Showing posts with label galau. Show all posts
Showing posts with label galau. Show all posts

Saturday, November 7, 2015

Jangan Galau

"Jangan galau lagi, ya."
"Nggak ada yang mau lihat Nadia sedih dan galau."
"Semua itu sayang sama Nadia. Kami ikut sedih kalau Nadia nangis melulu."
"Wajar tema nasihat orang-orang ke kamu tentang galau, soalnya kamu butuh banget dinasihati mengenai itu."
"Nadia kalau galau parah banget. Kayaknya segala-galanya bisa berantakan. Jangan galau, Nad."
"Aku kepikiran kamu, Nad. Udah nggak galau, kan?"
"Aduh, Bu Prof, kamu begini gara-gara lelaki? Jangan, dong!"
--

A little reminder. Ini nasihat beberapa minggu lalu. Eh, ada yang masih baru, sih. Aku cuma menuliskannya di sini supaya aku ingat untuk nggak bergalau ria. Senang, sih, ya orang-orang memperhatikan Nanad, pakai embel-embel sayang Nanad pula! Ih, sayang kalian jugaaaa! (peluk) Harap maklum, ya. Aku anaknya attention centered banget. Hahaha.

Iya, iya. Aku akan berusaha nggak galau seperti dulu. Mungkin intensitas galaunya dikurangi dan kadar keikhlasannya ditingkatkan. Aku bertemu kamu karena Allah, kan? Jika nantinya berpisah jauuuuh sekali, pasti ada alasan dari Allah, kan? (Lah apaan sok pakai kata berpisah, memangnya pernah bersatu?) Katanya, setiap pertemuan dan perpisahan itu sudah diatur oleh-Nya. Semuanya memberikan makna tersirat untuk kita pelajari. Jalani dan ikhlas saja. 

Nanti juga aku akan berjumpa dengan orang yang nggak salah. Nggak salah lagi jodoh, maksudnya. Hahaha. Selamat ber-Minggu pagi!

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Thursday, October 22, 2015

Masih latar yang sama

5 April 2014 

Seorang kawan berkata padaku di hijaunya rerumputan klaster, "Aku turut senang dengan kehadirannya di hidupmu."

Ia senang lantaran aku tersenyum berbunga-bunga karena cinta. Aku dan dia lantas melempar pandang ke seberang. Ke danau. Kami diam menikmati semilir angin dan hangatnya mentari. Sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Memikirkan cinta yang diharap akan abadi.

2015

"Aku tidak suka kamu bergalau ria karena dia. Lupakan. Tidak ada gunanya ini semua."

Masih di klaster. Masih ada angin yang bertiup pelan. Masih ada mentari, walaupun sinarnya tak lagi lembut. Masih ada rumput, meskipun warnanya tak lagi hijau. Masih ditemani oleh kawan yang sama. Masih kamu yang menjadi topik perbincangan kami. Bedanya, tidak ada senyum pada wajahku. Tidak ada tatapan bahagia yang diberinya, tetapi pandangan yang justru menaruh kasihan.

Aku tersedu di lapangan rumput FIB UI. Aku luruh dan jatuh, hilang arah dan pegangan. Aku membiarkan semua pengunjung klaster menatapku bingung. Barangkali ada juga yang ikut menguping ceritaku. Tidak, aku tidak lagi peduli. Yang kupikirkan hanya aku dan waktu.

Betapa rentang setahun dapat membuatku beralih rasa.
Betapa rentang setahun dapat mengubah dukungan menjadi desakan.
Betapa rentang setahun dapat membuat seseorang yang dulu merentangkan senyum pada bibirku malah mengurai sendu pada wajah indahku.
Dan aku membiarkannya. 

--
Ditulis tanggal 22 Oktober 2015
Tidak mengandalkan sesak dan sakit, hanya ingatan.
Ingatan bahwa aku pernah terperosok seperti itu.

Monday, October 19, 2015

Gosip

Buonasera!

