Saturday, April 21, 2012

Rasa penasaran itu

Oleh: Nadia Almira Sagitta


“Laa ilaaha ilallah”

Semayup tahlil bergema

Ada raga yang berpulang ke Tuhannya?

Kudekati sumber suara yang mengusik rasa penasaran

“Siapa, pak?”

“Anu, kurang tahu juga tuh, Novi. Mayatnya udah hancur ketika ditemukan.”

Innalillah, aku berucap dalam hati

Tanpa banyak cakap, aku mengiringi jenazah hingga ke liang kubur

Ditemani wajah-wajah sendu memegang payung hitam

Berbusana hitam pekat

Ah, muram sekali

Siapakah almarhum?

*Lahir: 5 Juni 1977

#Wafat: 22 April 2001

Sayang sekali, masih muda

Rasa-rasanya aku tahu gerangan dirinya

Tunggu! Nama diri…

ROY PRAKOSO BIN RAHMAT YAHYA

Itu… aku?

Perlahan, tubuhku mendadak ringan

Mengangkasa ke langit tertinggi

Meninggalkan kerumunan yang perlahan mengecil

Menjadi titik-titik hitam yang kerap menangisi kepergianku

Sunday, March 18, 2012

Kehampaan diri

Oleh: Nadia Almira Sagitta


“Bosan aku dengan penat

Dan enyah saja kau pekat

Seperti berjelaga jika ku sendiri…”


Kosong

Kosong

Kosong

Kosong

OOOOOOOO

OOOOOOOOOO

OOOOOOOOOOOOO

OOOOOOOOOOOOOOOO

OoooooooooOooooooooooo

Dalam kekosongan jiwa

Di dalam kesenyapan bahana

Kehampaan hati

Kiri-kanan

Atas-bawah

Tak kutemukan sesiapa

Kosong pun sepi

- Aku sendiri -

HALO?!

Halo

Alo

Lo

Lo

Oo

O?!

Kadang kucerca dunia

Sungguh betapapun tak adil

Kesendirian?

Ah, siapa pula yang ingin

Tak jua diriku

Aku ingin seseorang, kamu, mereka

Ah tidak, aku ingin… keramaian

Biarkan hirukpikuk merasuk nuraniku

Mengusir keheningan yang berurat-akar

Adakalanya aku tersenyum

Pada kamu dan kalian

Tetapi pernahkah mencari tahu...

Hatiku ini kosong!

Pun hidupku.

Tak sadarkah senyum itu hanya topeng belaka?

Namun rasanya kamu dan kalianpun tak berniat untuk tahu

Disebabkan ketidakpedulian padakukah?

Mungkin.

Kalau begitu terserah,

sudah, akhiri saja

Drama hidup yang kurancang sendiri

Biarkan aku tenggelam dalam kesenyapanku

Walaupun dalam lubuk sanubari terdalam

Aku menginginkan bantuan

‘tuk lenyapkan kegelisahan hati

‘tuk apuskan kesendirian jiwa…

Monday, March 5, 2012

Dengan Puisi, Aku

Oleh: Taufiq Ismail

Dengan puisi, aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi, aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi, aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi, aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi, aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi, aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

Sunday, February 19, 2012

Tentang Seseorang

Kulari ke hutan, kemudian menyanyiku

Kulari ke pantai, kemudian teriakku

Sepi... sepi dan sendiri aku benci

Aku ingin bingar, aku mau di pasar

Bosan aku dengan penat

Dan enyah saja kau pekat!

Seperti berjelaga jika aku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai

Biar mengaduh sampai gaduh!

Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih

Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?


*dikutip dari film AADC

Untuk yang Kedua Kali

Sudah lama, aku menyimpan perasaan ini, sendirian.

Walaupun sempat terganti untuk sekian waktu

Tersingkir dari benakku, enyah dari pikirku

Namun ia kembali lagi

Memunculkan perasaan yang sama

Untuk kedua kali...

Rasa deg-degan ketika berbicara dengannya

Senyum terkembang kala melihat dirinya

Belenggu rindu di tiap malamku,

Kembali mewarnai hari-hari

Untuk yang kedua kali....

Kamu bertanya, "Tidakkah diriku lelah menghadapi cinta ini? Dengan kesendirian, ketidakpastian?"

Mungkin, bibir ini bergerak dan berkata, "Iya, lelah, sangat. Secepatnya aku ingin membuang perasaan ini."

Tahukah kamu yang sebenarnya?

Hati ini tidak mengenal kata lelah.

Hati ini tidak mengenal putus asa,

Karena selalu ada cinta di sana.

Cinta yang tanpa sengaja ia tebarkan padaku

Dalam ketidaktahuannya, ia telah menyemai bibit cinta yang selama ini terkubur jauh di dasar sana...

Kembali memunculkan perasaanku terhadapnya.

Untuk yang kedua kali...

Sudah dua kali, hati ini melempar jangkarnya di sana

Sudah dua kali, hati ini merasakan hal yang sama

Sudah dua kali, cinta ini terpendam

Sudah dua kali, aku jatuh cinta padamu, lagi!

Pertanyaan

Oleh: Nadia Almira Sagitta

Wahai pemuda di ujung pulau!

Tidakkah kamu mengerti?
Adakah kamu mendengar?

Harus berapa kali lagi aku berteriak?
Menyuarakan isi hatiku padamu

Bagaimana membuatmu merasakan hal yang sama?

Ataukah memang semua ini tak ada artinya?

Rindu

Oleh: Nadia Almira Sagitta

Gema rindu itu kembali menggaung
Namun kali ini diselingi tangis

Karena ia tersadar, rindu yang ia rasakan
Mungkin tidak akan pernah terbalas...