Wednesday, June 29, 2016
Sianida?
Thursday, June 2, 2016
Nanti, setiap hari
Malam ini tidak bisa tidur. Padahal, hal yang menjadi buah pikiran sangatlah sederhana, hanya sebuah kejadian yang masih di angan. Jika tiap pagi sarapanmu kusiapkan, kau mau? Tidak hanya sesederhana ini, nanti. Tidak hanya sesekali, nanti. Setiap hari, di dapur yang sama, di meja yang sama ada kita berdua. Mungkin sesekali kita makan di luar, candle light dinner restoran atau menikmati angin sepoi-sepoi di bangku taman bersama dua kotak takeaway makanan. Mungkin juga nanti tak hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat. Katanya, makan bersama itu elemen penting dalam sebuah keluarga. Kita tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk itu. Kau dan aku paling anti lembur di kantor agar bisa makan bersama dan bertukar cerita atau berbagi keheningan. Tak jarang kita menikmati makanan di piring masing-masing sedang sunyi menyelimuti. Kau dan aku hanya perlu memastikan ada di sisi satu sama lain. Ada duduk di sana, dapat diperhatikan dengan kedua bola mata, dapat dirasakan hadirnya dengan telinga, dan dapat disentuh dengan kulit tangan.
--
Jengjengjeng, baper baca tulisan sendiri. Semakin tidak bisa tidur. Mari berdoa. Doa agar dapat segera istirahat di malam buta dan doa agar segera dipersandingkan. Eh, mesti ketemu dulu, ya, sebelum bersatu? Benar juga kamu! Oke, doa agar segera dipertemukan. Kalau sudah ketemu, mari berdoa agar diberi keyakinan untuk bersama. Ya, selamat tidur, kamu.
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Friday, November 6, 2015
Surat untuk Si Tampan dan si Cantik
Halo, si Tampan dan si Cantiknya mama. Ini mama, menulis dari masa lalu. Hari ini mama menerima kiriman buku ABC for Baby Linguists. Mama mau mengenalkan linguistik pada kalian sedini mungkin karena mama mau berbagi dunia kecintaan mama. Jadi, siap-siap dengan alofon, bilabial, nasal, dan kawan-kawannya itu, ya! Mama, sih, berharap banget salah satu dari kalian mengikuti jejak mama menjadi seorang linguis kelak. Nanti kita bisa meneliti bareng-bareng seperti David Crystal dan anaknya, Ben Crystal. Aduh, pasti seru sekali bila di meja makan kita membahas gejala-gejala bahasa terbaru atau mendiskusikan kebingungan bahasa yang kalian temukan. Bisa juga tiap pekan kita belajar bahasa asing. Makanya sekarang mama lagi mendalami beberapa bahasa supaya nanti bisa mengajari kalian. Belajar bahasa itu bisa meningkatkan kemampuan otak kalian, lho! Bisa mencegah kepikunan juga! Ajaib, kan? ^^♡
Omong-omong belajar bahasa, mama berencana mengajarkan bahasa daerah sebagai bahasa pertama kalian. Duh, padahal mama nggak mengerti bahasa Jawa dan Minang, tetapi mama janji mau belajar. Bisa dimulai dengan mencari pasangan dari suku yang sama juga! Haha, doakan-doakan. Eh, dari suku yang sama sekali berbeda juga nggak masalah, tetapi mama pengin dia menguasai bahasa daerahnya. Nanti mama belajar bahasanya dari dia. Pokoknya mama mau bahasa pertama kalian bahasa daerah agar timbul kecintaan terhadap tanah yang membesarkan kalian dan agar kalian tumbuh menjadi manusia yang berbudaya. Selanjutnya, mama akan mengajarkan bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya. Mama kan lulusan sastra Indonesia, mesti kudu wajib membesarkan anak dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa ketiga dan seterusnya itu terserah kalian. Silakan menjadi multibahasawan atau dwibahasawan. Keluarga kita mah liberal aja untuk masalah seperti ini. Hahaha. :)
Eh, mama kebanyakan cerita, ya? Betapa banyaknya rencana dan angan-angan mama di masa depan. Tentang pembelajaran kalian, tentang karier mama, tentang asupan gizi kalian, tentang cara memahami kalian, dan lain sebagainya. Mama masih harus banyak belajar. Huu, banyaaaaak banget! Doakan mama punya kekuatan dan kesungguhan untuk mempelajari semua ini. ^^♡
Sepertinya lebih seru menyambut kedatangan kalian nanti daripada menyambut kedatangan dia, calon papa kalian. Kenapa begitu? Soalnya mama di-PHP meluluuuu, sama banyak orang pula. Jadinya sebal! Akan tetapi, kalau nggak ada dia, mana bisa ada kalian? Hahaha. Ya sudah, doakan mama agar berjumpa dengan pemuda yang saleh, berjiwa pemimpin, dan peduli dengan bahasa serta linguistik. Mama janji akan mencari pemuda itu sampai ke ujung dunia. Pokoknya mesti spesies terbaik dari yang terbaik. ^0^)/
InsyaaAllah. Perkenankanlah, ya Allah.