Malam tadi temanku datang ke kosan dan hendak meminjam buku. Eh, mulanya yang mau beberapa menit saja malah jadi sejam lebih. Kami asyik bergosip di ruang tamu. Hahaha, kocak, ih. Bercerita soal sahabat-sahabatnya, soal cerita cintaku, soal skripsi dan jurnal kawan-kawan, perkuliahan, serta banyak hal. Aku nggak pernah berpikir untuk bercerita panjang padanya, apalagi sampai curhat cinta. Ah, tetapi mungkin aku butuh bercerita dan kebetulan dia asyik sekali mendengarkan. Ternyata, pengobatan untukku adalah menumpahkan segala rasa ke teman-temanku sampai akhirnya aku bosan dan lelah untuk menangis. Kalau bisa, sampai aku bosan bercerita. Seperti tadi.

M: Mau ke mana, Nad?
N: Ke...klaster. Makan. (bohong! Aku mau nangis sepuasnya di sana)
M: Sama siapa?
N: Ng, sendirian. Tapi kalau kalian mau ikut juga boleh.
M: Kami ikut, ya.
N: O...ke. (ah, gagal melampiaskan rasa, nih)

Di klaster.
M: Kamu kenapa?
A: Iya, Nanad kenapa?
N: Aku... (kemudian mengalirlah cerita yang super panjang)
A: Udah, ya. Menurut aku...
M: Iya, aku sepakat. Menurut aku juga gitu. Nggak usah nangis lagi, ya.
N: Iya.

Di masjid.
N: Tahu nggak, siang tadi aku sebenarnya mau nangis di sana.
M: Oya? Jangan, Nad. Jangan fasilitasi diri kamu untuk nangis. Selalu ada kita, kok. Kalau butuh cerita, ya cerita. Jangan sendirian.
N: Makasih, ya. Entahlah, tadi aku merasa butuh menangis saja. Aku nggak fokus kuliah seharian ini. Tadinya malah nggak mau masuk.
M: Semoga hanya semingguan ini, ya, Nad. Aamiin.
N: Aamiin.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Monday, October 12, 2015

Kapan melupakan (dia)?

E: Jadi, kapan kamu mau lupa?
A: Harus banget, ya?
E: Ya kapan kamu bisa move on.
A: Ng, selepas aku wisuda.
E: Oh my, itu lama nian! Heh, kamu mau gegalauan selama itu? Masih setahun lagi, A.
A: Justru itu. Aku ingin melepaskan dia dari benak ketika aku terlepas dengan hal-hal yang mengingatkan diriku padanya. Aku sudah merencanakan semuanya, kok, berikut salam perpisahanku.
E: Kalau kamu sudah nggak menyukainya setahun ke depan, rencanamu itu mau kamu apakan?
A: Serpihan kenangannya tinggal kuhapus dari folder.
E: Aduh, kalau begitu hapus dari sekarang saja!
A: Tidak bisa. Kan aku masih cinta.
E: Dasar. Kamu mau skripsian nanti masih diganggu oleh rasa yang tak kunjung usai?
A: Nggak mau.
E: Makanya lupakan.
A: Susah.
E: Ah!

Karena Aku Cinta

Y: Kamu itu, sudahilah. Apa susahnya, sih?
D: Susah, Cantik. Hih, kalau prosesnya mudah, telah kusudahi dari dulu-dulu.
Y: Dengar, ya. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik. Seseorang yang nggak berani bikin kamu galau kayak begini. Udahlah, kamu sama teman sejurusan aja.
D: Hahahaha, siapa?
Y: Itu.
D: Ah, nggak ah! Kuliahnya nggak serius.
Y: Tapi, kan, idaman banget ketaatannya.
D: Hm, dengarkan aku, ya. Kata ibuku, "Perempuan wajib mencari lelaki yang lebih baik darinya." Kalau dalam hal akademis, nilainya sudah minus di mataku.
Y: Yah, kalau gitu, lelaki di jurusan dan angkatan nggak ada yang pantas buat kamu, dong! Nilai tertinggi saja kamu yang pegang.
D: Hahaha. Aku nggak membidik pasangan dari jurusan kita, kok. At least, mungkin kupilih dari ranah Linguistik saja saat studi master atau doktoral. Atau peneliti LIPI.
Y: Aamiin. Nah, itu kamu punya prioritas, kan? Lantas kenapa galau sekarang?
D: Karena aku cinta. Oh my God, karena aku cinta.
Y: Kamu sungguh telah dibutakan cinta, D.

