Showing posts with label linguistik. Show all posts
Showing posts with label linguistik. Show all posts

Saturday, December 26, 2015

Cinta Linguistik

"When you have a passion for something you find much more than what school offers." (Neby, co-admin of Qwanqwaproject Tumblr)

Bersyukur banget bisa kenal Neby! Aku sempat khawatir dengan kemampuan linguistikku setelah berbincang dengan dia. Parah, dia cerdas banget dan tahu banyak hal tentang linguistik padahal masih semester satu. Aku yang semester tujuh ini gagap ketika diajak diskusi tentang linguistik historis dan rumpun bahasa. Dan dia masih sempat bilang, "We're still newbie compared to you." Ahahaha. Jadi butiran debu. Huhu.

Hebatnya, dia selalu mengacu dirinya sebagai linguis historis, "As a historical linguist, my view on..." Masih semester satu, Mamen, dia sudah tahu mau jadi apa dan akan menulis skripsi apa. Demi apa. Semester satu rasanya aku baru memutuskan akan menekuni peminatan linguistik selama tujuh semester ke depan. Itu juga rasanya sudah hebat karena yang lain masih galau dengan peminatan. Boro-boro mikirin skripsi di semester satu, di semester tujuh ini saja masih bingung. 😱 Allah, please help!

Sempat ragu banget untuk lanjut kuliah di LN karena khawatir semua dosen sejago mereka* berdua (yang semester satu aja gitu, gimana dosen) dan aku nggak bisa mengikuti kuliah karena ilmu tak sampai. Akhirnya, tercetuslah kalimat di atas dari Neby. (^^) Jika memang cinta pada sesuatu, tanpa diperintahkan pun (misalnya melalui tugas) kita akan mendalami ilmu yang kita cintai di luar kelas baik itu melalui diskusi atau membaca buku.

Kesimpulannya, aku belum secinta itu pada linguistik layaknya Neby dan Nelly. Cinta itu mesti dibangun lagi. Cukup sudah cinta pada seseorang, mending cinta Allah, keluarga, dan linguistik. Setidaknya, mereka tidak membuat hati kecewa. Kesimpulan tambahan, mahasiswa mesti memperkaya ilmu dengan membaca!

*mereka = Neby dan Nelly, admin of Qwanqwaproject

Ayo follow Qwanqwaproject di Tumblr! You'll find fascinating topics about linguistics, especially historical/anthropological linguistics and African and Middle East language branch! Ini tautannya: http://qwanqwaproject.tumblr.com

Saturday, November 28, 2015

Clinical Linguistics

Nggak bisa tidur (sebelumnya memang sudah tidur) karena membaca informasi tentang speech pathology, seperti afasia. SP merupakan bagian dari clinical linguistics (aku belum bisa membedakannya dengan neurolinguistik, barangkali CL lebih fokus ke penyakit dan penanganannya). Lulusan CL biasanya jadi speech and language therapist. How cool is that? Terapis, mamen. Duh, seperti pekerjaan tenaga kesehatan!

CL ini tampaknya berhubungan dengan fonetik. Harus banget ngambil matkul fonetik di S-2 nanti! Lagipula fonetik emang seru, sih. Hayo, siapa yang masih hapal fonem-fonem bahasa Indonesia dan letaknya di tabel IPA? Jangan sampai lupa, ya. 😁

I wish I knew clinical linguistics earlier. Aku juga tertarik pada bidang ini, sayangnya sudah menjatuhkan pilihan (insyaAllah akan ditekuni sungguh-sungguh) ke field linguistics, hehe. Bisa nggak, sih, ahli di dua bidang? 😂 Ehehe, sayang sekali, ya, aku baru mencari info lebih dalam mengenai berbagai bidang linguistik terapan di semester akhir ini. Nanti kalau aku jadi dosen kelak, aku mau menjembrengkan segala kemungkinan lapangan kerja linguis kepada mahasiswa di semester satu. Syukur-syukur kalau aku bisa menggugah mereka untuk jatuh cinta pada linguistik sedari awal. Ilmu satu ini memang luas dan mengagumkan banget. ♡♡♡

Usut punya usut, bidang CL dipopulerkan di UK oleh David Crystal! Hadeeuh, beliau ini cerdas sekali, ya. #gagalpaham Aku suka tulisan beliau (padahal baru baca Language Death dan secuil tentang Language and The Internet). 😆

Oya, tadi aku juga sempat mencari info universitas yang membuka jurusan CL. Jurusan ini ada di Macquarie Uni Aussie, tuh. Sepertinya bagus, barangkali ada yang berminat. :D

http://www.friendshipcircle.org/blog/2014/01/30/10-awesome-reasons-why-being-a-speech-pathologist-rocks/ >> being a linguist, whatever your field is, also rocks!

