gadis itu, kawanku, kusapa dan kuajak bercengkrama. Aku yang awalnya hendak ke arah yang berlainan tetiba memutar tujuan demi membersamainya lebih lama. Kuberikan senyum paling tulus yang kubisa dan tidak kubuat-buat, tetapi terserahlah jika kau mengiranya lain. Aku sedang mencoba menjadi kawan yang baik. Kukesampingkan perasaan yang telah lama berdebu di pojokan. Justru karena sudah tidak ada apa-apa, sewajarnyalah aku menormalkan semua hal, termasuk berbicara layaknya kawan lama dengannya. Tak ada lagi cemburu yang dulu, aku menghela napas, lega.

Kalau ini yang kau sebut move on maka aku sedang melakukannya. Mungkin suatu ketika, aku bisa menceritakan kisah cinta ini pada orang lain dengan kalem tanpa emosi yang menggebu-gebu.

Pupusnya cinta tidak selalu diikuti oleh pupusnya luka, tetapi untuk kasusku, aku yakin bisa. Sebab tiada guna membiarkan luka menganga, lebih baik belajar rela dan menerima, mengusahakan luka tertutup sempurna. Menaruh dendam hanya akan membuat hati remuk redam. Aku tidak ingin menyusahkan hidupku sendiri.

Waktu itu mempertemukan...
dua jiwa yang telah lama menanti
namun tak patah berharap.

Aku juga akan bertemu kau, nanti
tinggal menunggu waktu
tanpa insiden salah jalur lagi!

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, July 11, 2016

Teringat Kau

Godaan-godaan lucu datang silih berganti
dari teman-teman
aku ikut menertawakan kekonyolan malam ini
sesungguhnya tak terjadi apa-apa
tetapi kubiarkan saja
untuk lelucon sepintas lalu

Andai saja engkau tahu,
sepanjang perjalanan tadi
aku mengingat kau seorang
aku membuka-buka seluruh media
lalu bertanya
mengapa tak ada ceritamu hari ini
mengapa begini dan begitu
terlalu banyak tanyaku
merisaukan hati
menggelisahkan pikiran

Andai saja engkau mau tahu,
aku tak henti mengkhayalkan
sosokmu duduk di hadapanku
makan bersamaku
berbincang asyik denganku
berjalan di sampingku
menemaniku cuci mata
dari toko ke toko

engkau ke mana?
aku tidak bisa tidur karena terbelit rindu.
mau berkunjung ke mimpiku lagi malam ini?
ah, mengapa tidak kau susun saja perjumpaan?
lebih mudah!
agar rinduku yang bertalu-talu
dapat redam
dan tidak membuat demam.

Sunday, July 10, 2016

Atas semuanya, terima kasih

Dulu aku memanggilmu Cinta, ya? Ehehehe. Maklumilah, kala itu aku benar-benar sedang jatuh hati. Malam ini tak sengaja aku menelusuri foto-foto lama di Instagram dan memo-memo kuno di ponsel. Di antara semua kenangan itu, kutemukan bayanganmu seorang. Hal itu menggerakkan jemariku untuk membaca kembali tulisan tentangmu di blog ini.

Betapa luasnya topik mengenaimu sampai-sampai jumlah tulisanku terlampau banyak pada tahun lalu. Tulisan yang bernada curhatan itu mendatangkan pelajaran untuk diriku karena sungguh masih relevan dengan keadaan saat ini.

Terima kasih atas pelajarannya.
Bahwa kita tak boleh mencinta dengan berlebihan.
Terlalu dalam, padahal belum menjadi siapa-siapa.

Atas riang gembiranya
gundah gulananya
juga sedu sedannya,
terima kasih pula.

Karena itu semua, sensitivitas juga sisi puitisku naik. Dua hal itu menjadikan blog ini penuh dengan tulisan-tulisan cinta yang manis. Juga mendatangkan pembaca yang rupa-rupanya membutuhkan konsumsi untuk hati yang didera kegalauan. Hahaha, ya, terima kasih untuk itu.

Semoga tak hanya aku yang menarik pelajaran. Kuharap ada sedikit dariku yang membekas di hidupmu, entah prinsipku, pola pikirku, atau perangaiku. Jika tidak ada, ah betapa sia-sianya perbincangan panjang kita dahulu. Bertambah-tambah pula sedihku bila memang aku segitu tidak mampunya meninggalkan kesan. Akan tetapi, pikiran orang siapa pula yang bisa mengendalikan?

