Showing posts with label patah hati. Show all posts
Showing posts with label patah hati. Show all posts

Sunday, February 7, 2016

Kepada Mantan Sahabatku

Aku sungguh bingung dengan sikapmu belakangan ini. Kaulah yang ambil langkah untuk memutus tali cinta dengan sahabatku. Kau bilang hidupmu akan berjalan baik-baik saja tanpanya.

Lalu kau pergi dengan segala ketidakpekaanmu. Meninggalkan sahabatku galau berhari-hari. Belum cukup kau patahkan hatinya, kau kembali datang seolah tidak ada apa-apa. Kau kembali menelepon dia di malam hari. Chatting-an. Bikin puisi. Menggodanya lagi. Sahabatku tentu saja gembira dan sukarela menerima kedatanganmu. Aku tahu hatinya luka, tetapi setitik harapan masih terpancar jelas dalam tatapannya. Hatinya kau ombang-ambingkan sekenamu. Heh, kau kira siapa yang menemani dan menghiburnya ketika ia galau? Aku. Kau? Mana peduli. Dasar laki-laki hilang rasa, tidak peka!

Dan tadi, sahabatku mengeluhkan sikapmu yang terkesan tarik-ulur. Maumu apa? Putus ya putus, nggak usah berlagak pacar. Jawabanmu apa?

"Ah, hati yang patah gampang disembuhkan."

WHAT THE HECK?

Nggak punya rasa malu, Mas? Boleh kusebut kau brengsek?
Pergi sana! Nggak perlu mencoba memenangkan hatinya kembali. Keterlaluan sekali sikapmu itu. Salahmu sendiri meninggalkan dia. She deserves better man, and he's not you. Ngaca, Mas. Memangnya kau sehebat apa?

Friday, November 13, 2015

Berhentilah

Allah, tidak bisakah Engkau berhenti memberiku kejutan tentang dia? Aku tahu aku tidak bisa bersamanya maka sudahilah segala kenyataan ini. Tak perlu Engkau tegaskan aku berulang kali. Tak perlu Engkau suguhkan fakta-fakta yang selalu membuatku merasa, “Wah, kebetulan sekali!”, “Wah, dia lebih cocok bersama dia, ya?”, dan segala wah yang lain. Sakit…sekali. Aku pusing menyikapi kejutan-kejutan ini. Hatiku sungguh tidak siap. Fakta-fakta unik datang silih berganti dan menyakitkan hati.

Semua ini membuatku merasa semakin ciut saja. Semakin merasa…ya sudahlah. Aku semakin didorong untuk melepaskan dan merelakan. Dia jauh…jauh lebih pantas bersama dengan yang sepadan dengannya. Orang itu jelas bukan aku, melainkan (barangkali) dia. Maka pasangkan saja.

Skrip sandiwara-Mu lucu sekali, ya Allah. Baru kali ini aku dibuat tak berdaya dan termangu berulang kali.

DUNIA INI SEMPIT.

Sempit sekali sampai-sampai aku mengenali para pemeran yang bermain dalam tonil cinta mahakarya-Mu.

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Monday, November 2, 2015

Waiting For Yesterday

Day-eh-ay
You and me, all alone girl
What’s going on, would you tell me what’s wrong
It’s like you’re locked up in your own world
Oh-oh with nothing to say

You keep me guessing but I see in your eyes
He made you promises but gave you lies
You’re shutting down cuz you’re so sure
That I’ll be another mistake

[Chorus:]
I know that he left you in pieces
You know that I won’t be that way
I’m not gonna treat you like he did
Oh-oh whatever it takes
You think history is repeating
You keep on pushing me away
Oh but nothing gonna change
Waiting for Yesterday-eh-eh
Day-eh-eh, Day-eh-eh

Is it worth it any longer?
You’re so scared to fall in again
Yesterday can make you stronger
So why do you feel alone?
You know I love you better than he ever did
This could be all you ever needed
Hold on to me and just remember
Oh no, never let go

[Bridge:]
I’m the on for you tonight
I’m the one for forever
If it takes a little time (Whatever it takes, whatever it takes)
I’m the on for you tonight
I’m the one for forever
If it takes a little time (Whatever it takes, whatever it takes)

--
Masih nunggu pemuda yang mengatakan hal ini, "I know that he left you in pieces. You know that I won’t be that way. I’m not gonna treat you like he did." Iyes, lho, mau banget ketemu pemuda cem begini. Yang serius aja, bukan yang main-main. Kemarin aku dapat cerita soal putusnya temanku dengan si pacar. Dia bilang, "Udah ah, nggak mau pacaran dulu. Masih sakit hati." 

