Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Monday, July 25, 2016

Great Mom

I once thought that I want to be like you in the future. As sophisticated as you, as beautiful as you, and many more. But I've had it enough.

No, I don't want to be like you. I don't have to be like you. I want to be nicer than you, calmer than you, and I want to be around when my kids need me since their early stage. I want to be a great and friendly mom. Please note that I don't think you're an example of a bad ones. I learned a lot from you. From you, I learned...that I want to do something different. I knew from my deepest heart and thought that I won't apply your type-of-parenting to my kids. I'll have my own kind-of-parenting. Being a great parent isn't easy, I want to be one, so I will learn it from now on.

Thank you for making me realize
Just today.

Sincerely,
your daughter
-
yang selalu ada celanya untuk kau kritik.
Seems like I have never please you enough, huh?

Friday, July 1, 2016

Dua Jam Bersama Ica

Penerbanganku ke Medan kali ini cukup lama. Mengapa begitu? Soalnya, pesawat yang kunaiki menunggu giliran lepas landas selama 20 menit. Waktu yang ada tentu kumanfaatkan untuk tidur secara tadi pagi aku sahur terlalu cepat dan semalam tidurku hanya dua jam. Ketika aku membuka mata dan mengedarkan pandang ke sekeliling, kutemukan gadis kecil sedang melonjak-lonjak di pangkuan ayahnya. Ia mengenakan onesies putih bermotif dan jaket ungu. Saat pandangan kami beradu, aku memberinya senyum dan ia pun membalas senyumku. Aih, senangnya hati. Belakangan kutahu nama anak itu Ica. ^^

Tak lama, pramugari datang menawarkan makanan. Ica, yang masih batita, tentu saja makan siang dengan disuapi ibunya. Oh iya, jadi tempat duduk ayah dan ibu Ica dipisahkan aisle pesawat. Cukup sulit untuk ibu Ica menyuapi si anak karena adanya jarak antarkursi. Tatkala disuapi pertama kali, Ica tahu-tahu melepehkan nasi. Dari ekspresi wajahnya, sih, aku tahu nasinya masih terlalu panas, hahaha. Terus, memang dasar tabiat anak kecil yang mau melakukan semuanya sendiri, Ica berulangkali menepiskan tangan sang ibu dan mencuil sendiri makanan dari sendok. Gemas!

Ica ini aktif sekali. Suka loncat-loncat, ngegelosor di meja lipat, dan berjalan-jalan di lorong pesawat. Tiap ia berjalan, Ica  menghampiri kursi-kursi penumpang. Haha, tampaknya ia penasaran dan ingin berkenalan. Ayah Ica sampai kewalahan mengejar-ngejar Ica yang lari ke sana kemari. Lucu sekali. Kutebak, jika ia dewasa nanti ia akan menjadi pribadi yang ramah, ekstrovert, dan penuh rasa ingin tahu.

Dua jam bersama Ica, pandanganku tidak lepas daripadanya. Anak satu ini memang menggemaskan sekali. Juga, mungkin yang membuatku betah berlama-lama memandanginya karena aku melihat kekompakan ibu dan ayah Ica. Kulihat sendiri betapa sabarnya ayah Ica menghadapi tingkah si anak. Hal yang sama belum tentu kutemukan pada orang tua lainnya.

Hal lain yang kupelajari dalam perjalanan ini adalah uniknya komunikasi antaribu. Baiknya kuceritakan dahulu tentang posisi dudukku tadi. Di depanku ada ibunya Ica dengan kakaknya Ica. Di samping ibu Ica, duduklah ayah Ica bersama Ica dan abangnya Ica. Di depan ayah Ica, ada seorang ibu dengan anak perempuannya. Di belakang ayah Ica, yakni di sampingku, duduklah pasangan muda dengan anak laki-laki mereka. Di belakangku juga ada seorang ibu dengan anak perempuan. Well, you can imagine that I was all surrounded with kids. And I was there, single and very happy, with no kid.

Balik ke komunikasi tadi, kulihat ibunya Ica cepat akrab dengan seorang ibu yang duduk di seberangnya. Ya barangkali karena mereka punya pemahaman yang sama, "Kita saling tahu betapa repot dan bahagianya mengurus anak. Why don't we share our stories?"  Unik, ya? Aku pun sok-sok akrab menanyakan ibu di sampingku perihal umur anaknya. :)))

Hehehe, Ca, makasih ya sudah menyedot perhatianku selama di pesawat. Khip ngegemesin ya, Ca! Terima kasih pula sudah mengingatkanku pada satu sosok. Adalah kau yang tidak berhenti menari-nari di pikiranku sepanjang perjalanan tadi, Tuan.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 15, 2016

Saya Ibu Rumah Tangga, Nak!