Peluk,
Nadia Almira Sagitta
Saturday, October 17, 2015
Genap
Genap membuat hari ini menjadi hari terbaper se-Indonesia! Eh, setidaknya bagiku. Ada wajahmu di setiap bab yang kubaca. Jangan tanyakan aku kenapa, kamu hadir begitu saja...di alam khayalku.
Genap mengajariku untuk mengikhlaskan, yang pada akhirnya kujadikan trik untuk merelakan kamu. Namun, pada kenyataannya, kamu selalu saja ada di pikiranku. Ah, sepertinya aku tak bisa memaksa diri untuk melupakan kamu. Nanti juga lupa kalau sudah terbiasa.
Kemarin, aku ingin melupakan kamu dengan alasan ketidakcocokan. Ternyata, pendapatku dibantai habis oleh buku ini. Sia-sia mencari pasangan yang benar-benar cocok karena dia tak akan pernah ada. Kecocokan itu diusahakan, lagipula kecocokan sebelum menikah akan berbeda setelahnya. Manusia ada lebih kurangnya, kita haruslah melapangkan hati untuk ruang penerimaan. Ih, Genap, gemas sekali rasanya! Apabila kamu ditakdirkan Allah untuk menggenapiku, aku akan belajar melapangkan hati seperti kata Genap ini. Jika bukan kamu, tips ini tetap kuaplikasikan pada dia, siapa pun orangnya. Fleksibel saja. Iya, hati harus fleksibel.
--
Pernikahan membutuhkan pengorbanan dari kedua belah pihak. Pengorbanan sukarela yang mengalirkan bahagia pada keduanya. Seperti kata tokoh aku dalam Genap, "Kita cinta sama seseorang saat kita begitu bahagianya melakukan sesuatu--apa pun itu--untuknya. Saat kepadanya, kita selalu ingin memberikan yang terbaik yang kita bisa. Saat terhadapnya, kita tak perlu menyembunyikan apa pun tentang kita. Saat di sisinya, kita merasakan hidup kita jauh lebih berharga. Saat bersamanya, beban hidup terasa lebih ringan."
Semoga suatu saat hatiku bisa menerima dia yang ditakdirkan Allah untukku. Siapa pun, bahkan jika ia bukan kamu. Hahaha, kenapa memaksa ingin bersama dengan orang yang belum tentu jodoh? Kata Genap, "Kalau ia meninggalkan kamu dan memilih orang lain, berarti ia memang bukan jodoh kamu. Jangan sedih." Semoga suatu saat aku menemukan seseorang yang membuat hidup ini menjadi lebih indah, lebih ringan, dan lebih bermakna.
Mari melapangkan hati! :)
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Friday, September 18, 2015
WM or FTM?
Menjadi ibu pekerja atau ibu rumah tangga? Working mom or full time mother? Baru saja saya membaca artikel yang berseliweran di Facebook. Salah satu artikel berasal dari situs agama dengan judul yang agak menyudutkan ibu pekerja. Artikelnya cukup panas, terlebih lagi komentar pembacanya. Ada yang membawa-bawa dalil agama, ada yang membawa-bawa realita hidup, ada pula yang membawa-bawa gengsi akademis.
Hm, apakah aku terlalu dini mengamati perdebatan WM-FTM yang tiada akhir ini? Menurutku, sih, tidak apalagi aku sudah memproyeksikan diriku sebagai WM di masa depan. Justru dengan mengamati perkembangan isu ini, aku bisa mendapatkan pertimbangan sana-sini.
Berdasarkan hasil pembacaanku terhadap beberapa blog pribadi yang membahas FTM dan WM, keputusan tersebut terletak di tangan sang ibu. Hidup kita selalu dikelilingi oleh pilihan-pilihan, salah satunya adalah pilihan untuk berkarir atau tidak. FTM dan WM sama-sama bisa mengurus dan anak suami dengan cara yang berbeda. Jangan sudutkan pilihan wanita yang ingin meniti karir. Jangan memandang rendah kuantitas kebersamaan keluarga yang dimiliki oleh WM, yang tentu saja berbeda jauh dengan para FTM. Ini bukan berarti WM itu tidak becus mengurus keluarga. Sama sekali tidak! Sama halnya dengan para FTM. Bukan berarti mereka kuper dan tidak memiliki wawasan yang sama dengan para ibu yang berinteraksi dengan dunia luar. Ini hanya masalah pilihan berikut konsekuensinya. Percayalah, setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk keluarganya. Ibu yang cerdas pasti bisa membagi prioritas waktunya: kapan untuk dirinya, kapan untuk anaknya, kapan untuk suaminya, dan kapan untuk pekerjaannya.
