Showing posts with label kuliah. Show all posts
Showing posts with label kuliah. Show all posts

Wednesday, June 15, 2016

Saya Ibu Rumah Tangga, Nak!

Setelah kemarin saya mendapatkan wejangan dari dosen untuk menuntaskan studi setinggi-tingginya sebelum memikirkan urusan jodoh, sekarang saya mendapat kesempatan berdialog dengan seorang dosen favorit saya. Beliau menawarkan pandangan yang berbeda.
N: Bu, penerus bidang ini jika nanti profesor itu tidak ada, Ibu, kan?
D: Nah, itu dia, Nak. Saya belum S-3. Sudah banyak juga yang mendorong saya lanjut kuliah, termasuk suami saya.
N: Iya, lanjut aja, Bu.
D: Akan tetapi, nanti siapa yang mengurus anak-anak? Dulu ketika saya mengerjakan penelitian dan begadang saja, si kecil tidak bisa tidur kalau saya belum tidur. Itu baru penelitian kecil, bagaimana disertasi?
N: Iya juga sih, ya...
D: Ketika suami saya lanjut S-3 dan anak-anak mau merecoki ayahnya, mereka bisa main sama saya, tetapi kalau nanti saya S-3, bagaimana mungkin ayahnya yang ngurus sementara dia juga sibuk?
N: (diam seribu bahasa)
N: Jadi, Ibu ada kemungkinan lanjut S-3 kalau anak-anak sudah besar ya, Bu?
D: Belum tentu juga, Nak. Ya nanti kalau saya berani daftar SIMAK, berarti saya sudah siap. Tidak harus menunggu mereka besar juga. Tidak apa-apa, pekerjaan utama saya itu ibu.
D: Setiap pagi saya antar anak-anak sekolah, ikut rapat orang tua ini itu, sampai-sampai ada sekumpulan ibu yang menanyakan saya masih bekerja sebagai dosen atau tidak saking seringnya terlihat di sekolah. Hahaha.
N: Iya, Ibu sepertinya aktif banget di sekolah anak.
D: Iya, Nak. Apa ya...masa tumbuh kembang anak itu tidak bisa diulang. Pendidikan bisa ditunda, tetapi anak? Anak itu butuh kehadiran orang tuanya. Jangan sampai mereka merasa tidak diperhatikan.
N: (diam seribu bahasa lagi) (seketika merefleksi masa kecil) Betul, Bu. Ibu saya wanita karir dan jarang berada di rumah. Ya terkadang saya merasa kesepian, tetapi positifnya saya memang jadi anak yang mandiri. Semua ada positif negatifnya.
D: Iya, semua ada pilihannya. Saya memilih ibu rumah tangga sebagai pekerjaan utama saya.
--

Barakallahu fiik, Bu! Sungguh pahala tiada putus-putusnya untuk engkau yang begitu totalitas mengabdi untuk keluarga. Hidup ini memang penuh pilihan, bukan? Jika sudah memilih maka pastikan engkau berbahagia dengan pilihanmu itu. :)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, June 13, 2016

Ngobrol Cantik Bareng Profesor

Seru, ya, ngobrol sama profesor dan tahu sedikit perihal pengalaman hidupnya. Bisa sekalian jadi penambah semangat.

"Bu, saya dengar Ibu sempat meneliti bahasa daerah di pedalaman, ya? Itu sesaat setelah Ibu sarjana atau lulus S-2 atau S-3?"
"Wah, saya setelah S-1 langsung lanjut S-2 ke Prancis. Di sana, saya malah diharuskan berkuliah S-2 jurusan fonetik dulu oleh profesor sebelum mengambil S-2 geolinguistik jadi gelar S-2 saya ganda. Saya tuntaskan 2,5 tahun untuk dua gelar itu, satu tahun lebih masing-masing. (gile, keren berat!)
"Wih, cepat banget ya, Bu? Keren banget."
"Haha, ya namanya beasiswa kan, Nak. Saya nggak bisa lama-lama di sana. Itu juga mati-matian nuntasinnya, summer saja nggak libur."
"Setelah lulus Ibu langsung gabung sama penelitian LIPI itu, ya?"
"Oh nggak. Selepas lulus, saya langsung meneliti untuk S-3. Jadi, saya itu sampai S-3 kuliah terus tanpa putus. || Reaksiku: (takjub) (pasang muka kaget) wkwkwk.
"Cuma ya, lantas saya diprotes sama keluarga, 'Kamu itu kuliah terus. Kapan nikahnya?' Haha, akhirnya saya nikah pas S-3. Ujian disertasi saya agak terlambat karena saya saat itu punya anak."
"Wah, haha iya, Bu. Biasanya itu yang rewel malah keluarga, padahal kitanya sendiri mah santai saja."
"Iya, memang begitu. Kita kan perempuan, ya, mau nggak mau dihadapkan pada banyak urusan seperti pendidikan dan keluarga. Repot kalau disambi makanya saya memilih studi dulu sampai selesai baru menikah."
"Iya, setuju sekali, Bu."
--

Wuaaaa, prof satu ini sukses menjadi mood booster untuk menuntaskan skripsi dan meraih mimpi-mimpi. Men, andaikata aku diberi kesempatan untuk terus lanjut studi dan dimudahkan jalannya seperti Prof. Mia, barangkali merupakan pilihan tepat untuk kuliah sampai memasuki jenjang S-3 baru kemudian menikah. (ketularan kisah hidup beliau, wkwk) Ya, tetapi jodoh siapa yang bisa menduga kapan datangnya dan bagaimana rupanya? Kali gitu dapat jodoh bule seperti profesorku yang satu ini. Yang penting, nggak usah menitikberatkan hidupmu ke situ kalau memang masih banyak pencapaian pribadi yang ingin kamu lakukan. Studi dulu, baru pikir nikah. :)))))

Mangga kalau berbeda pendapat. Haha, prioritas tiap orang berbeda. Nggak masalah, yang penting kamu punya arah dan tujuan hidup. Yang berabe itu kalau kamu memilih gone with the wind doang. Set your goals from now on! :D

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, May 26, 2016

Ke mana sosok yang dulu?