Banyak laki-laki berjanji nggak bakal menyakiti, tetapi ujung-ujungnya mah...huft. He made you promises but gave you lies. Wajar aja perempuan trauma. Benar-benar left in pieces. Ah, emang nggak ada cinta yang sejati kalau belum diseriusi. Pukpuk. Semangat ya, temanku, insyaaAllah ada pengganti dirinya yang jauh lebih baik. Kata sahabatku yang lain, "Hargai dirimu sendiri. Jangan terus-terusan membuat hati dan ragamu terluka." Nah, jangan sedih terus. Kamu lebih berharga dari apa yang kamu perkirakan. Kalau dia cuma bisa bikin kamu nangis, udah tinggalkan aja. Emang kamu mau hari-hari pernikahanmu nanti diselingi tangis? Aduh, aku sih nggak tega sama kamu...

Wahaha, sok tahu bener ya aku menasihati kamu padahal aku sendiri masih berjuang menyembuhkan luka. Kemarin aku menerima hasil pemeriksaan draf makalah akhirku. Dosenku sampai bilang, "Nad, kenapa? Masih banyak yang harus direvisi." DUH. Bisa kau bayangkan betapa murungnya aku seharian itu. Hancur, yes. Draf itu memang aku kerjakan dengan sedikit ogah-ogahan karena masih dalam masa patah hati. Jadinya apa? Jadinya nggak sempurna! Sebal.

Hati-hati kalau kamu jatuh cinta.
Cinta bisa menghunuskan pedangnya tepat ke ulu hati.
Hati-hati kalau kamu jatuh cinta.
Jangan sampai jatuh terlalu dalam, nanti kamu tak bisa merangkak ke luar.

Kamu boleh jatuh sejatuh-jatuhnya pada orang yang tepat. Sementara ini, tahanlah dulu. Dia yang kau taksir belum tentu tepat untukmu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, October 22, 2015

Masih latar yang sama

5 April 2014 

Seorang kawan berkata padaku di hijaunya rerumputan klaster, "Aku turut senang dengan kehadirannya di hidupmu."

Ia senang lantaran aku tersenyum berbunga-bunga karena cinta. Aku dan dia lantas melempar pandang ke seberang. Ke danau. Kami diam menikmati semilir angin dan hangatnya mentari. Sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Memikirkan cinta yang diharap akan abadi.

2015

"Aku tidak suka kamu bergalau ria karena dia. Lupakan. Tidak ada gunanya ini semua."

Masih di klaster. Masih ada angin yang bertiup pelan. Masih ada mentari, walaupun sinarnya tak lagi lembut. Masih ada rumput, meskipun warnanya tak lagi hijau. Masih ditemani oleh kawan yang sama. Masih kamu yang menjadi topik perbincangan kami. Bedanya, tidak ada senyum pada wajahku. Tidak ada tatapan bahagia yang diberinya, tetapi pandangan yang justru menaruh kasihan.

Aku tersedu di lapangan rumput FIB UI. Aku luruh dan jatuh, hilang arah dan pegangan. Aku membiarkan semua pengunjung klaster menatapku bingung. Barangkali ada juga yang ikut menguping ceritaku. Tidak, aku tidak lagi peduli. Yang kupikirkan hanya aku dan waktu.

Betapa rentang setahun dapat membuatku beralih rasa.
Betapa rentang setahun dapat mengubah dukungan menjadi desakan.
Betapa rentang setahun dapat membuat seseorang yang dulu merentangkan senyum pada bibirku malah mengurai sendu pada wajah indahku.
Dan aku membiarkannya. 

--
Ditulis tanggal 22 Oktober 2015
Tidak mengandalkan sesak dan sakit, hanya ingatan.
Ingatan bahwa aku pernah terperosok seperti itu.

