Showing posts with label masa depan. Show all posts
Showing posts with label masa depan. Show all posts

Thursday, June 2, 2016

Nanti, setiap hari

Malam ini tidak bisa tidur. Padahal, hal yang menjadi buah pikiran sangatlah sederhana, hanya sebuah kejadian yang masih di angan. Jika tiap pagi sarapanmu kusiapkan, kau mau? Tidak hanya sesederhana ini, nanti. Tidak hanya sesekali, nanti. Setiap hari, di dapur yang sama, di meja yang sama ada kita berdua. Mungkin sesekali kita makan di luar, candle light dinner restoran atau menikmati angin sepoi-sepoi di bangku taman bersama dua kotak takeaway makanan. Mungkin juga nanti tak hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat. Katanya, makan bersama itu elemen penting dalam sebuah keluarga. Kita tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk itu. Kau dan aku paling anti lembur di kantor agar bisa makan bersama dan bertukar cerita atau berbagi keheningan. Tak jarang kita menikmati makanan di piring masing-masing sedang sunyi menyelimuti. Kau dan aku hanya perlu memastikan ada di sisi satu sama lain. Ada duduk di sana, dapat diperhatikan dengan kedua bola mata, dapat dirasakan hadirnya dengan telinga, dan dapat disentuh dengan kulit tangan.
--

Jengjengjeng, baper baca tulisan sendiri. Semakin tidak bisa tidur. Mari berdoa. Doa agar dapat segera istirahat di malam buta dan doa agar segera dipersandingkan. Eh, mesti ketemu dulu, ya, sebelum bersatu? Benar juga kamu! Oke, doa agar segera dipertemukan. Kalau sudah ketemu, mari berdoa agar diberi keyakinan untuk bersama. Ya, selamat tidur, kamu.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, October 21, 2015

Kesempatan Kedua

Allah tidak pernah putus asa akan hamba-Nya. Allah juga tidak pernah menghakimi, "Kau melakukan kesalahan yang berat, mana pantas dipercaya lagi!"

Tidak, tuh.

Allah percaya semua hamba-Nya layak diberikan kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya. Asal ada keinginan untuk bertobat. Lantas siapa kamu yang begitu sombongnya membenci seseorang karena kesalahan masa lalu?

Masa depan siapa yang tahu?
Everyone deserves another chance.

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Sunday, September 27, 2015

Berbelok

A: Aku tahu, kok, aku salah. Entah kenapa aku jadi begini lagi. Seperti dulu saat belum tahu apa-apa. Sekarang rasanya berat sekali karena sesungguhnya sudah paham ilmu, tetapi tak dapat kuimplementasikan.
M: Urusan salah atau benar, kalian yang lebih tahu dariku. Tapi, yang namanya perasaan itu sulit dikontrol. Mungkin itu yang buat kau jadi belok seperti ini.
A: Yah, I should've known. Aku lelah, M. Tak banyak yang dapat kukhayalkan tentang masa depan. Rasanya aku ingin menyudahi saja.
M: Kenapa tidak dari dulu?
A: Well, kau tahu, ketika baru saja menyukai seseorang, mana ada kau berpikir tentang hal yang jauh.
M: Ya, aku pun pasti masih asyik-asyiknya kasmaran. Jadi bagaimana?
A: Entahlah.
M: Tampaknya kau hobi sekali mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, ya? Pikiranmu, lho, yang menggalaukan dirimu, bukan orang lain. Terlalu banyak, "Kalau begini bagaimana? Kalau misalnya seperti ini bagaimana?" Santailah dan jalani saja.
A: Kucoba. Akan kucoba. 

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 10, 2015

Menjadi dewasa

Hidup itu terkadang lucu sekali. Apalagi menginjak usia 20-an. Makin banyak tanya dalam hidup tanpa diketahui jawabannya. Makin banyak pula yang sibuk mengurusi hidup kita.

"Kapan sidang?"
"Kapan nikah?"
"Kapan hamil?"
"Kapan S-2?"
"Kerja di mana?"

Apa iya masa depan berkutat di situ-situ saja? Seputar pendidikan, pekerjaan, dan pernikahan? Repot juga ya, Men. Andai saja aku tidak mengenal Oxford dan kamu, kurasa aku 'kan berbahagia menjelma anak kecil selamanya. 


Dari aku,
yang tak ingin menjadi dewasa