Sip, segini dulu racauan malam kali ini. Mau nggak mau mesti istirahat. Ciao!

Nadia Almira Sagitta

Tuesday, November 17, 2015

Salju dalam Bahasa Eskimo

"Eskimos has 12, 50, 100, or even several hundreds words of snow!"

Whether this statement is true or not, orang-orang Eskimo punya sejumlah kata yang menggambarkan keadaan geografis mereka. 

Pernyataan di atas memang masih diperdebatkan sampai sekarang. Mulanya, pernyataan ini dikemukakan oleh Franz Boas. Setelah dikaji, ternyata banyak linguis yang tidak setuju sampai-sampai mengatakan Boas hanya hiperbola dan berita itu hoax. Khazanah kata untuk salju tidaklah sebanyak itu, katanya. (baca artikelnya di sini http://www.lel.ed.ac.uk/~gpullum/EskimoHoax.pdf) Akan tetapi, ada juga linguis yang setuju dengan pendapat Boas, yaitu si Igor Krupnik. 

Intinya, mah, ini debatable banget. Entah benar, entah salah. Istilah bahasa Eskimonya saja belum jelas merujuk ke Inuit atau Yupik. Barangkali penelitian Boas memasukkan kedua bahasa itu jadi hasilnya banyak? Entah. Sebenarnya, nggak penting, sih, kita mencari tahu jumlah pasti kata yang mewakili suatu konsep. Lah, ngapain keleus.

Yang penting, kita tahu bahwa orang-orang Eskimo menyimpan konsep penting dalam perbendaharaan kata mereka. Sesuai teori Sapir-Whorf (sumpah, ngasal banget aku mah, sok ngerti), bahasa itu pasti menyimpan konsep budaya. Itu yang semestinya membuat kita takjub. Mereka punya kata-kata yang mendeskripsikan bentuk salju di tanah, salju yang turun, salju yang sebentar lagi mencair, dll. Ternyata, selain salju, orang-orang Yupik juga punya perbendaharaan kata untuk arah angin, rasi bintang, arus laut, dan fenomena musim lainnya.* Keren, kan? Bahasa menjadi salah satu alat survival mereka. Dengan begitu spesifiknya kata-kata yang dimiliki orang Yupik, terlihatlah bahwa mereka menaruh perhatian (fokus) besar pada konsep tersebut. Mereka bisa mengetahui salju mana yang tidak boleh diinjak karena khawatir saljunya retak, mereka bisa menebak musim selanjutnya melalui arah angin, dan lain-lain. Khazanah-khazanah informasi seperti inilah yang belum tentu diketahui orang di luar suku Yupik. Serunya lagi, semua informasi ini tersimpan dalam bahasa. MasyaAllah. ♡♡♡

Ilmu bahasa itu seru, kan?
Bahasa itu menarik, kan?
Akui sajalah. (wkwkw, maksa!)

Alhamdulillah banget saya diberi kesempatan untuk mendalami ilmu bahasa. ^^{}

(*) Informasi ini dikemukakan oleh Krupnik yang kemudian dikutip oleh Harrison dalam buku The Last Speakers yang sedang saya baca. Aih, saya nggak berhenti takjub membaca pengalaman K. David Harrison! ♡

Sumber:
http://www.mnn.com/earth-matters/climate-weather/stories/are-there-really-50-eskimo-words-for-snow
Harrison, K. David. 2010. The Last Speakers. USA: Washington D.C.

Saturday, November 14, 2015

Bidang Linguistik

Language documentation is a part of linguistics fieldwork. There are so much things to do. Sebagai calon sarjana humaniora yang berkonsentrasi pada bidang linguistik, sudah semestinya kita terjun ke berbagai bidang. Kamu bisa masuk ke bidang komputasional linguistik dan mengembangkan program bahasa semacam Google Translate, bidang perencanaan bahasa untuk menentukan masa depan suatu bahasa, bidang neurolinguistik untuk membantu para dokter saraf dan pasiennya, bidang leksikografi untuk menyusun suatu kamus dengan baik (bikin kamus sekeren Oxford atau Collins Dictionary, tuuuh!), bidang forensik linguistik untuk membantu memecahkan kasus hukum dengan bukti-bukti kebahasaan, bidang geolinguistik--atau disebut juga dialektologi--untuk memetakan bahasa-bahasa di Indonesia (kita punya 706 bahasa!), bidang psikolinguistik untuk mengetahui fungsi otak manusia dalam pemerolehan bahasa kedua dan seterusnya. Linguistics is so much more than you can imagine. Masih banyak bidang linguistik yang belum aku ceritakan, seperti historical linguistics, ecolinguistics, biolinguistics, sociolinguistics, stylistics, theoretical linguistics, clinical linguistics, translation, evolutionary linguistics, dan linguistic anthropology. Kau lihat, ilmu linguistik ini bersinggungan dengan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, kedokteran, komputer, dan lain-lain. Ayo menyebar ke berbagai bidang agar semua bidang terlingkupi oleh ahlinya masing-masing. :)

