Thursday, April 21, 2016

Kau padaku

Do you remember all the city lights on the water?
You saw me start to believe for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine

(Taylor Swift)

Kita.
Tidakkah kau ingin menyelamatkan aku dari kebimbangan tanpa ujung?
Tidakkah kau ingin terus bersamaku tanpa terikat jarak dan waktu?
Tidakkah kau ingin membawaku pergi ke suatu dunia yang hanya kita berdua yang tahu?
Lepas dari hakiman-hakiman
Lepas dari tatapan heran
Lepas dari segala aturan
Bebas saja.

Aku suka bermain-main, tetapi
perihal hati, yang tentu saja rapuh ini
aku tak ingin tertawa-tawa di muka lalu
kau buat aku bercucuran air mata.

Di balik kegundahan ini,
aku ingin memastikan satu.
Kau padaku, bagaimana?

Wednesday, April 20, 2016

Mengenang Hari Kartini

Memandang hari Kartini, aku merefleksi sesuatu: tahun-tahun yang kulalui. Kartini pertama, kedua, ketiga, hingga kelima merupakan pergulatan hati untukku. Memikirkan cara agar tidak terngiang-ngiang akan percakapan kita yang terangkum dalam dua puluh tiga rangkaian pesan. Menjelang hari Kartini, kita berdua mengakui perasaan masing-masing dan memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa mengenainya. Kita berjalan seperti biasa, hanya saja dengan insaf kita mengetahui perasaan yang tersimpan di lubuk hati masing-masing.

Sampai tibalah waktu kita berjauhan, tak sempat menjejakkan langkah ke Kartini kedua. Maka tahun-tahun yang terlewati adalah perasaan bersalah. Ada potret aku yang begitu tega menorehkan luka. Semestinya 21 April adalah hari yang manis, semanis larik-larik yang kita kirimkan dahulu. Sayangnya tidak lagi.

Maka pada momen Kartini ini, aku selalu bertanya dalam hati, "Apa kau sudah memaafkan aku? Masih ingatkah engkau pada hari Kartini lima tahun yang lalu?" Karena aku, dengan sungguh, masih mengingat semuanya. Itu adalah salah satu kenangan terbaik yang pernah kumiliki, semoga aku juga begitu...di hatimu.

Mengenang tidak selalu mengharapkan kembali. Terkadang, mengenang cukup dengan merekam peristiwa di mana dulu kita sempat berbahagia. Sama-sama.

Khawatir

Dasar perempuan. Hobinya mengkhawatirkan sesuatu. Sampai nggak bisa memejamkan mata hanya gara-gara kepikiran satu orang. Duh!

Sunday, April 17, 2016

Memori Manis

Semakin banyak kenangan, semakin sulit melupakan. Berhentilah menorehkan memori manis yang akhirnya akan menyulitkanku. Jika kau tak ada intensi untuk itu, tentangku, maka bangunlah pagar berduri di antara kita. Jangan sampai aku kelelahan menabur gula pada kopi pahit yang memang nyata-nyata kau suka begitu.

Berhenti sebelum ada yang mengira-ngira.
Sebelum ada hati yang terluka.

Saturday, April 16, 2016

Kesehatan itu ekslusif, mahal

Pagi tadi bertemu teman-teman skolioser. Ada seseorang yang berceletuk, "Eh, tahu spinecor, nggak?"
"Tahulaaaah, soft brace, kan?"
"Iya. Ada tuh di Bandung dengan harga 2,5 jutaan."
"Hah, masa? Setahuku hanya dijual di Jakarta. Harganya pun 30 jutaan. Kok bisa ini cuma segitu?"
"Nggak tahu juga, sih, barangkali karena buatan Indonesia? Bahannya juga mungkin berbeda. Nah, tetapi mereka tetap mengukur lengkung kemiringan kita, kok."

Brace? Kamu mau pakai, Nad?

Sebenarnya, aku mulai was-was dengan jadwal operasi. Tahu-tahu ingin lekas bertemu dr. Luthfi Gatam, memastikan soal pemasangan brace, rontgen ulang--karena yang kemarin salah (bayangkan, satu juta dan salah!)--konsultasi, dan segera mendaftar operasi di Fatmawati atau RSCM. Yang kudengar saat kopdar tadi, untuk bertemu dr. Luthfi saja bisa sampai menunggu tiga bulan. Ngantri operasi bisa sampai setahun kalau BPJS. Like...oh, okay. Jika memang harus menunggu setahun, akan kutangguhkan itu semua dan fokus S-2 saja. I won't wait that long. No. Skoliosis tidak boleh mengacaukan target waktuku.

