Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Friday, July 1, 2016

Dua Jam Bersama Ica

Penerbanganku ke Medan kali ini cukup lama. Mengapa begitu? Soalnya, pesawat yang kunaiki menunggu giliran lepas landas selama 20 menit. Waktu yang ada tentu kumanfaatkan untuk tidur secara tadi pagi aku sahur terlalu cepat dan semalam tidurku hanya dua jam. Ketika aku membuka mata dan mengedarkan pandang ke sekeliling, kutemukan gadis kecil sedang melonjak-lonjak di pangkuan ayahnya. Ia mengenakan onesies putih bermotif dan jaket ungu. Saat pandangan kami beradu, aku memberinya senyum dan ia pun membalas senyumku. Aih, senangnya hati. Belakangan kutahu nama anak itu Ica. ^^

Tak lama, pramugari datang menawarkan makanan. Ica, yang masih batita, tentu saja makan siang dengan disuapi ibunya. Oh iya, jadi tempat duduk ayah dan ibu Ica dipisahkan aisle pesawat. Cukup sulit untuk ibu Ica menyuapi si anak karena adanya jarak antarkursi. Tatkala disuapi pertama kali, Ica tahu-tahu melepehkan nasi. Dari ekspresi wajahnya, sih, aku tahu nasinya masih terlalu panas, hahaha. Terus, memang dasar tabiat anak kecil yang mau melakukan semuanya sendiri, Ica berulangkali menepiskan tangan sang ibu dan mencuil sendiri makanan dari sendok. Gemas!

Ica ini aktif sekali. Suka loncat-loncat, ngegelosor di meja lipat, dan berjalan-jalan di lorong pesawat. Tiap ia berjalan, Ica  menghampiri kursi-kursi penumpang. Haha, tampaknya ia penasaran dan ingin berkenalan. Ayah Ica sampai kewalahan mengejar-ngejar Ica yang lari ke sana kemari. Lucu sekali. Kutebak, jika ia dewasa nanti ia akan menjadi pribadi yang ramah, ekstrovert, dan penuh rasa ingin tahu.

Dua jam bersama Ica, pandanganku tidak lepas daripadanya. Anak satu ini memang menggemaskan sekali. Juga, mungkin yang membuatku betah berlama-lama memandanginya karena aku melihat kekompakan ibu dan ayah Ica. Kulihat sendiri betapa sabarnya ayah Ica menghadapi tingkah si anak. Hal yang sama belum tentu kutemukan pada orang tua lainnya.

Hal lain yang kupelajari dalam perjalanan ini adalah uniknya komunikasi antaribu. Baiknya kuceritakan dahulu tentang posisi dudukku tadi. Di depanku ada ibunya Ica dengan kakaknya Ica. Di samping ibu Ica, duduklah ayah Ica bersama Ica dan abangnya Ica. Di depan ayah Ica, ada seorang ibu dengan anak perempuannya. Di belakang ayah Ica, yakni di sampingku, duduklah pasangan muda dengan anak laki-laki mereka. Di belakangku juga ada seorang ibu dengan anak perempuan. Well, you can imagine that I was all surrounded with kids. And I was there, single and very happy, with no kid.

Balik ke komunikasi tadi, kulihat ibunya Ica cepat akrab dengan seorang ibu yang duduk di seberangnya. Ya barangkali karena mereka punya pemahaman yang sama, "Kita saling tahu betapa repot dan bahagianya mengurus anak. Why don't we share our stories?"  Unik, ya? Aku pun sok-sok akrab menanyakan ibu di sampingku perihal umur anaknya. :)))

Hehehe, Ca, makasih ya sudah menyedot perhatianku selama di pesawat. Khip ngegemesin ya, Ca! Terima kasih pula sudah mengingatkanku pada satu sosok. Adalah kau yang tidak berhenti menari-nari di pikiranku sepanjang perjalanan tadi, Tuan.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, June 15, 2016

Saya Ibu Rumah Tangga, Nak!