Aku sendiri merupakan cetakan seorang working mom yang luar biasa. Ibuku adalah seorang pekerja yang jam kerjanya tinggi, terkadang malah melebihi ayahku. Tak jarang ibuku lembur di kantor yang pada akhirnya membuat aku dan adikku bertanya-tanya kapan dirinya bisa pulang ke rumah. Sehari-hari, aku dan adikku dititipkan kepada pembantu--yang memang hanya lulusan SD (aku tak menafikan hal itu). Akan tetapi, sebelum berangkat kantor, ibuku selalu menitipkan pesan mengenai apa yang boleh kami lakukan dan apa yang tidak kepada penjaga kami. Di saat istirahat makan siang, ibuku selalu menelepon rumah dan menanyakan kabar kami. Terkadang, beliau bertanya, "Mau dibawakan apa hari ini?" Lalu dari mulut kami meluncurlah nama barang-barang atau makanan yang diidamkan hari itu. Ketika beliau pulang ke rumah, terlihat jelas raut wajahnya yang lelah. Tak jarang pula beliau marah-marah karena kesalahan kecil yang kami buat. Akan tetapi, tak apa. Aku tahu beliau lelah di kantor. Marah-marahnya itu membuat kami lebih disiplin.
Aku memang pernah merindukan sosok ibu yang sepenuhnya berada di rumah. Aku ingat, dulu aku sangat bahagia ketika ibuku mengambil cuti kantor karena sakit atau sekadar ingin menemani kami bermain di rumah saja. Akan tetapi, aku juga tahu hal itu tak mungkin terus-terusan terjadi. Dirinya yang aktif di luar rumah membuat kami tumbuh sebagai sosok yang lebih mandiri. Aku pun merasa cukup dengan kehadirannya pada saat pagi, petang, malam, dan sepenuhnya di akhir pekan. Kurasa jika aku menjadi WM kelak, akhir pekan juga akan kudedikasikan untuk keluarga. Sekarang ibuku menjadi seorang FTM. Ia mengurusi ayah, adikku, dan aku (walaupun jarak jauh) dengan sangat baik. Ia kembali memasak, suatu kegiatan yang jarang dilakukannya selama ia menjadi WM. Salah satu hal yang kusadari dan kusyukuri saat ibuku menjadi FTM: aku baru tahu masakannya itu enak sekali. Ibuku adalah contoh ibu pekerja berikut ibu rumah tangga yang luar biasa. ♡
Intinya, hargailah keputusan yang telah disepakati oleh setiap keluarga. Keluargamu bukanlah keluarga mereka. Ada sistem yang berbeda, ada kebahagiaan yang berbeda. Biarkanlah kita semua hidup dengan cara masing-masing yang tentunya unik dan tak biasa.
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Wednesday, September 9, 2015
Apa-apa dimediasosialin: Anak
Sedang tren, ya.
Baru nikah, banjir foto di Facebook. Jangankan foto, banjir status-status romantis pun ada. Kadang malah mengirim postingan di dinding satu sama lain disertai embel-embel kata sayang, cinta, dan segala macam.
Padahal, percakapan semacam itu bisa diobrolkan di ruang obrolan. Ada kolom chat.
Baru punya anak, banjir foto di Facebook. Terkadang aku merasa kasihan dengan anaknya. Dikit-dikit terpapar kamera. Gimana kalau ada pihak yang menggunakan foto anakmu secara tak bertanggung jawab? Gimana kalau ada penculik anak di luar sana diam-diam sedang menandai anakmu? Foto yang dibagikan juga bermacam-macam bentuknya. Ada foto bayi yang lagi digendong, ada yang lagi tidur, ada foto bayi yang lagi mandi (jelas tanpa baju). Ini, nih, yang mau dikritik. Apa kamu pernah minta izin sama bayimu untuk mengunggah foto-fotonya yang tak mengenakan pakaian itu? Jelas nggak, kan. Menurut artikel yang kubaca dari situs luar negeri, always put consent first. Jangan mengunggah sembarang foto jika ia masih terlalu kecil. Ada, lho, orang tua yang benar-benar strict dengan hal ini.
Tak hanya foto, para ibu juga sering membuat percakapan khayali dengan anaknya yang belum kenal A-B-C. Atau membuat percakapan dengan jabang bayi yang masih di dalam perut. Entah ya, bukannya bermaksud jahat, tetapi aku benar-benar tertawa saat membacanya. Aku sebenarnya nggak masalah dengan percakapan tersebut kalau terjadi di rumah, bukannya di ruang publik. Wkwkkw. Jadi lucu pas ada percakapan-sok-unyu macam itu nampang di Facebook. It's like... do we really care?
