Tuesday, July 5, 2016
Cinta Yang Belum Pasti
Wednesday, June 29, 2016
Sianida?
Thursday, June 2, 2016
Nanti, setiap hari
Malam ini tidak bisa tidur. Padahal, hal yang menjadi buah pikiran sangatlah sederhana, hanya sebuah kejadian yang masih di angan. Jika tiap pagi sarapanmu kusiapkan, kau mau? Tidak hanya sesederhana ini, nanti. Tidak hanya sesekali, nanti. Setiap hari, di dapur yang sama, di meja yang sama ada kita berdua. Mungkin sesekali kita makan di luar, candle light dinner restoran atau menikmati angin sepoi-sepoi di bangku taman bersama dua kotak takeaway makanan. Mungkin juga nanti tak hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat. Katanya, makan bersama itu elemen penting dalam sebuah keluarga. Kita tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk itu. Kau dan aku paling anti lembur di kantor agar bisa makan bersama dan bertukar cerita atau berbagi keheningan. Tak jarang kita menikmati makanan di piring masing-masing sedang sunyi menyelimuti. Kau dan aku hanya perlu memastikan ada di sisi satu sama lain. Ada duduk di sana, dapat diperhatikan dengan kedua bola mata, dapat dirasakan hadirnya dengan telinga, dan dapat disentuh dengan kulit tangan.
--
Jengjengjeng, baper baca tulisan sendiri. Semakin tidak bisa tidur. Mari berdoa. Doa agar dapat segera istirahat di malam buta dan doa agar segera dipersandingkan. Eh, mesti ketemu dulu, ya, sebelum bersatu? Benar juga kamu! Oke, doa agar segera dipertemukan. Kalau sudah ketemu, mari berdoa agar diberi keyakinan untuk bersama. Ya, selamat tidur, kamu.
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Saturday, April 23, 2016
Suara-suara itu
Aku menangis lirih di masjid tadi. Sebelumnya, kudengar lantunan ayat suci dibacakan oleh seorang pemuda yang tak sempat kuamati wajahnya di pelataran masjid. Seketika, aku tahu yang aku butuhkan. Aku tahu aku membutuhkan sosok yang sabar mengayomiku dan membimbingku 'tuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Aku rasa semua ingin mendapati pendamping seperti itu, bukan sekadar mendapatkan kawan malam mingguan setiap pekannya. Juga bukan sekadar mendapatkan pasangan halal yang bisa kau apa-apakan sekehendak hatimu. Bukan.
Lantas, aku teringat kau. Kudengar suara-suara membisikiku bahwa kau bukanlah sosok itu. Bukan kau yang 'kan membawa kedamaian di hatiku setiap harinya. Bukan kau yang 'kan mendampingiku di dunia dan di akhirat. Kau jatah orang lain. Lepaskan. Lepaskan saja.
Selalu begini. Tatkalanya aku memutuskan hatiku pada satu orang, ada saja suara-suara yang menggelisahkan batinku. Bahwa bukan dia orangnya. Nanti akan ada, pasti akan ada. Sementara itu, pikiranku ketakutan, bagaimanakah jika ia yang dinanti tak kunjung tiba? Bahwa ia yang dipastikan hadir mendadak membatalkan janji? Bahwa ia sesungguhnya tak pernah ada? Relakah aku melepaskan genggamanku kini demi sesuatu yang tak pasti? Akan tetapi, suara-suara itu terus membisikiku, memaksaku untuk percaya. Dan aku akhirnya menyerah, memutuskan 'tuk percaya. Dan perlahan, bermodal keyakinan, akan kuputuskan tali itu. Lalu terbang bebas di angkasa.
Monday, February 8, 2016
Seek
"He who seek doesn't find, he who doesn't seek will be found."
(Franz Kafka)
--
Seperti kita, suatu hari nanti. Mungkin akan berpapasan ketika sama lelah mencari. Kuputuskan untuk berhenti mencari-cari kamu. Kusingkirkan semua usaha hingga ke titik terpojok yang kutahu. Jalan yang terbentang di hadapanku adalah jalan menuju mimpi, bukan menuju kamu.