Aku sendiri ingin terjun pada bidang pendokumentasian bahasa. Bahasa terus berubah seiring waktu. Ia dapat punah atau bertahan. Agar suatu bahasa tetap terdeteksi zaman, ia perlu didokumentasikan. Pekerjaan seorang pendokumentasi tentu tidak sederhana. Ia harus turun ke lapangan, berkomunikasi dengan warga setempat, dan membuat dokumentasi dalam bentuk teks, audio, dan video. Setelah itu, ia harus menyusun buku tata bahasa dan kamus dari bahasa tersebut kemudian memastikan hasil penelitiannya dapat diakses orang banyak. Selain itu, sebisa mungkin sang peneliti membantu masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali bahasa daerah mereka dengan melakukan revitalisasi bahasa. Rempong sekali tampaknya, ya? Akan tetapi, tentu harus ada satu di antara banyaknya linguis yang menempatkan bidang ini sebagai karier hidupnya. Aku ingin menjadi satu di antara yang sedikit itu. ^^

Janganlah kamu berkecil hati tatkala orang-orang mempertanyakan jurusanmu saat ini, lulusan sastra mau jadi apa? Wah, mereka belum kenal linguistik dan sastra rupanya! Jadi apa, katanya? Banyak, Bung! Tak bisa aku jelaskan satu per satu. Apalagi postingan ini masih khusus membahas linguistik, belum membahas sastra yang terpecah lagi menjadi sastra modern dan sastra klasik. Pokoknya menjadi ahli sastra dan ahli bahasa, deh. ♡

Ada banyak bidang linguistik yang bisa kamu tekuni. Pilih satu yang kamu suka dan lakukanlah yang terbaik pada bidang itu. Semoga calon-calon sarjana humaniora konsentrasi linguistik ini berkenan menjadi linguis-linguis andal Indonesia.

Ayolah, Indonesia butuh penerus Harimurti Kridalaksana dan Anton Moeliono! Siapa tahu itu kamu. ♡

Aamiin ya Rabb. Mudahkanlah jalan kami meraih gelar sarjana agar dapat memasuki jenjang berikutnya, entah itu dunia kerja atau dunia perkuliahan selanjutnya.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, November 10, 2015

Pendokumentasi Bahasa

Hari ini aku merasa sangaaaaaaat lega. Kenapa?  Kemarin aku berdiskusi dengan Ayahku menyoal kontribusi warga negara terhadap negaranya. Aku sempat khawatir dicap pembelot apabila bekerja pada lembaga asing. Diskusi kami bisa dilihat di sini. Berangkat dari setumpuk kekhawatiran, aku menelusuri kembali situs www.hrelp.org--suatu proyek pekerjaan impianku--dan mengaduk-aduk informasi program ELDP. Di situs tersebut, aku menemukan ini:

"We provide grants for the linguistic documentation of endangered languages worldwide. Anybody with qualifications in linguistic language documentation can apply as we have no restrictions on the nationality of the applicant or on the location of the host institution."

Peneliti dari kewarganegaraan apa pun dapat didanai untuk menjalankan proyek di daerah mana pun di dunia!

Gosh, such a relief! :')

Aku bisa tetap bekerja di Indonesia, mendokumentasikan bahasa daerah di Indonesia, dan memajang hasil penelitianku di situs ELAR yang dapat diakses oleh semua orang secara gratis! Much better tentunya karena bahasa itu punya kesempatan untuk dikenali oleh orang banyak berhubung prestise lembaga satu ini tinggi sekali. Aku sudah tahu mau jadi apa di masa depan! ^0^)/