Lengkung bibir yang membentuk senyum
Perlahan mendatar
Kelopak mata yang menyipit
Kemudian tertunduk sayu
Hahahihi beralih tragedi
Menggores perih, menyisakan pedih
Sampai masa yang tak diketahui durasinya


And the story of us looks a lot like a tragedy now.
The end

Saturday, July 9, 2016

Seperti itu kisah kita

Roda pesawat turun
perlahan menggores landas pacu
gedebak-gedebuk badan pesawat
bersama rem yang kencang ditarik
membuat badan lambung ke depan
dan jantung mengkeret di dada kiri

Kisah kita--
seperti itu
menakjubkan
penuh kejadian yang acapkali
membuat jantung dagdigdug
tak keruan
waswas, tetapi juga mengukir bahagia

Kecepatan diturunkan
lampu-lampu dimatikan
wajah-wajah kelelahan
yang tak sabar mengistirahatkan tubuh dan pikiran
berdesakan
menyisakan kursi-kursi
dalam kelengangan

Cepat, sekali lintas
singkat, lalu-lalang, pergi
seperti itu--kisah kita
kembali hampa
ditinggalkan dua pemerannya
yang sibuk mengejar penerbangan
menuju masa depan
tanpa kehadiran satu sama lain
--

Gadis menangis diam-diam
mengingat ada yang hendak dilepaskan
setahun ke depan dan mungkin diteruskan
selintas perasaan
kembali dinetralkan
entah akankah tercapai maksudnya
mendapati masih ada rindu menggunung
yang belum tersampaikan
tapi tak akan berhenti sebuah penantian
jika tidak diakhiri
dengan sapa atau ucapan perpisahan
opsi kedua saja, pilihnya
diikuti sendu
dan kelabu
--

Just stay with me, baby stay with me
tonight don't leave me alone
...and just kiss me slowly.
(Parachute, "Kiss Me Slowly")

Tuesday, July 5, 2016

Cinta Yang Belum Pasti

Hari ini aku kembali dilanda kebimbangan antara memilih cinta yang belum pasti dan cinta yang dapat seiring dengan cita-cita. Kau adalah cintaku yang belum pasti. Belum pasti seiring, sevisi, dan semisi. Akan tetapi, aku cinta dan aku tahu aku bersedia mengompromikan banyak hal demi membersamaimu.

Kemudian,
adalah dia, teman satu cita-cita sekaligus kawan kolaborasi. Kompromi tentu ada pula, tetapi sudah pasti aku dan dia akan berada dalam dunia yang sama di masa depan. Kami dapat saling mendukung kegiatan masing-masing dengan suka cita karena sama-sama tahu asyiknya bidang yang kami jalani. Sayang, aku tak tahu perasaannya kepadaku, sama seperti tak tahunya aku mengenai kedalaman perasaanmu kepadaku.

Adakah jaminan kau menerimaku dengan lapang dada?
Akankah kau dan aku menjalani hidup dengan seru-suka-bahagia
di tengah-tengah perbedaan kita, baik dari segi cita-cita maupun cerminan diri?
Entahlah, aku sendiri mulai tidak yakin padamu
Walaupun cintaku belum lagi surut dan kuharap takkan pernah begitu
Akan tetapi, keraguan mulai mengambang ke permukaan
Meninggalkanku sendiri dalam kegamangan

Tidak bisakah aku berhenti mencintai orang-orang yang 'kan meninggalkanku dalam ruang bimbang sendirianPadahal, kuinginkan tak ada yang serupa ini lagi, terlebih padamu. Inginnya aku, kau sajalah yang terakhir untuk sekarang dan selamanya. 

Nyatanya, tidak semudah itu. Tidak pernah semudah itu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Kemungkinan-kemungkinan

Dari relung hati
Menuju titik terisau dalam jiwa
Dilema
Dilema
Tetapi terus ku
mencintaimu dengan kerapuhan 
dan serak-serak harapan yang ada

Mencintaimu,
memberimu kesempatan
untuk melukaiku
yang kemudian
memberiku peluang
untuk membencimu
di kemudian hari

Sunday, July 3, 2016

Perempuan Yang Berkunjung Ke Rumah Kekasih

Kakiku menapak di tanah tempat kamu dibesarkan. Udara segar pepohonan kuhidu dengan khidmat, bunga-bunga, aspal jalan, juga rumah-rumah kuamati dengan cermat. Ingin rasanya kutinggalkan jejak di mana-mana. Agar kau tahu, aku pernah menjejakkan kaki di kampung kelahiranmu. Aku pernah begitu ingin menjadi bagian dari dirimu, mengenali masa lalumu, dan menemani masa depanmu.