Friday, September 25, 2015

Menebar pertanda

Katanya, hal yang tidak mengenakkan itu saling suka, tetapi tidak saling menyatakan rasa. Dua sejoli itu lalu menebak-nebak sendiri perasaan satu sama lain. Mau bilang, takut ditolak dan belum dapat memberikan apa-apa. Nggak bilang, gelisah sendiri takut ia keburu dipinang. Padahal, kata temanku, "Dengan kamu nyatakan sekarang pun, tidak berarti menghalanginya dari pinangan orang lain. Kalau mau bilang, jangan ke orangnya saja, tetapi juga ke keluarganya. Itu kalau serius. Perkataan sayang dan cinta tidak bermakna apa-apa jika tidak ada keseriusan yang kau tawarkan." 

Dan makin parahlah keadaan ketika dua sejoli itu saling menebarkan pertanda. Mereka saling menyiksa batin tanpa mereka sadari. Degup kencang yang dialami tatkala membaca pertanda dapat menyebabkan sakit jantung. Hati-hati. Apalagi bila tahu pertanda itu gagal terungkap maknanya seperti salah membaca sinyal. Wah, stres dan gangguan jiwa menanti di belakang.

Menebar kode itu menebar penyakit. Percayalah. Aku tahu.
Hentikan dari sekarang demi kesehatan batin dan jiwa.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Friday, September 18, 2015

Cinta vs Mimpi

Tulisan ini mengingatkanku akan sesuatu.

Jika cinta itu pengorbanan, apa lantas aku harus mengorbankan mimpi-mimpiku demi membersamaimu? Ini pertanyaan sulit yang hingga kini belum kutemui jawabannya. Ini pertanyaan yang kerap kugaungkan dalam benak andaikata kau memilihku untuk menjadi pendampingmu. Perlu kau tahu bahwa aku terbiasa mengorbankan sesuatu demi mengejar mimpiku. Kukorbankan kebersamaan dengan keluarga di Amerika dan memilih tinggal di Indonesia demi mengejar mimpiku. Kukorbankan waktu-waktu santaiku demi mengejar mimpiku. Aku takut, ketika hambatan itu datang di saat sedikit lagi jarak antara aku dan mimpiku, aku juga akan mengorbankan perasaanku; kamu.
 
Aku tidak ingin mengorbankan dirimu sedemikian jauh, tetapi aku juga tidak ingin mengorbankan mimpi yang telah kucita-citakan dengan matang. Aku tak lepas berdoa pada Allah agar diberi kemudahan dalam mencari pasangan hidup kelak. Entah dengan pemuda yang satu pemikiran denganku atau dengan pemuda yang bersedia mendukung mimpi-mimpiku. Untuk jawabannya, aku belum tahu. Toh, aku belum menikah. Akan tetapi, aku bisa merasakan perbedaan yang sekiranya akan aku dan kamu alami saat menikah nanti.

Barangkali menikah denganku bukanlah keputusan yang tepat bagi orang-orang yang mendewakan kedekatan jarak. Bisa saja aku melakukan perjalanan ke suatu daerah, memetakan bahasa di tempat itu, lalu pulang menyambutmu berminggu-minggu kemudian. Bisa saja aku meneruskan pendidikan ke jenjang doktor di sebuah universitas terkemuka di Inggris. Kau boleh ikut, boleh juga tidak. Bisa saja aku diutus kampus untuk mengajarkan bahasa Indonesia di suatu negara selama dua tahun lamanya. Kau boleh ikut, boleh juga tidak. Kalau boleh memilih, aku tentu berharap kau ikut denganku. Akan tetapi, adakah lelaki yang seperti itu? Dia yang bersedia mengikuti istrinya yang ditugaskan ke negeri yang jauh? Kurasa sedikit sekali, ya. Toh, alasannya pasti balik lagi ke kewajiban laki-laki, yakni menafkahi perempuan. Tak mungkin lelaki yang berpindah pekerjaan, mestilah perempuan. Tak mungkin lelaki yang undur diri dari pekerjaan, mestilah perempuan. Ya Allah, jika memang ada lelaki yang seperti bayanganku, tolong simpankan satu untukku.