Okay, somebody's being so sarcastic here! Hear, hear. Maybe someday you'll become one of those moms, Nad? So don't criticize them like that!
Haha maaf. Aku sadar, kok, aku juga suka curhat di jejaring sosial. Berbagi ketertarikan pada bidang-bidang tertentu, tempat tertentu, dan lain-lain. Aku biasanya nggak rewel, kok, dengan orang-orang yang curhat di jejaring sosialnya. Akan tetapi, entah mengapa untuk hal satu ini aku menaruh perhatian. Miris aja segala-galanya sudah dimediasosialin. Where's privacy right now? Okelah itu anakmu, you can do anything you want to him/her. Cuma... ya itu tadi. Pertimbangkanlah hal-hal mana yang dianggap perlu dan mana yang tidak. Jangan lupa untuk menjaga perasaan teman-temanmu yang belum menikah dan yang belum dikaruniai anak. Begah nggak, sih, baca postingan yang bernada sama tiap hari? Ya kalau aku, sih, begah.
Salam,
Nadia Almira Sagitta
Thursday, September 3, 2015
Favorite wedding song ever!
Take My Hand is my favorite wedding song ever! I also enjoy the music video. Yes, it's full of kisses, wedding dresses, cakes, smiles, and love.
https://youtu.be/PeWXdkEUPbo
I want us holding hands together
I want you to kiss me in my forehead and my cheeks (lips of course, don't have to mention it, hahaha)
I want to look into your beautiful eyes
I want to see your gorgeous smile
I want us to dress up like a king and queen for a day, and
I want you standing next to me on my wedding day
Too good to be true
I want to spend my life with you
-Emily hackett
Aku mau, aku mauuuuu! (/v\)
Big luv,
Nadia Almira Sagitta
Sunday, August 9, 2015
Take My Hand
Forever seems like a long time
But nothing seems like a long time
When I’m with you
I feel like I’m walking on waters
Since the day that I asked your father
To let go of his daughter
Give me your blessing, sir
I’ll give her all that I’ve got
It doesn’t looks like much
But it sure feels like a lot
Let her take my heart and take my hand
Take my heart and take my hand
Take my heart and take my hand again and again
Right where we stand
I’ve never really know what love is
But whatever it is
I feel it in your kiss
You waltzed in like somebody planned it all
I feel right where I belong
My knees are weak
My heart is strong
So gimme your word and i'll give you all I’ve got
No we don’t have much
But it sure feels like a lot
So take my heart and take my hand
Take my heart and take my hand
Take my heart and take my hand again and again
Right where we stand
Take my heart and take my hand
I’ll be your lover and I’ll be your friend
Take my heart and take my hand again and again
Right where we stand
Ooh… too good to be true
I wanna spend my life with you
I wanna spend my life with you
Ooh… too good to be true
I wanna spend my life with you
I wanna spend my life with you
(Emily Hackett)
--
Def, this will be my wedding song! :')
Umm, diputar pas pemasangan cincin, mungkin? Atau pas jalan ke pelaminan? Atau pas resepsi aja? Kapan aja, deh, yang penting jadi lagu pernikahan. ^^♡
Nothing seems like a long time when I'm with you. Too good to be true, I wanna spend my life with you. Hiyaaa, terharu! (/v\)
Let him take my heart and take my hand, Dad.
Ke mana pun itu, asal kau ajak aku, aku turut mengikuti. I feel right where I belong. ♡ Deuuu romantis amat kamu, Nad. (memuji diri sendiri) Lha, benar, kan? Rida perempuan yang sudah nikah, kan, ada di ... di siapa coba? :)
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Saturday, August 8, 2015
Film What To Expect When You're Expecting
Baru saja aku selesai menonton film What To Expect When You're Expecting. Film ini menceritakan kisah lima pasangan, yaitu
1. Wendy dan Gary,
2. Jules dan Evan,
3. Rosie dan Marco,
4. Skyler dan Ramsey, dan
5. Holly dan Alex.
Mereka memiliki kisah kehamilan yang berbeda-beda. Ada suami yang tidak siap menjadi ayah, ada yang keguguran, ada yang harus dioperasi caesar kendati ia sangat menginginkan kelahiran normal, ada yang mengalami proses kehamilan dan melahirkan yang super-duper nyaman, ada pasangan yang mandul, ada yang sering berselisih paham karena keduanya jarang menghabiskan waktu berdua, dan lain-lain.
