Showing posts with label bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label bahasa Indonesia. Show all posts

Tuesday, December 1, 2015

Kebanggaan Berbahasa

UU No. 24 Tahun 2009 pasal 36 ayat 3 berbunyi, "Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia."

Nah, coba kita lihat plang di jalan-jalan. Apakah undang-undang ini diimplementasikan dengan baik?

Coba perhatikan UU No. 24 Tahun 2009 dengan saksama. Kamu akan mendapati bahasa Indonesia, memang benar, dijunjung tinggi dan diberi kehormatan sesuai Sumpah Pemuda. Duh, betapa idealnya isi undang-undang tersebut, sampai merinding saya membaca! Akan tetapi, apalah arti undang-undang apabila rakyatnya tidak peduli.

Sudah sejauh apa kita menghargai bahasa bangsa?
Sudah setinggi apa kita menjunjung bahasa persatuan negara ini?

Bersangkutan dengan undang-undang di atas, jika kamu berencana membuka bisnis kelak, coba gunakan bahasa Indonesia sebagai merek dagangmu. Toh, calon pelangganmu juga orang Indonesia (jangan jauh mengimpikan orang asing). Jangan segan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia itu sama kerennya dengan bahasa asing lain. Tidak sependapat? Barangkali kebanggaan atas bahasa bangsamu perlu diperkuat lagi.

Mari menjunjung kembali bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Nadia Almira Sagitta

Friday, November 6, 2015

Surat untuk Si Tampan dan si Cantik

Halo, si Tampan dan si Cantiknya mama. Ini mama, menulis dari masa lalu. Hari ini mama menerima kiriman buku ABC for Baby Linguists. Mama mau mengenalkan linguistik pada kalian sedini mungkin karena mama mau berbagi dunia kecintaan mama. Jadi, siap-siap dengan alofon, bilabial, nasal, dan kawan-kawannya itu, ya! Mama, sih, berharap banget salah satu dari kalian mengikuti jejak mama menjadi seorang linguis kelak. Nanti kita bisa meneliti bareng-bareng seperti David Crystal dan anaknya, Ben Crystal. Aduh, pasti seru sekali bila di meja makan kita membahas gejala-gejala bahasa terbaru atau mendiskusikan kebingungan bahasa yang kalian temukan. Bisa juga tiap pekan kita belajar bahasa asing. Makanya sekarang mama lagi mendalami beberapa bahasa supaya nanti bisa mengajari kalian. Belajar bahasa itu bisa meningkatkan kemampuan otak kalian, lho! Bisa mencegah kepikunan juga! Ajaib, kan? ^^♡

Omong-omong belajar bahasa, mama berencana mengajarkan bahasa daerah sebagai bahasa pertama kalian. Duh, padahal mama nggak mengerti bahasa Jawa dan Minang, tetapi mama janji mau belajar. Bisa dimulai dengan mencari pasangan dari suku yang sama juga! Haha, doakan-doakan. Eh, dari suku yang sama sekali berbeda juga nggak masalah, tetapi mama pengin dia menguasai bahasa daerahnya. Nanti mama belajar bahasanya dari dia. Pokoknya mama mau bahasa pertama kalian bahasa daerah agar timbul kecintaan terhadap tanah yang membesarkan kalian dan agar kalian tumbuh menjadi manusia yang berbudaya. Selanjutnya, mama akan mengajarkan bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya. Mama kan lulusan sastra Indonesia, mesti kudu wajib membesarkan anak dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa ketiga dan seterusnya itu terserah kalian. Silakan menjadi multibahasawan atau dwibahasawan. Keluarga kita mah liberal aja untuk masalah seperti ini. Hahaha. :)

Eh, mama kebanyakan cerita, ya? Betapa banyaknya rencana dan angan-angan mama di masa depan. Tentang pembelajaran kalian, tentang karier mama, tentang asupan gizi kalian, tentang cara memahami kalian, dan lain sebagainya. Mama masih harus banyak belajar. Huu, banyaaaaak banget! Doakan mama punya kekuatan dan kesungguhan untuk mempelajari semua ini. ^^♡

Sepertinya lebih seru menyambut kedatangan kalian nanti daripada menyambut kedatangan dia, calon papa kalian. Kenapa begitu? Soalnya mama di-PHP meluluuuu, sama banyak orang pula. Jadinya sebal! Akan tetapi, kalau nggak ada dia, mana bisa ada kalian? Hahaha. Ya sudah, doakan mama agar berjumpa dengan pemuda yang saleh, berjiwa pemimpin, dan peduli dengan bahasa serta linguistik. Mama janji akan mencari pemuda itu sampai ke ujung dunia. Pokoknya mesti spesies terbaik dari yang terbaik. ^0^)/

InsyaaAllah. Perkenankanlah, ya Allah.

Peluk,
Nadia Almira Sagitta

Tuesday, October 6, 2015

Kata Sapaan

"Saya memilih kata sapaan sebagai salah satu kategori tanyaan penelitian saya karena sifatnya yang mudah berubah-ubah. Sebagai contoh, keluarga saya menggunakan sapaan rama dan mama. Keluarga suami saya menggunakan sapaan papa dan mama. Ketika kami menikah, kami bersepakat akan menggunakan sapaan mama dan rama. Ketika mertua saya berkunjung ke rumah, beliau berujar pada anak saya, 'Ini kasih ke papa, Nak.' Mendengar hal tersebut, suami saya langsung menanggapi, 'Ayo sini sama rama, Nak. Ayo ke rama.' Suami saya melakukan hal itu untuk menghindari bingung bahasa pada anak. Nah, perbedaan kata sapaan ini lazim terjadi pada pernikahan antarsuku. Ini hanya masalah kesepakatan, kok, jadi jangan sampai berantem sama suami atau istri kalian perihal ini. Eh ini no offense, ya, tetapi saya suka bingung dengan keluarga yang menggunakan sapaan abi ummi. Apa dikiranya pakai sapaan seperti itu langsung masuk surga? Hahahah. Jangan tersinggung, ya. Indonesia itu punya banyak bahasa daerah yang kaya akan jenis-jenis kata sapaan. Kenapa harus meminjam kata dari negara yang jauh? Ayo pikirkan kalian mau dipanggil apa sama anak kalian nanti! Mama, mamak, emak, enyak, ibu, bunda, mami, ummi? Bapak, papa, papi, ayah, babe, abah, atau apa?"

-Celoteh seorang dosen. Hahaha, doi ceplas-ceplos dah kalau ngomong! Ah, gitu-gitu tetap kagum saya. Tetap sehat, lucu, dan kritis ya, Bu. ^^