Showing posts with label dokumentasi bahasa. Show all posts
Showing posts with label dokumentasi bahasa. Show all posts

Wednesday, December 30, 2015

Kepunahan Bahasa

Pagi ini mengamati debat seru di Tumblr Qwanqwa tentang kepunahan bahasa. Salah seorang admin Qwanqwa, seorang linguis historis, memberikan pandangan yang heartless menurut saya, "Tenanglah, kepunahan bahasa itu alami. Nature doesn't give a fvck. It's not a giant issue. Jika bahasa terdokumentasi dengan baik, kita tidak benar-benar kehilangan bahasa itu." Ahahaha, patah hati saya membacanya. Namun, tidak mengapa. Katanya, sains tidak bisa dicampuradukkan dengan masalah personal dan emosi.

Saya tidak setuju dengan poin admin Qwanqwa yang menyatakan bahwa bahasa itu hanya permainan fonologi dan morfosintaksis yang diikat dengan makna. Karena definisi bahasa didasarkan pada lingkup itu saja, dokumentasi tanpa revitalisasi bahasa pun sudah cukup. Bahasa yang ada dalam arsip itu terhitung masih hidup dan tidak hilang.

Bahasa memang alat: alat untuk berkomunikasi. Bahasa itu sekaligus wadah: wadah yang menyimpan kekayaan intelektual. Ketika suatu bahasa berhenti digunakan maka bahasa itu telah punah, statusnya jadi dead language.

(Actually, I have to read a lot of stuffs about whether some language considered as dead language or living language. Think about Latin and Esperanto)

Meskipun suatu bahasa telah didokumentasikan, tetap saja ada yang hilang. Pasti beda rasanya melihat suatu bahasa dalam buku dengan mendengar langsung bahasa itu digunakan oleh penuturnya. Bahasa yang mati, ya tetap mati, walaupun sudah didokumentasi.  Dokumentasi hanya arsip.

Kita bisa berupaya untuk menjaga suatu bahasa dari kepunahan. Kita memang tidak bisa memaksa suatu komunitas bahasa untuk menggunakan bahasa yang tidak lagi dianggap berguna, tetapi kita bisa menawarkan cara mempertahankan bahasa kepada mereka. Menawarkan, bukan memaksa. Toh, mempertahankan bahasa itu hak mereka, bukan kita sebagai peneliti. If they're interested, start working with them, if they're not so...let it be.

Duh, saya omong apa. Pandangan saya di sini juga terpengaruh oleh pandangan Tumblrian lain. Ini sekadar rangkuman singkat dari debat barusan. Tahu tidak, saya berulang kali menghapus argumen saya di tulisan ini karena ternyata masih bolong sana-sini. Hahahaha kentara kurang membaca. (peace!)

Cek Tumblr www.qwanqwaproject.tumblr.com untuk informasi lebih lengkap. Qwanqwa adalah salah satu blog ilmiah yang membahas soal linguistik. They put a lot of effort to write an article. ♡ Jadi, pagi ini mari kita iqra'!

Tuesday, November 10, 2015

Pendokumentasi Bahasa

Hari ini aku merasa sangaaaaaaat lega. Kenapa?  Kemarin aku berdiskusi dengan Ayahku menyoal kontribusi warga negara terhadap negaranya. Aku sempat khawatir dicap pembelot apabila bekerja pada lembaga asing. Diskusi kami bisa dilihat di sini. Berangkat dari setumpuk kekhawatiran, aku menelusuri kembali situs www.hrelp.org--suatu proyek pekerjaan impianku--dan mengaduk-aduk informasi program ELDP. Di situs tersebut, aku menemukan ini:

"We provide grants for the linguistic documentation of endangered languages worldwide. Anybody with qualifications in linguistic language documentation can apply as we have no restrictions on the nationality of the applicant or on the location of the host institution."

Peneliti dari kewarganegaraan apa pun dapat didanai untuk menjalankan proyek di daerah mana pun di dunia!

Gosh, such a relief! :')

Aku bisa tetap bekerja di Indonesia, mendokumentasikan bahasa daerah di Indonesia, dan memajang hasil penelitianku di situs ELAR yang dapat diakses oleh semua orang secara gratis! Much better tentunya karena bahasa itu punya kesempatan untuk dikenali oleh orang banyak berhubung prestise lembaga satu ini tinggi sekali. Aku sudah tahu mau jadi apa di masa depan! ^0^)/

Oh ya, sebelumnya aku ingin menjelaskan ELDP. ELDP--stands for Endangered Language Documentation Programme--adalah bagian dari HRELP (Hans Rausing Endangered Language Project) yang berfokus pada pendokumentasian bahasa. ELDP didanai sepenuhnya oleh Arcadia, sebuah foundation yang berfokus pada pelindungan kebudayaan yang terancam punah. Oleh karena bahasa tergolong budaya, Arcadia ikut mendanai proyek pendokumentasian bahasa. ELDP sudah banyak menelurkan grantee berbakat yang memberikan sumbangsih besar terhadap bahasa-bahasa yang terancam punah. Berikut ini daftar grantee ELDP sepanjang perjalanannya. http://www.hrelp.org/grants/projects/index.php

Apabila kalian perhatikan secara saksama, umumnya grantee ELDP berasal dari empat universitas terbaik, yakni School of Oriental and African Studies (SOAS), Univ. of Texas Austin, Australia National University (ANU), dan Univ. Hawaii of Manoa (UHM). Aku memang menargetkan lulus di salah satu universitas ini! ^^

Universitas-universitas di atas memiliki jurusan yang berfokus pada bidang dokumentasi bahasa. Apabila aku memang ingin menjadi peneliti bahasa, sebaiknya aku menimba ilmu di tempat terbaik, bukan? Toh, ELDP mencari peneliti yang memiliki landasan ilmu yang kuat maka sebaiknya aku berkuliah di salah satu institusi itu.