Akan tetapi, jangan lupa menyapa dan mengajakku berkenalan jika kita bertemu, suatu hari nanti.
Wednesday, November 11, 2015
Saling Menemukan
Cinderella: "Are you ready?
Prince: "For anything, so long as it's with you."
(Cinderella, 2015)
Oh, hari ini aku menonton ulang film Cinderella. Selalu suka adegan Cinderella dan pangeran berdansa, main ayunan, bercerita tentang hidup satu sama lain, ketika pangeran memasangkan sepatu di kaki Cinderella, dan ketika mereka saling menemukan...
Saling menemukan. Kini kita saling mencari, akan ada saatnya kita saling menemukan. Kita pernah bertemu sekali di alam mimpi dan jiwa kita pernah menyatu di suatu masa sebelum kita dilahirkan ke dunia. Fate will lead us to see each other again.
Next time, darl, next time. Ada waktu ketika aku dan kamu menjelma kita. Kita merupakan ikatan yang begitu kuat dan tak dapat dipisahkan. Aku percaya kita bisa menjadi hebat bersama. Aku percaya kita bisa saling menguatkan satu sama lain.
Trust in your heart and your sun shines forever and ever
Hold fast to kindness, your light shines forever and ever
I believe in you and me
We are strong
(Strong, Sonna Rele)
I believe in happy ending, how about you?
Salam,
Nadia Almira Sagitta
Saturday, October 17, 2015
Genap
Genap membuat hari ini menjadi hari terbaper se-Indonesia! Eh, setidaknya bagiku. Ada wajahmu di setiap bab yang kubaca. Jangan tanyakan aku kenapa, kamu hadir begitu saja...di alam khayalku.
Genap mengajariku untuk mengikhlaskan, yang pada akhirnya kujadikan trik untuk merelakan kamu. Namun, pada kenyataannya, kamu selalu saja ada di pikiranku. Ah, sepertinya aku tak bisa memaksa diri untuk melupakan kamu. Nanti juga lupa kalau sudah terbiasa.
Kemarin, aku ingin melupakan kamu dengan alasan ketidakcocokan. Ternyata, pendapatku dibantai habis oleh buku ini. Sia-sia mencari pasangan yang benar-benar cocok karena dia tak akan pernah ada. Kecocokan itu diusahakan, lagipula kecocokan sebelum menikah akan berbeda setelahnya. Manusia ada lebih kurangnya, kita haruslah melapangkan hati untuk ruang penerimaan. Ih, Genap, gemas sekali rasanya! Apabila kamu ditakdirkan Allah untuk menggenapiku, aku akan belajar melapangkan hati seperti kata Genap ini. Jika bukan kamu, tips ini tetap kuaplikasikan pada dia, siapa pun orangnya. Fleksibel saja. Iya, hati harus fleksibel.
--
Pernikahan membutuhkan pengorbanan dari kedua belah pihak. Pengorbanan sukarela yang mengalirkan bahagia pada keduanya. Seperti kata tokoh aku dalam Genap, "Kita cinta sama seseorang saat kita begitu bahagianya melakukan sesuatu--apa pun itu--untuknya. Saat kepadanya, kita selalu ingin memberikan yang terbaik yang kita bisa. Saat terhadapnya, kita tak perlu menyembunyikan apa pun tentang kita. Saat di sisinya, kita merasakan hidup kita jauh lebih berharga. Saat bersamanya, beban hidup terasa lebih ringan."
Semoga suatu saat hatiku bisa menerima dia yang ditakdirkan Allah untukku. Siapa pun, bahkan jika ia bukan kamu. Hahaha, kenapa memaksa ingin bersama dengan orang yang belum tentu jodoh? Kata Genap, "Kalau ia meninggalkan kamu dan memilih orang lain, berarti ia memang bukan jodoh kamu. Jangan sedih." Semoga suatu saat aku menemukan seseorang yang membuat hidup ini menjadi lebih indah, lebih ringan, dan lebih bermakna.