Oh ya, sebelumnya aku ingin menjelaskan ELDP. ELDP--stands for Endangered Language Documentation Programme--adalah bagian dari HRELP (Hans Rausing Endangered Language Project) yang berfokus pada pendokumentasian bahasa. ELDP didanai sepenuhnya oleh Arcadia, sebuah foundation yang berfokus pada pelindungan kebudayaan yang terancam punah. Oleh karena bahasa tergolong budaya, Arcadia ikut mendanai proyek pendokumentasian bahasa. ELDP sudah banyak menelurkan grantee berbakat yang memberikan sumbangsih besar terhadap bahasa-bahasa yang terancam punah. Berikut ini daftar grantee ELDP sepanjang perjalanannya. http://www.hrelp.org/grants/projects/index.php

Apabila kalian perhatikan secara saksama, umumnya grantee ELDP berasal dari empat universitas terbaik, yakni School of Oriental and African Studies (SOAS), Univ. of Texas Austin, Australia National University (ANU), dan Univ. Hawaii of Manoa (UHM). Aku memang menargetkan lulus di salah satu universitas ini! ^^

Universitas-universitas di atas memiliki jurusan yang berfokus pada bidang dokumentasi bahasa. Apabila aku memang ingin menjadi peneliti bahasa, sebaiknya aku menimba ilmu di tempat terbaik, bukan? Toh, ELDP mencari peneliti yang memiliki landasan ilmu yang kuat maka sebaiknya aku berkuliah di salah satu institusi itu.

Aamiin, aamiin ya Mujiib.

Prof. Mia, engkau tidak perlu khawatir. InsyaaAllah aku akan menyelamatkan 75 bahasa daerah Indonesia yang termasuk kategori mengkhawatirkan (EGIDS) itu. Tatkala engkau menyebutkan keresahanmu tadi, aku diam-diam menitikkan air mata karena terbawa perasaan, "Ayo, mungkin salah satu dari kita hari ini ada yang sudi mengabdikan diri pada nusa dan bangsa untuk menyelamatkan 75 bahasa tadi. Ini kekayaan budaya bangsa, lho."

Aku melanglang ke London dulu ya, Prof. Setelah itu, aku pulang ke Indonesia dan mulai bekerja. Aamiin, semoga Allah meridai jalan hidupku.

Sebagai penutup kisah cita-cita mulia ini, aku mengutip slogan HRELP, "Because every last word means another last world." That is why we should try to save those languages through documentation dan revitalization process.

Salam,
Nadia Almira Sagitta
calon pendokumentasi bahasa di Indonesia

Friday, November 6, 2015

Surat untuk Si Tampan dan si Cantik

Halo, si Tampan dan si Cantiknya mama. Ini mama, menulis dari masa lalu. Hari ini mama menerima kiriman buku ABC for Baby Linguists. Mama mau mengenalkan linguistik pada kalian sedini mungkin karena mama mau berbagi dunia kecintaan mama. Jadi, siap-siap dengan alofon, bilabial, nasal, dan kawan-kawannya itu, ya! Mama, sih, berharap banget salah satu dari kalian mengikuti jejak mama menjadi seorang linguis kelak. Nanti kita bisa meneliti bareng-bareng seperti David Crystal dan anaknya, Ben Crystal. Aduh, pasti seru sekali bila di meja makan kita membahas gejala-gejala bahasa terbaru atau mendiskusikan kebingungan bahasa yang kalian temukan. Bisa juga tiap pekan kita belajar bahasa asing. Makanya sekarang mama lagi mendalami beberapa bahasa supaya nanti bisa mengajari kalian. Belajar bahasa itu bisa meningkatkan kemampuan otak kalian, lho! Bisa mencegah kepikunan juga! Ajaib, kan? ^^♡

Omong-omong belajar bahasa, mama berencana mengajarkan bahasa daerah sebagai bahasa pertama kalian. Duh, padahal mama nggak mengerti bahasa Jawa dan Minang, tetapi mama janji mau belajar. Bisa dimulai dengan mencari pasangan dari suku yang sama juga! Haha, doakan-doakan. Eh, dari suku yang sama sekali berbeda juga nggak masalah, tetapi mama pengin dia menguasai bahasa daerahnya. Nanti mama belajar bahasanya dari dia. Pokoknya mama mau bahasa pertama kalian bahasa daerah agar timbul kecintaan terhadap tanah yang membesarkan kalian dan agar kalian tumbuh menjadi manusia yang berbudaya. Selanjutnya, mama akan mengajarkan bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya. Mama kan lulusan sastra Indonesia, mesti kudu wajib membesarkan anak dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa ketiga dan seterusnya itu terserah kalian. Silakan menjadi multibahasawan atau dwibahasawan. Keluarga kita mah liberal aja untuk masalah seperti ini. Hahaha. :)

