Showing posts with label skoliosis. Show all posts
Showing posts with label skoliosis. Show all posts

Wednesday, May 4, 2016

Sepatu bot

Dua hari ini lagi hobi jalan-jalan pakai hak tinggi. Eng, sebenarnya sih sepatu bot yang memiliki hak. Hahaha sama saja, ya. Toh, haknya juga mirip-mirip sepatu stilettoku, yaitu enam sentimeter. (ngakak) Pantas capek. Kok, tumben pakai sepatu bot? Kebetulan pas di Amrik kemarin nemu sepatu bot diskon dan lumayan lucu, jadinya dibelikan bunda. Nah, waktu itu memang musimnya pakai bot karena sedang musim dingin. Di Indonesia, aku jarang ketemu orang yang pakai sepatu bot. Daripada sepatunya dianggurkan karena alasan itu, lebih baik digunakan, bukan? :D

Sebenarnya, akan lebih cantik kalau kita memadukan bot dengan celana jins ketat (skinny jeans). Sayangnya, aku nggak pakai celana jins, but it fits well with my dress and skirt! Uyeaaah. Dua hari lalu aku padankan dengan blazer dan rok kantoran, tadi aku padankan dengan gamis. Cocok-cocok saja, alhamdulillah. Jadi, untuk muslimah yang setia dengan rok, nggak ada salahnya kamu mulai melirik bot! :)

Efek sampingnya, ya, betis dan punggung pegal sesampainya di rumah. Bahahaha, ya sudahlah kan nggak sering. Lagipula koleksi sepatu hak tinggiku hanya dua. (but I plan to add some more, if I have money ofc)

Skolioser sebenarnya tidak disarankan memakai sepatu hak tinggi, tetapi aku mulai suka. >~<

Cara mengakalinya:
1. Jangan pakai hak tinggi dalam perjalanan jauh dan medannya ribet. Pakailah saat acara formal yang notabene ada batas waktunya, seperti kondangan dan seminar skripsi. Boleh juga dipakai saat jalan-jalan ke mal, tetapi pastikan kamu cuma berada dua sampai tiga jam di mal. Lebih dari itu, punggung dan kakimu bakal meringis tanpa suara. Bakal lebih parah kalau kamu bawa tentengan belanjaan! Nah, maksudnya medan ribet itu apa, Nad? Ya...hindari deh kalau kamu mesti jalan ke daerah yang jalanannya berbatu dan bolong-bolong. Repot pisan. Hak tinggi mah enaknya memang dipakai ke tempat-tempat bertegel, bukan beraspal apalagi berumput dengan tanah basah!
2. Sering-seringlah duduk. Yup, kalau kaki dan punggung sudah dirasa sakit, istirahatlah sebentar. Ngapain dipaksa jalan kalau memang nggak sanggup. Daripada si S ngamuk, kan?

Entah ya, aku suka pakai hak tinggi. Semua bermula ketika aku melihat bunda dengan setelan kantornya semasa kecil. Aku langsung memutuskan, "Aku mau berpenampilan seperti itu kapan pun aku bisa!" Ya...walaupun aku juga cukup sering melihat kaki bunda dipijat karena varisesnya kambuh. Itu gara-gara hak tinggi, tuh. Fashion is pain, ya. (/.\) Akan tetapi, itu tidak menyurutkan kesukaanku pada hak tinggi, sih. Kenapa? Karena jelas-jelas dengan hak tinggi, aku semakin tinggi beberapa sentimeter. Apa pun yang membuat aku terlihat tinggi, aku suka. Curang ya, padahal aku sudah tinggi seperti tiang listrik, kata temanku. (merona malu)

Hahaha, ya sudah. Aku mau cerita saja karena sudah lama nggak bercerita di sini. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. :)

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, April 16, 2016

Kesehatan itu ekslusif, mahal

Pagi tadi bertemu teman-teman skolioser. Ada seseorang yang berceletuk, "Eh, tahu spinecor, nggak?"
"Tahulaaaah, soft brace, kan?"
"Iya. Ada tuh di Bandung dengan harga 2,5 jutaan."
"Hah, masa? Setahuku hanya dijual di Jakarta. Harganya pun 30 jutaan. Kok bisa ini cuma segitu?"
"Nggak tahu juga, sih, barangkali karena buatan Indonesia? Bahannya juga mungkin berbeda. Nah, tetapi mereka tetap mengukur lengkung kemiringan kita, kok."