Mari melapangkan hati! :)
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Monday, October 12, 2015
Karena Aku Cinta
Y: Kamu itu, sudahilah. Apa susahnya, sih?
D: Susah, Cantik. Hih, kalau prosesnya mudah, telah kusudahi dari dulu-dulu.
Y: Dengar, ya. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik. Seseorang yang nggak berani bikin kamu galau kayak begini. Udahlah, kamu sama teman sejurusan aja.
D: Hahahaha, siapa?
Y: Itu.
D: Ah, nggak ah! Kuliahnya nggak serius.
Y: Tapi, kan, idaman banget ketaatannya.
D: Hm, dengarkan aku, ya. Kata ibuku, "Perempuan wajib mencari lelaki yang lebih baik darinya." Kalau dalam hal akademis, nilainya sudah minus di mataku.
Y: Yah, kalau gitu, lelaki di jurusan dan angkatan nggak ada yang pantas buat kamu, dong! Nilai tertinggi saja kamu yang pegang.
D: Hahaha. Aku nggak membidik pasangan dari jurusan kita, kok. At least, mungkin kupilih dari ranah Linguistik saja saat studi master atau doktoral. Atau peneliti LIPI.
Y: Aamiin. Nah, itu kamu punya prioritas, kan? Lantas kenapa galau sekarang?
D: Karena aku cinta. Oh my God, karena aku cinta.
Y: Kamu sungguh telah dibutakan cinta, D.
Wednesday, October 7, 2015
Masih ada harapan: pemuda impian
Salah seorang Tumblrian yang kufavoritkan beberapa waktu ini membalas komentarku pada tulisannya. Melalui tulisan-tulisannya, aku tahu ia merupakan sosok yang peduli pendidikan, baik untuk dirinya dan orang lain. Ia juga pro terhadap wanita yang bekerja. Aku suka caranya memaknai hidup. Ia tidak termakan frame sosial tentang pernikahan. Ia memiliki pemikiran sendiri soal kebahagiaan.
Kini, ia sedang menyelesaikan program doktoralnya di luar negeri dengan kondisi belum menikah. Hahaha, ini tidak berarti aku ingin menikah dengannya. Aku hanya bersyukur bisa berkenalan dengannya secara tidak langsung. Melalui tulisan-tulisannya, aku tidak lagi merasa sepi dan sendirian. Masih ada lelaki di belahan bumi sana yang mengerti profesi perempuan. Masih ada lelaki di luar sana yang mendukung penuh pendidikan setinggi-tingginya bagi perempuan. Masih ada lelaki di seberang sana yang mengizinkan perempuan untuk mengembangkan kemampuan dirinya setelah menikah. Masih ada lelaki di dunia ini yang berani melamar perempuan tanpa memedulikan strata pendidikannya. Aku ingin bertemu dengan lelaki yang seperti itu. Dengan demikian, aku tidak perlu khawatir dengan mimpi besarku. Aku tidak perlu was-was menjalani hidup dengan mimpi yang bercabang ke mana-mana. Apabila sudah kutemukan ia yang sejalan denganku, tentu mimpi bercabang-cabang milikku akan menyatu dengan mimpi bercabang-cabang miliknya dan menjelma mimpi bercabang banyak milik kami berdua.
Pemuda impian itu ada, entah di mana. Barangkali ia sedang sibuk menyusun mimpi sepertiku. Nantilah kami berjumpa, insyaaAllah.
Siapa tahu kami berjumpa di tengah perjalanan meraih mimpi masing-masing! ♡
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Friday, September 18, 2015
Cinta vs Mimpi
Tulisan ini mengingatkanku akan sesuatu.
Jika cinta itu pengorbanan, apa lantas aku harus mengorbankan mimpi-mimpiku demi membersamaimu? Ini pertanyaan sulit yang hingga kini belum kutemui jawabannya. Ini pertanyaan yang kerap kugaungkan dalam benak andaikata kau memilihku untuk menjadi pendampingmu. Perlu kau tahu bahwa aku terbiasa mengorbankan sesuatu demi mengejar mimpiku. Kukorbankan kebersamaan dengan keluarga di Amerika dan memilih tinggal di Indonesia demi mengejar mimpiku. Kukorbankan waktu-waktu santaiku demi mengejar mimpiku. Aku takut, ketika hambatan itu datang di saat sedikit lagi jarak antara aku dan mimpiku, aku juga akan mengorbankan perasaanku; kamu.