Sembari menunggu, aku mau sekali pakai soft brace. Soalnya, brace itu fleksibel, mau kubawa ke luar negeri juga pasti bisa. Sayangnya, yang bikin aku meleleh, ya harganya. Tiga puluh juta. Bahkan jauh lebih mahal daripada harga ngontrak rumah setahun! Terang saja aku nggak enak mintanya.

Di pertemuan tadi, aku juga kenalan sama skolioser yang sudah operasi. Dia operasi di RSPI. Dia cerita biayanya sekitar seratusan juta, ya pasti, itu kan rumah sakit swasta. Terus, ada juga satu skolioser yang cerita dia gonta-ganti dokter, udah ke dr. Luthfi juga. Omaigat, berapa banyak biaya habis untuk konsultasi? Dia pun bercerita bahwa ia bertemu seorang bapak yang menemani anaknya konsul. Kata bapak itu, "Perkiraan biaya operasi anak saya sekitar seratus tujuh puluh juta."
"Hah, kok mahal sekali, Pak?"
"Iya, soalnya pen yang saya pilih bikinan negara X. Karena pen itu akan dipasang di tubuh anak saya seumur hidup, saya menginginkan yang terbaik."
Kemudian, skolioser lain tiba-tiba berceletuk, "Kalau BPJS nggak bisa milih pen kan, ya? Bisa jadi nggak, sih, pen yang nggak gitu bagus yang dipilihkan untuk pasien?" Buru-buru kutengahi, "Kurang tahu soal pen ya, Bu, tetapi setahu saya dokter yang mengoperasi, khususnya di RSCM, tetap bersikap profesional. Sama saja dengan tanpa BPJS."

Daaaaaaaan, di sinilah aku tertegun sendiri. Tahu-tahu sebal sama uang. Tahu-tahu kesal dengan kalimat, "Kesehatan itu ekslusif. Mahal." Soalnya, aku memang baru menyadari kalimat ini benar adanya. Coba nggak perlu BPJS, pasti bisa segera daftar operasi. Coba uang dapat dipetik di mana saja, pastilah bisa konsultasi berulang kali jika mau. Coba uang berguguran dari pohon, pasti bisa ikut semua treatment tanpa ragu. Kalau sudah berpikir seperti ini, ujung-ujungnya cuma bisa nangis.

Sko, kenapa perawatanmu semahal membeli mobil baru?

Kak Dida, kalau kakak nanya lagi, "Apa yang membuat kamu terpuruk hingga nyaris menangis sebagai seorang skolioser?" Jawabannya ya ini. Kenyataan pahit, namun harus ditelan, ini.

So sorry for being so sensitive, but yeah...this thing bothers me. I can't even sleep.

Wednesday, April 13, 2016

Gelembung Yang Kita Ciptakan

1.
Bahagia kali ini
Tak ingin aku bagi
Biarlah terkunci
Dalam ruang paling sepi

Biarkan rona merah pipi
Juga lengkung bibir merah muda
Kunikmati sendiri, diam-diam
Tanpa suara

2.
Dalam hening dan sepi
Sepasang insan menikmati jeda bicara
Memaknai detik-detik
Tak membiarkan lainnya datang mengusik

Apalah arti bahagia pabila kita bagi-bagi kepada yang tidak berhak? Bahagia ini milik kita, hanya kita. Aku takut masyarakat akan memandang kita dengan iri, kita yang menghadapi dunia tanpa takut asal tetap menggenggam jemari satu sama lain. Biarkan kita menjalani hidup dengan gelembung yang kita ciptakan berdua. Takkan ada yang paham maka tak perlulah sulit-sulit memberikan pengertian.
--

Depok,
pada suatu pagi hari

Monday, April 11, 2016

Kado

Pandanganku tertumbuk pada satu kotak kecil. Sebuah kado. Kado dariku yang mulanya akan kuberikan padamu. Kado yang telah kupersiapkan jauh-jauh hari. Kado yang membuatku berkata berulang kali di kaca hanya untuk memastikan kalimatku rapi sesuai struktur tanpa bentuk tegun. Kado itu sangat bermakna untukku, yang kuinginkan bermakna pula untukmu. Namun kini, itu hanyalah sebuah kado, yang pada akhirnya, teronggok di sudut lemari. Tak akan pernah sampai ke tangan pemiliknya.

Barangkali, kado itu akan kupindah tangankan ke orang lain tanpa mengikutsertakan perasaan, yang dulu kusematkan baik-baik.

Toh, tiada lagi yang tersisa.
Kau, ataupun perasaan itu.
--

Cause there we are again, when I loved you so
Back before you lost the one real thing you've ever known
(Taylor Swift)