Eh, mama kebanyakan cerita, ya? Betapa banyaknya rencana dan angan-angan mama di masa depan. Tentang pembelajaran kalian, tentang karier mama, tentang asupan gizi kalian, tentang cara memahami kalian, dan lain sebagainya. Mama masih harus banyak belajar. Huu, banyaaaaak banget! Doakan mama punya kekuatan dan kesungguhan untuk mempelajari semua ini. ^^♡

Sepertinya lebih seru menyambut kedatangan kalian nanti daripada menyambut kedatangan dia, calon papa kalian. Kenapa begitu? Soalnya mama di-PHP meluluuuu, sama banyak orang pula. Jadinya sebal! Akan tetapi, kalau nggak ada dia, mana bisa ada kalian? Hahaha. Ya sudah, doakan mama agar berjumpa dengan pemuda yang saleh, berjiwa pemimpin, dan peduli dengan bahasa serta linguistik. Mama janji akan mencari pemuda itu sampai ke ujung dunia. Pokoknya mesti spesies terbaik dari yang terbaik. ^0^)/

InsyaaAllah. Perkenankanlah, ya Allah.

Peluk,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, October 22, 2015

Akademisi bin peneliti

MasyaaAllah. Allah benar-benar baik!

Baru saja mendaftarkan diri ke sebuah konferensi yang masih dijadwalkan akhir November. Eh, tahu-tahu pendaftarannya sudah ditutup. Alhamdulillah, panitia konferensi masih bersedia menyimpankan kursi untukku. Ah, terima kasih, Pak!

Ketika kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, kau pasti akan mengejarnya sampai dapat, bukan? 

Aku belum tahu dengan siapa aku akan berangkat ke lokasi acara. Hm, mungkin sendirian? Soalnya, teman-temanku belum memberi pertanda akan mengikuti konferensi yang serupa. Nggak apa-apa, deh, berangkat sendiri. Saingan dengan pekerja kantoran pagi hari. :p 

Nggak apa-apa juga, deh, kalau terkesan seperti anak bawang di sana. Menjadi pendengar yang bahkan lulus S-1 saja belum! Berada di kerumunan dosen, profesor, mahasiswa S-2, mahasiswa S-3, atau peneliti. Cuek aja, yang penting senang. Iya, nggak? :)

Aku selalu senang berada di antara akademisi. Selalu ada kebahagiaan ketika berada di tengah-tengah orang cerdas. Mengagumi pemikiran mereka, mengagumi dedikasi mereka, mengagumi setiap inci dari sosok mereka. Aku juga mau jadi akademisi bin peneliti. Aku tahu jalanku ke sana masih panjang. Nah, biarkan aku memulainya dari sekarang. Aku memang masih omong besar perihal cita-cita. Memang sih aku belum berkontribusi apa-apa, memang sih aku belum mencoba menjadi presentator di seminar. Akan tetapi, aku yakin suatu saat nanti aku pasti bisa berada di panggung dan mempresentasikan hasil penelitianku!

Aku tahu suatu saat nanti aku akan mendokumentasikan bahasa-bahasa di Indonesia Tengah dan Timur sana. Aku tahu nanti aku bisa berperan dalam penyelamatan bahasa-bahasa yang terancam punah di luar sana. Di sekitar Asia atau Afrika, mungkin? Makanya aku mau masuk SOAS (School of Oriental and African Studies). Siapa tahu bisa bekerja sama dengan HRELP. ♡

Aku tahu apa yang aku mau. Kamu pun seharusnya juga begitu.

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Friday, October 2, 2015

Mengejar mimpi hingga ke SOAS

Salah nggak kalau sehari lalu aku sibuk mantengin situs SOAS, channel Youtube SOAS, dan forum-forum yang berkaitan dengan SOAS? :)
 
SOAS menjadi mimpiku sekarang, bukan lagi Oxbridge. Bukannya aku khawatir tidak diterima oleh Oxbridge, melainkan jurusan pilihanku hanya ditawarkan SOAS dan Univ. Manoa. Language Documentation and Description sangat sesuai dengan cita-citaku sebagai peneliti bahasa. Cita-cita yang muncul karena membaca berita di Antaranews mengenai bahasa-bahasa daerah  yang nyaris punah. Cita-cita yang berkembang setelah mengikuti kuliah online tentang endangered language di Australia. Cita-cita yang mengantarku ke gerbang sastra Indonesia. ♡