Hari ini aku baru tahu, perpus merupakan tempat yang pas untuk menangis, apalagi saat sedang sepi.

Rak 400. Tempat favoritku seantero perpus karena di sini ada ratusan buku-buku linguistik yang tak henti membuat takjub. Iya, aku di sini sekarang. Memandangi jejeran buku warna-warni terbitan Badan Bahasa yang bercerita seputar struktur bahasa, tata bahasa, morfologi, dan sintaksis bahasa daerah di Indonesia. Aku masih ingat, dulu ada seorang gadis yang sering sekali mengunjungi rak ini lalu terperangah karena mendapati ada puluhan bahasa daerah yang baru ia dengar. Ot danum, Tetun, Lamandau, Ogan, Bosap, Semende, dan banyak lagi. Gadis itu aku.

Aku juga masih ingat, dulu berangkat ke kampus UI dengan keyakinan penuh bahwa aku akan mendokumentasikan bahasa daerah di Indonesia seperti peneliti-peneliti asing yang kubaca di berita. Masih ingat, masih sekali.

Aku pun masih ingat, ketika semester empat dulu pernah mengomentari dalam hati hasil dokumentasi bahasa peneliti kita dan peneliti asing. Berkomentar bahwa betapa kurangnya hasil dokumentasi bahasa peneliti kita, mulai dari banyaknya kesalahan cetak, lalu kurang dalamnya penjelasan mengenai bahasa yang diteliti. Itu komentar mahasiswi semester empat yang belum tahu apa-apa, hanya sekadar membandingkan tebalnya buku yang dihasilkan dan membaca sekilas. Barangkali aku sok tahu, barangkali.

Mengingat semua itu, aku menangis. Ke mana Nadia yang dulu? Ke mana Nadia yang ambisius ingin meneliti bahasa di daerah terpencil? Ke mana Nadia dengan semangatnya yang luar biasa itu? Ke mana? Yang kulihat sekarang cuma Nadia yang sedikit-sedikit mengeluh jenuh dengan skripsi. Yang kulihat sekarang hanya Nadia yang mengaku lelah mengolah data. Padahal ya, aku sempat bahagia sekali sewaktu mengumpulkan data. Sempat berandai-andai, "Nanti aku juga begini di negeri antah-berantah, dengan medan yang lebih sulit, dengan bahasa yang sama sekali tak kumengerti."

Allah, kembalikan semangatku yang dulu. Jangan buat aku menyerah secepat ini. Sungguh, masih panjang perjalanan. Skripsi ini bagaikan batu loncatan pertama saja, belum ada apa-apanya. Jadi, janganlah lelah... Bersemangatlah! Innallaha ma'aki, Nadia!

Untuk kamu yang membaca tulisan ini, semoga motivasi yang sempat terkubur jauh kembali merasuki diri. Ingat, kamu sudah berjalan sejauh ini.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, May 24, 2016

Terima kasih, lho, kalian!

Sebentar, mau baper dulu. Aku baru saja membaca lembar ucapan terima kasih seorang senior yang mengerjakan skripsi yang bertopik sama denganku. Banyak sekali pihak-pihak yang ia sebutkan telah membantu skripsinya. Aku lantas teringat kepada seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung prosesku dalam mengerjakan skripsi ini. Dan aku rasanya...mau nangis.

Skripsinya belum selesai, teman-teman, ayah-bunda, bapak-ibu. Masih banyak yang belum digarap sementara batas waktu pengumpulannya tinggal lima hari. Aaaaark, bismillah, bismillah. Bisa, insyaAllah. :')

Aku nggak mau mengecewakan kalian.
Ayah dan Bunda yang berharap aku lulus semester ini dengan predikat cumlaude. Memang, perjuanganku selama tujuh semester untuk menghasilkan nilai yang memuaskan itu karena kalian yang selalu menanyakan hasilku tiap akhir semester. Karena kalian yang perfeksionis itulah, haha. Sayang sekali kalau aku harus melanjutkan skripsi ke semester depan dan melepas predikat cumlaude yang selama ini selalu kalian banggakan.
Berlian, Ammy, Nabs--selaku sahabat SMA--yang selalu menyemangatiku menuntaskan skripsi. Kalian, deh, yang melihat aku berkutat dengan rekaman, transkripsi, bahkan melihat langsung aku memperoleh data.
Kak Budi--temannya Berlian--yang telah mau direpotkan untuk mengantarkanku ke belasan kecamatan di Kota Makassar hingga aku nggak perlu sewa mobil dan menghabiskan duit berjuta-juta. :')
Ismi yang sudah menemaniku serta membantuku begadang seharian mengolah data. Duh, aku nggak tahu harus presentasi apa di seminar hasil tanpa bantuanmu! :')
...
...
...
Banyak sekali yang mau kusebutkan, tetapi nanti jadi lembar ucapan terima kasih, padahal skripsi belum kelar! Haha, tenang saja, yang namanya belum kusebutkan di postingan ini, barangkali nanti kusebutkan di lembar ucapan skripsi betulan. Mohon doa terbaik dari kalian semua. Huf, mau ngasih hashtag #procrastinatorunited.

Nanad harus lulus semester ini.
Mudahkanlah, ya Allah.

Monday, January 11, 2016

Hari dan Malam Ini

Hari ini ada yang sidang skripsi
Hari ini ada yang meragu bahkan kehilangan semangat untuk menggarap skripsi
Hari ini ada yang ulang tahun
-
Malam ini, ada kisah seru yang dituturkan
Yang akhirnya membuat si peragu mendapatkan kembali keyakinannya
Bahwa skripsi yang digarapnya pasti akan berjalan seru, penuh petualangan, dan lancar jaya
-
Hujan malam ini membuat sepatu, rok, dan bajuku basah. Dalam keadaan begitu, harus tetap berangkat ke suatu tempat demi menjemput buku. Ngobrol asyik sekali sampai lupa waktu. Tahu-tahu pukul sepuluh. Obrolan skripsi ini memberi banyak inspirasi. Sepulangnya dari sana, skoliosisku kambuh. Sakit, tetapi tidak boleh mengeluh. Bersusah-susah dahulu, bersenang-bersenang kemudian. Mari totalitas demi skripsi!