Aku tidak ingin mengorbankan dirimu sedemikian jauh, tetapi aku juga tidak ingin mengorbankan mimpi yang telah kucita-citakan dengan matang. Aku tak lepas berdoa pada Allah agar diberi kemudahan dalam mencari pasangan hidup kelak. Entah dengan pemuda yang satu pemikiran denganku atau dengan pemuda yang bersedia mendukung mimpi-mimpiku. Untuk jawabannya, aku belum tahu. Toh, aku belum menikah. Akan tetapi, aku bisa merasakan perbedaan yang sekiranya akan aku dan kamu alami saat menikah nanti.
Barangkali menikah denganku bukanlah keputusan yang tepat bagi orang-orang yang mendewakan kedekatan jarak. Bisa saja aku melakukan perjalanan ke suatu daerah, memetakan bahasa di tempat itu, lalu pulang menyambutmu berminggu-minggu kemudian. Bisa saja aku meneruskan pendidikan ke jenjang doktor di sebuah universitas terkemuka di Inggris. Kau boleh ikut, boleh juga tidak. Bisa saja aku diutus kampus untuk mengajarkan bahasa Indonesia di suatu negara selama dua tahun lamanya. Kau boleh ikut, boleh juga tidak. Kalau boleh memilih, aku tentu berharap kau ikut denganku. Akan tetapi, adakah lelaki yang seperti itu? Dia yang bersedia mengikuti istrinya yang ditugaskan ke negeri yang jauh? Kurasa sedikit sekali, ya. Toh, alasannya pasti balik lagi ke kewajiban laki-laki, yakni menafkahi perempuan. Tak mungkin lelaki yang berpindah pekerjaan, mestilah perempuan. Tak mungkin lelaki yang undur diri dari pekerjaan, mestilah perempuan. Ya Allah, jika memang ada lelaki yang seperti bayanganku, tolong simpankan satu untukku.
Jadi, aku tak ingin menjanjikan apa-apa, bahkan perasaan juga tidak. Bisa jadi saat ini aku mencintai dan sangat menginginkanmu, tetapi saat perkenalan yang lebih serius nanti aku malah undur diri karena berbeda paham denganmu. Hal itu bisa saja terjadi dan mungkin sekali.
Maka dari itu, aku tak ingin menjanjikan apa-apa...
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Friday, August 7, 2015
Menetapkan Standar
Nadia Almira Sagitta
Tuesday, August 4, 2015
Setahun Kemarin
Di ujung jalan itu setahun kemarin
Kuteringat kumenunggumu
Bidadari belahan jiwaku
Entah berapa lama
Satu jam menanti, kutermenung
Kencan pertama hilang tak bertepi di anganku
Sayang, walau bulan tak bercahaya
Cintaku selalu dalam jiwa
Di lubuk hati terdalam
Sayang, jika memang kau sungguh sayang
Diriku takkan berpaling lagi
Kupeluk selamanya
(Kahitna)
--
Wkwk. Jalan itu tak lagi sama, lho. Eh, secara fisik mah sebenarnya masih sama tak ada perubahan hanya rasanya aja yang berbeda. Serasa ada yang hilang gitu. (Oops! Lebay detected) Oke, ini sama lebaynya dengan orang-orang yang berkata, "Aku tak bisa hidup tanpa kamu." Well helloooo, sebelum kamu datang juga aku hidup sehat sentosa, kan? Itu betul, tetapi si dia telanjur melangkahkan kakinya ke hidupku. Telanjur menyemarakkan hidupku dengan kembang api warna-warni. Telanjur mewarnai kanvas hidupku dengan kuas cinta. Hahaha kapan kamu berhenti hiperbola, Nad? (geleng-geleng kepala) Karena segala ketelanjuran itu, tatkala ia menghilang tentu saja ada yang hampa, dong? Iya nggak, iya dong, iya deh ya? That's why semuanya tak lagi sama. Fufufu. Etapi walaupun sikonnya tak lagi persis sama, cintaku selalu dalam jiwa seperti kata Mas-mas Kahitna. Hahaha sumpah mau ngakak pas nulis ini. Cheesy banget! Ini tulisan maksa banget, deh, mentang-mentang lagi cinta dengan "Setahun Kemarin"-nya Kahitna. Kalian mesti dengerin lagunya karena musiknya asyik! Seriously. (^-^*)