Setelah kemarin saya mendapatkan wejangan dari dosen untuk menuntaskan studi setinggi-tingginya sebelum memikirkan urusan jodoh, sekarang saya mendapat kesempatan berdialog dengan seorang dosen favorit saya. Beliau menawarkan pandangan yang berbeda.
N: Bu, penerus bidang ini jika nanti profesor itu tidak ada, Ibu, kan?
D: Nah, itu dia, Nak. Saya belum S-3. Sudah banyak juga yang mendorong saya lanjut kuliah, termasuk suami saya.
N: Iya, lanjut aja, Bu.
D: Akan tetapi, nanti siapa yang mengurus anak-anak? Dulu ketika saya mengerjakan penelitian dan begadang saja, si kecil tidak bisa tidur kalau saya belum tidur. Itu baru penelitian kecil, bagaimana disertasi?
N: Iya juga sih, ya...
D: Ketika suami saya lanjut S-3 dan anak-anak mau merecoki ayahnya, mereka bisa main sama saya, tetapi kalau nanti saya S-3, bagaimana mungkin ayahnya yang ngurus sementara dia juga sibuk?
N: (diam seribu bahasa)
N: Jadi, Ibu ada kemungkinan lanjut S-3 kalau anak-anak sudah besar ya, Bu?
D: Belum tentu juga, Nak. Ya nanti kalau saya berani daftar SIMAK, berarti saya sudah siap. Tidak harus menunggu mereka besar juga. Tidak apa-apa, pekerjaan utama saya itu ibu.
D: Setiap pagi saya antar anak-anak sekolah, ikut rapat orang tua ini itu, sampai-sampai ada sekumpulan ibu yang menanyakan saya masih bekerja sebagai dosen atau tidak saking seringnya terlihat di sekolah. Hahaha.
N: Iya, Ibu sepertinya aktif banget di sekolah anak.
D: Iya, Nak. Apa ya...masa tumbuh kembang anak itu tidak bisa diulang. Pendidikan bisa ditunda, tetapi anak? Anak itu butuh kehadiran orang tuanya. Jangan sampai mereka merasa tidak diperhatikan.
N: (diam seribu bahasa lagi) (seketika merefleksi masa kecil) Betul, Bu. Ibu saya wanita karir dan jarang berada di rumah. Ya terkadang saya merasa kesepian, tetapi positifnya saya memang jadi anak yang mandiri. Semua ada positif negatifnya.
D: Iya, semua ada pilihannya. Saya memilih ibu rumah tangga sebagai pekerjaan utama saya.
--

Barakallahu fiik, Bu! Sungguh pahala tiada putus-putusnya untuk engkau yang begitu totalitas mengabdi untuk keluarga. Hidup ini memang penuh pilihan, bukan? Jika sudah memilih maka pastikan engkau berbahagia dengan pilihanmu itu. :)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, June 2, 2016

Nanti, setiap hari

Malam ini tidak bisa tidur. Padahal, hal yang menjadi buah pikiran sangatlah sederhana, hanya sebuah kejadian yang masih di angan. Jika tiap pagi sarapanmu kusiapkan, kau mau? Tidak hanya sesederhana ini, nanti. Tidak hanya sesekali, nanti. Setiap hari, di dapur yang sama, di meja yang sama ada kita berdua. Mungkin sesekali kita makan di luar, candle light dinner restoran atau menikmati angin sepoi-sepoi di bangku taman bersama dua kotak takeaway makanan. Mungkin juga nanti tak hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat. Katanya, makan bersama itu elemen penting dalam sebuah keluarga. Kita tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk itu. Kau dan aku paling anti lembur di kantor agar bisa makan bersama dan bertukar cerita atau berbagi keheningan. Tak jarang kita menikmati makanan di piring masing-masing sedang sunyi menyelimuti. Kau dan aku hanya perlu memastikan ada di sisi satu sama lain. Ada duduk di sana, dapat diperhatikan dengan kedua bola mata, dapat dirasakan hadirnya dengan telinga, dan dapat disentuh dengan kulit tangan.
--

Jengjengjeng, baper baca tulisan sendiri. Semakin tidak bisa tidur. Mari berdoa. Doa agar dapat segera istirahat di malam buta dan doa agar segera dipersandingkan. Eh, mesti ketemu dulu, ya, sebelum bersatu? Benar juga kamu! Oke, doa agar segera dipertemukan. Kalau sudah ketemu, mari berdoa agar diberi keyakinan untuk bersama. Ya, selamat tidur, kamu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, April 10, 2016

Dapur

Pagi tadi, tak seperti biasanya, aku nongkrong di dapur. Kulihat tante sedang memanaskan minyak dan membuat adonan.
"Mau masak apa, Tan?"
"Eh, Nadia. Ini, nih, mendoan."
"Wiiih, caranya gimana?"

Mengalirlah percakapan soal bumbu-bumbu. Heh, tumben sekali aku penasaran pada bumbu masakan. Boro-boro, dulu mah aku ke dapur cuma mencicipi makanan lalu ngacir ke ruang televisi. Kemudian, datanglah ayah yang tampaknya baru selesai mandi. Lalu disusul omku. Ayah membuat kopi, om sarapan, tante masih menggoreng, dan aku masih setia memperhatikan penggorengan yang kini berisi tempe. Kami berkumpul di dapur membicarakan makanan dan hal-hal lain.

Tiba-tiba satu imajinasi berkelebat dalam pikirku. Mungkin nanti kita bisa begini. Aku dan kau di dapur, kau membuat teh atau kopi kesukaanmu, sedangkan aku menyiapkan empat tangkup roti isi. Dua kita lahap untuk sarapan dan dua lagi kita bawa ke tempat kerja. Sembari melakukan itu, kita bertukar senyum seperti biasa, berusaha menebarkan semangat pada satu sama lain. Momen sederhana favoritku.

