Showing posts with label Universitas Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Universitas Indonesia. Show all posts

Friday, September 4, 2015

Kuliah: minggu pertama

Minggu pertama kuliah. 

Hari Senin ada kuliah Pengajaran Bahasa dan kuliah Dialektologi. Dapat satu tugas. Dapat amanah menjadi ketua kelas yang mana akan bertanggung jawab terhadap fotokopian bacaan kuliah, yang akan dihubungi dosen, dan segala macam. Sudah biasa. Senin sore aku langsung memfotokopikan buku dialek.

Hari Selasa menuju perpustakaan demi mencari buku pengajaran bahasa dan tambahan buku dialektologi. Sorenya kembali lagi ke fotokopian.

Hari Rabu kuliah Kapseling. Didongengkan hasil-hasil riset secara menyenangkan. Dapat tugas kelompok. Rabu siang bertemu dosen untuk menemani teman berkonsultasi. Pada ujungnya, aku juga ikut berkonsultasi. Rabu sore menuju perpus untuk mencari buku bacaan untuk tugas Kapsel. Setelah itu, nongkrong di iMac dan mengunduh video-video The Ling Space.

Hari Kamis tepar di kosan karena kelelahan.

Hari Jumat semestinya menjadi hari jalan-jalanku dengan seorang kawan dan menghadiri seminar GUIM. Kawanku tak enak hati mengajakku berjalan-jalan bila aku harus berada di UI siang hari. Batal. Lalu mager di kosan sembari mencari-cari bahan untuk tugas. Batal menghadiri seminar GUIM. Memutuskan berangkat ke perpus untuk mengganti buku pinjaman karena buku yang dipinjam Rabu lalu tidak sesuai keinginan. Selepas itu, nongkrong di iMac demi mengunduh ebook sosiolinguistik dan banyak video OneWorldItaliano.

***

Maaf gaya penceritaannya monoton dan membosankan. Sengaja, biar sesuai dengan situasi. Ya, minggu pertama ini monoton sekali. Aku duduk di depan, berhadapan dengan dosen, dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku bahkan tidak sempat makan bareng kawan semingguan ini, tidak sempat bercengkrama lama dengan mereka, juga tidak sempat menanyakan kabar-kabar liburan. Padahal, ini baru minggu pertama perkuliahan. Padahal, semester ini tidak disambi skripsi. Ah, bagaimana nanti, ya?

Tegur aku bila kau berpendapat aku menjauh. Sungguh bukan maksudku. Hm, tampaknya merupakan keputusan yang salah mengambil mata kuliah linguistik tanpa mata kuliah hiburan semacam sastra dan bahasa asing. Jangan-jangan nanti aku jadi sosok yang serius! (bukannya sudah dari dulu?) Haha. ♡

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, September 2, 2015

Penjual Bubur Sumsum

Hari ini aku berjumpa dengan penjual bubur sumsum keliling di depan kosanku. Penjualnya pemuda kecil dan kurus. Tebakanku, sih, masih SMA.

"Mas, bubur sumsumnya satu, ya."
"Oh iya, Mbak."
"Berapa?"
"Lima ribu."

Ia membuka tutup wadah buburnya dan tampaklah jualannya masih berlimpah, padahal hari telah sore menjelang petang.

"Mbak maba, ya?"
"Wah, hahaha, bukan, Mas. Saya mah udah tingkat akhir."
"Oooh, asli mana, Mbak?"
"Asli mana, ya. Campur-campur, sih. Saya Jawa-Minang. Sumatra."
"Oalah. Kalau Jawanya?"
"Jogja."
"Deket sama kampung saya, Mbak. Saya Cilacap."
"Oalah. Kalau naik kereta enam jam kali, ya?"
"Kalau naik bus, sih, sehari semalam, Mbak. Tapi katanya naik kereta udah murah, ya?"
"Wah, nggak juga, Mas. Masnya sendiri masih sekolah? SMA?"
"Saya masih SMP, Mbak. Tapi nanti mau sekolah di UI juga."
"Aamiin, aamiin."
"Pakai sendok, Mbak?"
"Iya, pakai."
"Ini, Mbak."
"Makasih, ya."

Halo, adik kecil penjual bubur sumsum. Mulia sekali dirimu membantu orangtua dalam mencari penghasilan. Semoga impianmu berkuliah di UI kelak bisa tercapai. Semoga saat itu UI belum menjelma kampus mewah yang hanya terjamah oleh orang-orang kaya. Tetaplah berprestasi, Dik! :)

NB: Kalau kalian berjumpa dengan Mas ini di Kutek, tolong beli jualannya, ya. Bubur sumsumnya enak, lho! Nggak nyesel, deh. :)

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 10, 2015

Semester enam

Tak terasa semester enam 'kan berakhir Jumat ini. Lantas, kita kembali ke perantauan masing-masing bersama sejumlah rencana yang akan dijalankan selama liburan.

