Monday, April 11, 2016

Bebersih

Iseng nonton video home organizing dan cleaning hacks. Merasa konyol dengan kata kunci "How to clean...", tetapi ya sudahlah memang banyak yang belum aku tahu. Untuk membuat rumah nyaman dan keluarga betah tidak hanya mengandalkan aroma masakan, tetapi juga keteraturan dan kebersihan. Oke, dari sekarang harus belajar bersih-bersih. Kebersihan itu sebagian dari iman, Nad, jangan cuma kebersihan diri aja yang diperhatikan. Wkwkwk. Lagian ada yang ngomong, "Nggak ada izin nikah kalau kamarmu saja berantakan." Heeeeeeh, iya juga, sih. Kamar yang ukurannya cuma berapa kali berapa saja kelimpungan ngurusnya, gimana rumah dengan banyak kamar? /plak/

Wish me luck!
Duh, partner hidup masa depan, maaf ya kalau aku berantakan. o.O

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, April 10, 2016

Kau, topikku

Semalam, aku tertidur terkenang kau dan semua percakapan kita.
--

Topik tulisan-tulisanku bercerita tentang kau. Bunga tidurku berisikan kau. Mendadak kau jadi fokus baru. Bukan fokus yang ingin digapai, tetapi fokus yang tak terencana, tiba-tiba ada.

Tulisanku tentang kau terbilang banyak dan telah terpublikasi di sini, di medsos lain, di folder khususku, di kertas-kertas kerjaku, juga di pikiranku. Ketika penulis jatuh cinta, siap-siap saja menjadi tokoh utama ceritanya. Siap-siap saja abadi dalam karyanya. Bahkan jika kau menyakiti hatinya, kau masih saja akan dituliskan olehnya sampai beberapa tahun ke depan. Penulis memiliki hati yang peka, tak jarang rapuh. Mereka perasa, itulah mengapa kadang perihal rasa diagung-agungkan dalam tulisannya.

Untuk saat ini, kau adalah topikku yang paling menarik.

Dapur

Pagi tadi, tak seperti biasanya, aku nongkrong di dapur. Kulihat tante sedang memanaskan minyak dan membuat adonan.
"Mau masak apa, Tan?"
"Eh, Nadia. Ini, nih, mendoan."
"Wiiih, caranya gimana?"

Mengalirlah percakapan soal bumbu-bumbu. Heh, tumben sekali aku penasaran pada bumbu masakan. Boro-boro, dulu mah aku ke dapur cuma mencicipi makanan lalu ngacir ke ruang televisi. Kemudian, datanglah ayah yang tampaknya baru selesai mandi. Lalu disusul omku. Ayah membuat kopi, om sarapan, tante masih menggoreng, dan aku masih setia memperhatikan penggorengan yang kini berisi tempe. Kami berkumpul di dapur membicarakan makanan dan hal-hal lain.

Tiba-tiba satu imajinasi berkelebat dalam pikirku. Mungkin nanti kita bisa begini. Aku dan kau di dapur, kau membuat teh atau kopi kesukaanmu, sedangkan aku menyiapkan empat tangkup roti isi. Dua kita lahap untuk sarapan dan dua lagi kita bawa ke tempat kerja. Sembari melakukan itu, kita bertukar senyum seperti biasa, berusaha menebarkan semangat pada satu sama lain. Momen sederhana favoritku.

Tahun-tahun berlalu, dapur yang semula sepi mulai diisi cekikikan anak kecil. Kau mengajari si kecil memotong-motong sayur. Aku--memakai celemek pemberianmu--berkutat dengan hidangan makan malam kita. Aku membayangkan kita bertiga tertawa lepas, entah menertawakan apa. Bahagia, yang kutahu.

Adakalanya pula, kau menghampiriku yang sedang mencuci piring di dapur lalu menyentuhkan dagumu di bahuku dan melingkarkan tangan di pinggangku. Tidak ada maksud apa-apa, kau hanya suka melihat ekspresi terkejutku. Kadang kau menambahkan, "Aku merindukanmu seharian di kantor." Jika sudah begitu, pipiku bersemu merah dan kukatakan, "Sama. Aku juga. Selalu."
--

Dapur. Kurasa ini akan menjadi salah satu tempat favoritku. Karena di situ, dapat kurasakan kehangatan sebuah keluarga. Ada senyum, cerita, kasih sayang, dan masakan seorang ibu. :)

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Friday, April 8, 2016

Trik Makeup: Lipstik sebagai Pemerah Pipi

Gooood mornin'!