Tahun-tahun berlalu, dapur yang semula sepi mulai diisi cekikikan anak kecil. Kau mengajari si kecil memotong-motong sayur. Aku--memakai celemek pemberianmu--berkutat dengan hidangan makan malam kita. Aku membayangkan kita bertiga tertawa lepas, entah menertawakan apa. Bahagia, yang kutahu.

Adakalanya pula, kau menghampiriku yang sedang mencuci piring di dapur lalu menyentuhkan dagumu di bahuku dan melingkarkan tangan di pinggangku. Tidak ada maksud apa-apa, kau hanya suka melihat ekspresi terkejutku. Kadang kau menambahkan, "Aku merindukanmu seharian di kantor." Jika sudah begitu, pipiku bersemu merah dan kukatakan, "Sama. Aku juga. Selalu."
--

Dapur. Kurasa ini akan menjadi salah satu tempat favoritku. Karena di situ, dapat kurasakan kehangatan sebuah keluarga. Ada senyum, cerita, kasih sayang, dan masakan seorang ibu. :)

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, February 7, 2016

Pasangan favorit

Pagi ini mendengarkan lagu Kahitna. Kangen rumah, kangen Bunda dan Ayah. Kangen dengar lagu mereka di rumah. Kangen suara Ayah yang nyanyi ketika Minggu pagi. Kangen Bunda yang selalu menyimpan CD Kahitna di mobil dan selalu diputar. Kangen dengar kalian bilang, "Ini lagu Bunda sama Ayah." Dulu, aku sempat bingung kenapa kalian memilih lagu-lagu mereka untuk menyimbolkan cerita cinta kalian, sementara lagu mereka galau semua. Akan tetapi, terima kasih sudah mengenalkan lagu-lagu Kahitna sedari kecil. Mungkin itu juga yang membuatku begitu perasa hingga saat ini. Pengaruh buruk dong ya, Bun? Hahaha.

Biar aku menepi
bukan lelah menanti
namun apalah artinya cinta pada bayangan
Oh,
pedih aku rasakan kenyataannya cinta tak harus selalu miliki

Pengin pulang untuk melihat pasangan favoritku. Pasangan yang membuatku tenang dan yakin bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa cinta bisa bertahan sampai tua. Bahwa apa pun perbedaan yang ada, selalu ada jalan tengah. Bahwa keegoisan satu kepala bisa luntur karena cinta. Bahwa diperlukan dukungan dan pengertian ekstra untuk saling memahami. Terlalu lama berada di sini membuat keyakinanku terkikis pelan-pelan. 

Friday, November 6, 2015

Surat untuk Si Tampan dan si Cantik

Halo, si Tampan dan si Cantiknya mama. Ini mama, menulis dari masa lalu. Hari ini mama menerima kiriman buku ABC for Baby Linguists. Mama mau mengenalkan linguistik pada kalian sedini mungkin karena mama mau berbagi dunia kecintaan mama. Jadi, siap-siap dengan alofon, bilabial, nasal, dan kawan-kawannya itu, ya! Mama, sih, berharap banget salah satu dari kalian mengikuti jejak mama menjadi seorang linguis kelak. Nanti kita bisa meneliti bareng-bareng seperti David Crystal dan anaknya, Ben Crystal. Aduh, pasti seru sekali bila di meja makan kita membahas gejala-gejala bahasa terbaru atau mendiskusikan kebingungan bahasa yang kalian temukan. Bisa juga tiap pekan kita belajar bahasa asing. Makanya sekarang mama lagi mendalami beberapa bahasa supaya nanti bisa mengajari kalian. Belajar bahasa itu bisa meningkatkan kemampuan otak kalian, lho! Bisa mencegah kepikunan juga! Ajaib, kan? ^^♡

Omong-omong belajar bahasa, mama berencana mengajarkan bahasa daerah sebagai bahasa pertama kalian. Duh, padahal mama nggak mengerti bahasa Jawa dan Minang, tetapi mama janji mau belajar. Bisa dimulai dengan mencari pasangan dari suku yang sama juga! Haha, doakan-doakan. Eh, dari suku yang sama sekali berbeda juga nggak masalah, tetapi mama pengin dia menguasai bahasa daerahnya. Nanti mama belajar bahasanya dari dia. Pokoknya mama mau bahasa pertama kalian bahasa daerah agar timbul kecintaan terhadap tanah yang membesarkan kalian dan agar kalian tumbuh menjadi manusia yang berbudaya. Selanjutnya, mama akan mengajarkan bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya. Mama kan lulusan sastra Indonesia, mesti kudu wajib membesarkan anak dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa ketiga dan seterusnya itu terserah kalian. Silakan menjadi multibahasawan atau dwibahasawan. Keluarga kita mah liberal aja untuk masalah seperti ini. Hahaha. :)

Eh, mama kebanyakan cerita, ya? Betapa banyaknya rencana dan angan-angan mama di masa depan. Tentang pembelajaran kalian, tentang karier mama, tentang asupan gizi kalian, tentang cara memahami kalian, dan lain sebagainya. Mama masih harus banyak belajar. Huu, banyaaaaak banget! Doakan mama punya kekuatan dan kesungguhan untuk mempelajari semua ini. ^^♡

Sepertinya lebih seru menyambut kedatangan kalian nanti daripada menyambut kedatangan dia, calon papa kalian. Kenapa begitu? Soalnya mama di-PHP meluluuuu, sama banyak orang pula. Jadinya sebal! Akan tetapi, kalau nggak ada dia, mana bisa ada kalian? Hahaha. Ya sudah, doakan mama agar berjumpa dengan pemuda yang saleh, berjiwa pemimpin, dan peduli dengan bahasa serta linguistik. Mama janji akan mencari pemuda itu sampai ke ujung dunia. Pokoknya mesti spesies terbaik dari yang terbaik. ^0^)/

InsyaaAllah. Perkenankanlah, ya Allah.