Skoliosis, rukunlah denganku selama satu semester ini. Mohon kerja samanya. ^^

Nadia Almira Sagitta

Monday, November 23, 2015

Memikirkanmu, membuang waktuku

Bakal sibuk nggak terkira hingga Januari. Pikiran dan fisik lelah semua. Akan tetapi, kesibukan ini punya hikmah. Aku jadi lebih bisa membagi waktu, mengatur prioritas, belajar tanggung jawab, belajar memimpin, dan menjaga amanah. Iya, amanah itu tidak pernah pergi dari kita. Dia selalu punya cara untuk mendekati kita. Kukira, aku akan lepas dari amanah-amanah setelah melepaskan segala organisasi, tetapi nyatanya tidak. Maka berbahagialah diriku, kamu masih dipercaya orang-orang untuk memegang amanah. Alhamdulillah.

Aku begitu sibuknya sampai-sampai kegiatan memikirkanmu saja kuanggap sia-sia. Ketika aku hendak memikirkanmu barang dua jam, kuingat betapa aku punya segudang kegiatan yang seharusnya bisa kuselesaikan dalam waktu dua jam.

Memikirkanmu = membuang waktuku

Ya, itulah dia hikmah lainnya. Pikiranku memang belum sepenuhnya lepas dari bayangmu, tetapi mau bagaimana pun aku harus terbiasa dengan keadaan ini. Terbiasa tanpa kau dan harus membiasakan diri tanpa kau. Kau saja bisa, kenapa aku tidak?

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, November 14, 2015

Bidang Linguistik

Language documentation is a part of linguistics fieldwork. There are so much things to do. Sebagai calon sarjana humaniora yang berkonsentrasi pada bidang linguistik, sudah semestinya kita terjun ke berbagai bidang. Kamu bisa masuk ke bidang komputasional linguistik dan mengembangkan program bahasa semacam Google Translate, bidang perencanaan bahasa untuk menentukan masa depan suatu bahasa, bidang neurolinguistik untuk membantu para dokter saraf dan pasiennya, bidang leksikografi untuk menyusun suatu kamus dengan baik (bikin kamus sekeren Oxford atau Collins Dictionary, tuuuh!), bidang forensik linguistik untuk membantu memecahkan kasus hukum dengan bukti-bukti kebahasaan, bidang geolinguistik--atau disebut juga dialektologi--untuk memetakan bahasa-bahasa di Indonesia (kita punya 706 bahasa!), bidang psikolinguistik untuk mengetahui fungsi otak manusia dalam pemerolehan bahasa kedua dan seterusnya. Linguistics is so much more than you can imagine. Masih banyak bidang linguistik yang belum aku ceritakan, seperti historical linguistics, ecolinguistics, biolinguistics, sociolinguistics, stylistics, theoretical linguistics, clinical linguistics, translation, evolutionary linguistics, dan linguistic anthropology. Kau lihat, ilmu linguistik ini bersinggungan dengan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, kedokteran, komputer, dan lain-lain. Ayo menyebar ke berbagai bidang agar semua bidang terlingkupi oleh ahlinya masing-masing. :)

Aku sendiri ingin terjun pada bidang pendokumentasian bahasa. Bahasa terus berubah seiring waktu. Ia dapat punah atau bertahan. Agar suatu bahasa tetap terdeteksi zaman, ia perlu didokumentasikan. Pekerjaan seorang pendokumentasi tentu tidak sederhana. Ia harus turun ke lapangan, berkomunikasi dengan warga setempat, dan membuat dokumentasi dalam bentuk teks, audio, dan video. Setelah itu, ia harus menyusun buku tata bahasa dan kamus dari bahasa tersebut kemudian memastikan hasil penelitiannya dapat diakses orang banyak. Selain itu, sebisa mungkin sang peneliti membantu masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali bahasa daerah mereka dengan melakukan revitalisasi bahasa. Rempong sekali tampaknya, ya? Akan tetapi, tentu harus ada satu di antara banyaknya linguis yang menempatkan bidang ini sebagai karier hidupnya. Aku ingin menjadi satu di antara yang sedikit itu. ^^

Janganlah kamu berkecil hati tatkala orang-orang mempertanyakan jurusanmu saat ini, lulusan sastra mau jadi apa? Wah, mereka belum kenal linguistik dan sastra rupanya! Jadi apa, katanya? Banyak, Bung! Tak bisa aku jelaskan satu per satu. Apalagi postingan ini masih khusus membahas linguistik, belum membahas sastra yang terpecah lagi menjadi sastra modern dan sastra klasik. Pokoknya menjadi ahli sastra dan ahli bahasa, deh. ♡

Ada banyak bidang linguistik yang bisa kamu tekuni. Pilih satu yang kamu suka dan lakukanlah yang terbaik pada bidang itu. Semoga calon-calon sarjana humaniora konsentrasi linguistik ini berkenan menjadi linguis-linguis andal Indonesia.

Ayolah, Indonesia butuh penerus Harimurti Kridalaksana dan Anton Moeliono! Siapa tahu itu kamu. ♡

Aamiin ya Rabb. Mudahkanlah jalan kami meraih gelar sarjana agar dapat memasuki jenjang berikutnya, entah itu dunia kerja atau dunia perkuliahan selanjutnya.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, November 10, 2015

Pendokumentasi Bahasa

Hari ini aku merasa sangaaaaaaat lega. Kenapa?  Kemarin aku berdiskusi dengan Ayahku menyoal kontribusi warga negara terhadap negaranya. Aku sempat khawatir dicap pembelot apabila bekerja pada lembaga asing. Diskusi kami bisa dilihat di sini. Berangkat dari setumpuk kekhawatiran, aku menelusuri kembali situs www.hrelp.org--suatu proyek pekerjaan impianku--dan mengaduk-aduk informasi program ELDP. Di situs tersebut, aku menemukan ini:

"We provide grants for the linguistic documentation of endangered languages worldwide. Anybody with qualifications in linguistic language documentation can apply as we have no restrictions on the nationality of the applicant or on the location of the host institution."