Aku tidak bermaksud menuliskan ringkasan filmnya (karena kepanjangan!), aku hanya mau membeberkan beberapa hal yang ngena banget. Aku nangis, lho, saat ada yang keguguran dan mandul. Sumpah, pasti sedih banget rasanya kehilangan anak yang sangat dinanti-nantikan. Bahkan ada dialog si istri menyalahkan dirinya sendiri, "I'm the one who can't do the one thing that a woman is supposed to be able to do." Oh God, dear husbands out there, your wives need you to support them in this kind of situation. :')
Ada satu adegan mengharukan favoritku, nih. Si suami pulang lebih awal dan segera memeluk istrinya, "I don't want anyone else taking care of you, that's my job. I just want our baby safe, okay?" Setelah itu, ia menekurkan kepala di atas perut istrinya dan berbisik, "Dad is here. Dad is here."
Aaaaw, so sweeeeet. I'm melting right now. ♡♡♡
Adegan mengharukan lainnya, ya, proses melahirkan. OMG, terharu banget ngelihat para suami berdiri di samping istrinya, merengkuh atau menggenggam tangan istrinya, dan menyemangati mereka. You can do it! Ahaha tetapi ada yang lucu juga, sih. Ada suami yang mengerutkan dahi dan terbengong heran saat melihat wajah istrinya yang kesakitan. Doi speechless kali, ya. Yoi kawan, melahirkan itu sakit. Itu kesimpulanku setelah menonton beberapa episode One Born Every Minute. Hohoho, ngilu sendiri. >,< So be sure to be there and give your best support to your lovely wife! ♡♡♡
Aku, sih, paling suka adegan setelah prosesi kelahiran, si suami menghampiri istrinya lalu mengecup kening dan bibirnya. Kadang ada yang bilang, "Thank you." Kira-kira maksudnya itu, "Makasih sudah berjuang melahirkan anak kita, luv." Oemjiiiiii manis bangeeeet. I can't breathe... (/v\)
Intinya, film ini bagus dan layak ditonton oleh pasangan yang menanti kelahiran, pasangan yang baru menikah, atau bahkan yang masih sendiri-mandiri sepertiku. (ups!)
Kamu sudah nonton filmnya? Silakan beri komentar di bawah ini.
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Monday, July 27, 2015
Wara-wiri persiapan
Tadi aku bercerita dengan sahabatku. Ia menceritakan proses-menuju-nikahnya yang lagi-lagi terhambat. Niat sucinya baru dapat terwujud selepas lulus, insyaaAllah. Padahal proses mereka sudah dimulai sejak lama dan ingin mereka akhiri dengan bahagia dan segera. Kau tentu dapat membayangkan betapa menyedihkannya berita ini.
Ternyata, proses-menuju-nikah itu tidaklah mudah. Pertama, mesti wara-wiri mencari sosok si dia, kedua wara-wiri lagi memperoleh restu orangtua, ketiga sibuk sana-sini mempersiapkan segala detail acara resepsi, keempat...menghadapi pernikahan itu sendiri.
I got an advice from my bestie, "Selalu pikirkan kemungkinan terburuk. Bahagia itu pasti, tetapi apakah kita siap menghadapi kemungkinan terburuk itu? Marriage isn't all about happiness, baby."
I'm still on the stage one. Haha, itu juga belum nemu. Eh, belum mau nemu, sih, maksudnya. Ng, maksudku pengin nemu sekarang, tetapi nggak pengin ngejalanin sekarang. Eh, apa sih! Nggak jelas banget. Huh, abaikan.
"Umur kamu berapa? Menuju 21? Wajar, sih, kalau kepikiran soal pernikahan. Emang masanya. Sudah bukan waktunya pacaran sana-sini. Kita, kan, maunya diseriusin." Azeggg.
Ya gitu, deh. :)))
Salam,
Nadia Almira Sagitta
Saturday, July 25, 2015
Cahaya, An-Nuur
"Tak perlu ada adegan saling tunggu, bukan? Yang perlu kita lakukan hanyalah belajar saling melepaskan." (Kang Abay)
"Kau tahu? Kau hanya terlalu khawatir akan masa depan. Apalagi perihal jodoh yang tak kita ketahui tanda-tandanya. Percayalah, Allah punya rencana terbaik. Jangan kau ragukan rencana-Nya." (Dey)
Teman,
Hari ini aku bertemu seseorang. Kami mengobrol lama sekali. Ia sejurusan denganku, tetapi berasal dari universitas lain. Ia punya rencana studi yang mirip denganku yakni melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang doktor. Kami berbincang mengenai universitas impian, spesifikasi jurusan, keadaan kampus, dan semacamnya. Tak butuh waktu lama untuk mengidentifikasi lingkup pergaulan pria ini. Ia satu lingkaran denganku. Akademisi, boleh kau katakan.
Memang mudah kecenderungan merayap ke permukaan apabila kita temukan hal-hal yang serupa. Sebentar, kau sangka aku jatuh cinta padanya? Tidak, terlalu dini bila kukatakan aku menyukainya. Aku sekadar bahagia karena mendapat kawan baru. Panggil ia kawan diskusi yang hilang. Sebabnya tak kutemukan kawan diskusi seperti ia di kampus kuning. Aku sok tahu sekali, ya, padahal tadi baru kali pertama bertukar sapa.