Ada yang sibuk bekerja, ada yang sibuk menjadi panitia, ada yang sibuk memikirkan topik skripsi, ada yang sibuk jalan-jalan, ada yang sibuk mengurusi keluarga di rumah, dan lain-lain.
 
Kemudian semester tujuh datang menyapa kita. Ia menawarkan tiga pilihan: filologi, sastra, dan linguistik. Pilihan-pilihan itu kemudian memisahkan kita menjadi tiga blok. Mulailah kita berjuang sendiri-sendiri. Menjalani rencana hidup yang telah disusun matang. Mungkin akan ada yang sibuk skripsi. Mungkin akan ada yang sibuk mengejar ketertinggalan di semester lalu. Mungkin juga akan ada yang mengambil cuti demi menjalani cita-cita yang sempat terbengkalai.
 
Intensitas perjumpaan kita tak lagi sama
Jadwal kuliah kita berbeda
Kesibukan kita berbeda
Tiga tahun kebersamaan berlalu secepat kilat
Pada titik inilah baru aku tersadar
Ternyata aku takut...akan perpisahan
Dengan kalian, dengan para dosen, dengan kampus
Ternyata benar kata orang-orang
Sesuatu baru terasa berharga ketika ia sudah tak ada.

/>~<\ Bisakah semester ini diperpanjang sebentar lagi?

Wednesday, May 6, 2015

Today's Word Week 1

Buongiorno! Oke, saya mau menjelaskan apa itu TW. TW adalah singkatan dari Today's word dan merupakan tantangan yang saya berikan pada diri sendiri untuk mendefinisikan satu kata setiap hari. Mulanya, challenge ini dilemparkan oleh Marc van Oostendorp kepada peserta MOOC Miracles of Human Language. Yep, sejak seminggu lalu, saya memosting definisi buatan saya beserta definisi dari KBBI di Twitter. Saat membuat definisi, saya berusaha untuk tidak mengintip KBBI dengan alasan ingin mengetahui seberapa mirip definisi yang saya buat dengan KBBI. :D

Tentu saja definisiku masih banyak cacatnya di sana-sini, seperti kesalahan pelabelan nomina atau verba dan kesalahan pendefinisian (terlalu sempit atau bahkan terlalu luas). Wajar, namanya juga mencoba. Berikut ini definisi dari tujuh kata pilihan seminggu lalu. :D

1. Today's word: me.ma.sak kegiatan membuat suatu makanan. KBBI: memasak v membuat (mengolah) penganan, makanan, dsb.

2. Today's word: be.lan.ja v membeli sesuatu || KBBI: belanja n uang yang digunakan untuk suatu keperluan, berbelanja v membeli di pasar (toko, dsb).

3. Today's word: ke.nyang a keadaan perut yang masih terisi penuh, lawan dari lapar || KBBI: kenyang a sudah puas makan, sudah penuh perutnya.

4. Today's word: cin.cin n aksesori yang dikenakan di jari. || KBBI: cincin n perhiasan berupa lingkaran kecil yang dipakai di jari ada yang bepermata, ada yang tidak.

5. Today's word: mi.num v memasukkan cairan ke dalam mulut dan meneguknya hingga masuk ke kerongkongan. || KBBI: minum v memasukkan air (atau benda cair) ke dalam mulut dan meneguknya. 

6. Today's word: re.u.ni n perjumpaan kembali dengan teman-teman lama || KBBI: reuni n pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama. 

7. Today's word: bo.ne.ka n mainan anak-anak yang empuk dan halus menyerupai manusia, binatang, atau benda tertentu. || KBBI: boneka n tiruan anak-anak untuk permainan; anak-anakan.

So, that's it. Bagaimana? Ada komentar? 

Apakah catatan ini membuat kamu mau memulai TW versimu sendiri? Jika iya, kabari aku, ya! :D

Seminar Internasional LLL UI 2015

Betapa senangnya bisa berjumpa secara langsung dengan Pak Harimurti Kridalaksana dan Pak Djoko Kentjono. Aku mendengar sendiri penyampaian materi oleh Pak Harimurti dengan suaranya yang khas dan ditanggapi secara lucu oleh Pak Kentjono. Hahaha, asyik ya punya teman sejawat. 