Peluk,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, October 27, 2015

Layang-layang

Hari ini aku melihat layang-layang. Mengangkasa seorang diri di langit biru. Seketika ingatanku tertuju pada suatu sore di bumi Sulawesi.

"Nadia, Fira, main layangan, yuk!"
"Ayo! Di mana, Ayah? Depan rumah?"
"Di jalan baru aja. Lebih luas." 
"Bunda ikut?"
"Nggak, Bunda di rumah aja. Kalianlah yang pergi."
 
Jalan baru yang Ayah maksudkan itu jalan Hertasning Baru, tembusan Hertasning sampai Sungguminasa. Tanahnya masih merah, tetapi tidak lagi berbatu. Kami main layang-layang di sana. Aku memegang layang-layang berekor biru dan Ayah mencoba untuk menerbangkannya. Aku juga mencoba menerbangkan layang-layang dengan Fira yang menjadi pemegangnya.

Saat itu angin tidak begitu kencang jadi layang-layang kami terbang rendah. Aku, Ayah, dan Fira berteriak kegirangan ketika layang-layang kami meliuk-liuk tinggi di udara. Tak lama, ada seekor lelayang yang menghampiri layang-layang milik kami. Cieee, si layang-layang punya pacar! Dua layang-layang berarakan romantis di langit Hertasning. Hahaha. 
 
"Itu layangannya mendekati punya kita terus, deh."
TASSSS!
"Yaaaah, yaaaah, layangan kita putus."
"Aduh, jahat juga, tuh, penerbangnya. Apa boleh buat. Kita pulang, yuk?"
"Besok main layangan lagi, Yah?"
"Iya, nanti beli lagi."
 
Hari ini aku melihat layang-layang. Pikiranku serta-merta terbang ke masa lalu. Ada dua tawa bahagia bocah perempuan yang tercipta karena usaha seorang Ayah. Kutatap layang-layang di cakrawala sekali lagi. Berimajinasi bahwa dirikulah yang mengangkasa menyentuh awan dan merasakan embusan udara dari atas sana. 
 
Salam,
Nadia Almira

Friday, September 18, 2015

WM or FTM?

Menjadi ibu pekerja atau ibu rumah tangga? Working mom or full time mother? Baru saja saya membaca artikel yang berseliweran di Facebook. Salah satu artikel berasal dari situs agama dengan judul yang agak menyudutkan ibu pekerja. Artikelnya cukup panas, terlebih lagi komentar pembacanya. Ada yang membawa-bawa dalil agama, ada yang membawa-bawa realita hidup, ada pula yang membawa-bawa gengsi akademis.
 
Hm, apakah aku terlalu dini mengamati perdebatan WM-FTM yang tiada akhir ini? Menurutku, sih, tidak apalagi aku sudah memproyeksikan diriku sebagai WM di masa depan. Justru dengan mengamati perkembangan isu ini, aku bisa mendapatkan pertimbangan sana-sini.
 
Berdasarkan hasil pembacaanku terhadap beberapa blog pribadi yang membahas FTM dan WM, keputusan tersebut terletak di tangan sang ibu. Hidup kita selalu dikelilingi oleh pilihan-pilihan, salah satunya adalah pilihan untuk berkarir atau tidak. FTM dan WM sama-sama bisa mengurus dan anak suami dengan cara yang berbeda. Jangan sudutkan pilihan wanita yang ingin meniti karir. Jangan memandang rendah kuantitas kebersamaan keluarga yang dimiliki oleh WM, yang tentu saja berbeda jauh dengan para FTM. Ini bukan berarti WM itu tidak becus mengurus keluarga. Sama sekali tidak! Sama halnya dengan para FTM. Bukan berarti mereka kuper dan tidak memiliki wawasan yang sama dengan para ibu yang berinteraksi dengan dunia luar. Ini hanya masalah pilihan berikut konsekuensinya. Percayalah, setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk keluarganya. Ibu yang cerdas pasti bisa membagi prioritas waktunya: kapan untuk dirinya, kapan untuk anaknya, kapan untuk suaminya, dan kapan untuk pekerjaannya.
 