Kecenderungan mudah merayap apabila kita temukan hal-hal yang serupa. Apa yang mengikatku padamu? Ah ya, kurasa itu. Akan tetapi, dua hari lalu temanku bercerita mengenai kawannya. Kawan temanku ternyata mirip dengan kau. Akhirnya kusadari, tipe macam kau tak hanya satu. Lingkup pergaulanku saja yang sempit dan hanya mengenal dikau.
Dalam langkah pulangku, aku memikirkan banyak hal. Kau, dia, impian-impianku, probabilitas masa depan, dan lain-lain. Semua begitu rumitnya hingga ada air mata yang terdesak keluar.
Aku mencintaimu, masih utuh hingga kini. Aku mencintaimu walaupun aku tahu ada kemungkinan untuk menyesuaikan ulang mimpi besarku. Aku tahu risiko dari mencintaimu. Ini salah satunya. Aku bingung menghadapi keinginan-keinginanku. Apakah kau tahu, memiliki keluarga akademisi adalah impianku sejak awal mula perkuliahan. Aku ingin memiliki kawan diskusi setiap pagi dan sore, aku menginginkan seseorang yang memahami dan mendukung segala aktivitasku, aku ingin membuat suatu karya bersama, aku ingin kita tenggelam dalam lembar jawaban murid didik kita berdua. Berbincang dengannya membuatku membuang jauh suara hatiku. I don't want to adjust my dream just for being with you. Semua akan terasa lebih mudah bila aku berpasangan dengan seseorang yang jelas sevisi dan semisi. Seseorang yang bisa mengajakku menjalani mimpi bersama. Perlahan, bayangmu pupus dan hilang seutuhnya dari khayalan idealku. Tak ada kau di sana. Tak ada kau di masa depanku. Apakah memang bukan kau?
Kubolak-balik lembar mushaf satu-satunya yang kutemukan di Masjid UI dengan gelisah.
Allah, please talk to me.
Tangan dan tatapanku terhenti di surat An-Nuur ayat 31, "Katakanlah kepada wanita yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya...'"
Terus berlanjut hingga ke ayat 32, "'Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.'"
Semuanya berputar di menjaga kesucian, bukan? Jaga izzah, jaga iffah. Jaga pandangan. Sigh. Sesak rasanya. Aku menangis sampai lelah. Sampai lepas semua keraguan. Sampai luruh segala dan beralih pasrah. Jika memang yang ini bukan untukku, I'm ready to start all over again. Nggak apa-apa dari awal lagi. Nggak apa-apa move on lagi. Bukankah jatuh cinta selalu indah? Proses bangkit dan melupakan saja yang pedih tak terkira. Akan tetapi, rasa sakit itu hanya sementara, bukan?
UI atau bukan UI
Sastra atau bukan sastra
Kau atau bukan kau
Selama ia jodoh yang didatangkan Allah untukku
Kuterima saja dengan sepenuh hati
Aku tahu, aku yakin, tangan-tangan Allah sudah merencanakan semuanya
Andaikata aku tak jadi menggapai mimpi sesuai rencana awalku
Pasti ada substitusi mimpi dari-Nya yang jauh lebih sempurna
Atau mungkin mimpiku ditunda untuk beberapa tahun
Demi membuahkan hasil yang tak kuduga-duga
Pasti ada jalan, pasti ada pintu untuk mengaktualisasi diri
I'm ready to start all over again...
"Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (An-Nuur: 35)
Allah, please guide me. Show me the straight path.
Salam,
Nadia Almira Sagitta
Wednesday, July 22, 2015
Menjadi Hebat
"Bersama laki-laki yang hebat, selalu ada perempuan luar biasa. Mereka tumbuh bersama dan saling memberi makna." (Fahd Pahdepie)
Ya. Aku tidak ingin menjadi perempuan hebat di balik layar. Di balikmu. Aku sungguh ingin menjadi hebat bersamamu. Aku menghebatkanmu, kau menghebatkanku. Mari menjadi pasangan yang hebat dan luar biasa! Bersama kita bisa, bukan? :)
Cheers,
Nadia Almira Sagitta
Wednesday, July 15, 2015
Usia Wajar
"Nadia sudah punya pacar?" tanya nenekku suatu hari.
"Hah? Belum. Nadia nggak pacaran, Nek."
"Bolehlah kenal-kenalan dari sekarang. Macam mana kalau langsung nikah, kan?"
"Hehehe..." aku tertawa saja, bingung menjelaskan konsep taaruf padanya.
"Asal agamanya bagus dan dia perhatian. Penting itu."
"Iya, Nek."
"Kalau yang disuka ada?"
"Ya ada, Nek. Tapi, ya, teman biasa."