Aku berjumpa pula dengan Bu Novi (dosen Sunda Dasar) yang belakangan kutahu bahwa ia berkecimpung di LLL, Bu Riri (dosen Rusia Dasar) yang kali ini menjadi panitia acara, Bu Sally (dosen Prodi Jerman UI) yang kembali mempresentasikan makalah mengenai bahasa Jerman, Pak David Manuputty yang datang bersama sang istri dari Pulau K, Pak Sugit Zulianto yang jauh-jauh datang dari Palu demi mempresentasikan makalahnya yang seperti biasa dibawakannya dengan semangat '45. Pssst, aku mendapatkan kamus Kaili Ledo<->Indonesia dari beliau, lho! Terima kasih banyak nah, Pak. Semoga sukseski' di tanah rantau. Salam sesama putra-putri Sulawesi! (Padahal aku berdarah Jawa-Minang. Hahaha, tetapi aku berjiwa Makassar, kok)

Aku juga berkenalan dengan Aussy dan Bu Nani dari Unpad. Kak Aussy berkuliah di Sastra Jepang Unpad angkatan 2011. Dia membawakan makalah berdua dengan dosen. Asyik, ya. Aku juga mau. Gegara ini, Bu Nani presentasi sebanyak dua kali. Pertama dengan Aussy dan yang kedua membawakan makalah tentang kosakata kuliner Bandung. Hiiih, keren nian presentasi dua kali berturut-turut. :')

Tak hanya Aussy, ada pula teman-teman dari UPI. Ada mahasiswa S-2, semester enam, bahkan semester empat yang menjadi pemakalah. Wuah, salut! Mereka berjiwa peneliti sedari muda. Aku makin takjub--sekaligus iri--saat kudengar UPI memiliki SBL (Sanggar Budidaya Linguistik), sebuah kelompok diskusi linguistik. Oh my, aku juga ingin ada komunitas serupa di kampus kuning.

Tak mau kalah, anak-anak S-1 UI juga tampil mempresentasikan makalahnya, lho! Sayangnya, aku tak termasuk jajaran pemakalah muda itu. Mereka adalah mahasiswi Prodi Jawa angkatan 2012. Makalah yang mereka bawakan berjudul "Kosakata Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa". Makalah ini menarik karena menunjukkan banyaknya kosakata Sanskerta yang diserap ke bahasa Jawa. Menurutku, segala hal yang berkaitan dengan etimologi itu menarik. ♡

Nah, aku juga menyaksikan penyampaian makalah oleh Bu Mia. Wuih, sulit kudeskripsikan kekagumanku padanya. Beliau adalah ahli dialektologi Indonesia. Pernah bekerja sama dengan Microsoft untuk merancang spelling checker bahasa Indonesia dan sekarang berkontribusi pula pada bidang toponimi. Tampaknya, beliau pula penggagas Komunitas Toponimi Indonesia. Keren banget, masyaaAllah. Suami beliau yang merupakan pengajar di Departemen Linguistik UI juga turut hadir menemani beliau di akhir acara. So sweet, aaaaah. >v<

Sesi akhir yang diisi oleh Bu Mia dan Pak Peter Carey dimoderatori oleh Pak Lilie Suratminto. Makalah Pak Peter juga cukup menarik. Beliau membahas asal-usul nama Malioboro. Paparannya detail dan menakjubkan. Tak heran karena beliau itu sejarawan. Menurutnya, Malioboro berasal dari bahasa Sanskerta malya dan bhara yang berarti 'jalan berisikan untaian bunga'. Wuih, romantis, bukan? Mau tahu lebih lanjut mengenai ini? Silakan baca buku karangannya berjudul "Asal Usul Nama Yogyakarta Malioboro" yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Mengenai Pak Lilie, perawakannya lucu terutama wajahnya tampak masih muda. Baby face! Ternyata, beliau ketua Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi UI. Wah, jadi segan. Beliau merupakan dosen Sastra Belanda UI. Tadi, beliau meralat kata konslet menjadi korslet. Iya, masih banyak yang mengira konslet merupakan bentuk yang baku padahal yang benar adalah korslet. Katanya, korslet diserap dari bahasa Belanda kortsluiting. Hwaaa, lagi-lagi etimologi bahasa! :D

Di seminar ini, aku jadi punya idola baru. Dia pemakalah pleno pertama seminar ini. Dia menyajikan makalah mengenai leksikografi. Penyajiannya runut dan jelas. Keren! Semula kukira dia orang asing karena ia membawakan makalahnya dalam bahasa Inggris. Banyak catatan kaki yang ditampilkannya untuk referensi lebih lanjut. Tahukah kau bahwa catatan kaki itu mengacu pada makalah-makalah karangannya? Berarti, sudah banyak makalah yang ia terbitkan. Gils, keren abis. Namanya Deni Arnos Kwary. Meraih gelar doktor bidang Leksikografi di Aarhus University, Denmark. Informasi mengenai beliau bisa kalian akses di laman pribadinya yakni www.kwary.net.