Brace? Kamu mau pakai, Nad?

Sebenarnya, aku mulai was-was dengan jadwal operasi. Tahu-tahu ingin lekas bertemu dr. Luthfi Gatam, memastikan soal pemasangan brace, rontgen ulang--karena yang kemarin salah (bayangkan, satu juta dan salah!)--konsultasi, dan segera mendaftar operasi di Fatmawati atau RSCM. Yang kudengar saat kopdar tadi, untuk bertemu dr. Luthfi saja bisa sampai menunggu tiga bulan. Ngantri operasi bisa sampai setahun kalau BPJS. Like...oh, okay. Jika memang harus menunggu setahun, akan kutangguhkan itu semua dan fokus S-2 saja. I won't wait that long. No. Skoliosis tidak boleh mengacaukan target waktuku.

Sembari menunggu, aku mau sekali pakai soft brace. Soalnya, brace itu fleksibel, mau kubawa ke luar negeri juga pasti bisa. Sayangnya, yang bikin aku meleleh, ya harganya. Tiga puluh juta. Bahkan jauh lebih mahal daripada harga ngontrak rumah setahun! Terang saja aku nggak enak mintanya.

Di pertemuan tadi, aku juga kenalan sama skolioser yang sudah operasi. Dia operasi di RSPI. Dia cerita biayanya sekitar seratusan juta, ya pasti, itu kan rumah sakit swasta. Terus, ada juga satu skolioser yang cerita dia gonta-ganti dokter, udah ke dr. Luthfi juga. Omaigat, berapa banyak biaya habis untuk konsultasi? Dia pun bercerita bahwa ia bertemu seorang bapak yang menemani anaknya konsul. Kata bapak itu, "Perkiraan biaya operasi anak saya sekitar seratus tujuh puluh juta."
"Hah, kok mahal sekali, Pak?"
"Iya, soalnya pen yang saya pilih bikinan negara X. Karena pen itu akan dipasang di tubuh anak saya seumur hidup, saya menginginkan yang terbaik."
Kemudian, skolioser lain tiba-tiba berceletuk, "Kalau BPJS nggak bisa milih pen kan, ya? Bisa jadi nggak, sih, pen yang nggak gitu bagus yang dipilihkan untuk pasien?" Buru-buru kutengahi, "Kurang tahu soal pen ya, Bu, tetapi setahu saya dokter yang mengoperasi, khususnya di RSCM, tetap bersikap profesional. Sama saja dengan tanpa BPJS."

Daaaaaaaan, di sinilah aku tertegun sendiri. Tahu-tahu sebal sama uang. Tahu-tahu kesal dengan kalimat, "Kesehatan itu ekslusif. Mahal." Soalnya, aku memang baru menyadari kalimat ini benar adanya. Coba nggak perlu BPJS, pasti bisa segera daftar operasi. Coba uang dapat dipetik di mana saja, pastilah bisa konsultasi berulang kali jika mau. Coba uang berguguran dari pohon, pasti bisa ikut semua treatment tanpa ragu. Kalau sudah berpikir seperti ini, ujung-ujungnya cuma bisa nangis.

Sko, kenapa perawatanmu semahal membeli mobil baru?

Kak Dida, kalau kakak nanya lagi, "Apa yang membuat kamu terpuruk hingga nyaris menangis sebagai seorang skolioser?" Jawabannya ya ini. Kenyataan pahit, namun harus ditelan, ini.

So sorry for being so sensitive, but yeah...this thing bothers me. I can't even sleep.

Sunday, March 27, 2016

Once sco, forever sco

Assalamualaikum! 

Lama ya nggak curhat di sini, hehe. Beberapa hari ini memang aku kebanyakan istirahat, skripsian, dan istirahat lagi. Mager, haha. 