Yuhu, apa yang lebih membahagiakan dari pagi di akhir pekan? Saatnya bersantai dan menyenangkan diri. ♡

Hari ini aku iseng mencoba satu trik makeup dari beauty vlogger di Youtube, yakni menggunakan lipstik sebagai pewarna pipi. Hah? Lipstik, kan, buat bibir, Nad?! Kok dipakai di pipi? Apa nggak membuat breakout?

Yah, kalau kamu punya kulit yang sensitif dan acne prone sepertiku, lebih baik pakai blush on daripada lipstik. Lipstik punya zat kimia yang barangkali berbahaya jika digunakan di kulit wajah. Toh, ia tidak diciptakan untuk itu, omong-omong. Namun, hari ini aku mencobanya untuk senang-senang. Just for fun, wkwk. ^^

If this trick works for you, you'll have a whole new colour for your blush. Why don't you give it a try? One attempt won't hurt. :p

Nah, aku tes pakai lipstik warna velvety brown 14 Wardah. Sepertinya lipstik warna pink dan merah juga bakal cocok untuk eksperimen ini, tetapi aku tidak menyarankan warna merah darah karena hasilnya bakal kentara banget. Aku kurang suka dengan warna mencolok. Oh ya, pilihlah lipstik matte, bukan shiny, apalagi lipgloss! Hasil lipstik matte jauh lebih bagus daripada lipstik yang glossy. Akan tetapi, kalau kamu merasa lipstik yang glossy cocok untukmu, then go ahead.

Catatan pula, jangan gunakan lipstik kedaluwarsa. Lipstik yang sudah berumur 2 tahun ke atas sudah waktunya disingkirkan dari kotak makeupmu. Jangan cari gara-gara, nanti kulitmu malah rusak.

Kamu bisa mengaplikasikannya langsung di pipi, di tangan terlebih dahulu, atau di kuas makeup. Saranku jangan langsung pakai ke pipi, apalagi kalau kamu sudah pakai bedak. Rasanya, lipstik jadi nggak higienis. :|

Pulaskan tipis saja di pipi (apple of the cheeks) pakai tangan. Apa itu apple of the cheeks? Itu lho, bagian chubby saat kamu senyum. Jadi, tersenyumlah dulu. Setelah itu, tepuk perlahan dengan jari ke arah tulang pipi. Ta-da, jadi!

Trik ini bisa kamu gunakan kalau lupa bawa blush on dalam perjalanan, lagi iseng dandan di rumah, atau pas dandan untuk jalan-jalan. Hm, tetapi tetap aja aku nggak sarankan untuk penggunaan tiap hari. That's what blush ons are create for! Pakailah makeup yang memang diciptakan untuk bagian tertentu di wajahmu. Jangan aneh-aneh.

Oke, itu postingan kali ini. Semoga menghibur dan bermanfaat. Selamat menikmati akhir pekanmu yang indah! :D

Salam,
Nadia Almira Sagitta

*tulisan lainku tentang lipstik, klik di sini.

Melupakan Salwa

Dirundung duka
karena rindu yang begitu menggebu

Apakah suatu saat aku akan menjelma Amba yang seketika melupakan wajah kekasihnya, Salwa? Melupakan kau dan mengapus semua angan-angan tentang kau?
--

Tak ingin berhenti membaca Amba. Seru sekali novelnya. Belum sampai setengah pembacaan.

Thursday, April 7, 2016

Memilih Sereal

Selamat pagi!

Sudah sarapan belum? Breakfast is the important meal of the day, lho, jangan dilewatkan, ya!

Bagi beberapa orang, bukanlah sarapan namanya bila tidak menyertakan nasi. Ada pula yang mencukupkan diri dengan susu/teh dan roti. Bagiku, roti atau sereal cukup untuk memulai hari, soalnya aku merasa nasi terlalu berat untuk dijadikan sarapan.

Well, the problem is, how to pick the healthiest one? Tidak banyak sereal yang bisa kamu temukan di rak-rak swalayan. Kondisinya jauh berbeda dengan rak swalayan luar negeri di mana sereal telah menjadi hal yang umum. Kalau di Indonesia, seperti yang kubilang tadi, sarapan ya nasi, lain daripada itu dianggap kebule-bulean. Wkwkwk.