"Iya, tidak apa. Asal sama-sama suka."
Haha. Sama-sama suka? Entahlah kalau urusan satu itu.
"Masih lama, Nek. Seperti ini aja dulu. Lagian Nadia mesti S-2 dulu, kan."
Tetiba nenekku bercerita perihal upaya omku mendekati tanteku. Omku rupanya gigih sekali mengejar tanteku dengan berkunjung ke rumah.
"Ommu itu dulu serius benar sama tantemu," katanya. Wkwkw, semua juga mau diberi keseriusan, batinku.
Masih umur 20 sudah ditanya hal-hal seperti ini. Belum lebaran pula. Bagaimana nanti pas hari raya yang notabene berkumpul keluarga besar? Hahaha, semoga tidak ada yang menanyakan hal ini. Aku masih kecil. :p Ngomong-ngomong, apa memang ini usia wajar diberi pertanyaan seputar pernikahan dan jodoh, ya? Tampaknya, sih, begitu. Menurutmu bagaimana?
Luv,
Nadia Almira Sagitta
Thursday, June 11, 2015
Catatan Harian Pengantin
Sudah, sudah. Mendingan juga lihat foto di bawah ini.
Kyaaa, Mbak Fitri Aulia tidak pernah gagal membuatku terkagum-kagum dengan hasil rancangannya!
Jago, jagooo. ♡
Nah itu, muslimah berprestasi
Kamu juga kan, Nad? :)
Anyway, jadi mikirin pernikahan. Eh salah, pesta pernikahan. Iya, aku mau pesta doang. Mau banget jadi ratu sehari
Cantik
Pakai gaun
Duduk di singgasana
Semua mata tertuju padaku
#ahelah Emangnya iklan?
Tapi malu banget nggak sih kalau cantik-cantik gitu terus banyak yang ngelihatin? Suka, deh, sama konsep pernikahan syar'i yang tamu pria dan wanitanya dipisah. Pernah, tuh, aku datang ke pesta pernikahan yang seperti itu. Pesta nikahan sepupu jauh. Dekorasi gedungnya cantik aneeet, apalagi dianya. Dia yang selama ini pakai kerudung sampai paha dan satu set gamis kali itu pakai kerudung panjang yang disampirkan ke belakang. Ala-ala Barat gitu deh, tetapi nggak sampai menyentuh lantai. Pakai make up juga. Manis bangetlah! ♡ Nah, dia berani tampil habis-habisan di pesta pernikahannya karena tamu pria dan wanitanya dipisah. It means, yang bisa melihat dia hari itu hanya keluarga dan tamu-tamu perempuan saja. Lantas, siapa yang duduk di panggung? Kedua ibunya. Ibu kandung dan ibu mertua. Wkwkwk.
Mempelai prianya ada di ruangan sebelah. Kami bisa melihatnya di layar televisi yang dipasang di ruangan tamu perempuan. Lucu deh, ya. Pas akad, sepupuku itu memandangi layar teruuus. Ketika ucapan SAH menggema, dia nangis! Beneran nangis. Kedua ibunya lantas menenangkan sepupuku itu. Syahdu bangetlah. (ikutan nangis) (ambil tisu) Setelah itu, sepupuku masuk ke ruangan tengah. Ternyata ada ruangan lagi di antara dua ruang tamu. Di sana, ia berjumpa dengan suaminya untuk pertama kali (napas, Nad, napas!). Habis itu resepsi, deh. Naaaah, sebenarnya aku pengin konsep pernikahan yang seperti itu. Sayangnya, aku tak mau jauh-jauh dari pasangan sehidup sematiku. Maunya duduk berdampingan di panggung. Terus, magical things happen! (apaan dah) Tsaelaaah. Nggak tahu, deh, pengin aja gitu ngelihat dia lama-lama, terus tersipu sendiri, terus jadi wanita paling bahagia di dunia. Wakakaka, oke stop khayalannya. Jadi, awalnya saya mau konsep resepsi yang dipisah, tetapi karena mesti berjauhan dengan suami maka rencana itu gagal. Lagipula orang tuaku tidak menginginkan konsep pernikahan yang seperti itu. Lebay, katanya. Wkwkw. Ya sudahlah. Kita optimalkan apa yang bisa dioptimalkan.