Tuesday, October 13, 2015

Air mata

Aku bukanlah gadis remaja yang mudah menangis. Dulu, aku mengubah semua kesedihan hati menjadi kekesalan. Uring-uringan. Enggan sekali menitikkan air mata. Bagiku, air mata hanya diperuntukkan bagi orang-orang cengeng sementara aku tidaklah cengeng. Begitulah pikirku dahulu. Oh ya, air mata juga hanya dikeluarkan ketika ada yang meninggal, itu saja. Tatkala aku melihat orang-orang menangis karena cinta, aku cuma bisa tertawa dalam hati. Mengapa berlebihan sekali? Ketika aku patah hati saat SMP, aku hanya linglung beberapa waktu dan bertransformasi menjadi perempuan yang lebih kuat. Benar, kan, aku tidak cengeng?

Selang beberapa waktu berlalu, pradugaku ternyata salah tentang kecengengan diri. Dulu mudah saja berkata seperti itu ketika belum jatuh cinta benar-benar. Dulu masih cinta iseng ala-ala remaja tanggung. Memasuki dunia SMA, memasuki dunia baru penuh cinta yang mekar. Aku jatuh cinta tiga kali. Aku menangis empat kali. Bahkan, cinta terakhir kala SMA masih menyisakan derita hingga hari ini. Air mataku berebutan mengaliri pipi seperti tsunami. Tidak berhenti-berhenti. Ditinggal dan meninggalkan ternyata rasanya sakit sekali. Ditinggal dan meninggalkan ternyata membuat hari dan hatimu kopong. Bagaikan mayat hidup aku menjalani hari-hari, sampai-sampai kawanku bertanya apa yang terjadi. Akulah raga yang baru saja kehilangan jiwa dan hati, kataku. Ah, aku baru menyadari aku cengeng. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan diriku yang dahulu. Sebabnya cinta, itulah dia.

Kala memasuki usia dewasa muda di akhir perkuliahan ini, aku tak pernah berharap akan merasakan sakit hati yang serupa lagi. Namun, takdir hidup tetap berjalan sesuai kehendaknya. Jikalau memang harus patah, pastilah patah. Maka aku tergugu lagi, sulit bicara. Aku duduk terpaku lagi, sulit mencerna kata-kata. Bukan sekali dua kali aku menangis. Banyak sekali, jauh lebih banyak daripada kala SMA dahulu padahal subjeknya kini hanya satu. Oh, tak aku lupa, yang dulu-dulu juga ikut menyumbangkan kegetiran hati. Aku terus menangis sampai stok air mataku habis. Pernahkah engkau mengalami kesedihan luar biasa sampai-sampai tak sanggup untuk menggerakkan kelenjar lakrimal yang bertanggung jawab atas air mata? Inilah aku, pagi ini. Pada puncak kesedihan, aku hanya bisa tersenyum getir karena sudah terlalu payah untuk menitikkan air mata. Barangkali diri ini sudah kebal merasakan sakit sehingga air mata tak lagi mendesak keluar.

Aku lelah, Ya Rabb.
Aku tak ingin menangis lagi.

Aku memohon pada-Mu, berilah aku ketegaran seperti masa remaja mudaku dahulu.

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Friday, June 26, 2015

Don't let it crush you

Ha lucu. Temanku menangkap ketidakberesan diriku melalui status yang kupasang.
"Kamu kenapa?"
"Nggak, nggak apa-apa."
"Kamu sedang patah hati, ya?"
"Wkwk."
Mengalirlah ceritaku kemudian ganti ia bercerita. Ternyata, ia pun merasakan hal yang sama. Kami saling menyemangati. You can pass this test! Tetiba aku merasa lucu. Bagaimana mungkin aku menyemangati seseorang atas masalah yang juga sedang kuhadapi? Akan tetapi, semangat itu membuncah begitu saja. Barangkali karena kami senasib sepenanggungan. :)

Siapa pun kamu, di mana pun kamu berada, don't let this feeling ruin your life. We're still young and free, and there's plenty of fish in the sea! Kalau bukan jodoh, ya begini rasanya. Hadapi dengan senyuman walaupun tangis membayang di belakang. Kau boleh jatuh, tetapi kau pun harus bangkit. Jadi, jangan sedih berlama-lama. :)