Aku sendiri merupakan cetakan seorang working mom yang luar biasa. Ibuku adalah seorang pekerja yang jam kerjanya tinggi, terkadang malah melebihi ayahku. Tak jarang ibuku lembur di kantor yang pada akhirnya membuat aku dan adikku bertanya-tanya kapan dirinya bisa pulang ke rumah. Sehari-hari, aku dan adikku dititipkan kepada pembantu--yang memang hanya lulusan SD (aku tak menafikan hal itu). Akan tetapi, sebelum berangkat kantor, ibuku selalu menitipkan pesan mengenai apa yang boleh kami lakukan dan apa yang tidak kepada penjaga kami. Di saat istirahat makan siang, ibuku selalu menelepon rumah dan menanyakan kabar kami. Terkadang, beliau bertanya, "Mau dibawakan apa hari ini?" Lalu dari mulut kami meluncurlah nama barang-barang atau makanan yang diidamkan hari itu. Ketika beliau pulang ke rumah, terlihat jelas raut wajahnya yang lelah. Tak jarang pula beliau marah-marah karena kesalahan kecil yang kami buat. Akan tetapi, tak apa. Aku tahu beliau lelah di kantor. Marah-marahnya itu membuat kami lebih disiplin.
 
Aku memang pernah merindukan sosok ibu yang sepenuhnya berada di rumah. Aku ingat, dulu aku sangat bahagia ketika ibuku mengambil cuti kantor karena sakit atau sekadar ingin menemani kami bermain di rumah saja. Akan tetapi, aku juga tahu hal itu tak mungkin terus-terusan terjadi. Dirinya yang aktif di luar rumah membuat kami tumbuh sebagai sosok yang lebih mandiri. Aku pun merasa cukup dengan kehadirannya pada saat pagi, petang, malam, dan sepenuhnya di akhir pekan. Kurasa jika aku menjadi WM kelak, akhir pekan juga akan kudedikasikan untuk keluarga. Sekarang ibuku menjadi seorang FTM. Ia mengurusi ayah, adikku, dan aku (walaupun jarak jauh) dengan sangat baik. Ia kembali memasak, suatu kegiatan yang jarang dilakukannya selama ia menjadi WM. Salah satu hal yang kusadari dan kusyukuri saat ibuku menjadi FTM: aku baru tahu masakannya itu enak sekali. Ibuku adalah contoh ibu pekerja berikut ibu rumah tangga yang luar biasa. ♡
 
Intinya, hargailah keputusan yang telah disepakati oleh setiap keluarga. Keluargamu bukanlah keluarga mereka. Ada sistem yang berbeda, ada kebahagiaan yang berbeda. Biarkanlah kita semua hidup dengan cara masing-masing yang tentunya unik dan tak biasa.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, September 9, 2015

Adikku masuk SMA

Hari ini adikku menghubungiku. Katanya, ia sedang berada di sekolah barunya dan menikmati waktu bebas selama 42 menit. Ia merasa bosan maka dari itu ia mengontakku.

"Okaaay, so what are you doing right now?"
"Nothing to do other than chatting with you."

Hahah, she needs me. Aku lalu berpikir, sudahkah aku menjadi kakak yang baik untuknya? Kakak yang dapat diandalkannya, kakak yang dapat diteladaninya, dan kakak yang dapat dijadikannya kawan cerita? Jangan jauh-jauh mengkhayalkan profesi sebagai ibu, cobalah jadi sosok saudara-saudari yang baik dulu.

I miss my little sister. Yep.

Semangat kamuuuu! Jangan lupa menambah kawan baru di SMA, okay? Kapan lagi, kan, kamu punya teman orang asing? ^^

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, July 23, 2015

Liburan Medan 2015

Liburanku ke Medan sungguh singkat sekali. Tak terasa besok daku harus kembali ke tanah rantau. Kembali menghadapi kewajiban yang belum tuntas. Dalam liburan dua belas hari ini, aku tak mengunjungi banyak tempat seperti tahun lalu. Aku bahkan tak ke Galeri Rahmat--museum margasatwa yang rutin kukunjungi tiap ke sini.

Hal yang berbeda dari liburan tahun-tahun lalu adalah fokusku. Bila kemarin fokusku ke tempat wisata, kali ini aku berfokus kepada pengenalan keluarga. Bukan, bukan dua keluarga. Perjalanan ke sana masih jauuuuuh. :v
 
Aku mulai mengenal hubungan kerabat uwo, nenek, om, dan tante yang kukunjungi. Setidaknya, aku tahu ada keluargaku di Jabodetabek dan sekitaran Sumatera. Setidaknya, aku tahu rumah gadang keluarga nenekku dahulu benar-benar gadang. Setidaknya, aku tahu penggunaan panggilan mak tuo, pak tuo, om, dan tante. Setidaknya, aku tahu sistem kekerabatan orang Minang benar-benar erat, dimulai dari satu kampung, satu rumah gadang, satu mamak, dan lain-lain. Setidaknya, aku tahu aku punya marga Minang. Wah, banyak sekali hal yang bisa kupelajari. Not to mention, aku belajar dekat dengan anak-anak.