Peneliti dari kewarganegaraan apa pun dapat didanai untuk menjalankan proyek di daerah mana pun di dunia!

Gosh, such a relief! :')

Aku bisa tetap bekerja di Indonesia, mendokumentasikan bahasa daerah di Indonesia, dan memajang hasil penelitianku di situs ELAR yang dapat diakses oleh semua orang secara gratis! Much better tentunya karena bahasa itu punya kesempatan untuk dikenali oleh orang banyak berhubung prestise lembaga satu ini tinggi sekali. Aku sudah tahu mau jadi apa di masa depan! ^0^)/

Oh ya, sebelumnya aku ingin menjelaskan ELDP. ELDP--stands for Endangered Language Documentation Programme--adalah bagian dari HRELP (Hans Rausing Endangered Language Project) yang berfokus pada pendokumentasian bahasa. ELDP didanai sepenuhnya oleh Arcadia, sebuah foundation yang berfokus pada pelindungan kebudayaan yang terancam punah. Oleh karena bahasa tergolong budaya, Arcadia ikut mendanai proyek pendokumentasian bahasa. ELDP sudah banyak menelurkan grantee berbakat yang memberikan sumbangsih besar terhadap bahasa-bahasa yang terancam punah. Berikut ini daftar grantee ELDP sepanjang perjalanannya. http://www.hrelp.org/grants/projects/index.php

Apabila kalian perhatikan secara saksama, umumnya grantee ELDP berasal dari empat universitas terbaik, yakni School of Oriental and African Studies (SOAS), Univ. of Texas Austin, Australia National University (ANU), dan Univ. Hawaii of Manoa (UHM). Aku memang menargetkan lulus di salah satu universitas ini! ^^

Universitas-universitas di atas memiliki jurusan yang berfokus pada bidang dokumentasi bahasa. Apabila aku memang ingin menjadi peneliti bahasa, sebaiknya aku menimba ilmu di tempat terbaik, bukan? Toh, ELDP mencari peneliti yang memiliki landasan ilmu yang kuat maka sebaiknya aku berkuliah di salah satu institusi itu.

Aamiin, aamiin ya Mujiib.

Prof. Mia, engkau tidak perlu khawatir. InsyaaAllah aku akan menyelamatkan 75 bahasa daerah Indonesia yang termasuk kategori mengkhawatirkan (EGIDS) itu. Tatkala engkau menyebutkan keresahanmu tadi, aku diam-diam menitikkan air mata karena terbawa perasaan, "Ayo, mungkin salah satu dari kita hari ini ada yang sudi mengabdikan diri pada nusa dan bangsa untuk menyelamatkan 75 bahasa tadi. Ini kekayaan budaya bangsa, lho."

Aku melanglang ke London dulu ya, Prof. Setelah itu, aku pulang ke Indonesia dan mulai bekerja. Aamiin, semoga Allah meridai jalan hidupku.

Sebagai penutup kisah cita-cita mulia ini, aku mengutip slogan HRELP, "Because every last word means another last world." That is why we should try to save those languages through documentation dan revitalization process.

Salam,
Nadia Almira Sagitta
calon pendokumentasi bahasa di Indonesia

Friday, October 23, 2015

Esai

Hari ini ditanya kawan perihal cara menulis esai. Woalah, sudah kesekian kali aku ditanya seperti ini. Mauku bungkam karena aku sendiri tak bisa menulis esai, tetapi tentu tak boleh seperti itu. Aku mahasiswi sastra Indonesia, setidakcintanya* aku pada dunia sastra, aku diharapkan mempunyai pengetahuan mumpuni untuk itu. Aku calon sarjana: linguistik, sastra modern, dan sastra klasik Indonesia. ♡ Mesti bisa semuanyaaaaaaa.

Akhirnya, kuberikan ilmu yang kupunya tentang penulisan esai. Aku ikut membaca tulisan dia dan mengoreksi kesalahan penulisan serta cacat logika dalam tulisannya.

Terlepas dari sempurna atau tidaknya koreksianku, aku senang. Aku senang dihubungi teman-teman semasa sekolah. Aku senang menjadi rujukan mereka tentang hal-hal berbau sastra dan bahasa. Semoga terus begini. Semoga dengan ini mereka sadar, jurusan sastra itu banyak pula kontribusinya pada negara. ♡

Salam,
Nadia Almira Sagitta

(*) aku suka sastra, tetapi sebagai penikmat, bukan pemecah rahasianya.

Monday, October 19, 2015

Gosip

Buonasera!

Malam tadi temanku datang ke kosan dan hendak meminjam buku. Eh, mulanya yang mau beberapa menit saja malah jadi sejam lebih. Kami asyik bergosip di ruang tamu. Hahaha, kocak, ih. Bercerita soal sahabat-sahabatnya, soal cerita cintaku, soal skripsi dan jurnal kawan-kawan, perkuliahan, serta banyak hal. Aku nggak pernah berpikir untuk bercerita panjang padanya, apalagi sampai curhat cinta. Ah, tetapi mungkin aku butuh bercerita dan kebetulan dia asyik sekali mendengarkan. Ternyata, pengobatan untukku adalah menumpahkan segala rasa ke teman-temanku sampai akhirnya aku bosan dan lelah untuk menangis. Kalau bisa, sampai aku bosan bercerita. Seperti tadi.