Bersama dengan Pak Kwary, ada Ekaterina Kholkina dari Prodi Rusia UI. Dia orang Rusia asli dan cantik banget. *v* Ia membawakan makalah dalam bahasa Inggris dengan logat Rusianya. Aku menyadarinya saat ia melafalkan problem dengan /prablyem/. Wkwk, senang sekali bisa bertemu penutur jati bahasa Rusia! Jadi rindu mempelajari bahasa rumpun Sirilik satu itu. Omong-omong, dia membawakan makalah mengenai etimologi dan di akhir makalahnya ia menyajikan homofon bahasa Indonesia-Rusia. Cukup menarik. ♡

Alhamdulillah, alhamdulillah. Aku mendapat suntikan semangat dari atmosfer seminar LLL 2015. Para pembicaranya luar biasa! Nice job, LLL UI! Semoga tahun depan aku dapat mengikuti seminar ini lagi dan tampil sebagai pemakalah. Percayalah, kali ini bukan janji-janji belaka. Harus ada pembuktian! :)

Monday, May 4, 2015

Tentang Kamu

Hari ini aku menulis tentangmu. Tak kukirim ke jejaring mana pun karena aku tak berani. Ya, aku takut kau penasaran melacak blogku dan menemukan tulisan-tulisan mengenaimu. Aku takut kau membaca perasaanku terhadapmu. Tak perlu kau tahu segalanya. Yang penting, aku selalu merekam jejak-jejak kita di ingatanku. Entah kutulis secara tersirat di status-status jejaring sosialku atau catatan ponselku. Setiap ada momen pasti kuabadikan. Jadi tenang saja, aku mudah me-recall semuanya jika kau ingin tahu awal mula perjumpaan kita hingga saat ini. 

Wednesday, January 21, 2015

Amanah

Saya selalu takut dengan amanah. Aku takut tidak bisa memegangnya dengan baik. Mereka selalu bilang, amanah tidak akan jatuh ke tangan yang salah. Ya, aku tahu itu. Akan tetapi, aku punya hak untuk menolak, bukan? Rasanya sudah cukup aku merasa berdosa pada amanah-amanah yang kuterima dua tahun lalu. Barangkali, aku memang gadis kecil yang tidak bisa dititipkan amanah. Barangkali, aku masih mencari-cari kegiatan yang pas denganku. Loncat sana, loncat sini. Masih galau, kata orang.

Sudah cukup hidup dengan ekspektasi lebih dari masyarakat! "Kamu bisa ini, kan? Sudah, gabung saja. Kamu pasti bisa jadi X, ayo percaya! Ah, kamu pintar, apa-apa nilainya bagus." Huhu, lelah. :(

Well. Maybe I just have a lack of courage. Dunno. :')
Let me live this life the way I want to.

Tuesday, October 14, 2014

Tokoh Utama

Assalamualaikum,
Maaf kamu lama kutelantarkan. Akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan perkuliahan dan kepanitiaan. Sekali-kalinya menulis, malah lari ke Tumblr. Hm, where should I start?
Tahukah kamu bahwa kamu menjadi tokoh utama dalam cerpen yang kukarang baru-baru ini? Mata kuliah Penulisan Kreatif 'memaksa' kami mengarang sesuatu. Tema yang kupilih tak jauh-jauh dari cinta dan dari kamu. Aku tahu, tema ini dangkal sekali. Seharusnya aku malu karena tidak juga lepas dari tema berbau remaja seperti itu. Sayangnya, itulah satu-satunya media yang memfasilitasi luahan perasaanku. Suratku ini takkan sampai padamu, tetapi pena dan kertas telah menjadi saksi bagaimana suatu perasaan dilukiskan dalam kata-kata.
Tetaplah menjadi tokoh dalam cerita hidupku. Saat ini, besok, dan selamanya. Semoga kaulah jodoh yang dititipkan Allah padaku. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Sunday, May 4, 2014

Newcomer!

"Aku turut senang dengan kehadirannya di hidupmu."


Begitu kata seorang sahabatku di padang rumput FIB. Saat itu, kami sedang menikmati makan siang ditemani sepoi-sepoi angin danau. Aku bercerita dengan eskpresif mengenai pertemuanku dengan sesosok lelaki yang, perlahan, merasuki hatiku. Ia mencoba memugar hati yang sempat runtuh. Sosoknya tanpa sengaja membuatku tertunduk malu disertai warna pipi yang merona secara tiba-tiba. Lelaki itu memiliki inisial nama pertama yang sama denganmu. Wajahnya pun sedikit-banyak memiliki kemiripan dengan wajahmu. Jawa tulen. Jangan salahkan aku, ya! Aku tidak merencanakan ataupun meminta pertemuan dengan "kloning"-anmu. :p 

Wednesday, April 2, 2014

Vivo per Lei

Vivo per Lei da quando sai
La prima volta l’ho incontrata,
Non mi ricordo come ma
Mi è entrata dentro e c’è restata.
Vivo per Lei perché mi fa
Vibrare forte l’anima,
Vivo per Lei e non è un peso.

(Andrea Bocelli)

Tersentuh, aku menangis. Aku tak tahu, apakah ini pengaruh lirik yang begitu indah atau karena perasaanku sedang begitu sendu. Aku masih ingat ketika pertama kali berjumpa denganmu. Kau begitu cerewet dengan botol Coca-cola dan permen Mentos. Pertemuan itu meninggalkan kesan lucu di hatiku. Hingga lama-kelamaan sosokmu mendekam di sana untuk beberapa lama. 