Akhir-akhir ini aku rutin membaca info skoliosis seperti saat pertama kali didiagnosis dulu. Bedanya, kali ini fokus ke info operasi. Derajat kemiringanku memang masuk kategori layak operasi. Hari ini aku akan konsultasi dengan dokter di RSCM, insyaAllah. Beberapa hari lalu Bunda chat, “Kalau memang keputusannya harus operasi, tunggu wisuda aja biar skripsinya tidak terganggu.” Aku spontan jawab, “Iya, semoga tidak operasi. InsyaAllah tidak.” Sebenarnya saat mengatakan ini aku ragu, apa betul tidak butuh operasi? Lantas koreksi tulang belakangmu bagaimana? Tiba-tiba bayangan akan operasi sehabis wisuda berdiri di depan mata. Takut. Ketakutanku bukan tak beralasan, kemungkinan lumpuh dan meninggal itu ada walaupun hanya sekian persen. Andaikata berhasil, pemulihan pascaoperasi betul-betul penuh perjuangan. Tidak boleh angkat berat, tidak boleh olahraga untuk sementara waktu, tidak boleh membungkuk, tidak boleh tersandung, tidak boleh lari, dan beberapa larangan lain yang sifatnya sementara. Pemulihan pascaoperasi rata-rata berlangsung selama enam bulan sampai satu tahun. Mesti sabar, ya, hehehe. 

Kalimat dr. Luthfi yang kubaca di beberapa blog masih terngiang-ngiang di kepala, “Once scoliosis, forever scoliosis”. Operasi pun tidak semata-mata menjadikan derajat kemiringan menjadi nol--ini tidak seperti laser mata. Operasi hanya mengurangi derajat skoliosis agar meningkatkan kualitas hidup para skolioser. Setelah operasi, beberapa orang masih harus mengenakan brace, rutin kontrol minimal setahun sekali, dan menaati larangan dokter seumur hidupnya. Intinya, amanah untuk menjaga tulang belakang melekat erat di pundak. Nggak bisa berhenti, nggak bisa lepas. 

Berat, tetapi nggak boleh dibawa stres. Jujur saja, aku sempat terpuruk dan stres setelah membaca-baca pengalaman skolioser lain. Kenapa aku yang kena skoliosis, padahal Allah tahu aku paling bebal menaati aturan, paling mager, dan mudah menyerah? Akan tetapi, ya sudahlah, Allah telah mempercayakan skoliosis ini padaku. Tantangan ini pasti bisa kulalui, barangkali setelah ini aku jadi pribadi yang pantang menyerah dan disiplin. Aamiin. 

Bismillah, ya. Semoga dokter nanti asyik diajak konsultasi. :) 

Thursday, October 1, 2015

Naik gunung

N: Aku penasaran dengan naik gunung. Seru, ya?
I: Seru, Naaad. Alhamdulillah.
N: Berapa lama perjalanannya?
I: Kemarin, sih, aku empat jam naik sampai perkemahan. Lalu lanjut dua jam lagi agak ke atas.
N: Oh, ya? Lama banget, ya.
I: Padahal itu gunung untuk pemula banget.
N: Ng, oke. Aku nggak bisa membayangkan mesti berjalan selama itu.
I: Banyak istirahatnya, sih. Yang perempuan kelelahan membawa barang jadi sebentar-sebentar berhenti.
N: Bawa apa aja kalian?
I: Isi tasku kemarin pakaian, alat makan, air mineral 1,5 L empat botol, dan beras. Laki-laki membawa kompor dan lain-lainnya.
N: OMG! Berat sekali. Aku nggak tahu apa bisa memanggul barang sebanyak itu. Buku kuliah dan laptop saja sudah membuat tulang belakangku nyeri tak keruan. (skoliosis)
I: Emang harus olahraga sebulan sebelum naik, sih. Aku udah olahraga, tetapi tetap saja ngos-ngosan.
N: Hiking is not my thing. Hehe. Jalan-jalan ke Ketep Pass di Jogja naik mobil saja aku sudah senang. Alhamdulillah.
I: Alhamdulillah. Kalau nggak kuat naik, jangan dipaksa. Kasihan teman perjalanan kita nanti, bisa jadi mereka nggak menikmati.
N: Tentu. Mereka, kan, mau jalan-jalan bukan sibuk menolong sana-sini. Setiap orang punya kesempatan yang berbeda, tak usah dipaksakan, bukan?
I: Betul sekali.