M: Mau ke mana, Nad?
N: Ke...klaster. Makan. (bohong! Aku mau nangis sepuasnya di sana)
M: Sama siapa?
N: Ng, sendirian. Tapi kalau kalian mau ikut juga boleh.
M: Kami ikut, ya.
N: O...ke. (ah, gagal melampiaskan rasa, nih)

Di klaster.
M: Kamu kenapa?
A: Iya, Nanad kenapa?
N: Aku... (kemudian mengalirlah cerita yang super panjang)
A: Udah, ya. Menurut aku...
M: Iya, aku sepakat. Menurut aku juga gitu. Nggak usah nangis lagi, ya.
N: Iya.

Di masjid.
N: Tahu nggak, siang tadi aku sebenarnya mau nangis di sana.
M: Oya? Jangan, Nad. Jangan fasilitasi diri kamu untuk nangis. Selalu ada kita, kok. Kalau butuh cerita, ya cerita. Jangan sendirian.
N: Makasih, ya. Entahlah, tadi aku merasa butuh menangis saja. Aku nggak fokus kuliah seharian ini. Tadinya malah nggak mau masuk.
M: Semoga hanya semingguan ini, ya, Nad. Aamiin.
N: Aamiin.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, October 3, 2015

SKS dan Belajar Mandiri

Bom dia!(*)

Kembali lagi dengan Nadia di sini, yeah semoga tidak bosan, ya. Kali ini, aku mau membahas SKS (Satuan Kredit Semester). Hm, aku tidak akan membahas SKS secara mendalam, tetapi hanya mengingatkan kembali pengertian dari SKS.
 
Ketika kita mengambil suatu mata kuliah, akan ada keterangan mengenai SKS matkul tersebut. Bisa 1 SKS, 3 SKS, atau bahkan 6 SKS. SKS ini berhubungan erat dengan lama perkuliahan dalam seminggu dan bobot nilai dalam IP/IPK-mu nantinya. Sudah jelas kalau kamu mesti memberikan upaya terbaikmu pada matkul dengan SKS berjumlah besar. Kalau nilai matkul itu jeblok maka tamatlah riwayatmu. :p

1 SKS biasanya berkisar 50 menit dalam seminggu. 50 menit belajar di kelas, 50 menit mengerjakan tugas, 50 menit belajar mandiri di rumah.

Sip, masuk ke contoh kasus saja, ya. Aku mengambil contoh dari matkul Pengantar Linguistik Umum.

PLU - 3 SKS
3 x 50 menit (2,5 jam) belajar di kelas
3 x 50 menit (2,5 jam) mengerjakan tugas
3 x 50 menit (2,5 jam) belajar mandiri dengan membaca buku referensi, mengulang materi, dan lain-lain.
 
Secara keseluruhan, dalam seminggu, aku harus belajar 5 jam di luar kelas untuk satu mata kuliah! Kalau aku mengambil 8 mata kuliah (bobot 3 SKS) dalam seminggu, itu setara dengan belajar 40 jam secara mandiri. Kalau dibagi tujuh, itu berarti aku harus belajar mandiri 5 jam sehari. Apa iya aku dan kamu sudah belajar segigih itu? Mari merefleksi diri!

Tapi, kak, apa asyiknya belajar terus menerus? Kuliah jangan akademik doang, kak. Kita mesti bersosialisasi dan berorganisasi juga.
 
Jawabanku?
Oh, tentu saja boleh! Misal, kamu berkuliah hingga pukul 15.30, setelahnya kamu berorganisasi di kampus hingga pukul 18.00. Ya manfaatkanlah waktu istirahatmu dengan bersosialisasi secukupnya. Manfaatkan waktumu ketika menunggu bus, kereta, angkot dengan membaca-baca catatanmu. Daripada kamu bengong di kereta yang cukup lengang, mending kamu baca lagi bukumu. Sesampaimu di rumah, bebersih dirilah, makan malam, belajar sekitar sejam dua jam, lalu tidurlah. Sebelum subuh kamu baca materi lagi. Ribet? Memang begitu. Kuliah nggak gampang, Bung! Persaingannya ketat. Only those who survives will win. Kamu boleh menganggap remeh kuliahmu di jenjang strata satu, tetapi jangan coba-coba di jenjang strata dua. Berencana sekolah S-2? Singkirkan kebiasaan menunda pekerjan hingga titik terakhir kalau nggak mau meringis menangis. Seniorku yang S-2 saja mengeluhkan betapa banyak buku referensi yang harus ia baca untuk satu mata kuliah. 
 
Itu dia, guys. Aku cuma ingin mengingatkan kalian betapa kuliah itu menuntut kesadaran pribadi untuk belajar mandiri. Belajar itu nggak bisa cuma di kampus doang. Kamu mau tips belajar efektif? Sila cek video Simon berikut ini. Dia alumni Oxford jurusan Fisika. OXFORD, lho! The struggle is real, man. Hahahaha tipsnya dapat dipercaya, kok. 
 
Segini dulu untuk hari ini. Semangat untuk kalian yang akan memasuki dunia kuliah, semangat untuk kalian yang tengah berjuang menyelami perkuliahan, dan semangat untuk kita semua yang menjadi pejuang skripsi!

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

(*) Bahasa Portugis untuk selamat pagi

Friday, October 2, 2015

Mengejar mimpi hingga ke SOAS

Salah nggak kalau sehari lalu aku sibuk mantengin situs SOAS, channel Youtube SOAS, dan forum-forum yang berkaitan dengan SOAS? :)
 
SOAS menjadi mimpiku sekarang, bukan lagi Oxbridge. Bukannya aku khawatir tidak diterima oleh Oxbridge, melainkan jurusan pilihanku hanya ditawarkan SOAS dan Univ. Manoa. Language Documentation and Description sangat sesuai dengan cita-citaku sebagai peneliti bahasa. Cita-cita yang muncul karena membaca berita di Antaranews mengenai bahasa-bahasa daerah  yang nyaris punah. Cita-cita yang berkembang setelah mengikuti kuliah online tentang endangered language di Australia. Cita-cita yang mengantarku ke gerbang sastra Indonesia. ♡