Tak banyak yang mengenal SOAS, coba saja kamu tanyakan pada kawan-kawanmu mengenainya. SOAS memang tak sebesar dan tak seprestise Oxbridge, tetapi ia termasuk jajaran kampus terbaik Inggris. Menjadi bagian dari University of London, SOAS adalah kampus yang sangat layak untuk dipertimbangkan. Kalau mau menyebut-nyebut ranking universitas, SOAS duduk di urutan keenam terbaik se-United Kingdom. Sesuai namanya, School of Oriental and African Studies, SOAS merupakan kampus terdepan di bidang Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Perpustakaan SOAS dilengkapi koleksi yang luar bisa memadai mengenai ketiga daerah tersebut. Gegara koleksinya yang unik, SOAS dinobatkan menjadi perpustakaan riset nasional Inggris untuk bidang Asia, Afrika, dan Timteng. Jurusan humaniora, bahasa, dan hukum merupakan kebanggaan SOAS. Kelas pengajaran bahasa asing SOAS juga termasuk tingkat keenam terbaik di Inggris. Wah, jangan kau kira hanya bahasa-bahasa Eropa yang tersedia, bahasa Asia, Afrika, dan sekitaran Timteng juga berlimpah tiada terkira. Bagaimana dengan lingkungan kampusnya? Sebagian besar mahasiswa-mahasiswi SOAS berasal dari berbagai belahan dunia. Sebut saja India, Cina, Mesir, Amerika, Afrika, Thailand, juga Indonesia! Ah, pokoknya seru banget untuk kamu-kamu yang mendambakan kampus yang multikultural.  ♡

Kemarin aku mengubek-ngubek info mengenai alur pendaftaran, info matakuliah, fasilitas kampus, info tempat tinggal,  pengurusan visa, welcome week (freshers) student's union, dan societies yang ada di SOAS. Aku sangat excited menghadapi hari-hariku di sana seolah-olah kartu emas SOAS sudah berada tanganku.
 
Semoga mimpiku tidaklah berhenti di angan. Semoga jalanku menggapai mimpi dimudahkan oleh-Nya. Tahun depan aku akan berfoto di samping patung hijau emas Thiruva'l'luvar dengan senyum terkembang. InsyaaAllah. ♡

SOAS, tunggu aku! :)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, July 4, 2015

Dari Skripsi Hingga SIBI

Sepulang dari les siang tadi, aku menuju perpus hendak meminjam buku. Liburan ini hampa rasanya jika tidak diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti membaca buku. Justru di saat senggang seperti inilah semestinya kita meraup banyak ilmu, yakni ilmu dunia, ilmu akhirat, ilmu rasa, dan ilmu kebatinan (?) Hahaha. Berhubung beberapa hari lalu aku selalu membaca karya sastra, sudah saatnya aku meluangkan waktu untuk hal yang lebih serius: SKRIPSI. Wakakaka. Sudah lama, nih, tak menyentuh buku linguistik. Aku meminjam buku tentang dialek, pemerolehan bahasa, fenomena bahasa, sikap bahasa, dan keberterimaan kata baku bahasa Indonesia. Aku masih tak yakin akan tema skripsiku maka kulahap saja semuanya. :p 

Setelah proses peminjaman kelar, aku ke lantai IV perpus UI. Yep, itu ruangan koleksi referensi. Aku mau nengok Kamus SIBI. Gegara Senin lalu aku ikut pelatihan Bisindo, aku jadi mau mendalami bahasa isyarat. Sayangnya, kamus Bisindo belum ada dan materi-materi online pun belum memadai maka jadilah aku beralih ke SIBI untuk sementara. Kamus SIBI bersampul hitam dan berukuran besar. Kamusnya juga tebal, walaupun tak setebal KBBI. Setelah membaca petunjuk penggunaan kamus, aku mulai menelusuri kata per kata. Hohoho, sebenarnya aku mau mengalihbahasakan sebuah lagu seperti yang dilakukan oleh Fitria Leurima di Youtube. Aku mau menyanyikan lagu "Kulakukan Semua Untukmu" karya Fathur dan Nadila. Tunggu unggahan videoku, ya! Aku sudah bisa menyanyikannya, tetapi belum lancar. Tempo lagunya lumayan cepat, sementara aku masih agak gagu. Nantilah kukabari lagi. Sekarang lagi coba cover lagu lain. Latihan terus, jangan menyerah! :)

Nah, buat kamu-kamu yang mau belajar SIBI, silakan meluncur ke i-chat.weebly.com! Ada kamus versi daringnya, lho. Jadi, kau tak perlu jauh-jauh ke perpus UI demi mencari tahu isyarat suatu kata. ♡