Sayang, jika memang kau sungguh sayang
Diriku takkan berpaling lagi --> setelah dipinang dan dinikahi, tentunya. Hahaha ngapain sesetia itu sama sosok yang bukan belahan jiwa. Azegg. (Canda, sik. Lagi musingin skripswit)
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Thursday, July 30, 2015
Finally found you
Aku masih ingat pertemuan pertama kita. Canggung. Secara kita tak pernah berbincang sebelumnya. We refuse to see each other's eye. Terlalu malu. Obrolan kita singkat saja dan tidak ada maksud apa-apa, tetapi aku merasakan sesuatu yang tak dapat kudefinisikan. Yang aku tahu, aku tersenyum selepas perjumpaan itu.
Somehow I know I've waited my whole life to see
You standing there
With the wind in your hair
Suatu ketika, aku melihatmu tampil berbeda dari biasanya. Kau berdiri jauh dariku, tetapi sosokmu cukup jelas untuk ditangkap retinaku. Beku. Aku terkesiap saat melihatmu. Terpesona, mungkin? Aku segera memalingkan pandangan dan tersenyum lebaaaar sekali.
Dia, tangan dia yang mau kugenggam saat berjalan bersama
Dia, lengan dia yang mau kugandeng erat saat menghadiri segala pesta
Dia, langkah dia yang ingin kusejajarkan dengan langkahku
Dia, senyum dia yang ingin kulihat setiap hari untuk mengerti arti bahagia
Dia, candaan dia yang ingin kunikmati saat hidup memberiku banyak duka
Dia, suara dia yang ingin kudengar saat aku terbangun dan memejamkan mata
Dia, sosok dia yang ingin kujadikan pasangan hidup sehidup-seakhirat-selamanya
Dia, diaku itu kamu.
Hey I finally found you
I been dreaming about you
You are the boy that's been running around in my dreams
(Tyrone Walls)
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Maunya sevisi
N: Tahu nggak, sih, aku kepikiran sesuatu.
F: Apa?
N: Tentang dia. Ngngng... tahu, ah. Ngerasa aja rencana masa depanku bakal berubah total kalau aku sama dia. Aduh, kenapa aku nggak jatuh cinta sama yang lain aja, ya?
F: Eh, jangan gitu.
T: Iya, jangan. Biasanya malah dapat orang nggak kamu mau.
N: Ya, nggak apa-apa juga, sih. Toh, aku suka yang ini. Dia cuma nggak meet my standard aja. Aku maunya sama orang yang begini, begini, dan begitu.
T: Yeeeee, itu mah kiri-kanan oke!
N: Hahaha! Yha...
Hidup jangan serius-serius amatlah, Jeung. Dibawa santai aja. :)
*eh, tetapi nikah nggak bisa hanya modal cinta. Cari yang beneran sevisi sama kamu. Yang bisa dukung mimpi-mimpi kamu gitulah. Good luck ya finding the one!
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Monday, July 27, 2015
Wara-wiri persiapan
Tadi aku bercerita dengan sahabatku. Ia menceritakan proses-menuju-nikahnya yang lagi-lagi terhambat. Niat sucinya baru dapat terwujud selepas lulus, insyaaAllah. Padahal proses mereka sudah dimulai sejak lama dan ingin mereka akhiri dengan bahagia dan segera. Kau tentu dapat membayangkan betapa menyedihkannya berita ini.
