Sunday, May 25, 2014

Rontok

Oh, tidak! Rambutku rontok! >v< 
Banyak sekali. :(
Mesti beralih ke sampo apa lagi? TvT
Assalamualaikum dan selamat sore, Tuan. Buonasera.

Bagaimana kabarmu hari ini? Baiknya aku bercerita terlebih dahulu, ya. Pagi ini aku terlambat bangun. Siangnya saya menuju Masjid UI untuk menghadiri rapat. Setelah itu, aku pulang ke kos dan menonton film. Monoton, ya? Hehe, mungkin akan lebih seru kalau kau ada di sampingku. :P Eh, iya, ada kalimat favoritku dalam film Letters To Juliet dan Princess Diaries 2. Ini dia!

"Leaving London will be a pleasure as long as you are waiting for me on the other side." (Charlie, Letters To Juliet)

Tiba-tiba, aku berpikir akan meninggalkan cita-citaku S-2 di luar negeri dengan sukarela selama kau menungguku di tanah air. Kyaaa, tidak boleh begitu! :P It will be better if you come with me to London, accompany me until I finish my study. Haha, I'm an egoist one. 

Lanjut ke film kedua, ya.

"What is your dilemma, young man?"
"You are, in fact. I'm in love with the queen-to-be. And I'm inquiring if she loves me too." (Princess Diaries 2)

Kyaaaa, Tuan! Ini romantis, kau tahu? Well, mungkin kita tidak akan menjalani skenario persis seperti itu. Pertama, aku bukan seorang ratu. Kedua, rasanya kau tidak mungkin menggombal selama kau dan aku belum menikah. Aku pun tidak berharap seperti itu. :P But, I do love man who always say and express his love to me. <3
Apakah kamu percaya takdir, Tuan? Apakah pertemuan kita merupakan takdir dari-Nya? Saya harap begitu. Sekian dulu, ya. Calon ratumu ini hendak mengerjakan makalah BBI. Wish me luck! :) 

Friday, May 16, 2014

Kau tak pernah tahu apa yang sedang mengintaimu
Waspadalah, waspadalah!





Kasus pemerkosaan marak diperbincangkan. Aku khawatir akan keselamatan diriku sendiri. I need my family besides me...and I need you to be my life partner. 

Sunday, May 4, 2014

Newcomer!

"Aku turut senang dengan kehadirannya di hidupmu."


Begitu kata seorang sahabatku di padang rumput FIB. Saat itu, kami sedang menikmati makan siang ditemani sepoi-sepoi angin danau. Aku bercerita dengan eskpresif mengenai pertemuanku dengan sesosok lelaki yang, perlahan, merasuki hatiku. Ia mencoba memugar hati yang sempat runtuh. Sosoknya tanpa sengaja membuatku tertunduk malu disertai warna pipi yang merona secara tiba-tiba. Lelaki itu memiliki inisial nama pertama yang sama denganmu. Wajahnya pun sedikit-banyak memiliki kemiripan dengan wajahmu. Jawa tulen. Jangan salahkan aku, ya! Aku tidak merencanakan ataupun meminta pertemuan dengan "kloning"-anmu. :p 

Just the way I am

"'Cause you are amazing
Just the way you are..."


I listen to this song when I open one of my best friend's blog. Suddenly, I remember your face. I remember our time together. We were such little teenagers. That stupid-cute-moment, well worth to have anyway.  How are you out there? I miss you ... as my best buddy. Do we still be friends?

Sunday, April 6, 2014

Ada rasa hangat yang menjalar ketika kubaca ulang tulisanku mengenai mimpi kedelapan. Rasa damai itu kembali merasuk, membuatku pipiku merona merah, menarik kedua ujung bibirku membentuk lekuk senyuman. Aku pernah memimpikan keluargamu.

Wednesday, April 2, 2014

Vivo per Lei

Vivo per Lei da quando sai
La prima volta l’ho incontrata,
Non mi ricordo come ma
Mi è entrata dentro e c’è restata.
Vivo per Lei perché mi fa
Vibrare forte l’anima,
Vivo per Lei e non è un peso.

(Andrea Bocelli)

Tersentuh, aku menangis. Aku tak tahu, apakah ini pengaruh lirik yang begitu indah atau karena perasaanku sedang begitu sendu. Aku masih ingat ketika pertama kali berjumpa denganmu. Kau begitu cerewet dengan botol Coca-cola dan permen Mentos. Pertemuan itu meninggalkan kesan lucu di hatiku. Hingga lama-kelamaan sosokmu mendekam di sana untuk beberapa lama. 

Lei è di tutti quelli che
Hanno un bisogno sempre acceso,
Come uno stereo in camera,
Di chi è da solo e adesso sa,
Che è unico per Lei, per questo
Io vivo per Lei.

Kamu, sosok yang begitu periang, akrab dengan semua orang, aktif di segala lini. Kamu milik semua orang. Terlalu picik jika aku menganggapmu milikku seorang. Padahal kau pun tak pernah menyadari keberadaanku. Pernah sekali waktu, kita dekat. Dekat sebagai sahabat. Bertukar canda dan tawa, berbagi resah dan luka. Kemudian, bunga-bunga itu perlahan layu. Kau ditarik oleh waktu, kau dipisahkan dariku. 


è un dolore quando parte.
Vivo per Lei dentro gli hotels.
Con piacere estremo cresce.
Vivo per Lei nel vortice.
Attraverso la mia voce
Si espande e amore produce.

Aku tak lagi menemukan padang bunga di jejaring sosial. Aku tak lagi menemukan dirimu di aplikasi VoIP yang sempat membuat kita dekat. Aku tak lagi menerima pesan darimu. Retak, kau tahu? Sedang kau tampak bahagia di pulau sana. Aku tak mungkin mengusik kebahagiaanmu dengan rengekan dariku yang meminta kau kembali untukku. Tidak. Aku hanya dapat mengirim rindu ketika menjejaki daerahmu. Merindu ketika membuka-buka percakapan kita yang telah lalu. Aku tak menyadari perbuatan itu menggerogoti diriku perlahan-lahan. Merampas raut bahagia di wajahku untuk beberapa waktu.


Vivo per Lei perché mi da
Pause e note in libertà
Ci fosse un’altra vita la vivo,
La vivo per Lei.

Hingga kini, aku belum melupakanmu sepenuhnya. Rasa itu memang telah pudar, tetapi aku tak bisa melupakan jasamu yang mengantarku ke gerbang ini. Takdir itu memang nyata Tuan, ada atau tidaknya hadirmu, ia tetap akan berjalan sebagaimana mestinya. Namun, kau perantara yang dikirimkan Tuhan untuk membantuku berdiri di sini. Terima kasih atas pendewasaan diri yang kau ajarkan tanpa kau sadari. 


Juga, terima kasih atas sapaanmu sehari lalu. Aku bangga dengan diriku yang mampu bersikap normal di hadapanmu. Thanks to Allah, He helps me to move on. ^^