Lei è di tutti quelli che
Hanno un bisogno sempre acceso,
Come uno stereo in camera,
Di chi è da solo e adesso sa,
Che è unico per Lei, per questo
Io vivo per Lei.

Kamu, sosok yang begitu periang, akrab dengan semua orang, aktif di segala lini. Kamu milik semua orang. Terlalu picik jika aku menganggapmu milikku seorang. Padahal kau pun tak pernah menyadari keberadaanku. Pernah sekali waktu, kita dekat. Dekat sebagai sahabat. Bertukar canda dan tawa, berbagi resah dan luka. Kemudian, bunga-bunga itu perlahan layu. Kau ditarik oleh waktu, kau dipisahkan dariku. 


è un dolore quando parte.
Vivo per Lei dentro gli hotels.
Con piacere estremo cresce.
Vivo per Lei nel vortice.
Attraverso la mia voce
Si espande e amore produce.

Aku tak lagi menemukan padang bunga di jejaring sosial. Aku tak lagi menemukan dirimu di aplikasi VoIP yang sempat membuat kita dekat. Aku tak lagi menerima pesan darimu. Retak, kau tahu? Sedang kau tampak bahagia di pulau sana. Aku tak mungkin mengusik kebahagiaanmu dengan rengekan dariku yang meminta kau kembali untukku. Tidak. Aku hanya dapat mengirim rindu ketika menjejaki daerahmu. Merindu ketika membuka-buka percakapan kita yang telah lalu. Aku tak menyadari perbuatan itu menggerogoti diriku perlahan-lahan. Merampas raut bahagia di wajahku untuk beberapa waktu.


Vivo per Lei perché mi da
Pause e note in libertà
Ci fosse un’altra vita la vivo,
La vivo per Lei.

Hingga kini, aku belum melupakanmu sepenuhnya. Rasa itu memang telah pudar, tetapi aku tak bisa melupakan jasamu yang mengantarku ke gerbang ini. Takdir itu memang nyata Tuan, ada atau tidaknya hadirmu, ia tetap akan berjalan sebagaimana mestinya. Namun, kau perantara yang dikirimkan Tuhan untuk membantuku berdiri di sini. Terima kasih atas pendewasaan diri yang kau ajarkan tanpa kau sadari. 


Juga, terima kasih atas sapaanmu sehari lalu. Aku bangga dengan diriku yang mampu bersikap normal di hadapanmu. Thanks to Allah, He helps me to move on. ^^

Saturday, March 15, 2014

Lengser dari singgasana

Ketika rasa itu tak lagi menempati singgasana hati, aku masih berharap akan perjumpaan kita. Sekadar tegur sapa yang belum pernah kulakoni dengan baik karena adanya kegugupan yang menyergapku dan mengunci bibirku rapat-rapat.

Aku tak ingin berlari darimu lagi. Aku tak ingin kau pertanyakan mengapa. Aku hanya ingin bersikap normal, ya, sebagai teman. Seperti dahulu.


Ketika rasa itu tak lagi menempati singgasana hati, aku masih berharap akan perjumpaan kita, teman.

Friday, February 21, 2014

Lembaga Dakwah

Assalamualaikum, teman-teman!


Hai! Nad pengin cerita sedikit, nih. Saat semester tiga lalu, saya berniat untuk berkecimpung di salah satu LD saja kelak, entah itu LDK atau pun LDF. Saya sudah merasakan kesibukan aktif di dua LD dan itu ... haaaah ... sudah cukup. Banyak amanah yang terbengkalai karena jadwal ngumpul sering bentrok dan akibatnya saya jadi stres sendiri. Wussss, semester tiga berlalu, semester empat datang menjelang! Alhamdulillah, semester tiga terlalui dengan baik. Formulir rekrutmen anggota organisasi tersebar di mana-mana. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memilih Salam UI sebagai lahan dakwah saya di semester empat hingga semester lima. ^^

Awalnya, saya ingin menjadi BPH, menjadi pengurus Salam UI. Alasan saya memilih menjadi BPH karena saya ingin membenahi departemen ILC, ingin membuat departemen itu menjadi lebih baik lagi. Selama ini saya terjun di bidang yang sama, dimulai sejak periode magang hingga staf. Yeaaay, saya cinta ILC! <3 Siapa tahu kehadiranku dapat memberikan kontribusi di sana. Entahlah, saya ingin menjadi agen perubahan, dan menurutku cita-cita itu kurang dapat diwujudkan bila saya hanya menjadi staf (lagi). Bismillah, ketika sedang liburan di Makassar, saya membuka tautan perekrutan BPH Salam UI 17. Pandangan saya terhenti pada jadwal wawancara ... hah, 20 Januari? Yaaaaah, which is mean, saya tak dapat menghadiri sesi wawancara karena raga dan jiwaku masih berada di Makassar! T___T Baiklah, saya kembali menata hati yang kacau #apaan. Bila memang menjadi staf adalah lahan yang disiapkan Allah untuk saya sekarang, tak apa. Toh, saya masih bisa mencoba pada tahun berikutnya. Don't cry, Nanad.