Intinya, bagaimana kau selalu menerima dan mensyukuri keadaan.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, September 21, 2015

Menjadi skolioser

Aku bersyukur punya teman-teman yang perhatian denganku. Contohnya kemarin, aku membawa beban barang yang cukup berat. Aku membawa tas ransel, tas laptop, dan tas tangan. Tas ranselku penuh buku, tas tanganku juga penuh buku dan satu jaket, sementara tas laptopku ya berisi laptop yang beratnya...ampun, deh. Mereka membantuku membawakan laptop. Makasih banyak, ya. ♡

Ketika mau pulang...
"Nad, kamu pulang naik ojek, kan?"
"Ng, nggak tahu. Jalan kaki, mungkin?"
"Naik ojek, Naaad. Kamu tahu kosanmu sejauh itu. Lagi, ini bawaanmu banyak banget."
"Mahal banget ojek kalau dari kampus ke kosan, beda kalau sebaliknya."
"Ya gimana, tulang punggungmu kasihan. Naik ojek aja, ya?"

Akhirnya aku pulang naik ojek. Sampai kosan, tanpa basa-basi, langsung tidur padahal belum makan malam. Tulang punggungku berulah, nyeri sekali. 

Menjadi skolioser memang butuh rasa sabar.
Sabar dengan nyeri punggung yang dialami ketika duduk atau berdiri terlalu lama
Sabar dengan sesak napas yang terkadang menghampiri diri
Sabar dengan kesulitan tidur karena bingung menentukan posisi (telentang, miring kiri, atau miring kanan)
Sabar dengan nyeri punggung yang dialami ketika harus membawa beban berat
Sabar menjalani latihan-latihan peregangan 
Sabar menegakkan posisi duduk yang salah walaupun tak nyaman

Belum lagi pengalaman skolioser lain yang memakai brace, operasi, dan lain-lain.

Ayo, semangat skolioser! We are bent but not broken!
Kita harus bersinar di tengah ketidaksempurnaan. ♡

Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Seorang skolioser berderajat 45


Sunday, June 14, 2015

Kurus terus; Terus kurus?

Aku tidak mau kurus terus. Saat aku mengeluhkan ini, mungkin ada orang-orang di luar sana yang berkata, "Aku tidak mau gemuk terus." Bukan, aku bukannya tidak mensyukuri badan pemberian Tuhan, tetapi aku sangat ingin membuatnya ideal. Tinggiku 170 cm, sementara berat badanku... oh, tak perlu kau tahu. Yang jelas, dokter gizi menetapkan beratku termasuk dalam kategori underweight.

Terlalu kurus tidak baik. Terjangkit sakit mag, nyeri tulang, dan sebagainya. Seperti yang baru saja terjadi, tiba-tiba sendi peluru (antara lengan dan bahu)ku nyeri luar biasa. Lengan sampai nggak bisa digerakkan saking sakitnya. Nyerinya menjalar sampai ke pinggang. Ya apaan. Duduk kaku aja sambil meringis, menunggu nyerinya reda.

Belum lagi skoliosis yang tampaknya makin parah (semoga saja tidak). Nyerinya amit-amit, nggak bisa dibahasakan, deh. Mana kata beberapa orang, derajat kemiringan skoliosis lebih cepat berubah pada orang kurus. Alasannya. otot penyangga tulang yang miring tidak cukup kuat. :(

