Showing posts with label rindu. Show all posts
Showing posts with label rindu. Show all posts

Friday, June 17, 2016

Muara Rindu

Andaikata bisa kuterangkan perasaan di hati,
Tentu rinduku sahaja yang engkau temui
Tapi aku payah berkata-kata, kasih
Lidahku kelu sekonyong-konyong
Jemariku pun mendadak kaku
Acapkali ingin kutuliskan kabarku
atau kutanyakan keaadanmu

Tapi rindu yang bertumpuk tinggi ini
Benar adanya tersimpan di hati
Janganlah engkau sangsi
Oleh sebab
Rinduku ini satu sahaja muaranya
Menuju engkau
Menuju engkau.

Tuesday, October 13, 2015

Titik Balik

Allah, aku rindu. Maafkan aku yang setahun belakangan benar-benar jauh dari Engkau. Maafkan aku yang menjauh dari diriku yang semula; diri yang sudah hijrah dan sedang giat-giatnya mencerap ilmu. Aku tahu ada beberapa teman yang menatapku miris dan mungkin kehilangan aku yang dulu. Yap, sedrastis itu perubahannya, Engkau lebih tahu.

Aku ingin balik lagi seperti dulu, semoga Engkau tidak mengenal kata terlambat.

Bismillah.

New year, new me.
New year, new you.

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, July 1, 2015

Sakit

Lagi nggak puasa, lemas, dan gemetaran. Baru bangun tidur dan kepala masih migren sejak siang. Aku makan satu butir Mylanta karena asam lambung juga naik. Baru makan beberapa suap, migrennya tambah parah bahkan lambung bersikeras ingin mengeluarkan makanan yang baru ditelan. Ya ampun, aku cuma terlambat makan siang...

Bunda, Nad mual banget. Bingung. Nggak pengin makan, tetapi lapar, Bunda. Ah, jadi ingat perkataannya Bunda dulu, "Makan."
"Nggak mau. Mual banget, mau muntah."
"Makan dulu, kamu belum makan daritadi."
"Iya, tapi eneg..."
"Ya gimana, perut mesti diisi. Kamu harus sugesti untuk nggak muntah. Gimana mau sehat kalau kamu sugesti sakit terus?"

Iya, Bunda. Ini Nad juga lagi sugestiin diri sendiri supaya bisa nahan rasa mual. Sambil nangis. Nad cengeng banget, ya? Ah, habisnya bingung mesti manja ke siapa kalau sendirian...

Fir, kakak kangen banget kamu suapin pas kakak lagi sakit. Terus kamu main boneka untuk menghibur kakak. Kamu yang setia banget nemenin kakak saat kakak minta tolong diambilkan ini-itu. Fir, kakak kangen banget.
Yah, Nad kangen Ayah yang tiap pagi dan malam ngecek suhu tubuh dengan naruh punggung tangan di kening Nad dan bilang, "Nggak panas, kok." Hahaha, Nad tahu itu hiburanmu saja agar Bunda dan Nad tak terlalu khawatir. Kalau benar-benar parah, kau lalu mengantar Nad ke dokter. Nad juga ingat gimana kau menggendong Nad ke kamar bila Nad tertidur di sofa ruang keluarga.
Bun, Nad kangen sugesti-sugesti yang kau berikan dulu. Kangen dititipkan sama Mbak di rumah karena kamu mesti bekerja, tetapi tidak pernah lupa menelepon ke rumah dan menanyakan kabar Nad di waktu senggangmu.

Kangen kalian banget. Aku pengin pulang, Ya Allah. Ini sakit karena homesick apa, ya. Homesick kelas kakap. 
Eh, tiba-tiba kepikiran sama lelaki masa depan. Sanggup nggak, ya, dia merawat aku di kala sakit seperti keluargaku merawatku? Rela nggak, ya, dia nikah sama orang yang sakit-sakitan kayak aku? Gimana kalau sebagian besar gajinya dihabiskan untuk obat dan biaya dokter nanti? Aku skoliosis, aku mata minus, aku punya mag, aku... banyak, deh. Pasti ada lelaki yang menerima segala kurang dan lebihku, bukan? Kalau begitu, aku tak perlu berlelah-lelah memikirkannya. :)

Kangen,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 24, 2015

Rindu Yang Begitu Rindu

Ma, Nanad pengin pulang. Nad nggak suka sakit sendirian... Kosan sepiii banget. Ramadan ini Nad nyaris selalu telat bangun sahur. Ya itu tadi, mungkin karena sepi. Nad lebih milih puasa enam belas jam bareng kalian daripada puasa tiga belas jam sendirian. Kangen, kangen masakan Mama. Kangen tarawih di rumah bareng Ayah (kita nggak bisa ke masjid karena terlalu jauh dan selesainya lama sekali)

Maaf ya, Nad nangis. Habisnya Nanad bingung mau ngapain. Terbelenggu rindu yang begitu rindu. Sudah dua tahun lebih kita nggak serumah. Waktu di asrama SMA dulu Nad juga dua tahun sendirian. Bedanya, tiap liburan panjang pasti Nad pulang. Sewaktu berkuliah, satu tahun Nad ngekos sendirian. Bedanya, minimal dua minggu sekali Nad pulang. Pulang. Sekarang, Nad mesti pulang ke mana, Ma? Bohong, ih, kalau rindu sirna ketika pulang ke keluarga besar di Medan atau Jogja. Senang iya, tetapi rindu masih ada.

Terkadang, setahun sekali atau dua kali Ayah ke sini karena tuntutan kerja. Biasanya Ayah di Jakarta selama di lima hari, tetapi Nad hanya dapat berjumpa dengannya sehari dua hari. Namun, tidak apa-apa, setidaknya bisa melepas kangen. Kedatanganmu, Ma, sungguh jarang. Betapa tidak, kau harus menanggung tiket puluhan juta jika ingin pulang ke tanah air. Tiket tidak ditanggung negara seperti Ayah. Itu yang membuat Nad sungguhan rindu. Rindu kau, rindu Fira juga. Terakhir kita jumpa itu bulan Februari 2014. Kau akhirnya pulang bersama Fira karena kakakmu sakit keras. Agak lama juga kau di sini, nyaris dua minggu. Kita masih sempat belanja bareng seperti dulu. Kita masih sempat jalan-jalan seperti dulu. Masih sempat beradu pendapat seperti dulu. Terima kasih waktu itu sudah menyempatkan pulang, Ma. 

Tapi kali ini Nad beneran ingin pulang.
Tahun depan masih lama, ya?

Rindu,
Nadia Almira Sagitta