Oke, mengingat semester empat ini kesibukan saya cukup longgar, saya memutuskan untuk mengikuti komunitas gamelan (cihuy! impian saya sejak SMA) di hari Sabtu, mengikuti Nyantrend Weekend (program kelas kajian) di hari Minggu, bergabung di kelas merajut bareng Lili tiap Rabu, konsisten mengikuti kajian dari FKI UI tiap Selasa/Kamis, tetap aktif di UI Berkebun, UI Cooking Club, dan komunitas Peduli Jilbab tercinta. <3 <3

Yeah! Siap menyambut datangnya semester empat!

Jeng, jeng, jeng! Sesi wawancara staf Salam UI pun dimulai. Jadwal wawancara saya itu hari Rabu sore. Saya diwawancarai oleh kak Egi dan kak Siti. Situasi wawancaranya ... sama kacaunya seperti tahun lalu. Jawaban saya cukup membuat mereka tergelak. Fuh, segitu konyolnyakah saya? >-< Hihi, afwan ya, kak! ^^

Empat hari kemudian, kak Egi menghubungi saya. Ahlan wa sahlan, Nadia! Begitu isinya. Wah, senang banget bacanya, alhamdulillah. Beberapa saat kemudian, ada obrolan yang menyusul, "Nad saya sudah syuro bareng kak Siti dan memutuskan kamu untuk menjadi deputi. Bagaimana?" Hah? Allah tidak sedang bercanda, kan? Saya hanya menyiapkan mental sebagai staf (saja) dan bukan deputi. :") Hiks. Apalagi saya sudah sok menyibukkan diri di tempat lain, duh takut tidak amanah, takut ini, takut itu. Ingin menolak tetapi ... siapa tahu inilah cara Allah mengabulkan keinginan yang sempat saya pinta dahulu. Menjadi bagian dari BPH Salam UI. Hei, bahkan Allah memudahkan caranya, saya tak perlu mengikuti wawancara dan segala macamnya. Tiba-tiba saja ditarik, "Hei, Nad, mau jadi deputi?" So, what should I say? "Jika saya memang dibutuhkan, ya kenapa tidak, kak?" Yup. Saya mengiyakan pada akhirnya. Mengapa harus takut kalah sebelum mencoba? Siapa tahu saya memang mampu. Allah takkan salah memberikan amanah pada hamba-Nya, bukan? Ya Rabb, bantu saya, ya! Bismillaah, deputi akhwat dari ILC Salam UI! Selamat datang kesibukan (huhu)! ;)

Monday, August 26, 2013

Secuplik informasi mengenai mata kuliah

Bismillaahirrahmaanirahiim.

Hari ini saya membaca tulisan lama mengenai cita-cita dan usaha saya memasuki Program Studi Indonesia. Cerita bisa dilihat di sini. Setahun sudah berlalu, tanggal 2 September 2013 nanti saya akan menginjak semester tiga. Aih, begitu cepatnya waktu berlalu dan saya tidak menyadarinya! >,<

Dua semester lalu kamu sudah ngapain saja? Baik-baikkah kuliahnya? Bagaimana hasilnya?
Alhamdulillah, cukup memuaskan. d(^-^)b Banyak ilmu yang saya dapatkan. (Kyaaa, semoga ilmunya tetap membekas di memori!) Oh iya, mungkin ada pembaca yang penasaran dengan mata kuliah yang saya pelajari di sini. Berikut rinciannya.

Semester satu:
-Pengantar Linguistik Umum
-Ikhtisar Tata Bahasa Arab
-Pengantar Kesusastraan Indonesia
-Kemahiran Berbahasa Indonesia I
-Pengantar Sastra Klasik

Semester dua:
-Fonologi
-Kemahiran Berbahasa Indonesia II
-Pengkajian Prosa Indonesia

Semester tiga:
-Kemahiran Membaca Naskah Klasik
-Morfologi Bahasa Indonesia
-Pengkajian Drama Indonesia
-Sastra Anak (mata kuliah belanja)
-Bahasa Isyarat Indonesia (mata kuliah belanja)
-Sastra Wayang (mata kuliah belanja, tetapi saya tidak dapat jatah di sini) T^T

Bagaimana? Asyik kan mata kuliahnya? ;) Percaya deh, jurusan ini tidak membosankan! (/^v^)/ \(^v^\) Jangan ragu untuk memilih Program Studi Indonesia Universitas Indonesia. :D