Ah, tetapi targetku tak tercapai, nih. Belajar masak. Boro-boro masak, aku ngerepotin orang aja bisanya. Wakaka, inilah anak kuliahan. Terbebas dari tanah rantau, inginnya bermalas-malasan sepanjang hari. Maunya dimanja. Maunya jalan-jalan. Waduh, maaf kepada om dan tante yang merasa direpotin. Nggak, kan? Aku, kan, hiburan. :p  

Terima kasih, Nenek, Om, Tante, dan krucil-krucilku. Makasih udah ngajak Nad nostalgia ke Es Krim Ria, nraktir Martabak Mesir, nemenin ke Istana Maimun dan Masjid Raya, ngebeliin kerudung, nraktir makan siang sekaligus nemenin jalan-jalan di Centre Point, ngenalin aku ke Ummi Ihsan (si penulis buku itu), ngeboyong aku ke Lippo Plaza untuk makan es krim Fountain dan berfoto-foto, ngebeliin air tebu, nyuguhin masakan kesukaanku serupa rendang dan roti jala, ngajarin aku main sepak bola di PS 2, nraktir roti tisu, ngasih pengalaman salat Id yang super-terlambat (haha!), nanyain perihal jodoh (yang akhirnya buat aku kepancing dengan menceritakan kamu), ngasih angpau lebaran, serta utama dan terutama: terima kasih sudah mengajakku silaturahmi ke keluarga besar kita. ♡

Inilah dua belas hari yang mengesankan. Semoga lebaran tahun depan kita semua bisa berjumpa lagi. InsyaaAllah, kali ini akan kuajak serta Ayah, Bunda, dan Fira bersama! Semoga mereka mau. :)


Monday, July 20, 2015

Silaturahmi

(silaturahmi kala lebaran)

N: Psst, Ante Cam, mak tuo ini siapa?
C: Saudari nenek, entah dari mana. Dia ini mamak yang dituakan. Dulu, ada mak tuo laki-laki, tetapi sudah meninggal.
N: Oh...

N: Om, ini rumah siapa lagi yang didatangi?
R: Ini keluarganya nenek lagi. Om lupa silsilahnya, tetapi mereka satu kampung dan satu rumah gadang.
N: Rumah gadang itu besar, ya, Om?
R: Besar, lah. Rumah gadang nenek dulu ada sembilan ruangan.
N: Kamar, maksudnya?
R: Ruangan. Ada dapurnya masing-masing.
N: (Wah, gila. Besar banget, dong?)

O: Dulu om tinggal di Imam Bonjol sebelum kuliah.
N: Oh, ya? Om saudaranya nenek juga?
O: Jadi, bapak om itu keluarga sama uwo. Sekampung juga kami.
N: Sama ayahku berarti sepupu, lah, ya?

N: Om Ndi, kalau yang di Jabodetabek itu keluarga dari mana?
R: Itu...orangtuanya satu bapak sama nenek.
N: Oooooh, jauh, ya.

Gils. Lebaran ke Medan selalu menjadi lebaran terheboh yang kualami. Banyaaaaaak sekali keluarga. Ini masih yang di Medan, belum yang di kampung (Bukittinggi). Belum lagi yang tersebar di bagian Sumatra lain. Ampon. Keluargaku besar juga ternyata.
 
Keluarga ibuku rasa-rasanya tidak sebesar ini. Apa mungkin sistem kekerabatan di Jawa tidak seerat Minangkabau, ya? Di Minang, ada sistem bako dan ninik-mamak. (Terus hubungannya apa? Wkwk. sok tahu aku) Entahlah. Apa mungkin keluargaku saja yang jarang silaturahmi? ( -_-)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Main terkam

Alah, ampon. Habis main terkam sama dua sepupuku tadi. Cemacem kali lagaknya. Stres awak. Berantem sama yang kecil, eh si kecil memprovokasi abangnya untuk melawan aku. Dua lawan satu, ya jelas kewalahan walaupun mereka berdua masih krucil.

A: Apa pula baju ungu. Perempuan. Tengoklah, Bang.
R: Iya, perempuan. Mana sanggup lawan kita.

What the heck?

Emang, sih, mestinya aku ngalah karena udah besar. Namun, gangguannya kali ini benar-benar menyulut emosi. Mana doi mukul-mukul aku nggak jelas gitu. Berantem, lah, kami. Satu berhasil kubuat nangis. Yes! :v

Duh, anak laki-laki senakal itu, ya. Susah banget diatur. Fix bangetlah mau punya anak perempuan aja. Kalau pun ada anak laki-laki, biar ayahnya aja yang urus. Hahaha. Canda, sih. :v

Huhuh, habis tenagaku. Ngos-ngosan. Mayan, lah, pengganti olahraga. Selamat menikmati hari libur, kawan-kawan.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Percakapan Ponakan dan Om Tante

A: Ante, ke dokterlah. Supaya tahu sakitnya. Kasihan batuk dan menggigil terus.
T: Indaklah. Ante ndak suka minum obat.
A: Loh, siapa yang suruh minum obat. Ke dokter saja.
R: Ha, lepas tu? Buat apa kita ke dokter, kak?
A: Ya cek ajalah. Nanti kalau dikasih resep, tak usah beli kalau tak mau diminum.
R: Entah apa-apa kakak ini. Haha, cengkunek.
O: Ntah berkelit ke berapa hari ini. Tak mau kalah dia.
A: Wah, mestilah, Om. Anak sastra mesti jago berkelit.
R: Aduuuh, gimanalah suami kakak nanti itu. Ribut, lah.
A: Mana pulak. Indak, lah.
R: Kalau dapat yang heboh juga, wah saling berkelit nanti. Jangan sama anak sastra lagi, kak.
O: Sama anak ekonomi saja, Nadia.
A: Kenapa coba?
O: Supaya nanti dia bisa menghitung, "Nah, sudah berkelit berapa kali istriku malam ini?" Kerjaan anak ekonomi, kan, menghitung-hitung saja, Nadia.
A: Hahahahha. Alaaaah, si Om! 