Tak banyak yang mengenal SOAS, coba saja kamu tanyakan pada kawan-kawanmu mengenainya. SOAS memang tak sebesar dan tak seprestise Oxbridge, tetapi ia termasuk jajaran kampus terbaik Inggris. Menjadi bagian dari University of London, SOAS adalah kampus yang sangat layak untuk dipertimbangkan. Kalau mau menyebut-nyebut ranking universitas, SOAS duduk di urutan keenam terbaik se-United Kingdom. Sesuai namanya, School of Oriental and African Studies, SOAS merupakan kampus terdepan di bidang Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Perpustakaan SOAS dilengkapi koleksi yang luar bisa memadai mengenai ketiga daerah tersebut. Gegara koleksinya yang unik, SOAS dinobatkan menjadi perpustakaan riset nasional Inggris untuk bidang Asia, Afrika, dan Timteng. Jurusan humaniora, bahasa, dan hukum merupakan kebanggaan SOAS. Kelas pengajaran bahasa asing SOAS juga termasuk tingkat keenam terbaik di Inggris. Wah, jangan kau kira hanya bahasa-bahasa Eropa yang tersedia, bahasa Asia, Afrika, dan sekitaran Timteng juga berlimpah tiada terkira. Bagaimana dengan lingkungan kampusnya? Sebagian besar mahasiswa-mahasiswi SOAS berasal dari berbagai belahan dunia. Sebut saja India, Cina, Mesir, Amerika, Afrika, Thailand, juga Indonesia! Ah, pokoknya seru banget untuk kamu-kamu yang mendambakan kampus yang multikultural.  ♡

Kemarin aku mengubek-ngubek info mengenai alur pendaftaran, info matakuliah, fasilitas kampus, info tempat tinggal,  pengurusan visa, welcome week (freshers) student's union, dan societies yang ada di SOAS. Aku sangat excited menghadapi hari-hariku di sana seolah-olah kartu emas SOAS sudah berada tanganku.
 
Semoga mimpiku tidaklah berhenti di angan. Semoga jalanku menggapai mimpi dimudahkan oleh-Nya. Tahun depan aku akan berfoto di samping patung hijau emas Thiruva'l'luvar dengan senyum terkembang. InsyaaAllah. ♡

SOAS, tunggu aku! :)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Friday, September 18, 2015

Cinta vs Mimpi

Tulisan ini mengingatkanku akan sesuatu.

Jika cinta itu pengorbanan, apa lantas aku harus mengorbankan mimpi-mimpiku demi membersamaimu? Ini pertanyaan sulit yang hingga kini belum kutemui jawabannya. Ini pertanyaan yang kerap kugaungkan dalam benak andaikata kau memilihku untuk menjadi pendampingmu. Perlu kau tahu bahwa aku terbiasa mengorbankan sesuatu demi mengejar mimpiku. Kukorbankan kebersamaan dengan keluarga di Amerika dan memilih tinggal di Indonesia demi mengejar mimpiku. Kukorbankan waktu-waktu santaiku demi mengejar mimpiku. Aku takut, ketika hambatan itu datang di saat sedikit lagi jarak antara aku dan mimpiku, aku juga akan mengorbankan perasaanku; kamu.
 
Aku tidak ingin mengorbankan dirimu sedemikian jauh, tetapi aku juga tidak ingin mengorbankan mimpi yang telah kucita-citakan dengan matang. Aku tak lepas berdoa pada Allah agar diberi kemudahan dalam mencari pasangan hidup kelak. Entah dengan pemuda yang satu pemikiran denganku atau dengan pemuda yang bersedia mendukung mimpi-mimpiku. Untuk jawabannya, aku belum tahu. Toh, aku belum menikah. Akan tetapi, aku bisa merasakan perbedaan yang sekiranya akan aku dan kamu alami saat menikah nanti.

Barangkali menikah denganku bukanlah keputusan yang tepat bagi orang-orang yang mendewakan kedekatan jarak. Bisa saja aku melakukan perjalanan ke suatu daerah, memetakan bahasa di tempat itu, lalu pulang menyambutmu berminggu-minggu kemudian. Bisa saja aku meneruskan pendidikan ke jenjang doktor di sebuah universitas terkemuka di Inggris. Kau boleh ikut, boleh juga tidak. Bisa saja aku diutus kampus untuk mengajarkan bahasa Indonesia di suatu negara selama dua tahun lamanya. Kau boleh ikut, boleh juga tidak. Kalau boleh memilih, aku tentu berharap kau ikut denganku. Akan tetapi, adakah lelaki yang seperti itu? Dia yang bersedia mengikuti istrinya yang ditugaskan ke negeri yang jauh? Kurasa sedikit sekali, ya. Toh, alasannya pasti balik lagi ke kewajiban laki-laki, yakni menafkahi perempuan. Tak mungkin lelaki yang berpindah pekerjaan, mestilah perempuan. Tak mungkin lelaki yang undur diri dari pekerjaan, mestilah perempuan. Ya Allah, jika memang ada lelaki yang seperti bayanganku, tolong simpankan satu untukku.

Jadi, aku tak ingin menjanjikan apa-apa, bahkan perasaan juga tidak. Bisa jadi saat ini aku mencintai dan sangat menginginkanmu, tetapi saat perkenalan yang lebih serius nanti aku malah undur diri karena berbeda paham denganmu. Hal itu bisa saja terjadi dan mungkin sekali.

Maka dari itu, aku tak ingin menjanjikan apa-apa...