Wednesday, July 11, 2012

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia


Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti,
“Nad, mau masuk apa pas kuliah?”
“InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.”
“Kok sastra Indonesia, sih?”
* * *
Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra.
“Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran,
“Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus SNMPTN?”
Aku hanya bisa terdiam mendengarkan pembicaraan yang berlangsung di telepon itu. Apa kamu takut tidak lulus SNMPTN lantas memilih jurusan sastra Indonesia? Satu kali pun aku tidak memikirkan kemungkinan itu. Aku memilih jurusan sastra Indonesia karena aku memang benar-benar ingin mendalami seluk-beluk sastra. Aku yang notabene jebolan anak IPA pun memilih jurusan IPS saat les intensif SNMPTN. Mengapa? Jawabannya singkat, aku tidak begitu suka menghitung. Otakku hanya mampu menghapal. Awal semester kelas tiga, aku belajar IPS secara otodidak. Banyak temanku yang berkomentar, “Deh, Nad, kamu cepat amat belajarnya. Ujian masih lama, kok.” Aku hanya bisa tersenyum tipis kala itu.

Mimpi kita tidaklah sama, teman. Jika kita berani bermimpi tinggi maka wujudkanlah!
* * *
Mimpi ini tak akan terwujud jika hatiku masih terombang-ambing. Aku memerlukan dukungan. Suatu ketika, aku bertanya kepada adik kelas yang memiliki orang tua alumni sastra Indonesia. Mendengar pertanyaanku, ia menjawab, “Sastra Indonesia, kak? Aih, tidak usah, kak. Paling juga hanya mengajar di almamaternya seperti ayahku.” Glek. Yah, ternyata jawabannya seperti itu. Jawaban yang sama juga kudapatkan dari teman sesama hobi menulis, “Nadia mau masuk sastra Indonesia? Nggak usah, deh. Mamaku juga kuliah S-2 Sastra. Materinya tuh, ngebosenin banget. Nggak seru.” Duh, betapa kenyataan pahit yang kudapatkan. Apakah jurusan yang kupilih ini sudah benar? Ya Allah, aku tidak tahu. Aku hanya mau berkuliah di sastra Indonesia. Titik.
“Kalau mau sastra, kenapa nggak sastra Inggris saja, Nad?”
“Yah, eh… Aku lebih suka sastra Indonesia. Mau gimana lagi? Pengin jadi dosen sastra Indonesia,” jawabku terkekeh kecil sambil garuk-garuk kepala.
“Kamu mau jadi penulis kan, Nad? Jadi itu alasannya mau masuk sastra Indonesia? Banyak, tuh, penulis-penulis hebat lainnya dan bukan berasal dari jurusan sastra Indonesia.”
“Mau makan apa kamu dengan pegangan sastra Indonesia?”
Namun, perkataan ter-nyesek adalah… “Nad, ngapain jauh-jauh ke UI kalau pada ujungnya sastra Indonesia? Ckckck. Pilih yang lain saja.” Hati rasanya teriris-iris, pedih. Beberapa diantaranya bahkan menertawakan ideku itu. Ah, sastra Indonesia, seburuk itukah dirimu di pandangan khalayak ramai?

Ketika di sekolah, kami seangkatan diminta untuk menuliskan pilihan jurusan saat kuliah nanti. Saat itu, aku bertanggung jawab untuk mengumpulkan data anak-anak sekelas. Di selembar kertas itu tertera puluhan jurusan yang diingini. Kedokteran pun mendominasi. Lalu teknik. Masih banyak lagi yang lainnya. Lucu saja, satu-satunya jurusan sastra –sastra Indonesia pula– berada di tengah kerumunan jurusan yang bergengsi. Jadi maksudmu, sastra Indonesia nggak bergengsi, Nad? Eh, bukan begitu maksudku. Aku hanya menyimpulkan dari berbagai tanggapan miring yang melayang ke arahku. Dan benar saja… “Wets, siapa yang mau masuk sastra Indonesia, nih?” sahut temanku yang bergerombol di meja guru berdesakan melihat jurusan yang diinginkan oleh anak-anak sekelas. Biasa, melihat saingan sejurusan. “Ciyeee, Nadia!” Nah, kan? Itu pujian atau ledekan? Anggap sebagai dukungan saja lah.

Ketika masyarakat menganggapmu remeh maka diam saja. Tunggulah beberapa tahun lagi dan bawalah kesuksesan yang telah kamu capai ke hadapan mereka.
* * *
Namun alhamdulillah, setelah sekian lama ternyata ada juga yang mendukungku. Di antaranya teman-teman baik, murabbiyah, tentor, dan kakak kelas. Satu pendapat kakak kelas yang masih kupegang erat hingga kini, “Tidak ada jurusan yang dibentuk jika tidak mempunyai peluang kerja. Tenang saja, Nad.” Kata-kata luar biasa itu membangun kembali semangatku hingga aku terus berjuang. Biarlah jika artinya harus berjuang seorang diri. Bukankah orang-orang sukses terlebih dahulu juga diremehkan? Beberapa karya mereka bahkan tidak diakui. Akan tetapi, waktulah yang berkuasa. Detik, jam, hingga tahun membuktikan kerja keras mereka. Tak peduli akan cercaan, mereka terus bergerak maju. Maka aku juga harus bisa mencontoh jejak mereka! Buktikan bahwa dirimu bisa. Kamu BISA!