Anak-anak kecil melintas, berteriak-teriak berkejaran, membuyarkan lamunanku. Kureka-reka sendiri wajah dan postur tubuhmu semasa kanak-kanak. Pasti kau pernah sebahagia mereka, ya, pasti.

Tapi hari ini pun kau juga. Jauh dari lokasiku saat ini, kau senyum sumringah karena berhasil membawa pujaan hati ke gerbang perkawinan. Perempuan itu, bukan aku yang tengah melepaskan kenangan kita satu per satu di kampung halamanmu. 


Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 29, 2016

Terpojok

Jika memang kau suka, tak perlu diutarakan terang-terangan
Kode-kode secuil, sih, tidak masalah
Bagaimana jika dia tidak menyimpan perasaan yang sama?
Bukankah kau akan merasa malu dan tersakiti?
Maka itulah, janganlah kau berlebihan mengutarakan rasa.

Pernah kukatakan, jangan membuat seseorang merasa terpojok dengan tingkahmu. Ketika kau mengaku suka pada seseorang, menguber-uber dia, sementara dia risih dengan perilakumu, kau sudah menempatkan orang yang kau cinta pada posisi terpojok itu. Dia mau menolak, tetapi tak enak. Nanti kau sedih, timbangnya. 

Jauh lebih aman ketika kau simpan saja perasaan itu seorang diri.
Kau tidak perlu memberatkan siapa-siapa.

Sianida?

Sianida. Mahasiswa-mahasiswi semester akhir pasti tak asing lagi dengan akronim ini. Sianida stands for siap nikah setelah wisuda. Hahaha, lucu ya? Beberapa kawanku memprotes tulisan-tulisanku di blog dan Facebook akhir-akhir ini. Kata mereka, "Kok selepas sidang, postingan Nanad berputar di masalah jodoh melulu?" Aku juga tidak tahu pasti mengapa aku menulis soal itu. Barangkali karena atmosfer dunia di luar kampus mulai merasukiku. Aku harus memikirkan rencana selepas kuliah berikut cara menggapainya. Menikah tentu masuk dalam daftar walaupun waktunya masih nanti-nanti. Setidaknya, itu topik yang wajar bagi anak muda sepantaranku. Beberapa teman mulai menyebar undangan, yang punya pacar tinggal ngumpulin duit sambil mematangkan persiapan, yang memilih taarufan santai menunggu CV berdatangan, yang sudah nikah tentu sibuk menikmati hidup baru bersama pasangan. Yuhu, aku nggak galau! Tapi... tapi apa? Yaaaa, jadi tersentak saja, persiapan apa yang sudah kulakukan? Ngngng... (bingung)

Persiapan perasaan kali, ya?
Hahahaha. Itu mah ceklis.
Persiapan kalau tahu-tahu ditinggal nikah?
Itu juga ceklis. Air mata selalu siap sedia. Hahaha, merana betul.
Persiapan...
Tahu, ah. Ribet!

Ini kocak betul, ih! Target sungguh masih lama, tetapi ternyata hati punya suara sendiri. Ah, single fighter, semoga selalu dikuatkan. Semoga dikuatkan untuk mencapai target-target tertentu dan tidak dikacaukan oleh pikiran nyeleneh macam ini. Apa, sih, remeh banget mikirin remah-remah perasaan. Berserakan. 

Jangan hilang fokus!
Jika cinta, ia pasti sudi menunggu.
Jika ditakdirkan untukmu, ia pasti tak akan ke mana-mana.
Jika satu visi, ia pasti memaklumi cita-cita pribadi.

...aih, tetapi bolehkah perasaanmu dikunci untukku saja?
sembari kita merapatkan jarak
untuk bersua dan bergenggaman tangan...

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, June 25, 2016

Jatuh Cinta

Kuterpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa kuterinspirasi hatimu
Kutak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu
(Raisa, "Jatuh Hati")

Aku ingin hadirmu, di sini, setiap hari
di hati dan di sisi.
Aku ingin bercerita apa saja yang melintasi pikirku
setiap detik, setiap waktu.
Aku ingin kau menaruh tatapan
dan memasang pendengaran
acapkali aku mengisahkan sesuatu.
Aku ingin kau tersenyum
tatkala aku melakukan hal-hal konyol
atau karena kau bahagia ada aku.

Hatiku telanjur terpikat-terikat.
Aku ingin kita begini, di sini, setiap saat.