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, September 16, 2015

Diskusi melahirkan ide skripsi

Ternyata, aku hanya butuh diskusi. Hari ini aku bercerita dengan seorang dosen. Eh, tiba-tiba saja aku mengutarakan topik skripsi yang berniat kukubur dalam-dalam. Mengapa dikubur? Soalnya, aku merasa topik tersebut tidak ada kontribusinya sama sekali dan terkesan sebagai topik asal jadi demi memenuhi tuntutan skripsi. Yoman, aku nggak mau, dong! Lantas, dosen tersebut memberiku ide, "Bagaimana kalau kamu meneliti perkembangan kosakatanya saja, Nad? Coba cek KBBI 1--4, KUBI kalau perlu." Huwaaaaaw, keren juga ya, Bu! Yap, yap, segera kulaksanakan! Ini topik kesekian yang kudapat dari dosen. Sebelumnya, aku juga mendapat wawasan dan tawaran untuk mengerjakan beberapa topik dari dosen lain. Semuanya masih perlu pertimbangan, sih. Nah, untuk mengisi waktu, bisa tuh kukerjakan satu per satu. Toh, rata-rata korpusnya kamus. Bismillah, hap hap hap semangat! Senang, ya, berdiskusi dengan dosen! :)

Teman-teman, walaupun sekarang aku sedang mencicil topik yang berkenaan dengan kamus, mohon doakan aku agar mendapat ilham untuk penelitian lapangan, ya! Aku sangat-sangat-sangat ingin terjun ke lapangan dan meneliti secara langsung. :")

Semoga ilham itu segera datang! Aamiin.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, September 15, 2015

Pulang ke Amerika

Malam ini aku mimpi pulang ke Amerika. Aku memutuskan pulang di tengah tumpukan tugas. Di tengah batuk dan flu yang mendera beberapa hari ini. Di tengah kurs dolar yang lagi gila-gilaan. Tapi hanya seminggu.

Ketika aku bangun barusan, aku sadar aku begitu egois.

Egois dengan teman-teman kelompok yang kutinggalkan
Egois dengan ayah dan bunda yang membiayai tiket pulang dan pergiku
Egois demi kebahagiaan sendiri.

Tahukah kau biaya sekali perjalanan ke New York?
1300 USD sekali perjalanan, itu kalau naik Singapore Airlines.

1300 USD x Rp14.000,00? Rp18.000.000,00.

Gimana kalau PP? Hitung sendiri.

Ya pantas saja kubilang egois, kan. Menghabiskan puluhan juta cuma untuk pulang seminggu. Mending kalau sebulan.

Nah, kini kau tahu kenapa aku nggak pernah pulang lagi ke NY selama liburan. Kini kau juga tahu mengapa beberapa teman kuliahmu memilih mendekam di perantauan dibanding pulang ke kampung. Nggak mungkin pulang jika hanya merepotkan orang tua dan melepas rindu saja. Ada kawanku yang bilang, "Pulang itu mesti membawa kesuksesan biar yang di kampung senang."
 
Jadi anak rantau memang sulit, tetapi melatihmu mandiri.
Memendam rindu memang sulit, tetapi meningkatkan rasa cinta.

Semangat mengukir kesuksesan di negeri perantauan!
Semangatmu tak boleh pupus!
Ada mereka yang menanti dirimu mencapai cita
Ada mereka yang menunggu raut bahagiamu
Ada mereka pula yang tak henti mendoakanmu

Semangat mengukir senyum pada wajah-wajah mereka. :')

Penuh cinta,
Nadia Almira Sagitta

(Semangat Naaad, jangan kalah sama batuk, flu, dan tugas yang tak seberapa!)

Friday, September 4, 2015

Kuliah: minggu pertama

Minggu pertama kuliah. 

Hari Senin ada kuliah Pengajaran Bahasa dan kuliah Dialektologi. Dapat satu tugas. Dapat amanah menjadi ketua kelas yang mana akan bertanggung jawab terhadap fotokopian bacaan kuliah, yang akan dihubungi dosen, dan segala macam. Sudah biasa. Senin sore aku langsung memfotokopikan buku dialek.

Hari Selasa menuju perpustakaan demi mencari buku pengajaran bahasa dan tambahan buku dialektologi. Sorenya kembali lagi ke fotokopian.

Hari Rabu kuliah Kapseling. Didongengkan hasil-hasil riset secara menyenangkan. Dapat tugas kelompok. Rabu siang bertemu dosen untuk menemani teman berkonsultasi. Pada ujungnya, aku juga ikut berkonsultasi. Rabu sore menuju perpus untuk mencari buku bacaan untuk tugas Kapsel. Setelah itu, nongkrong di iMac dan mengunduh video-video The Ling Space.

Hari Kamis tepar di kosan karena kelelahan.

Hari Jumat semestinya menjadi hari jalan-jalanku dengan seorang kawan dan menghadiri seminar GUIM. Kawanku tak enak hati mengajakku berjalan-jalan bila aku harus berada di UI siang hari. Batal. Lalu mager di kosan sembari mencari-cari bahan untuk tugas. Batal menghadiri seminar GUIM. Memutuskan berangkat ke perpus untuk mengganti buku pinjaman karena buku yang dipinjam Rabu lalu tidak sesuai keinginan. Selepas itu, nongkrong di iMac demi mengunduh ebook sosiolinguistik dan banyak video OneWorldItaliano.

***

Maaf gaya penceritaannya monoton dan membosankan. Sengaja, biar sesuai dengan situasi. Ya, minggu pertama ini monoton sekali. Aku duduk di depan, berhadapan dengan dosen, dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku bahkan tidak sempat makan bareng kawan semingguan ini, tidak sempat bercengkrama lama dengan mereka, juga tidak sempat menanyakan kabar-kabar liburan. Padahal, ini baru minggu pertama perkuliahan. Padahal, semester ini tidak disambi skripsi. Ah, bagaimana nanti, ya?

Tegur aku bila kau berpendapat aku menjauh. Sungguh bukan maksudku. Hm, tampaknya merupakan keputusan yang salah mengambil mata kuliah linguistik tanpa mata kuliah hiburan semacam sastra dan bahasa asing. Jangan-jangan nanti aku jadi sosok yang serius! (bukannya sudah dari dulu?) Haha. ♡

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, September 1, 2015

Kamu sibuk apa sekarang?

"Kamu ambil berapa SKS semester ini?"
"Sembilan."
"Oh, berarti kamu skripsi, ya?"
"Nggak, sih. Semester depan, insyaaAllah."
"Jadi kamu nyambi (kerja)?"
"Hehe, nggak juga. Benar-benar kuliah aja."
"Oalah. Kenapa nggak belanja SKS aja?"
"Udah puas belanja empat semester kemarin. Hehe. Ini mau coba nyicil skripsi. Doakan, ya."
"Iya. Semangat, ya!"