Medan,
dalam mobil Karimun

Friday, July 17, 2015

Si Ncha

Gadis mungil itu berlari-lari kecil kecil menuju ruang tamu rumah nenek. Namanya Annisa. Ia mengenakan baju terusan bergambar Frozen yang lucu.
"Nisa, haloooo." sapaku dengan suara anak kecil yang dibuat-buat.
"Ng..." ia hanya menatapku sebentar lalu pergi ke pelukan mamanya, Tante Titi. Ia gadis pemalu rupanya. Aku suka sekali melihat anak-anak Tante Ti. Ayla dan Annisa. Keduanya perempuan kecil yang menggemaskan. Aku suka berdekat-dekat dengan gadis imut yang kalem. Dua sepupuku yang lain, Rafa dan Arqan, super-duper aktif nan rewel. Aku sampai lelah dibuatnya. Hahhaa.

Annisa duduk di sebelahku sepanjang perjalanan menuju rumah Uwo Kai. Di rumah Uwo, ia juga memilih tempat di sampingku. Keluarga Uwo Kai memelihara kucing ras, ia bersama-sama sepupuku yang lain bergantian mengelus si kucing. Lepas ia bermain kucing, ia menekurkan kepalanya di perutku. Manja. Hahahahaha, gemas!

Saat pulang, ia merengek minta duduk di sampingku.
"Icha mau duduk sama kak Nad."
"Aih, sudah ada Ayla, Icha. Sempit mobilnya."
"Aaah, mau sama kak Nad."
"Hehe, kita bawa pulang aja kak Nad, ya? Hm?" bujuk tanteku. Annisa senyum saja. 

Ah, Ncha. Terima kasih sudah bermanja-manja denganku. Rasanya kau anak kecil pertama yang begitu ingin bermain bersamaku. Makasih, ya, Ncha. Kak Nad sayang Ncha. ♡

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, July 15, 2015

Usia Wajar

"Nadia sudah punya pacar?" tanya nenekku suatu hari.
"Hah? Belum. Nadia nggak pacaran, Nek."
"Bolehlah kenal-kenalan dari sekarang. Macam mana kalau langsung nikah, kan?"
"Hehehe..." aku tertawa saja, bingung menjelaskan konsep taaruf padanya.
"Asal agamanya bagus dan dia perhatian. Penting itu."
"Iya, Nek."
"Kalau yang disuka ada?"
"Ya ada, Nek. Tapi, ya, teman biasa."
"Iya, tidak apa. Asal sama-sama suka."
Haha. Sama-sama suka? Entahlah kalau urusan satu itu.
"Masih lama, Nek. Seperti ini aja dulu. Lagian Nadia mesti S-2 dulu, kan."

Tetiba nenekku bercerita perihal upaya omku mendekati tanteku. Omku rupanya gigih sekali mengejar tanteku dengan berkunjung ke rumah.
"Ommu itu dulu serius benar sama tantemu," katanya. Wkwkw, semua juga mau diberi keseriusan, batinku.

Masih umur 20 sudah ditanya hal-hal seperti ini. Belum lebaran pula. Bagaimana nanti pas hari raya yang notabene berkumpul keluarga besar? Hahaha, semoga tidak ada yang menanyakan hal ini. Aku masih kecil. :p Ngomong-ngomong, apa memang ini usia wajar diberi pertanyaan seputar pernikahan dan jodoh, ya? Tampaknya, sih, begitu. Menurutmu bagaimana?

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Kayak Ada Tengok

Sore ini Rafa berbincang denganku, "Kak, untuk apa pula becermin terus? Cem ada aja yang tengok kakak ini."
"Woooo, enak aja! Ya ada, dong!"
"Namanya siapa, kak?"
"Ada, deh."
"Siapa, kak?"
"Rahasia!"
"Ah, kakak. Di Jakarta tidak ada yang handsome, lah. Di Medan baru banyak."
"Ah, siapa bilang? Sok tahu kali Abang ini."
"Memang, kak! Oh iya, nanti kalau kakak nikah cari yang kaya, lah."
"Kenapa?"
"Supaya kakak nggak usah kerja lagi."

Cerdas juga nih anak. Hahahahah.

"Nanti nikah di mana, kak?" Arqan bertanya.
"Tak tahulah."
"Kakak nikah sama orang Jogja, kan, kak? Di Jogja, kan, kak?" Rafa menimpali.
"Wakakak tak tahu, lah. Lihat nanti."
 
Ada-ada saja dua sepupuku ini. Masih kecil obrolannya pernikahan. Fufufu. 

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, July 13, 2015

Siapa pasangan SAYA?