Selamat bermalam minggu, kamu. Selamat beribadah juga. Mumpung Ramadan, jangan sia-siakan kesempatan. Habis itu belajar. Jadikan malam minggumu bermanfaat. Hahaha.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, May 6, 2015

Today's Word Week 1

Buongiorno! Oke, saya mau menjelaskan apa itu TW. TW adalah singkatan dari Today's word dan merupakan tantangan yang saya berikan pada diri sendiri untuk mendefinisikan satu kata setiap hari. Mulanya, challenge ini dilemparkan oleh Marc van Oostendorp kepada peserta MOOC Miracles of Human Language. Yep, sejak seminggu lalu, saya memosting definisi buatan saya beserta definisi dari KBBI di Twitter. Saat membuat definisi, saya berusaha untuk tidak mengintip KBBI dengan alasan ingin mengetahui seberapa mirip definisi yang saya buat dengan KBBI. :D

Tentu saja definisiku masih banyak cacatnya di sana-sini, seperti kesalahan pelabelan nomina atau verba dan kesalahan pendefinisian (terlalu sempit atau bahkan terlalu luas). Wajar, namanya juga mencoba. Berikut ini definisi dari tujuh kata pilihan seminggu lalu. :D

1. Today's word: me.ma.sak kegiatan membuat suatu makanan. KBBI: memasak v membuat (mengolah) penganan, makanan, dsb.

2. Today's word: be.lan.ja v membeli sesuatu || KBBI: belanja n uang yang digunakan untuk suatu keperluan, berbelanja v membeli di pasar (toko, dsb).

3. Today's word: ke.nyang a keadaan perut yang masih terisi penuh, lawan dari lapar || KBBI: kenyang a sudah puas makan, sudah penuh perutnya.

4. Today's word: cin.cin n aksesori yang dikenakan di jari. || KBBI: cincin n perhiasan berupa lingkaran kecil yang dipakai di jari ada yang bepermata, ada yang tidak.

5. Today's word: mi.num v memasukkan cairan ke dalam mulut dan meneguknya hingga masuk ke kerongkongan. || KBBI: minum v memasukkan air (atau benda cair) ke dalam mulut dan meneguknya. 

6. Today's word: re.u.ni n perjumpaan kembali dengan teman-teman lama || KBBI: reuni n pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama. 

7. Today's word: bo.ne.ka n mainan anak-anak yang empuk dan halus menyerupai manusia, binatang, atau benda tertentu. || KBBI: boneka n tiruan anak-anak untuk permainan; anak-anakan.

So, that's it. Bagaimana? Ada komentar? 

Apakah catatan ini membuat kamu mau memulai TW versimu sendiri? Jika iya, kabari aku, ya! :D

Seminar Internasional LLL UI 2015

Betapa senangnya bisa berjumpa secara langsung dengan Pak Harimurti Kridalaksana dan Pak Djoko Kentjono. Aku mendengar sendiri penyampaian materi oleh Pak Harimurti dengan suaranya yang khas dan ditanggapi secara lucu oleh Pak Kentjono. Hahaha, asyik ya punya teman sejawat. 

Aku berjumpa pula dengan Bu Novi (dosen Sunda Dasar) yang belakangan kutahu bahwa ia berkecimpung di LLL, Bu Riri (dosen Rusia Dasar) yang kali ini menjadi panitia acara, Bu Sally (dosen Prodi Jerman UI) yang kembali mempresentasikan makalah mengenai bahasa Jerman, Pak David Manuputty yang datang bersama sang istri dari Pulau K, Pak Sugit Zulianto yang jauh-jauh datang dari Palu demi mempresentasikan makalahnya yang seperti biasa dibawakannya dengan semangat '45. Pssst, aku mendapatkan kamus Kaili Ledo<->Indonesia dari beliau, lho! Terima kasih banyak nah, Pak. Semoga sukseski' di tanah rantau. Salam sesama putra-putri Sulawesi! (Padahal aku berdarah Jawa-Minang. Hahaha, tetapi aku berjiwa Makassar, kok)

Aku juga berkenalan dengan Aussy dan Bu Nani dari Unpad. Kak Aussy berkuliah di Sastra Jepang Unpad angkatan 2011. Dia membawakan makalah berdua dengan dosen. Asyik, ya. Aku juga mau. Gegara ini, Bu Nani presentasi sebanyak dua kali. Pertama dengan Aussy dan yang kedua membawakan makalah tentang kosakata kuliner Bandung. Hiiih, keren nian presentasi dua kali berturut-turut. :')

Tak hanya Aussy, ada pula teman-teman dari UPI. Ada mahasiswa S-2, semester enam, bahkan semester empat yang menjadi pemakalah. Wuah, salut! Mereka berjiwa peneliti sedari muda. Aku makin takjub--sekaligus iri--saat kudengar UPI memiliki SBL (Sanggar Budidaya Linguistik), sebuah kelompok diskusi linguistik. Oh my, aku juga ingin ada komunitas serupa di kampus kuning.