Di saat kamu merasa pendapatmu benar, mengapa harus takut?
* * *
Untuk beberapa lama, aku tidak menanggapi omongan orang tua mengenai pembahasan jurusan. Sungguh, aku tidak ingin semangatku drop lagi. Aku terus berdoa kepada Yang Mahakuasa. Meminta petunjuk serta kemudahan. Alhamdulillah, hati orang tuaku mulai melunak. Mereka mengizinkanku menaruh sastra Indonesia di pilihan kedua. Bukan main, doaku terjawab! Terima kasih, Ya Allah. Waktu demi waktu berlalu, SNMPTN pun sudah berdiri tegak di hadapan. Dengan mengucapkan bismillah, berbekal restu dari orangtua, juga doa dari teman-teman semuanya, aku melangkah mantap menuju ruang tes.
Selesai mengikuti tes yang begitu mendebarkan, aku langsung meminta penjelasan dari kakak-kakak tentor tempatku menimba ilmu sekunder saat itu. Tempat les. Agak nekat juga sih, takut mendadak stres menerima kenyataan. Bagaimana kalau nyatanya jawabanku banyak yang salah? Namun, rasa penasaran akan jawaban yang sebenarnya mengalahkan ketakutanku saat itu. Lagipula, materi yang akan kudapatkan insyaAllah bermaanfaat di SIMAK UI –cadangan– yang akan kujalani. Ya, walaupun begitu yakin dengan pilihan kita, tak ada salahnya kan menyiapkan cadangan? Bahkan jika memungkinkan, siapkan beberapa cadangan pilihan. Begitulah kira-kira redaksi kalimat ayahku.
* * *
Tanggal 7 Juli 2012 tinggal menghitung hari. Isu-isu yang bergelimpangan begitu meresahkan hati. Ada yang mengatakan pengumuman tanggal 3 Juli, bahkan ada yang berkata tepat tanggal 1 Juli. Bagaimana pula ini? Hingga aku melihat postingan di facebook yang dikutip dari www.okezone.com, bahwa pengumuman SNMPTN dapat dilihat tanggal 6 Juli 2012. Gemetar, takut, resah, pasrah, semua bercampur aduk. Apakah impianku tidak terlalu tinggi? Aku begitu mendambakan status menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia. Semoga pilihanku tidak salah. Aku memantapkan dalam hati, jika rezekiku memang bertempat di sana, insyaAllah aku akan lulus. Jangan sekali-kali meragukan kekuasaan-Nya. Malam itu, aku melaksanakan salat hajat. Berdoa tak putus-putus kepada-Nya. Mengharapkan jawaban terbaik di keesokan hari.

Jangan pernah melupakan kehadiran Tuhan didekatmu. Gantungkanlah nasibmu hanya kepada-Nya.
* * *
Aku tengah berkutat di laptop. Mencoba membuka laman www.snmptn.ac.id yang sedari tadi tak bisa diakses. Error. Ketakutan pun menyergap, semoga ini bukan pertanda buruk. Setelah beberapa kali mencoba, halaman itu pun terbuka. Tampilannya sederhana. Namun entah, terlihat semrawut di pandanganku. Mungkin karena faktor gugup yang kualami. Perlahan, aku memasukkan nomor ujian, 312-82-03706, tanggal lahir, dan mengikuti huruf-huruf yang tertera pada gambar. Lalu, klik! Loading… Selamat atas keberhasilan Anda!

Nadia Almira Sagitta diterima di Sastra Indonesia, Universitas Indonesia.

SubhanAllah! Alhamdulillah! Ternyata takdir-Mu kepadaku sungguh indah. Terima kasih, Ya Allah. Orang tua pun tampak bergembira walaupun hasil ini tak sesuai yang diharapkan oleh ibundaku Akan tetapi, beliau tak bisa menyembunyikan seraut wajah bangga terhadap anak sulungnya ini. Tak kusangka, akhirnya aku meraih awal dari mimpi-mimpiku. Ya, ini barulah langkah awal. Semoga aku bisa sukses di bidang yang akan kugeluti kemudian. Dan, aku akan membuktikan kepada semua bahwa jurusan sastra tidaklah seburuk yang mereka sangka, bahkan sama kerennya dengan jurusan-jurusan lain. Semoga Allah selalu meridai jalanku. Bismillah…

Kesuksesan itu membutuhkan tiga hal, keberanian, kerja keras, dan doa…
* * *