Sunday, February 7, 2016

Kepada Mantan Sahabatku

Aku sungguh bingung dengan sikapmu belakangan ini. Kaulah yang ambil langkah untuk memutus tali cinta dengan sahabatku. Kau bilang hidupmu akan berjalan baik-baik saja tanpanya.

Lalu kau pergi dengan segala ketidakpekaanmu. Meninggalkan sahabatku galau berhari-hari. Belum cukup kau patahkan hatinya, kau kembali datang seolah tidak ada apa-apa. Kau kembali menelepon dia di malam hari. Chatting-an. Bikin puisi. Menggodanya lagi. Sahabatku tentu saja gembira dan sukarela menerima kedatanganmu. Aku tahu hatinya luka, tetapi setitik harapan masih terpancar jelas dalam tatapannya. Hatinya kau ombang-ambingkan sekenamu. Heh, kau kira siapa yang menemani dan menghiburnya ketika ia galau? Aku. Kau? Mana peduli. Dasar laki-laki hilang rasa, tidak peka!

Dan tadi, sahabatku mengeluhkan sikapmu yang terkesan tarik-ulur. Maumu apa? Putus ya putus, nggak usah berlagak pacar. Jawabanmu apa?

"Ah, hati yang patah gampang disembuhkan."

WHAT THE HECK?

Nggak punya rasa malu, Mas? Boleh kusebut kau brengsek?
Pergi sana! Nggak perlu mencoba memenangkan hatinya kembali. Keterlaluan sekali sikapmu itu. Salahmu sendiri meninggalkan dia. She deserves better man, and he's not you. Ngaca, Mas. Memangnya kau sehebat apa?

Saturday, February 6, 2016

Masalah

Merasa sehati dengan novel Pasung Jiwa.

"Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan." (Masita, Pasung Jiwa)
--

Maka bacalah sastra! Seringkali kegamangan perasaan menemui solusinya dalam rangkai kata para peramu aksara.*

*meminjam istilah dari @fadlillahocta

Ssst!

Psssh, keep it to yourself.
--

Suara-suara. Ribut. Dengung. Berisik. Rahasia. Senyap. Pendam. Hati. Suara-suara. Menunggu. Disuarakan. Ocehan. Gaduh. Etika. Bising. Sendiri. Dalam. Simpan. Privasi. Sunyi.

--

Ssst!

Lebih Bersinar

Heh, I finally did it!

Dasar kocak kau, Nad. Dari SMP begitu mulu sampai sekarang. Ahahaha, ya gimana, kepribadian orang berbeda, itu juga yang menjadikan tiap orang unik. Beberapa kejadian silam membuatku sadar, "Terlalu sekali perasaanku sampai selalu tumpah dari wadah."

Beruntung kali ya orang yang menikah sama aku, bakal diromantisin mulu tiap hari. Hahaha. Udah ah, jangan pikir cinta dulu. Syarat LPDP diperketat, mamen! Gimana mau daftar kalau pikiran nggak fokus melulu? Maka, aku berharap semalam bisa benar-benar menetralkan perasaan dan menjernihkan pikiran.

Nanad yang lucu, ceria, baik hati yang selama ini kalian kenali akan segera kembali, cihuy! Bosan juga ditanyain, "Nanad kenapa? Nanad jangan sedih... Aku nggak rela lihat Nanad sedih, sini aku nikahin (?)" Wkwk yang terakhir canda wey, nggak ada yang ngomong gitu. :p

Umur 21 itu waktu-waktunya bersinar kan, ya? Udah 2016 juga lagian, mesti jadi pribadi yang lebih bersinar. Tahun kemarin sudah menolak kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi mapres. Tahun ini semoga bisa mengejar segala ketertinggalan, semoga bisa maju ke kursi terdepan fakultas di balairung pada Agustus nanti. Aamiin, insyaAllah, walaupun nggak yakin juga, sih. :D

Atau maju jadi pemakalah setelah selama ini kekeuh mengakui kemampuan diri belum cukup. Come on, sudah berapa seminar kau hadiri, masa nggak ada ide juga? Alasan. ^^

Intinya gitu. Cinta seharusnya tidak menghambat produktivitas. Jika kau merasa terhambat, barangkali itu bukan cinta yang benar.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Friday, February 5, 2016

The Art of Masturdating - Buzzfeed

https://youtu.be/IbVFqUIkeCU

Hahaha, jadi ingat sewaktu keliling Jogja seharian dan mampir ke sebuah kafe es krim untuk istirahat.
P = pelayan
A = aku

P: Selamat malam, meja untuk berapa orang?
A: Malam, satu orang.
P: (ngasih tatapan lucu) Satu? Sendiri aja ya, Mbak?
A: Hehe, iya.

Kafenya romantis amat. Outdoor, meja-kursi kayu, lilin, dan musik jazz. Plus, saat itu malam Minggu. Tetangga kiri-kanan pada bawa keluarga dan pasangan, wkwkwk. Agak keki, sih, tetapi santai aja, lah. I really enjoy masturdating~ self care won't hurt. Terkadang, kita butuh waktu untuk sendiri: jalan-jalan sendirian, nonton bioskop sendirian, makan di restoran sendirian, dll. Sendirian tidak selalu berarti kesepian. ;)

Thursday, February 4, 2016

Wednesday, February 3, 2016

Berteman

I: Temen aja, ya?
H: Iya, ya udah temenan aja.

(padahal saling suka, padahal sudah merangkai mimpi-mimpi manis)

I dan H kemudian menjaga jarak. Lama, hingga bertahun-tahun lamanya. Pada tahun-tahun yang sepi itu, I dan H bertransformasi menjadi dua sosok yang berbeda. H lalu datang lagi, mencairkan suasana yang selama ini beku. Kali ini, ia tidak sendiri.

H: Selamat ulang tahun. Semoga kebaikan selalu terlimpahkan padamu.
I: Aamiin. Terima kasih. Semoga kau juga.
...
I: Bagaimana kuliahmu?
H: Sedang sibuk ini dan itu. Kau?
I: Sama, sedang mempersiapkan itu juga. Eh, semoga langgeng, ya.
H: Eh, oh, iya terima kasih.
...

Rasanya aneh sekali. Dulunya bisa bercerita apa saja, sekarang seolah ada sekat yang membatasi mereka berdua. Disapa belum tentu dibalas, dikomentari belum tentu ditanggapi, tetapi mereka saling memperhatikan dalam diam. Hanya saling ingin tahu keadaan masing-masing. Baik-baikkah ia setelah berpisah?

Kau tahu, putus cinta memang meninggalkan kekakuan yang tak terdefinisikan. Jangan terlalu banyak menjalin hubungan. Sesuatu yang hilang, selamanya hilang, walaupun sesuatu itu kembali lagi. Jangan banyak-banyak meninggalkan kekosongan dalam jiwa.

Luv,
Nadia Almira Sagitta