"Kak, baca apa?"
"Ini baca buku."
"Di situ aja bacanya. Belum siap, kak?"
"Belumlah. Pelan-pelan aja bacanya."
"Kalau papa, sekejap aja selesai satu ini (halaman). Empat detik aja udah siap."
"Gitu? Wah, jago kali papamu, ya."
"Iya. Kak, ini bacanya apa?"
"Aku bertahan bertahun-tahun."
"Aku, kak? Tak bolehlah bilang aku."
"Jadi apa, dong?"
"Saya. Cari yang lain, lah, kak."
"Cem mana, lah. Buku kakak, kan, cuma satu."
"Maksud adek yang ini, lah." kata dia sambil membalik halamanku.
"Nah, yang ini bacanya apa?" tunjuknya kemudian.
"Ada kaunya, tuh. Boleh tak kita bilang kau?"
"Tak boleh, kak."
"Kalau kamu?"
"Sama aja. Tak patut."
"Jadi bagaimana? Aku, kan, pasangannya kau atau kamu. Gue pasangannya elo. Kalau saya pasangannya siapa?"
"Mmm...cinta!"
"Wahahha, tahu dari mana pula adek sama cinta?"
"Iyalah, kakak cinta sama sahabat kakak." aku terdiam. Ini anak ada-ada saja.
"Waduh, nggak, tuh. Cinta itu kayak papa sama mama."
"Iya. Dipacarin, kan."
"Papa-mama mah nikah, dek. Bukan pacaran lagi. Hadeuh."
"Hehehe." lalu dia ngacir keluar kamar.

Percakapan siang hari dengan anak umur lima tahun.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, July 12, 2015

Sendirian Lagi

Di pesawat tadi, aku duduk tepat di samping jendela. 44K. Dua orang di sampingku adalah sepasang suami istri plus balita di pangkuan sang ibu. Apa yang kau rasakan bila kau menjadi aku? Baper? Iye. Bukan sepenuhnya baper nikah, lho, ya, (Oke, aku ngaku baper karena hal ini juga) melainkan kangen keluargaku. Dua tahun lalu. Itu kali terakhir aku naik pesawat bareng keluarga. Ada Fira dan Bunda yang mengisi posisi dua kursi di sampingku, sementara Ayah duduk di kursi sebelah. Ini penerbangan sendirian kesekian kaliku. Saat pesawat masih menunggu giliran untuk lepas landas, tak kupungkiri aku mengucurkan air mata begitu deras. Tangis yang sama saat magku kambuh di atas pesawat pulangku dari New York. Kala itu aku sendirian dan tak ada yang bisa kumintai pertolongan. Kini, aku pun sendirian dan duduk di samping sejoli yang berbahagia dengan jantung hati mereka. Ya Allah... sudah cukuplah Kau terbitkan rasa rinduku.

Lagu yang diputar di pesawat juga fiks bikin baper. "Serahkanlah hidup dan matimu. Serahkan pada Allah..." Yeuh, aku langsung kepikiran kalau inilah perjalanan terakhirku. Hiks, takut banget kenapa-napa di pesawat. Saking takutnya, aku nangis lagi. Iyalah, kalau ada apa-apa aku bakal sendirian menanggung kepanikan. Ibaratnya, mati sendirian tanpa keluarga. Alhamdulillah, penerbangan tadi lancar jaya walaupun pesawat sedikit diombang-ambingkan angin.

Tangisku tadi niat betul. Wkwkwkw. TvT

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 24, 2015

Rindu Yang Begitu Rindu

Ma, Nanad pengin pulang. Nad nggak suka sakit sendirian... Kosan sepiii banget. Ramadan ini Nad nyaris selalu telat bangun sahur. Ya itu tadi, mungkin karena sepi. Nad lebih milih puasa enam belas jam bareng kalian daripada puasa tiga belas jam sendirian. Kangen, kangen masakan Mama. Kangen tarawih di rumah bareng Ayah (kita nggak bisa ke masjid karena terlalu jauh dan selesainya lama sekali)

Maaf ya, Nad nangis. Habisnya Nanad bingung mau ngapain. Terbelenggu rindu yang begitu rindu. Sudah dua tahun lebih kita nggak serumah. Waktu di asrama SMA dulu Nad juga dua tahun sendirian. Bedanya, tiap liburan panjang pasti Nad pulang. Sewaktu berkuliah, satu tahun Nad ngekos sendirian. Bedanya, minimal dua minggu sekali Nad pulang. Pulang. Sekarang, Nad mesti pulang ke mana, Ma? Bohong, ih, kalau rindu sirna ketika pulang ke keluarga besar di Medan atau Jogja. Senang iya, tetapi rindu masih ada.

Terkadang, setahun sekali atau dua kali Ayah ke sini karena tuntutan kerja. Biasanya Ayah di Jakarta selama di lima hari, tetapi Nad hanya dapat berjumpa dengannya sehari dua hari. Namun, tidak apa-apa, setidaknya bisa melepas kangen. Kedatanganmu, Ma, sungguh jarang. Betapa tidak, kau harus menanggung tiket puluhan juta jika ingin pulang ke tanah air. Tiket tidak ditanggung negara seperti Ayah. Itu yang membuat Nad sungguhan rindu. Rindu kau, rindu Fira juga. Terakhir kita jumpa itu bulan Februari 2014. Kau akhirnya pulang bersama Fira karena kakakmu sakit keras. Agak lama juga kau di sini, nyaris dua minggu. Kita masih sempat belanja bareng seperti dulu. Kita masih sempat jalan-jalan seperti dulu. Masih sempat beradu pendapat seperti dulu. Terima kasih waktu itu sudah menyempatkan pulang, Ma. 

Tapi kali ini Nad beneran ingin pulang.
Tahun depan masih lama, ya?

Rindu,
Nadia Almira Sagitta