Ternyata, proses-menuju-nikah itu tidaklah mudah. Pertama, mesti wara-wiri mencari sosok si dia, kedua wara-wiri lagi memperoleh restu orangtua, ketiga sibuk sana-sini mempersiapkan segala detail acara resepsi, keempat...menghadapi pernikahan itu sendiri.
I got an advice from my bestie, "Selalu pikirkan kemungkinan terburuk. Bahagia itu pasti, tetapi apakah kita siap menghadapi kemungkinan terburuk itu? Marriage isn't all about happiness, baby."
I'm still on the stage one. Haha, itu juga belum nemu. Eh, belum mau nemu, sih, maksudnya. Ng, maksudku pengin nemu sekarang, tetapi nggak pengin ngejalanin sekarang. Eh, apa sih! Nggak jelas banget. Huh, abaikan.
"Umur kamu berapa? Menuju 21? Wajar, sih, kalau kepikiran soal pernikahan. Emang masanya. Sudah bukan waktunya pacaran sana-sini. Kita, kan, maunya diseriusin." Azeggg.
Ya gitu, deh. :)))
Salam,
Nadia Almira Sagitta
Saturday, July 25, 2015
Cahaya, An-Nuur
"Tak perlu ada adegan saling tunggu, bukan? Yang perlu kita lakukan hanyalah belajar saling melepaskan." (Kang Abay)
"Kau tahu? Kau hanya terlalu khawatir akan masa depan. Apalagi perihal jodoh yang tak kita ketahui tanda-tandanya. Percayalah, Allah punya rencana terbaik. Jangan kau ragukan rencana-Nya." (Dey)
Teman,
Hari ini aku bertemu seseorang. Kami mengobrol lama sekali. Ia sejurusan denganku, tetapi berasal dari universitas lain. Ia punya rencana studi yang mirip denganku yakni melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang doktor. Kami berbincang mengenai universitas impian, spesifikasi jurusan, keadaan kampus, dan semacamnya. Tak butuh waktu lama untuk mengidentifikasi lingkup pergaulan pria ini. Ia satu lingkaran denganku. Akademisi, boleh kau katakan.
Memang mudah kecenderungan merayap ke permukaan apabila kita temukan hal-hal yang serupa. Sebentar, kau sangka aku jatuh cinta padanya? Tidak, terlalu dini bila kukatakan aku menyukainya. Aku sekadar bahagia karena mendapat kawan baru. Panggil ia kawan diskusi yang hilang. Sebabnya tak kutemukan kawan diskusi seperti ia di kampus kuning. Aku sok tahu sekali, ya, padahal tadi baru kali pertama bertukar sapa.
Kecenderungan mudah merayap apabila kita temukan hal-hal yang serupa. Apa yang mengikatku padamu? Ah ya, kurasa itu. Akan tetapi, dua hari lalu temanku bercerita mengenai kawannya. Kawan temanku ternyata mirip dengan kau. Akhirnya kusadari, tipe macam kau tak hanya satu. Lingkup pergaulanku saja yang sempit dan hanya mengenal dikau.
Dalam langkah pulangku, aku memikirkan banyak hal. Kau, dia, impian-impianku, probabilitas masa depan, dan lain-lain. Semua begitu rumitnya hingga ada air mata yang terdesak keluar.
Aku mencintaimu, masih utuh hingga kini. Aku mencintaimu walaupun aku tahu ada kemungkinan untuk menyesuaikan ulang mimpi besarku. Aku tahu risiko dari mencintaimu. Ini salah satunya. Aku bingung menghadapi keinginan-keinginanku. Apakah kau tahu, memiliki keluarga akademisi adalah impianku sejak awal mula perkuliahan. Aku ingin memiliki kawan diskusi setiap pagi dan sore, aku menginginkan seseorang yang memahami dan mendukung segala aktivitasku, aku ingin membuat suatu karya bersama, aku ingin kita tenggelam dalam lembar jawaban murid didik kita berdua. Berbincang dengannya membuatku membuang jauh suara hatiku. I don't want to adjust my dream just for being with you. Semua akan terasa lebih mudah bila aku berpasangan dengan seseorang yang jelas sevisi dan semisi. Seseorang yang bisa mengajakku menjalani mimpi bersama. Perlahan, bayangmu pupus dan hilang seutuhnya dari khayalan idealku. Tak ada kau di sana. Tak ada kau di masa depanku. Apakah memang bukan kau?