Aduh, ini apaan, dah. Berasa catatan harian pengantin. Padahal mah khayalan iseng doang. (/.\) Balik lagi ke gaun. Iya, saya tergila-gila sama gaun Fitri Aulia ini! Gaun rancangannya Irna La Perle juga stunning! Temanku hanya bisa berdecak melihat hobiku mengoleksi foto-foto gaun nikah beserta dekorasinya. Kata mereka, "Nyewa aja sih, Nad. Ngapain beli. Dipakai sekali doang ini." Yaaaah, kalau bisa beli kenapa harus sewa? (kalau bisa, ya) Lagian, maksudku membeli gaun agar suatu waktu gaun itu bisa kukenakan lagi di rumah atau bikin foto pospernikahan sekali lagi. Sumpah ya, aku pengin banget belajar dansa supaya bisa seperti putri-putri Disney dan pangerannya itu. Habis itu...kami berdansa di rumah (wah, mesti punya ruangan luas ini) lengkap dengan gaun untukku dan jas untuk...dia. Kan romantis, ya? ♡♡♡ Kilas balik memori itu penting banget di pernikahan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Supaya balik sweet lagi. (sok tahu, baca teori dari mana kamu?) Kyaaaa, plis sadarkan aku bahwa dunia ini bukanlah fairytale! Kurasa aku harus mencari orang yang rasional dan logis supaya dia bisa menarikku kembali ke dunia nyata ketika aku keasyikan bermimpi.
Syududu~
Sudah dulu, ya. Malu. Hahaha.
>~<
![]() |
| KIVITZ |
Thursday, May 28, 2015
Percakapan (calon) ibu
"Bunda Dey masih di kampus? Bunda Nad udah tidur cantik di kosan?"
"Jangan panggil Bunda dong, cuy, pan belum punya anak. Hmm... kebayang ga sih beberapa tahun lagi kita tetap ngobrol seperti ini dengan kondisi sudah berkeluarga?"
"Gue baru abis jemput anak nih, Bun. Suami lagi repot."
"Besok pengajian di tempat siapa? Mesti anterin anak dulu, nih."
"Pengajian giliran di daerah Bunda Ismi, nih. Anak titipin bentar ke mama."
"Habis nyiapin bekal anak sekolah, nih."
"Anak kalian udah kelas berapa? Nanti kalau udah gede kita jodohin, yuk!"
Et cetera. Lutju dan menggemaskan sekali topiknya. Ya Allah, semoga kami tetap dapat bersahabat hingga ke surga. ♡
Topiknya bikin baper, omong-omong.
Wednesday, May 27, 2015
Pernikahan
Hari ini bercerita soal pernikahan dengan teman yang sudah menikah dengan yang sedang berproses. Mendengar curhatan mereka, saya jadi takut menikah.
Apa rasanya harus menaati orang yang benar-benar baru di kehidupanmu sementara kau sendiri tidak suka diperintah-perintah?
Apa rasanya dibebankan tanggung jawab luar biasa? Kamu harus mengatur rumah, memasak, dan menyenangkan hatinya.
Apa rasanya harus meredam ego dan menjaga perasaan seseorang setiap hari?
Apa rasanya berkompromi dengan mimpi yang selama ini kau junjung tinggi mengingat kini yang hidup adalah mimpi bersama?
Sumpah, saya ketakutan. Hahahahaha. Belum ada kesiapan. Saya belum siap bila mengalami pertengkaran-pertengkaran saat menikah. Mana saya baperan, kan, anaknya. Salah-salah minta cerai. (Hwaaa, jangan, Nad!) Soalnya, dalam bayanganku, menikah itu bahagia. Itu gambaran yang saya dapatkan dari beberapa orang: dari Fahd Pahdepie, dari anak-anak Peduli Jilbab, dsb.
Akan tetapi, setelah bercerita dengan mereka, barulah saya sadar kalau pertengkaran itu biasa. Kompromi memang bukanlah hal yang mudah. Namun, pertengkaran itu bisa dihindari.
Sedikit keluar dari topik perselisihan, saya pernah menanyakan satu hal kepada teman seasrama yang menikah di umur tujuh belas tahun.
"Gimana, sih, rasanya nikah? Repot nggak, sih? I mean, kamu kan masih muda banget..."
"Repot sih, Nad, tetapi dinikmati saja."
"Hm, gitu ya..."
"Lagian, Nad, semuanya dilakukan demi dia, bukan? Masa sih kita nggak mau menyenangkan hati orang yang kita cinta?"
Tertegun. Oh iya, benar juga. Orang pacaran saja rela meminjam uang ortu demi mentraktir si doi. Masa, sih, pasangan yang sudah nikah nggak mau berkorban demi kebahagiaan si dia? Cieilah bahasamu, Nad.
Ya sudah, sih. Percakapan ini tiada ujungnya. Mengapa? Ya karena saya belum nikah. Hanya bisa menerka-nerka. Intinya, hidup itu bagaikan tali tambang kata Doraemon. Kebahagiaan dan kesedihan saling bertaut. Semua ada positif dan negatifnya. Pernikahan...di samping penuh cinta dan bahagia, pasti ada sisi suramnya. Semoga pernikahanku nanti lebih didominasi kegembiraan daripada kejenuhan dan kesedihan, ya. Bisa, sih, asal banyak bersyukur.
Luv,
Nadia Almira Sagitta