Setelah kemarin saya mendapatkan wejangan dari dosen untuk menuntaskan studi setinggi-tingginya sebelum memikirkan urusan jodoh, sekarang saya mendapat kesempatan berdialog dengan seorang dosen favorit saya. Beliau menawarkan pandangan yang berbeda.
N: Bu, penerus bidang ini jika nanti profesor itu tidak ada, Ibu, kan?
D: Nah, itu dia, Nak. Saya belum S-3. Sudah banyak juga yang mendorong saya lanjut kuliah, termasuk suami saya.
N: Iya, lanjut aja, Bu.
D: Akan tetapi, nanti siapa yang mengurus anak-anak? Dulu ketika saya mengerjakan penelitian dan begadang saja, si kecil tidak bisa tidur kalau saya belum tidur. Itu baru penelitian kecil, bagaimana disertasi?
N: Iya juga sih, ya...
D: Ketika suami saya lanjut S-3 dan anak-anak mau merecoki ayahnya, mereka bisa main sama saya, tetapi kalau nanti saya S-3, bagaimana mungkin ayahnya yang ngurus sementara dia juga sibuk?
N: (diam seribu bahasa)
N: Jadi, Ibu ada kemungkinan lanjut S-3 kalau anak-anak sudah besar ya, Bu?
D: Belum tentu juga, Nak. Ya nanti kalau saya berani daftar SIMAK, berarti saya sudah siap. Tidak harus menunggu mereka besar juga. Tidak apa-apa, pekerjaan utama saya itu ibu.
D: Setiap pagi saya antar anak-anak sekolah, ikut rapat orang tua ini itu, sampai-sampai ada sekumpulan ibu yang menanyakan saya masih bekerja sebagai dosen atau tidak saking seringnya terlihat di sekolah. Hahaha.
N: Iya, Ibu sepertinya aktif banget di sekolah anak.
D: Iya, Nak. Apa ya...masa tumbuh kembang anak itu tidak bisa diulang. Pendidikan bisa ditunda, tetapi anak? Anak itu butuh kehadiran orang tuanya. Jangan sampai mereka merasa tidak diperhatikan.
N: (diam seribu bahasa lagi) (seketika merefleksi masa kecil) Betul, Bu. Ibu saya wanita karir dan jarang berada di rumah. Ya terkadang saya merasa kesepian, tetapi positifnya saya memang jadi anak yang mandiri. Semua ada positif negatifnya.
D: Iya, semua ada pilihannya. Saya memilih ibu rumah tangga sebagai pekerjaan utama saya.
--

Barakallahu fiik, Bu! Sungguh pahala tiada putus-putusnya untuk engkau yang begitu totalitas mengabdi untuk keluarga. Hidup ini memang penuh pilihan, bukan? Jika sudah memilih maka pastikan engkau berbahagia dengan pilihanmu itu. :)

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Friday, November 6, 2015

Surat untuk Si Tampan dan si Cantik

Halo, si Tampan dan si Cantiknya mama. Ini mama, menulis dari masa lalu. Hari ini mama menerima kiriman buku ABC for Baby Linguists. Mama mau mengenalkan linguistik pada kalian sedini mungkin karena mama mau berbagi dunia kecintaan mama. Jadi, siap-siap dengan alofon, bilabial, nasal, dan kawan-kawannya itu, ya! Mama, sih, berharap banget salah satu dari kalian mengikuti jejak mama menjadi seorang linguis kelak. Nanti kita bisa meneliti bareng-bareng seperti David Crystal dan anaknya, Ben Crystal. Aduh, pasti seru sekali bila di meja makan kita membahas gejala-gejala bahasa terbaru atau mendiskusikan kebingungan bahasa yang kalian temukan. Bisa juga tiap pekan kita belajar bahasa asing. Makanya sekarang mama lagi mendalami beberapa bahasa supaya nanti bisa mengajari kalian. Belajar bahasa itu bisa meningkatkan kemampuan otak kalian, lho! Bisa mencegah kepikunan juga! Ajaib, kan? ^^♡

Omong-omong belajar bahasa, mama berencana mengajarkan bahasa daerah sebagai bahasa pertama kalian. Duh, padahal mama nggak mengerti bahasa Jawa dan Minang, tetapi mama janji mau belajar. Bisa dimulai dengan mencari pasangan dari suku yang sama juga! Haha, doakan-doakan. Eh, dari suku yang sama sekali berbeda juga nggak masalah, tetapi mama pengin dia menguasai bahasa daerahnya. Nanti mama belajar bahasanya dari dia. Pokoknya mama mau bahasa pertama kalian bahasa daerah agar timbul kecintaan terhadap tanah yang membesarkan kalian dan agar kalian tumbuh menjadi manusia yang berbudaya. Selanjutnya, mama akan mengajarkan bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya. Mama kan lulusan sastra Indonesia, mesti kudu wajib membesarkan anak dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa ketiga dan seterusnya itu terserah kalian. Silakan menjadi multibahasawan atau dwibahasawan. Keluarga kita mah liberal aja untuk masalah seperti ini. Hahaha. :)

Eh, mama kebanyakan cerita, ya? Betapa banyaknya rencana dan angan-angan mama di masa depan. Tentang pembelajaran kalian, tentang karier mama, tentang asupan gizi kalian, tentang cara memahami kalian, dan lain sebagainya. Mama masih harus banyak belajar. Huu, banyaaaaak banget! Doakan mama punya kekuatan dan kesungguhan untuk mempelajari semua ini. ^^♡