Tak mau kalah, anak-anak S-1 UI juga tampil mempresentasikan makalahnya, lho! Sayangnya, aku tak termasuk jajaran pemakalah muda itu. Mereka adalah mahasiswi Prodi Jawa angkatan 2012. Makalah yang mereka bawakan berjudul "Kosakata Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa". Makalah ini menarik karena menunjukkan banyaknya kosakata Sanskerta yang diserap ke bahasa Jawa. Menurutku, segala hal yang berkaitan dengan etimologi itu menarik. ♡

Nah, aku juga menyaksikan penyampaian makalah oleh Bu Mia. Wuih, sulit kudeskripsikan kekagumanku padanya. Beliau adalah ahli dialektologi Indonesia. Pernah bekerja sama dengan Microsoft untuk merancang spelling checker bahasa Indonesia dan sekarang berkontribusi pula pada bidang toponimi. Tampaknya, beliau pula penggagas Komunitas Toponimi Indonesia. Keren banget, masyaaAllah. Suami beliau yang merupakan pengajar di Departemen Linguistik UI juga turut hadir menemani beliau di akhir acara. So sweet, aaaaah. >v<

Sesi akhir yang diisi oleh Bu Mia dan Pak Peter Carey dimoderatori oleh Pak Lilie Suratminto. Makalah Pak Peter juga cukup menarik. Beliau membahas asal-usul nama Malioboro. Paparannya detail dan menakjubkan. Tak heran karena beliau itu sejarawan. Menurutnya, Malioboro berasal dari bahasa Sanskerta malya dan bhara yang berarti 'jalan berisikan untaian bunga'. Wuih, romantis, bukan? Mau tahu lebih lanjut mengenai ini? Silakan baca buku karangannya berjudul "Asal Usul Nama Yogyakarta Malioboro" yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Mengenai Pak Lilie, perawakannya lucu terutama wajahnya tampak masih muda. Baby face! Ternyata, beliau ketua Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi UI. Wah, jadi segan. Beliau merupakan dosen Sastra Belanda UI. Tadi, beliau meralat kata konslet menjadi korslet. Iya, masih banyak yang mengira konslet merupakan bentuk yang baku padahal yang benar adalah korslet. Katanya, korslet diserap dari bahasa Belanda kortsluiting. Hwaaa, lagi-lagi etimologi bahasa! :D

Di seminar ini, aku jadi punya idola baru. Dia pemakalah pleno pertama seminar ini. Dia menyajikan makalah mengenai leksikografi. Penyajiannya runut dan jelas. Keren! Semula kukira dia orang asing karena ia membawakan makalahnya dalam bahasa Inggris. Banyak catatan kaki yang ditampilkannya untuk referensi lebih lanjut. Tahukah kau bahwa catatan kaki itu mengacu pada makalah-makalah karangannya? Berarti, sudah banyak makalah yang ia terbitkan. Gils, keren abis. Namanya Deni Arnos Kwary. Meraih gelar doktor bidang Leksikografi di Aarhus University, Denmark. Informasi mengenai beliau bisa kalian akses di laman pribadinya yakni www.kwary.net.

Bersama dengan Pak Kwary, ada Ekaterina Kholkina dari Prodi Rusia UI. Dia orang Rusia asli dan cantik banget. *v* Ia membawakan makalah dalam bahasa Inggris dengan logat Rusianya. Aku menyadarinya saat ia melafalkan problem dengan /prablyem/. Wkwk, senang sekali bisa bertemu penutur jati bahasa Rusia! Jadi rindu mempelajari bahasa rumpun Sirilik satu itu. Omong-omong, dia membawakan makalah mengenai etimologi dan di akhir makalahnya ia menyajikan homofon bahasa Indonesia-Rusia. Cukup menarik. ♡

Alhamdulillah, alhamdulillah. Aku mendapat suntikan semangat dari atmosfer seminar LLL 2015. Para pembicaranya luar biasa! Nice job, LLL UI! Semoga tahun depan aku dapat mengikuti seminar ini lagi dan tampil sebagai pemakalah. Percayalah, kali ini bukan janji-janji belaka. Harus ada pembuktian! :)