Ada satu lagu Buzzfeed yang aku suka. Judulnya Can't Crush Me. ♡
I'm not gonna let this crush just crush me
I'm just gonna run cause you don't love me
I'm not gonna let this crush just crush me
You don't know me, you don't own me

Yes! He doesn't own you, girl. Maka dari itu, jangan kau biarkan ia menghancurkan hidupmu. Don't let him crush you. Lah, dia siapa? Pacar bukan, tunangan bukan, suami bukan. Wkwkwk. :)

Dia tak pantas untukmu.
Dia pantas untuk orang lain, tetapi bukan kau.
You deserve someone better than him.
Percaya itu.
Camkan ini, "Jodohku lebih baik dari dia, jodohku lebih baik dari dia."
Hahaha, mantra ini kudapatkan dari seorang senior di kampus dan kurasa ia benar juga. :)

Give everyone your best smile, girl!
You rock it.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, June 14, 2015

New Romantics

'Cause, baby, I could build a castle
Out of all the bricks they threw at me
And every day is like a battle
But every night with us is like a dream

Baby, we're the new romantics
Come on, come along with me
Heart break is the national anthem
We sing it proudly
We are too busy dancing
To get knocked off our feet
Baby, we're the new romantics
The best people in life are free

Kalau boleh dibilang, ini lagu nasional orang-orang patah hati. Do not take relationship too seriously because we're still young and free! Taylor Swift mengalami banyak perubahan beberapa tahun belakangan. Dulu lagu-lagunya menceritakan kisah yang manis. Lihat saja album Fearless dan Speak Now. Wah, penuh lagu cinta yang berbunga-bunga. Love Story, Enchanted, You Belong With Me, Forever and Always, Mine, dan Sparks Fly. Album Red berisi tentang cinta merah membara sekaligus menoreh luka. Banyak lagu patah hati dan sedih di album Red. Hal itu mungkin dipengaruhi kabar putusnya ia dengan Harry Styles. We Are Never Ever Getting Back Together, I Knew You Were Trouble, All Too Well, dan I Almost Do sudah cukup menggambarkan keseluruhan tema album ini. Albumnya yang terakhir bercerita tentang proses move on. Lagunya galak. Nadanya juga upbeat banget. 1989 sangat berbeda dengan ciri country yang selama ini melekat pada Taylor Swift. Yea, cinta bisa mengubah orang. Apalagi kalau hatinya dibuat patah. Hahaha, aku jadi ingat suaraku mendadak lantang gegara patah hati saat SMP. Guru sejarah SMP-ku sering meminta kami membacakan isi teks buku. Satu ketika, aku baru tahu orang yang kutaksir tiba-tiba pacaran dengan orang lain. Masalahnya, he knew my feeling towards him. Memalukan, nggak? Iya, dong. Beberapa hari setelah itu, Bu Nur memintaku membaca. Kelas hening. Aku membaca dengan lantang. Seolah-olah marah. Entah marah kepada siapa. Yang kupikirkan saat itu hanya, "Aku nggak mau terlihat patah hati. I'm strong enough." Begitulah. Aku juga sempat berubah galak pada laki-laki.

Sayang, sejak SMA, pertahananku runtuh hingga hari ini. Dulu aku termasuk orang yang tegar. Jarang nangis karena gengsi. Kalau ada film atau bacaan tentang cinta atau orang tua, aku tidak menangis. Konyol saja, menurutku. Kusangka teman-temanku mengira hatiku terbuat dari batu. Akan tetapi sejak SMA dan kumengenal cinta (lagi), pribadiku berubah sepenuhnya. Aku jadi sensitif dan mudah menangis. Mungkin ini akumulasi dari air mata yang bertahun-tahun kutahan. 

We're so young but we're on the road to ruin
We play dumb but we know exactly what we're doing
We cry tears of mascara in the bathroom
Honey, life is just a classroom

Life is just a classroom, hon. Every love is a lesson. Patah hati tidak lantas menjadikan bumi berhenti berputar, kan? Yuk, semangat lagi! :)))

Luv,
Nadia Almira Sagitta

sumber gambar