Kamu bisa menemukan Kellogg's, Koko Krunch, Corn Flakes, Milo, Honey Star, dan lainnya di toko-toko. Nah, pertanyaannya, manakah yang lebih unggul daripada yang lain? (macam bibit unggul aja, haha!) Aku tidak mempermasalahkan rasa karena jelas kita semua punya favorit masing-masing. Hal yang ingin kupaparkan adalah cara memilih sereal yang paling sehat berdasarkan beberapa blog dan vlog kesehatan (tag: healthy lifestyle).

Pernah dengar nutrition facts label atau informasi nilai gizi? Yapski, itu tabel-tabel kecil yang terpajang di sisi kemasan makanan atau minuman yang kamu beli. Tabel ini memberi tahu konsumen mengenai gizi yang terkandung dalam tiap penyajian. Hayo, siapa yang selalu mengabaikan tabel penting ini? Haha, jangan risau, dulu aku juga tidak peduli dengan itu. Yang penting rasa enak dan harga murah, langsung capcus ke kasir. Sekarang, aku bisa sangat lama di swalayan hanya untuk membandingkan produk mana yang layak beli. Belanja bulanan pun menjadi hiburan tersendiri. 

Nah, balik lagi ke sereal, ada empat komponen penting yang mesti kamu cek ketika akan membeli sereal, yakni gula, garam (sodium), serat, dan protein. Pertama, gula. Pastikan sereal yang kamu beli mengandung 10g gula atau kurang. Kamu tentunya nggak mau setengah jatah dari konsumsi gula yang dianjurkan per hari habis di sereal. WHO merekomendasikan konsumsi gula per hari untuk laki-laki sebanyak 36,5g dan perempuan 25g. 

Kedua, takaran garam tidak lebih dari 240mg per sajian. Aku belum terlalu tahu apa alasan garam dibatasi sesedikit itu, mungkin terlalu banyak garam tidak baik. Belum kuriset di internet lagi, nantilah insyaAllah. Ketiga, serat. Sereal yang baik mengandung serat sebanyak 3g atau lebih. Masalahnya, entah kenapa, aku belum menemukan sereal di Indonesia yang mengandung serat lebih dari 1g. Okelah, maybe just skip this step, at least you know now. Kalau kamu ketemu sereal dengan takaran serat yang dianjurkan, kabari aku, ya!

Keempat, protein. Beberapa ahli menganjurkan konsumen memilih sereal yang mengandung 3g protein atau lebih. Lagi-lagi, sejauh ini aku baru menemukan sereal dengan kandungan 2g protein saja. Tidak masalah, hanya beda 1g. :P

Selain itu, pilihlah sereal yang tidak mengandung pewarna buatan. Apa pun yang artifisial tidak baik untuk tubuh. Yeay! :D

After spending some time in cereal aisle, finally I choose this one.


Nestle Corn Flakes

Informasi Nilai Gizi

As you can see, gulanya hanya 3g! Yuhuuuu, sebenarnya itulah alasan utamaku menjatuhkan pilihan pada sereal ini. Hahaha, rasanya kok bombastis sekali hanya 3g, sementara yang lainnya 9g ke atas. Yup, that wraps it up for today. See you soon, readers! Stay healthy! :D

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Daftar Acuan:
http://www.rodalesorganiclife.com/wellbeing/the-shocking-truth-about-how-much-sugar-youre-eating
http://www.eatingwell.com/nutrition_health/nutrition_news_information/how_to_pick_the_healthiest_breakfast_cereal
http://www.sparkpeople.com/resource/nutrition_articles.asp?id=427

Friday, April 1, 2016

Aku mau

Aku mau

Mengenalmu dari awal
Lalu diam-diam menyukaimu
Dalam hening
Dalam kesederhanaan
--

Karena cinta yang disimpan dalam hati jauh lebih aman daripada cinta yang diumbar dan dinikmati bersama. Juga lebih manis. Apalagi jika ternyata kalian berdua saling melempar harap dan doa ke Yang Maha Cinta kemudian diamini oleh-Nya.

Kau, apakah sedang mengharapkanku sama seperti aku yang juga mengharapkanmu?