Kubolak-balik lembar mushaf satu-satunya yang kutemukan di Masjid UI dengan gelisah.
Allah, please talk to me.
Tangan dan tatapanku terhenti di surat An-Nuur ayat 31, "Katakanlah kepada wanita yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya...'"
Terus berlanjut hingga ke ayat 32, "'Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.'"
Semuanya berputar di menjaga kesucian, bukan? Jaga izzah, jaga iffah. Jaga pandangan. Sigh. Sesak rasanya. Aku menangis sampai lelah. Sampai lepas semua keraguan. Sampai luruh segala dan beralih pasrah. Jika memang yang ini bukan untukku, I'm ready to start all over again. Nggak apa-apa dari awal lagi. Nggak apa-apa move on lagi. Bukankah jatuh cinta selalu indah? Proses bangkit dan melupakan saja yang pedih tak terkira. Akan tetapi, rasa sakit itu hanya sementara, bukan?
UI atau bukan UI
Sastra atau bukan sastra
Kau atau bukan kau
Selama ia jodoh yang didatangkan Allah untukku
Kuterima saja dengan sepenuh hati
Aku tahu, aku yakin, tangan-tangan Allah sudah merencanakan semuanya
Andaikata aku tak jadi menggapai mimpi sesuai rencana awalku
Pasti ada substitusi mimpi dari-Nya yang jauh lebih sempurna
Atau mungkin mimpiku ditunda untuk beberapa tahun
Demi membuahkan hasil yang tak kuduga-duga
Pasti ada jalan, pasti ada pintu untuk mengaktualisasi diri
I'm ready to start all over again...
"Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (An-Nuur: 35)
Allah, please guide me. Show me the straight path.
Salam,
Nadia Almira Sagitta
Wednesday, July 22, 2015
Menjadi Hebat
"Bersama laki-laki yang hebat, selalu ada perempuan luar biasa. Mereka tumbuh bersama dan saling memberi makna." (Fahd Pahdepie)
Ya. Aku tidak ingin menjadi perempuan hebat di balik layar. Di balikmu. Aku sungguh ingin menjadi hebat bersamamu. Aku menghebatkanmu, kau menghebatkanku. Mari menjadi pasangan yang hebat dan luar biasa! Bersama kita bisa, bukan? :)
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Wednesday, July 15, 2015
Usia Wajar
"Nadia sudah punya pacar?" tanya nenekku suatu hari.
"Hah? Belum. Nadia nggak pacaran, Nek."
"Bolehlah kenal-kenalan dari sekarang. Macam mana kalau langsung nikah, kan?"
"Hehehe..." aku tertawa saja, bingung menjelaskan konsep taaruf padanya.
"Asal agamanya bagus dan dia perhatian. Penting itu."
"Iya, Nek."
"Kalau yang disuka ada?"
"Ya ada, Nek. Tapi, ya, teman biasa."
"Iya, tidak apa. Asal sama-sama suka."
Haha. Sama-sama suka? Entahlah kalau urusan satu itu.
"Masih lama, Nek. Seperti ini aja dulu. Lagian Nadia mesti S-2 dulu, kan."
Tetiba nenekku bercerita perihal upaya omku mendekati tanteku. Omku rupanya gigih sekali mengejar tanteku dengan berkunjung ke rumah.
"Ommu itu dulu serius benar sama tantemu," katanya. Wkwkw, semua juga mau diberi keseriusan, batinku.