Ya Allah, ini baru sakit tulang dan sendi
Belum seberapa dibandingkan rasa sakit saat melahirkan
57 del, katanya
Setara dengan 20 tulang yang patah dalam satu waktu
Waks, satu sendi yang nyeri saja bikin nangis
Tulang belakang yang bengkok saja melahirkan keluh berhari-hari
Gimana patah tulang?
Hebat banget, deh, yang melahirkan secara normal
Juga yang secara caesar
(You guys have no idea betapa sakitnya bekas jahitan caesar)
Seorang ibu itu hebat, ibuku hebat, ibumu juga
Mereka perempuan tangguh nan kuat
Membawa anak dalam perut selama berbulan-bulan
Melewati proses melahirkan yang luar biasa sakit
Berada di titik kritis hidup dan mati
Menyusui anak minimal dua tahun
Mengemong anak bertahun-tahun
Wajar saja ada peribahasa yang bilang, "Kasih ibu itu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah."
Menjadi ibu merupakan pekerjaan tiada henti
Anak-anak gadis bakal merasakan kesulitannya ketika ia menjadi seorang ibu kelak
...
Perempuan menikah harus siap menjadi ibu, kan?
Wkwkwkwkwkwkwkwkwkw
Kalau ingat ini, rasanya mau menyingkirkan jauh-jauh pikiran menikah muda
 
No cheers for tonight,
Salam,
Nadia Almira Sagitta
sumber gambar

Thursday, January 15, 2015

2015 - Skoliosis

Skoliosis. Masih ingatkah dengan pelajaran Penjaskes di SD dulu? Kifosis, lordosis, dan skoliosis.

Beberapa bulan ini, aku mengeluh sakit punggung. Tak bisa telentang dan menghirup napas panjang. Sakit. Rasanya, tulang rusuk tertarik oleh tulang belakang tiap bernapas. Rasanya dada ditekan kuat-kuat kalau telentang. Belum lagi pegal-pegal tiap bangun tidur.

Kemudian, datanglah temanku berkata bahwa tulang kananku menonjol dibanding yang kiri. Tanteku juga mengatakan hal yang sama. 
Jadilah, 15 Januari 2015 lalu aku ke dokter ortopedi. Dokter Tejo namanya. Dia berperawakan tinggi dan tegak. Dia lebih tinggi dari saya. Hahahha. Pas banget deh jadi dokter spesialis tulang.

Dari sana, aku menuju ruang radiologi. Kunjungan pertamaku ke sana, yeayyyy! (Terus bangga). Bertukar pakaian dengan baju rumah sakit, berdiri di depan kamera khusus, dan voila! Jadilah foto hitam putih bergambar tulang rusuk serta tulang punggungku. Foto x-ray kah itu? Entahlah.

Dua foto hitam itu merogoh kocek Rp320.000,00. Setelah membayar, aku kembali ke ruangan dokter. Di sana, dokter Tejo mengambil penggaris dan mulai mengukur derajat kemiringan tulangku. Hasilnya, tulang atas miring 46% dan tulang bawah miring 30%. Waw, mengejutkan sekali! :( Ternyata sudah miring sebegitunya.

Aku diminta rutin berenang dan backup. Seumur hidup.
Ya Allah, capai juga, ya? Sayangnya, nggak boleh ngeluh. Masih mending disuruh olahraga daripada disuruh mengonsumsi obat. Selain itu, diminta rutin mengecek kondisi tulang tiap enam bulan sekali. Bila kemiringannya melewati angka 50%, bisa operasi. Kata Pak Dokter, “Iya, operasi itu kayak naruh Honda Brio di punggung. Hehehe." Wkwkwkwkwk! Biaya operasi rupanya sekitar Rp100.000.000,00 guyssssss! Mahal juga, ya. :(

Sepupuku sudah dioperasi, sih. Skoliosis 70%. Operasinya bener-bener dari atas sampai nyaris ke tulang ekor. Ngelihat jahitannya itu, lho, nggak kuaaaat. :(

Resolusi 2015 dadakan:
Belajar berenang
Rutin backup
Rajin minum susu
Duduk tegak tiap pagi
Menggemukkan diri >> ngaruh ke otot yang menunjang tulang, ternyata.

Doakan aku, ya, teman-teman.

Xoxo from Jogja! ♡♡♡♡
16 Januari 2015.