Jadi kamu sibuk apa, dong?

Aduh, pertanyaan satu ini menohok sekali. Iya, aku memang nggak kerja, nggak magang, nggak ngajar, nggak skripsi, nggak berorganisasi, dan hanya berkuliah dua hari dalam seminggu. Selain itu, aku hanya mengikuti satu komunitas, yakni Faktabahasa Depok, tiap hari Minggu. Terlihat gabut, ya, bagimu? Mungkin iya. Akan tetapi, aku juga punya target semester ini. Aku mau menyeriusi bahasa-bahasa yang sempat kupelajari, khususnya bahasa Italia. Aku mau rajin dan tekun belajar untuk tiga mata kuliah semester ini. Pokoknya mesti straight A's! Aku mau belajar bahasa isyarat. Aku mau mendalami ilmu agama dengan mengikuti kajian-kajian islam. Aku mau banyak membaca buku dan skripsi. Aku mau meningkatkan kualitas diri dalam hal mengurusi rumah (memasak, beres-beres, dkk). Doakan, ya. Aku nggak gabut, kok, insyaaAllah.

Kamu sendiri sibuk apa semester ini? :)

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, June 23, 2015

Bad Mood

Okay. Baru bangun. Aaaaaaark, tiga puluh lima menit ĺagi untuk sahur! Masih stuck di rumah makan. Ramai...banget.

I'm not in a good mood today. Ada nilai not published di SIAK-NG. Mulanya aku santai-santai saja dan optimis nilai A- di tangan. Toh, UTS-ku kemarin lumayan. Jeng jeng, aku iseng membuka detail matkul not published itu. Hasilnya...

79.2

Like...SERIOUSLY?
Man, tinggal 0.8 lagi aku nyentuh posisi A-! Apa yang kulakukan hingga nilai UAS tidak sesuai harapan? Dan lagi, ada apa dengan nilai tugas? WHYYYYY? Nilainya memang belum keluar, tetapi kalau perhitunganku benar...oh my, rusak. Dua matkul sebelumnya telanjur melambungkan hatiku dan yang ini menyusutkannya. Masalahnya, aku tak yakin dengan nilai-nilai lain. Matkul sisanya killer semua. Please, ini huruf terakhir yang mewarnai SIAK-ku. IP dan IPK jangan turun, kumohon...

Sigh,
Nadia Almira Sagitta

Friday, June 12, 2015

Ujian terakhir

So, hari ini ujian terakhirku. Menulis makalah mengenai perkembangan bahasa Indonesia dalam surat-surat yang ditulis sebelum tahun 1972 (peresmian Ejaan Yang Disempurnakan). Semalam aku ketiduran dan tidak sempat mengerjakan tugas. Pas bangun, tahu-tahu sudah pukul 09.30. (ketawa miris) Panik abis karena kerangka makalah masih berada dalam pikiran dan belum diejawantahkan dalam tulisan. O em jiiii. Singkat cerita, makalah itu selesai juga pukul 15.40. Tenggat pengumpulannya pukul 16.00. Same as yesterday, aku lari-lari cari ojek dan lari-lari lagi ke tempat fotokopian untuk mencetak tugas. Di tengah-tengah proses nge-print, temanku bilang ujiannya sudah diambil. Demi apa... dosenku ini killer abis, kalau benar sudah diambil maka tamatlah riwayatku. Bayang-bayang mesti ngulang tahun depan nyaris buat aku nangis. Aku segera mengirim SMS ke beliau menanyakan perihal makalah dan meminta maaf karena aku terlambat. Beliau balas, "Belum saya ambil." What a relief! Alhamdulillaaaah. Yey, makalahku mendarat dengan manis di gedung VII. Hah, nggak lagi-lagi deh, Nad! Sudah cukup sport jantung dua minggu ini. -____-

Eh, aku baru tersadar kalau kampus sepi hari ini. Memang tak ada perkuliahan lagi. Hm, mana teman-temanku sudah pulang semua. Mesti ke manakah daku? Masa pulang? Sayang uang ojeknya. Kuputuskan pergi ke Margo City seorang diri. Dan di sinilah aku, di food court Margo mengetikkan cerita ujian terakhirku ini. 

Hm, ciao, ciao!
Selamat bermalam Sabtu, kamu. ♡

Wednesday, June 10, 2015

Semester enam

Tak terasa semester enam 'kan berakhir Jumat ini. Lantas, kita kembali ke perantauan masing-masing bersama sejumlah rencana yang akan dijalankan selama liburan.

Ada yang sibuk bekerja, ada yang sibuk menjadi panitia, ada yang sibuk memikirkan topik skripsi, ada yang sibuk jalan-jalan, ada yang sibuk mengurusi keluarga di rumah, dan lain-lain.
 
Kemudian semester tujuh datang menyapa kita. Ia menawarkan tiga pilihan: filologi, sastra, dan linguistik. Pilihan-pilihan itu kemudian memisahkan kita menjadi tiga blok. Mulailah kita berjuang sendiri-sendiri. Menjalani rencana hidup yang telah disusun matang. Mungkin akan ada yang sibuk skripsi. Mungkin akan ada yang sibuk mengejar ketertinggalan di semester lalu. Mungkin juga akan ada yang mengambil cuti demi menjalani cita-cita yang sempat terbengkalai.
 
Intensitas perjumpaan kita tak lagi sama
Jadwal kuliah kita berbeda
Kesibukan kita berbeda
Tiga tahun kebersamaan berlalu secepat kilat
Pada titik inilah baru aku tersadar
Ternyata aku takut...akan perpisahan
Dengan kalian, dengan para dosen, dengan kampus
Ternyata benar kata orang-orang
Sesuatu baru terasa berharga ketika ia sudah tak ada.

/>~<\ Bisakah semester ini diperpanjang sebentar lagi?