Sepertinya lebih seru menyambut kedatangan kalian nanti daripada menyambut kedatangan dia, calon papa kalian. Kenapa begitu? Soalnya mama di-PHP meluluuuu, sama banyak orang pula. Jadinya sebal! Akan tetapi, kalau nggak ada dia, mana bisa ada kalian? Hahaha. Ya sudah, doakan mama agar berjumpa dengan pemuda yang saleh, berjiwa pemimpin, dan peduli dengan bahasa serta linguistik. Mama janji akan mencari pemuda itu sampai ke ujung dunia. Pokoknya mesti spesies terbaik dari yang terbaik. ^0^)/

InsyaaAllah. Perkenankanlah, ya Allah.

Peluk,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, September 9, 2015

Apa-apa dimediasosialin: Anak

Sedang tren, ya.

Baru nikah, banjir foto di Facebook. Jangankan foto, banjir status-status romantis pun ada. Kadang malah mengirim postingan di dinding satu sama lain disertai embel-embel kata sayang, cinta, dan segala macam. 

Padahal, percakapan semacam itu bisa diobrolkan di ruang obrolan. Ada kolom chat. 

Baru punya anak, banjir foto di Facebook. Terkadang aku merasa kasihan dengan anaknya. Dikit-dikit terpapar kamera. Gimana kalau ada pihak yang menggunakan foto anakmu secara tak bertanggung jawab? Gimana kalau ada penculik anak di luar sana diam-diam sedang menandai anakmu? Foto yang dibagikan juga bermacam-macam bentuknya. Ada foto bayi yang lagi digendong, ada yang lagi tidur, ada foto bayi yang lagi mandi (jelas tanpa baju). Ini, nih, yang mau dikritik. Apa kamu pernah minta izin sama bayimu untuk mengunggah foto-fotonya yang tak mengenakan pakaian itu? Jelas nggak, kan. Menurut artikel yang kubaca dari situs luar negeri, always put consent first. Jangan mengunggah sembarang foto jika ia masih terlalu kecil. Ada, lho, orang tua yang benar-benar strict dengan hal ini.

Tak hanya foto, para ibu juga sering membuat percakapan khayali dengan anaknya yang belum kenal A-B-C. Atau membuat percakapan dengan jabang bayi yang masih di dalam perut. Entah ya, bukannya bermaksud jahat, tetapi aku benar-benar tertawa saat membacanya. Aku sebenarnya nggak masalah dengan percakapan tersebut kalau terjadi di rumah, bukannya di ruang publik. Wkwkkw. Jadi lucu pas ada percakapan-sok-unyu macam itu nampang di Facebook. It's like... do we really care?

Okay, somebody's being so sarcastic here! Hear, hear. Maybe someday you'll become one of those moms, Nad? So don't criticize them like that! 

Haha maaf. Aku sadar, kok, aku juga suka curhat di jejaring sosial. Berbagi ketertarikan pada bidang-bidang tertentu, tempat tertentu, dan lain-lain. Aku biasanya nggak rewel, kok, dengan orang-orang yang curhat di jejaring sosialnya. Akan tetapi, entah mengapa untuk hal satu ini aku menaruh perhatian. Miris aja segala-galanya sudah dimediasosialin. Where's privacy right now? Okelah itu anakmu, you can do anything you want to him/her. Cuma... ya itu tadi. Pertimbangkanlah hal-hal mana yang dianggap perlu dan mana yang tidak. Jangan lupa untuk menjaga perasaan teman-temanmu yang belum menikah dan yang belum dikaruniai anak. Begah nggak, sih, baca postingan yang bernada sama tiap hari? Ya kalau aku, sih, begah. 

Salam,
Nadia Almira Sagitta

Saturday, September 5, 2015

Buku Anak Terjemahan

Malam ini berbincang dengan teman sejurusan mengenai buku-buku anak terjemahan. Tersebutlah nama Grimm Bersaudara, Hans Christian Andersen, Enid Blyton, Astrid Lindgren, dan... Laura Ingalls! Astaga si Laura, bagaimana saya bisa lupa. Dulu saya punya satu buku beliau tentang kisah si Laura bersama anjing kecilnya yang setia. Petualangan Laura kecil sangat menyenangkan. :D 

Gara-gara pembicaraan ini, saya jadi tergerak untuk mengoleksi kembali buku-buku Laura Ingalls yang diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia. ^^ 

Adakah yang pernah membaca karya-karya dari penulis di atas? :)

Salam,
Nadia Almira Sagitta