Aamiin, aamiin ya Mujiib.

Prof. Mia, engkau tidak perlu khawatir. InsyaaAllah aku akan menyelamatkan 75 bahasa daerah Indonesia yang termasuk kategori mengkhawatirkan (EGIDS) itu. Tatkala engkau menyebutkan keresahanmu tadi, aku diam-diam menitikkan air mata karena terbawa perasaan, "Ayo, mungkin salah satu dari kita hari ini ada yang sudi mengabdikan diri pada nusa dan bangsa untuk menyelamatkan 75 bahasa tadi. Ini kekayaan budaya bangsa, lho."

Aku melanglang ke London dulu ya, Prof. Setelah itu, aku pulang ke Indonesia dan mulai bekerja. Aamiin, semoga Allah meridai jalan hidupku.

Sebagai penutup kisah cita-cita mulia ini, aku mengutip slogan HRELP, "Because every last word means another last world." That is why we should try to save those languages through documentation dan revitalization process.

Salam,
Nadia Almira Sagitta
calon pendokumentasi bahasa di Indonesia

Thursday, October 22, 2015

Akademisi bin peneliti

MasyaaAllah. Allah benar-benar baik!

Baru saja mendaftarkan diri ke sebuah konferensi yang masih dijadwalkan akhir November. Eh, tahu-tahu pendaftarannya sudah ditutup. Alhamdulillah, panitia konferensi masih bersedia menyimpankan kursi untukku. Ah, terima kasih, Pak!

Ketika kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, kau pasti akan mengejarnya sampai dapat, bukan? 

Aku belum tahu dengan siapa aku akan berangkat ke lokasi acara. Hm, mungkin sendirian? Soalnya, teman-temanku belum memberi pertanda akan mengikuti konferensi yang serupa. Nggak apa-apa, deh, berangkat sendiri. Saingan dengan pekerja kantoran pagi hari. :p 

Nggak apa-apa juga, deh, kalau terkesan seperti anak bawang di sana. Menjadi pendengar yang bahkan lulus S-1 saja belum! Berada di kerumunan dosen, profesor, mahasiswa S-2, mahasiswa S-3, atau peneliti. Cuek aja, yang penting senang. Iya, nggak? :)

Aku selalu senang berada di antara akademisi. Selalu ada kebahagiaan ketika berada di tengah-tengah orang cerdas. Mengagumi pemikiran mereka, mengagumi dedikasi mereka, mengagumi setiap inci dari sosok mereka. Aku juga mau jadi akademisi bin peneliti. Aku tahu jalanku ke sana masih panjang. Nah, biarkan aku memulainya dari sekarang. Aku memang masih omong besar perihal cita-cita. Memang sih aku belum berkontribusi apa-apa, memang sih aku belum mencoba menjadi presentator di seminar. Akan tetapi, aku yakin suatu saat nanti aku pasti bisa berada di panggung dan mempresentasikan hasil penelitianku!

Aku tahu suatu saat nanti aku akan mendokumentasikan bahasa-bahasa di Indonesia Tengah dan Timur sana. Aku tahu nanti aku bisa berperan dalam penyelamatan bahasa-bahasa yang terancam punah di luar sana. Di sekitar Asia atau Afrika, mungkin? Makanya aku mau masuk SOAS (School of Oriental and African Studies). Siapa tahu bisa bekerja sama dengan HRELP. ♡

Aku tahu apa yang aku mau. Kamu pun seharusnya juga begitu.

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Friday, October 9, 2015

Film Bahasa LIPI

"Jangan terlalu dengan bahasa sendiri atau bahasa Pagu, nanti kamu tidak tahu bahasa Indonesia."

"Nanti kamu tidak tahu membaca dan menulis, berhitung, maka itu mereka tidak berbahasa daerah di sekolah."

"Su kalau tidak belajar berarti akan, eh, hilang bahasa itu dengan sendirinya."

"Menurut pengamatan beta bahwa bahasa ini kalau tidak dibangunkan berarti sepuluh tahun mendatang hanya sisa sepenggal, dua puluh tahun mendatang teng ngada."

Menyedihkan, ya? Ternyata, pendokumentasian bahasa itu penting sekali. Namun, janganlah hanya mendokumentasikan, kita perlu berputar otak agar bahasa itu tetap hidup di masyarakat.

P2KK LIPI mengadakan pemutaran film bahasa, khususnya tentang bahasa Maluku, di LIPI Gatot Subroto. Tonton trailer-nya di sini!

https://www.facebook.com/lita.masnun/videos/10153346428463580/

Pemutaran film diadakan hari ini dan besok pukul 10.00--16.00 di gedung Widya Graha Lt. 6 LIPI. Kalau tidak salah, pemutaran film bahasa itu diputar hari Minggu pukul 10.00--14.00, tetapi tidak ada salahnya mulai berkunjung hari ini. ^^

Yuk, ke Indonesian Science Expo LIPI! ^^{}

KEPUNAHAN BAHASA JUGA BERARTI KEPUNAHAN BUDAYA!