Jadi, aku tak ingin menjanjikan apa-apa, bahkan perasaan juga tidak. Bisa jadi saat ini aku mencintai dan sangat menginginkanmu, tetapi saat perkenalan yang lebih serius nanti aku malah undur diri karena berbeda paham denganmu. Hal itu bisa saja terjadi dan mungkin sekali.

Maka dari itu, aku tak ingin menjanjikan apa-apa...

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Wednesday, August 12, 2015

Emoskrip

Emosi sedang terguncang. Sedikit-sedikit mau nangis. Gegara skripsi.

Kena migraine, nangis
Padahal kena migraine gegara nangis juga
Kena mag juga mau nangis
Apalagi ditambah kehujanan di tengah jalan
Rasanya, tuh, mau bersimpuh dibasahi air hujan dan teriak,
"Kenapa, ya Allah?" (oke dramatis, abaikan)

Entahlah. Pulang-pulang dari kampus bukannya mendapat pencerahan, malah bertambah pusing. Semangat dari teman-teman dan dosen malah membuat migraineku menjadi-jadi.
 
Ini hanya masalah tiga setengah atau empat tahun.
"Bagaimana skripsimu?"
"Entahlah, aku berpikir untuk empat tahun."
"Loh, kenapa? Yah, Nadia aja mundur...gimana aku. Jadi takut."
"Jangan. Topik kamu sudah tetap, kan? Aku yang belum."

Ah, tidak bisakah kalimat "Nad saja begini..." itu ditanggalkan? Itu malah membuat aku makin berat. Apabila kau dianggap jago oleh kawan-kawanmu, kau tentu tahu bebannya seperti apa. Masa, sih, seorang dia tidak bisa tiga setengah tahun? Oh, sungguh gengsi sekali. 

Tadi aku bersama empat kawanku berkonsultasi dengan dosen. Di antara mereka, rasanya hanya aku yang curhat. Pemaparan ideku singkat saja dan lebih didominasi, "Bu, apakah ide ini tidak terlalu mudah? Apa layak jadi skripsi? Malah sebenarnya sudah ada yang meneliti hal ini, kami hanya berbeda objek saja.", "Bu, bagaimana kalau misalnya saya ambil skripsi semester ini, tetapi di tengah-tengah saya mengganti topik dan melanjutkannya ke tahun keempat?", dan "Bu, andaikata saya memilih skripsi pada semester delapan, apakah saya bisa mencicil bimbingan dengan dosen pilihan saya sejak semester ini?"

Komentar dosenku, "Kamu ini kebanyakan galau. Topik kamu bisa dilanjutkan, kok. Ini malah sudah bisa diselesaikan. Perihal topik yang mirip itu tidak apa-apa. Pasti ada perspektif baru dari tiap penelitian. Jangan repot mencari topik yang wah jika pembahasannya tidak dalam. Itu bisa membuat nilai kamu kurang. Dosen senang hati, kok, membimbing mahasiswa walaupun si mahasiswa belum memutuskan skripsi. Jangan takut."

Iya, Bu. Terima kasih atas saran-sarannya. Sebenarnya, aku mau penelitian lapangan seperti senior-senior terdahulu. Coba perhatikan skripsi tahun 2000-an ke bawah. Luar biasa. Aku sampai heran dari mana mereka sok ngide topik yang menarik itu, padahal teorinya tidak diajarkan di perkuliahan. Aku mau punya topik yang wah juga. Aku tahu aku bisa mengerjakannya, aku hanya belum menemukan topiknya saja. Oh, sungguh, memikirkannya saja sudah membuatku pusing. Terhimpit antara idealisme, waktu, dan mimpi-mimpi selanjutnya. Aku hanya menginginkan karya tulis pertamaku bermanfaat untuk ilmu pengetahuan. Aku tidak mau asal tulis tanpa tahu landasan pemilihan topik tersebut. Apa semata berkejaran dengan waktu saja? Kan mau jadi peneroka bahasa, apa iya bisa kuwujudkan bila skripsiku biasa saja? Galau nian. Aku butuh istikharah!

Salam,
Nadia Almira Sagitta