Masih umur 20 sudah ditanya hal-hal seperti ini. Belum lebaran pula. Bagaimana nanti pas hari raya yang notabene berkumpul keluarga besar? Hahaha, semoga tidak ada yang menanyakan hal ini. Aku masih kecil. :p Ngomong-ngomong, apa memang ini usia wajar diberi pertanyaan seputar pernikahan dan jodoh, ya? Tampaknya, sih, begitu. Menurutmu bagaimana?
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Saturday, June 20, 2015
Jangan Tebar Janji!
Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik (perkataan sindiran yang baik). (Albaqarah: 235)
Sebenarnya, ayat ini berbicara tentang menikahi wanita yang ditinggal suaminya, entah karena meninggal atau cerai. Akan tetapi, aku posting kutipannya di sini untuk menggarisbawahi kata janji. Guys, jangan tebar-tebar janji, plis. Kalau serius, mah, utarakan secara tegas. Datang ke rumah secara baik-baik, temui orang tua, dan utarakan niat taaruf. Jangka waktu taaruf nggak lama. Paling banter setahun, nggak jarang ada yang hanya dua bulan. Itu juga tujuannya jelas, nggak tebar romansa sana-sini. Jaga pandangan, jaga perasaan. Kalau setuju, lanjut ke khitbah. Kalau nggak, ya udahan dengan alasan yang jelas. Selama proses perkenalan juga ditemani mahram. Nggak ada ceritanya dua-duaan.
Nggak ada itu janji manis yang ditebar-tebar saat pedekate atau pacaran. Zalim pada pasangan, loh, kalau kamu ingkar janji. Siapa kamu berani tebar janji seperti itu? Siapa kamu berani "ngikat" anak orang dengan pacaran? Ngikat hatinya karena sama-sama berprospek bakal menikah beberapa tahun lagi. BEBERAPA TAHUN LAGI. Heh, dalam jangka waktu satu tahun saja banyak yang bisa terjadi, gimana beberapa tahun? Kalian mau gimana? Menyemai, menyirami, dan memupuk rasa gitu selama bertahun-tahun? Kamu belum cukup di-PHP, ya? Hiks. :')
Plis, jangan tebar janji kalau belum sanggup menepati.
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Tuesday, June 16, 2015
Pasangan Terbaik
"Jadi gini ceritanya..."
Bermenit-menit kemudian...
"Bagaimana menurutmu?"
"Hm, kamu pernah nggak naksir sama cowok cakep?"
"Hahahha pernah. Memangnya kenapa?"
"Rasanya seperti apa? Sekadar kagum atau cinta mati?"
"Suka biasa ajalah. Wong nggak kenal."
"Nah gitu."
"Gitu gimana?"
"Cintai orang secukupnya saja. Aku, nih, sudah kenal berbagai jenis lelaki. Mulai dari yang brengsek, yang baru pertama kali kenal cinta, yang alim, dan lain-lain. Selama aku suka sama mereka, aku suka biasa saja. Suka sekadar suka."
"Gitu, ya? Tapi gimana caranya? Aku telanjur pengin nikah sama dia. Parah, aku udah ngarep banget."
"Jangan ngotot ingin memiliki. Hal itu yang membuat kamu sakit. Kalau nggak jadi kenyataan gimana?"
"Itulah. Aku juga takut kalau nggak jadi kenyataan. Patah hati aja sakitnya berhari-hari."
"Nah itu. Pasrahkan saja semua pada Allah. Bagaimana pun nanti, kita bakal bertemu jodoh yang disiapkan Allah, kan."
"Tapi aku rasa, dialah yang terbaik buat aku. Setelah selama ini, baru kali ini aku nemu yang benar-benar...perfek. Aku takut tidak berjumpa dengan orang yang seperti dia lagi."
"Percaya. Percayalah Allah bakal memberi pasangan terbaik untuk kita. Percayalah Allah akan mendatangkan seseorang yang jauh lebih baik dari yang kita kenal hari ini. Masa Allah memberi kita yang setengah-setengah? Percayalah."
"Terima kasih, ya... Sungguh. Pendapatmu ada benarnya juga. In syaa Allah, ya."
"Tetap semangat! Pasrahkan saja semua."
Cheers,
Nadia Almira Sagitta